Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Gadis Bar Bar


__ADS_3

Di salah satu tempat hiburan malam Mayfair yang terletak di jantung kota London. Gemerlap cahaya lampu disko warna warni yang menyilaukan mata. Indera pendengaran yang dipenuhi oleh suara musik dengan sound system yang memekakkan telinga. Dengan perpaduan aroma khas klub malam seperti bau minuman alkohol yang menusuk indera penciuman dan asap rokok yang menjalar memasuki rongga pernapasan.


Lautan anak manusia yang beranekaragam bentuk dan rupanya terlihat asyik meliukkan tubuhnya mengikuti alunan suara musik yang menghentam dengan cepat dan keras di atas dance floor.


Di salah satu sudut ruangan, tampak Sean sedang duduk di depan meja barstool seraya menikmati Apple Cider yang tertuang di dalam gelas kritalnya.


Berbeda dengan Jeffrey dan Jenny yang sedang berbahagia menikmati kebersamaan mereka kembali dengan penuh cinta saat ini. Sean kembali berusaha mati-matian mengobati rasa sakit patah hatinya yang disebabkan oleh wanita yang sama. Siapa lagi kalau bukan Jenny.


Sean memang sangat bersyukur dan senang setelah mendengar kabar gembira tentang Jeffrey yang kembali. Tapi dia juga tidak bisa membogongi dirinya sendiri, bahwa hatinya kembali hancur.


Satu tahun selama Jeffrey dinyatakan meninggal. Hati Sean kembali tergerak untuk kembali mendekati Jenny. Bukan bermaksud memanfaatkan kesempatan dari kematian Jeffrey, namun melihat Jenny yang sedang terpuruk karena terlalu larut dalam kesedihan membuat naluri ingin melindungi wanita yang dicintai kembali menyergap hatinya.


Hingga akhirnya, perasaan yang dulu secara mati-matian dia pendam kembali muncul ke permukaan. Dia kembali berharap agar Jenny bisa memberinya kesempatan agar dapat mewarnai hari-harinya dengan ketulusan cinta yang ia miliki. Akan tetapi, ketika angan-angannya sudah melambung ke angkasa, sekali lagi dia harus terjatuh ke bumi membawa sisa hati yang telah hancur berkeping-keping.


"Kau memang bodoh Sean, bisa-bisanya kau dibuat patah hati sampai dua kali oleh wanita yang sama," lirih Sean yang dimana hanya dia sendiri yang bisa mendengar.


Pria tampan itu menuang kembali Apple Cider ke dalam gelas kristalnya. Dengan sekali tenggak, gelas yang tadinya terisi penuh seketika tandas tak tersisa.


"Baiklah, aku akan ikut berbahagia untuk kalian berdua. Sakit hati ini biar aku simpan sendiri," lirihnya lagi meski senyuman getir terulas jelas di mukanya.


Prank...!


Seorang pria baru saja membanting botol wine ke lantai hingga tak berbentuk. Meski dentuman musik begitu keras, namun alat pendengaran Sean masih mampu menangkap suara tersebut dengan jelas.


"Dasar wanita sok jual mahal! Apa kau tidak paham bagaimana cara menyenangkan pelanggan?!" pria itu tampak geram karena mendapatkan penolakan dari seorang pelayan perempuan yang terlihat masih sangat muda.


"Maaf Tuan, saya hanya bekerja sebagai pengantar minuman di meja pelanggan disini dan bukan sebagai wanita malam," jelas pelayan tersebut berusaha menenangkan si pria tersebut.


Sean yang kebetulan berada tidak jauh dari kejadian, seketika mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara pelayan yang sepertinya sangat ia kenal.

__ADS_1


Sean yang awalnya tidak peduli dengan apa yang terjadi seketika memutar lehernya untuk memastikan siapa pemilik suara tersebut.


"Ternyata gadis itu lagi. Hah! Sial kenapa dia selalu ada dimanapun aku berada?" gerutu Sean di dalam hati kemudian kembali menikmati minuman beralkoholnya, berniat masa bodoh. Dia berharap gadis yang selalu mengejar-ngejarnya itu tidak menyadari keberadaannya. Saat ini suasana hatinya sedang buruk dan tidak ingin diganggu.


Akan tetapi, aksi si pelayan yang tak lain dan tak bukan adalah Allesya kembali menarik perhatian Sean.


Klontang..!


Tubuh pria itu terjerembab di atas meja karena Alesya mendorongnya setelah berniat melecehkannya dengan menyentuh pantatnya. "Tolong jangan bersikap kurang ajar Tuan, saya bisa melaporkan ada karena tindakan kasus pelecehan seksual,"


Alih-alih merasa takut, pria itu justru tergelak seolah ucapan Allesya hanyalah sebuah banyolan. Setelah persekian detik, gelak tawanya menguap seketika dan tergantikan oleh mimik muka garang.


Plak!


Pria itu menampar pipi Alesya hingga membuat mukanya menoleh ke samping.


Seketika amarah Allesya langsung memuncak ke ubun-ubun karena merasa dirinya dihina oleh pria bermulut busuk itu.


"Pantas saja nafasmu begitu bau. Ternyata kau selalu menggunakan mulutmu untuk mengucapkan kalimat-kalimat sampah!" sengit Allesya.


"Berani-beraninya kau menghinaku. Kau memang belum tahu siapa aku," pria itu menarik tangan Alesya dan berniat memberi pelajaran.


Bug! Bug!


Bruak..!


"Aaaarrrg! Pinggangku!"pria itu mengerang kesakitan karena Allesya membanting tubuhnya.


Waktu masih bersekolah di SMA, dia memang selalu aktif mengikuti kelas Judo yang diadakan di sekolahannya.

__ADS_1


*Judo adalah olahraga yang berasal dari Negeri Sakura Jepang yang dimana lebih mengutamakan teknik-teknik bantingan.


Sean yang sedari tadi menyaksikan kegaduhan yang sedang terjadi sempat terperangah karena tindakan Alesya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selama ini yang dia liat dari Allesya hanyalah seorang gadis bar-bar tak punya malu yang selalu mengejar-ngejarnya.


"Ternyata dia gadis yang mengerikan. Selalu saja membuat onar," Sean tampak bergidik dan kembali menikmati Apple Cider-nya. Seolah tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi dengan Allesya.


Malam semakin larut. Sean akhirnya memilih meninggalkan bar setelah menghabiskan beberapa botol Cider yang nyatanya sama sekali tidak mampu membuatnya mabuk.


"Hai Kak Sean?" sapa Allesya ketika Sean sudah sampai di tempat ia memarkirkan mobilnya.


Sean mendengus jengah dan tentu saja hal itu langsung disadari Allesya. Sedikit kecewa, itu yang dirasakan gadis itu, tapi perasaan itu langsung ia tepis dan kembali bersikap seperti Allesya biasanya, yaitu memasang muka tebal di depan Sean. Demi Apa coba? Demi bisa menggapai hati sang pria dewasa yang sudah merajai hatinya.


"Sejak kapan kau berada disini?" Alih-alih segera menjawab pertanyaan dingin Sean, gadis itu malah semakin mengembangkan senyumannya. Memasang mimik muka penuh damba kepada pria dewasa yang berwajah setampan malaikat di depannya.


Melihat gelagat Allesya, Sean sontak memijit kedua pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Sejenak pria tampan itu kembali mengamati penampilan Allesya yang tampak berantakan. Tampak salah satu sudut bibirnya yang membiru keunguan karena luka lebam serta lengan minidress yang robek sehingga memperlihatkan kulit pundaknya yang putih. Tentu saja Sean sudah tahu apa penyebab utamanya.


"Sebenarnya dia itu gadis yang seperti apa? Dalam penampilan seperti ini, dia masih bisa tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya," batin Sean heran.


Sejurus kemudian Sean melepas jaketnya dan melemparnya ke arah Allesya hingga menutupi kepalanya.


"Sampai kapan kau mau tetap di sana?" tanya Sean yang sudah membuka pintu mobil.


Mengerti dengan maksud dari ucapan Sean, Allesya gegas mengikuti Sean masuk ke dalam mobil.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2