
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, Sean memarkirkan mobilnya pada pelataran Rumah Sakit yang terletak di pusat kota London. Dengan langkah cepat dia langsung menuju ke sebuah ruangan kamar tempat Mamanya dirawat.
"Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Sean kepada Karyl, seorang gadis yang bekerja sebagai orang kepercayaannya selama dia masih kuliah di kota tetangga.
"Keadaan Nyonya sedikit membaik setelah disuntik obat penenang oleh Dokter Tuan. Maafkan saya karena lalai menjaga Nyonya," Karyl menunduk penuh sesal.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia sampai melukai dirinya sendiri?" tanya Sean seraya manatap sendu sang Mama yang sedang terlelap dengan rona pucat masih menghiasi mukanya.
Sang Mama memang sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Dulunya dia adalah wanita hangat, ceria, dan lembut. Namun karena masalah rumah tangga yang begitu mengguncang batin, membuatnya kehilangan keseimbangan kesehatan mental.
"Tadi Tuan Erick datang untuk berkunjung dan tiba-tiba Nyonya langsung histeris Tuan," beber Karyl.
Sean hanya bisa menghela napas berat setelah mendengar cerita dari Karyl. Saat ini dia sungguh berharap situasi yang terlalu menyesakkan dada ini segera berakhir.
°°°
Keesokan harinya.
Kelas kuliah sudah berakhir, Jenny berniat langsung pulang ke apartemen. Gadis blonde itu melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat.
Halte bus tampak sepi. Jenny tengah asyik membalas percakapan di group chat sambil menunggu bus jemputannya tiba.
P**rak!
Jenny dibuat terkejut karena ulah seseorang yang menampik ponsel dari tangannya hingga terjatuh di lantai halte.
"Apa yang kau lakukan?!" Jenny sangat marah karena mendapati Veronica menampik ponselnya dengan sengaja. Iya, orang itu adalah Veronica.
"Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran saja kepada jalang sepertimu!" ucap Veronica sinis.
Jenny berjongkok dan mengambil kembali ponselnya yang tergeletak di tanah. "Apa salahku, hingga aku harus menerima pelajaran darimu?"
"Bisa-bisanya kau berlagak polos. Kesalahanmu banyak. Pertama, kau menerima perjodohan itu karena uang. Kedua, kau mencoba merayu Jeffrey padahal status kalian hanya suami istri kontrak. Ketiga, kau terang-terangan merebut Jeffrey dariku. Dasar murahan!" cerca Veronica sinis.
"Sepertinya kekasihmu itu menceritakan semuanya kepadamu," Jenny tersenyum miris.
"Tentu saja, karena aku adalah kekasihnya. Wanita yang seharusnya dia nikahi, bukan kau jalang! Aku sudah menahan cukup lama untuk tidak melabrakmu, tapi karena melihat semalam kau mencoba menggodanya aku sudah tidak bisa tinggal diam. Bisa-bisanya kau berhamburan memeluk kekasihku semalam. Dasar tidak tahu malu," seru Veronica geram. Semalam dia memang tanpa sengaja melihat Jeffrey dan Jenny berduaan di taman kota.
"Ternyata semalam kau mengintip kami ya, awas itu mata cantikmu bisa bintitan," cibir Jenny tersenyum mengejek.
"Jadi benarkan yang aku pikirkan. Kau mencoba menggoda Jeffrey dengan memanfaatkan status pernikahan kontrakmu dan wajah sok polosmu,"
"Ck! Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah menggodanya," sanggah Jenny.
"Jangan berkilah. Kau dan Ibumu itu sama saja. Ibumu sampai menikah tiga kali, apa namanya jika bukan wanita murahan. Dan sepertinya kau juga akan mengikuti jejaknya karena menikahi banyak pria," hina Veronica yang semakin keluar jalur pembahasan karena pengaruh emosi yang kian menderu.
__ADS_1
Plak!
"Jangan sekali-kali menghina Ibuku atau aku akan menamparmu melibihi dari ini," ancam Jenny setelah melayangkan sebuah tamparan pada pipi Veronica. Saat ini, ia juga mulai tersulut emosi.
"Berani-beraninya kau menamparku! Kau dan Ibumu itu sama-sama buruk," Veronica mengangkat tangannya hendak melayangkan sebuah tamparan ke muka Jenny.
Plak!
Akan tetapi, Jenny berhasil menangkap tangan Veronica, dan ia kembali melayangkan sebuah tamparan yang lebih keras pada pipi Veronica. Sungguh, dia sangat terima jika ada yang berkata buruk tentang Ibunya. Apalagi yang dituduhkan ke Ibunya itu tidaklah benar.
Veronica yang tidak terima lantas menjambak rambut Jenny dengan kuat dan Jenny pun balik membalasnya. Aksi jambak menjambak berakhir ketika Jenny berhasil memintir tangan Veronica.
"Lepaskan tanganku! Kau menyakitiku. Kalau sampai tanganku patah aku akan melaporkanmu ke pihak kepolisian!" ancam Veronica yang meringis kesakitan.
Pada akhirnya Jenny melepas tangan Veronica. Lagian dia juga tidak ingin melukai perempuan yang bestatus sebagai kekasih dari suami kontraknya itu berlebihan.
Namun, alih-alih merasa jerah Veronica kembali menggencarkan aksinya. Dia menarik tangan Jenny dan mencengkeramnya dengan kuat. Veronica berniat melukai tangan rivalnya dengan menancapkan kuku-kuku panjangnya pada pergelangan tangan Jenny.
"Lepaskan kuku-kuku kotormu itu!" seru Jenny menahan sakit. Darah segar sudah tampak mengalir melewati sela-sela kuku Veronica yang masih tertancap di pergelangan Jenny.
Aksi tarik menarik pun tak terhindarkan selama beberapa detik. Hingga pada akhirnya Jenny mengibas tangannya dengan kuat untuk melepas tangannya dari belenggu kuku-kuku tajam milik Veronica.
Tanpa dia sadari tindakannya membuat tubuh Veronica terhuyun ke jalan raya yang kebetulan sedang ramai kendaraan yang mungkin dalam hitungan detik tubuhnya bisa saja menjadi korban tabrakan.
"Vero! Awas!" teriak Jeffrey yang tiba-tiba muncul dan menarik tubuh Veronica dengan cepat.
"Aahhk!" pekik Jenny karena tubuhnya terjungkal ke tanah.
Sekilas teriakan Jenny sempat menarik perhatian Jeffrey. Namun rengekan Veronica mengalihkan perhatiannya.
"Sayang, aku sangat takut. Untung kamu cepat datang," Veronica merintih seraya memeluk erat tubuh Jeffrey dan menenggelamkan mukanya pada dada bidang kekasihnya tersebut.
"Tenanglah, kau baik-baik saja sekarang," Jeffrey menenangkan tanpa menghiraukan keadaan Jenny saat ini.
"Aku tadi sempat bertengkar dengan dia. Dia menyuruhku untuk menjauhimu tapi aku menolaknya. Dia malah marah dan mendorongku. Coba kau lihat, pipiku memar karena dia juga menamparku dengan sangat keras," adu Veronica dengan isak tangisan buaya betina.
Jeffrey sontak mengalihkan mukanya ke arah Jenny yang masih tersungkur di tanah.
"Apa kau tidak tahu, tindakanmu ini bisa membahayakan dia!" seru Jeffrey tanpa melepas Veronica dari pelukannya. Pria itu tampak marah dan kecewa.
Jenny berusaha bangkit dengan sedikit tertatih karena masih merasakan sakit pada tubuhnya, terutaman bagian lutut dan tangan. Sebelah tangannya masih menangkup kepalanya yang juga terasa pusing karena benturan keras.
Jenny merasakan sesuatu yang hangat pada telapak tangannya. Dia menurunkan tangannya untuk memastikan. Jenny sedikit tercekat ketika melihat tangannya berlumuran darah.
Sedangkan Jeffrey juga tak kalah terkejutnya ketika melihat darah yang mengalir dari kepala Jenny. Seketika pria itu langsung melepas pelukan Veronica.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jeffrey yang mulai panik dan mendekati Jenny.
"Sebaiknya kita obati dulu lukamu," sambung Jeffrey yang hendak menyentuh Jenny namun langsung ditepis kasar olehnya.
Jenny tidak bersuara, tapi sorot matanya mewakili perasaannya saat ini. Rasa marah dan kecewa kepada Jeffrey sudah menyelimuti hatinya. Ingin rasanya dia berteriak dan mengeluarkan sumpah serapah di hadapan Jeffrey namun dia memilih memendam keinginannya itu.
Saat ini, tangisannya bisa saja pecah jika sedikit saja dia berbicara. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Veronica, tidak akan membiarkan harga dirinya semakin direndahkan.
Entah mengapa, ada perasaan tidak terima di kala Jeffrey lebih membela Veronica daripada dia yang notabene korban sebenarnya. Dengan denyutan jantung yang semakin terasa nyeri, Jenny memutar tubuhnya dan mengambil langkah cepat untuk berlalu dari hadapan Jeffrey dan Veronica.
Jeffrey yang berniat mengejar Jenny namun batal dia lakukan karena Veronica mendadak pingsan. Dari kejauhan, Jeffrey melihat Jenny masuk ke dalam mobil Sean yang kebetulan melintas.
°°°
"Jenn, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai terluka seperti ini?" tanya Sean yang tampak cemas.
Beberapa saat yang lalu, Sean membawa Jenny ke apartemennya untuk mengobati lukanya.
"Aku tadi kurang berhati-hati saja saat berjalan yang membuatku terjatuh," Jenny beralasan untuk menutupi kebenarannya.
"Aku mohon lebih berhati-hatilah. Jangan membuatku cemas seperti saat ini," pinta Sean menatap sendu Jenny seraya menangkup kedua pipinya.
Seutas senyuman tipis mengulas di muka Jenny. "Baiklah, aku akan lebih berhati-hati Sean," ucap Jenny merasa hangat karena mendapat perhatian dari Sean.
Sean menatap intens mata Jenny. Sorot matanya begitu tersirat banyak arti. Membuat Jenny menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan pria yang telah membuatnya nyaman tersebut.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Sean?" seketika semburat merah menghiasi pipi Jenny.
"Aku sangat menyukaimu Jenn. Aku berharap kau segera bercerai dengannya agar aku bisa segera memilikimu seutuhnya. Aku sangat cemburu jika mengingat kau tinggal satu atap dengannya. Rasanya ingin sekali aku menculikmu dan membawa pergi. Mungkin aku terdengar egois, tapi memang begitulah adanya," Sean mengutarakan perasaannya.
Dia meraih tangan mungil Jenny dan mengecupnya begitu dalam.
"Sean, bisakah kau mengantarku ke rumah Daisy sekarang? Malam ini aku ingin menginap di tempatnya," Jenny mencoba keluar dari situasi yang membuatnya sangat canggung saat ini.
"Kenapa? Apa kau ada masalah dengan Jeffrey? Apa dia menyakitimu?" tanya Sean menyelidik.
"Tidak kok, aku hanya ingin saja menginap di tempat Daisy. Aku juga sudah mengirim pesan ke dia kalau aku akan kesana," sekali lagi Jenny mencoba menutupi yang sebenarnya. Lagian untuk sekarang, dia masih malas untuk bertatap muka dengan suami kontraknya tersebut.
Sean tersenyum manis seraya mengusap lembut pipi Jenny.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana tentunya setelah menyantap makan malam,"
Bersambung~~
...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa....
__ADS_1
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Vote dan gift juga sangat bisa menyenangkan Author. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...