Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Gagal Malam Pertama


__ADS_3

...PERINGATAN!...


Bab ini mengandung unsur 21+. Harap bijak dalam membaca.🙏🙏


Sebuah benturan ringan pada tubuhnya menuntun kepala gadis blonde itu untuk menggiring muka ke arah benda yang baru saja dia tabrak.


Tatapannya kembali sendu ketika menyadari bahwa suami kontraknyalah yang berada di hadapannya sekarang. Entah sejak kapan Jeffrey kembali, Jenny bahkan tidak mendengar suara langkahnya tadi.


Kedua pasang mata anak manusia tersebut saling terkunci. Mereka seolah saling menyampaikan kata hati melalui sorot matanya.


"Sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kontrak ini," ucap Jeffrey dengan mimik muka tak terbaca.


Kedua pelupuk mata Jenny kembali memanas dan mulai berkabut. Kalimat Jeffrey seolah mengisyaratkan bahwa rumah rangga mereka sudah berada di ambang perceraian.


"Apakah kau ingin mengakhiri semuanya secepat ini? Bukankah kau bilang kita akan bercerai setelah lulus?" tanya Jenny seolah dia merasa keberatan jika harus bercerai secepat itu.


Harusnya Jenny sudah menyiapkan hati untuk akhir kisah pernikahannya yang sudah bisa ditebak. Tapi entah mengapa, hati kecilnya berkata lain. Takut, saat ini dia takut akan kehilangan.


"Iya, aku ingin segera mengakhiri perjanjian yang tidak masuk akal itu, tepatnya bukan mengakhiri tapi menghapus perjanjian itu dari dalam ikatan pernikahan kita," ucapan Jeffrey sukses membuat Jenny bertanya-tanya.


Jenny masih menatap lekat ke dalam manik hijau suaminya tanpa berkata apapun. Seolah mengerti akan pikiran istrinya yang menuntut kejelasan lebih Jeffrey mengulas senyuman tipis di bibirnya.


"Aku ingin kita mempertahankan ikatan pernikahan kita ini hingga akhir. Tidak ada perjanjian nikah kontrak dan tidak ada perceraian. Aku ingin menjalankan hari-hari kita layak pasangan suami istri normal lainya," ungkapan Jeffrey seraya menggenggam erat kedua pundak istrinya.


"Benarkah yang barusan kau katakan itu? Tapi kenapa? Kau bahkan tidak menyukaiku," tanya Jenny yang sesungguh menaruh secerca harapan bahwa setidaknya ada sedikit saja rasa suka Jeffrey kepadanya.


"Kenapa kau begitu bodoh, apa kau tidak bisa menyadari perubahan sikapku kepadamu akhir-akhir ini? Aku bahkan berkali-kali menciummu, apa kau pikir itu hanya sebuah perlakuan iseng saja?" Jeffrey mengusap kasar mukanya. Menghadapi sikap Jenny yang kelewat polos memang membutuhkan kesabaran ekstra.


Jenny sedikit menurunkan pandangannya yang sejajar dengan dada bidang Jeffrey.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi tak bisa dipungkiri, kau memang mulai bersikap baik kepadaku, mungkin karena sekarang kau menganggapku seorang teman dan bukan lagi musuh," jawab Jenny lirih.


"Ya Tuhaannn.. Kenapa kau begitu polos. Atau mungkin kau memang sudah bodoh dari orok?" cerca Jeffrey menahan frustasi.


Ucapan Jeffrey berhasil membuat mimik muka Jenny berubah masam. Dia langsung menghadiakan sebuah pukulan pada dada bidang Jeffrey.


"Iya aku memang bodoh! Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sendiri," sungut Jenny yang langsung mamasang mimik muka cemberut.


Jeffrey menghela napas panjang untuk berusaha memahami, kemudian ia menarik tubuh jenny kedalam rengkuhan tangannya. Pelukan yang begitu dalam, hangat, dan posesif.


"Sekarang, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Jeffrey yang masih memeluk Jenny.


"Aku merasa sangat nyaman," jawab Jenny polos.


Jeffrey sedikit mengurai pelukkannya lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat pada kening Jenny.


"Lalu sekarang apa yang kau rasakan?" tanya Jeffrey lagi.


"Dadaku berdebar lebih cepat dan jantungku rasanya mau loncat," jawaban Jenny membuat Jeffrey mengulas senyuman di bibirnya.


"Sekali lagi, coba kau rasakan jika kita melakukan hal ini," pinta Jeffrey yang langsung mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Jenny. Memberikan beberapa lu*matan ringan yang berdurasi singkat namun memabukkan.

__ADS_1


"Katakan, apa yang kau rasakan saat ini," tanya Jeffrey seraya menatap secara intens sepasang manik biru cantik Jenny.


Jenny tertunduk, rasanya saat ini dia terlalu malu hanya untuk sekedar membalas tatapan intens Jeffrey.


"Coba katakan apa yang kau rasakan?" desak Jeffrey.


"Tubuhku... Serasa terbang, nyaman dan berdebar bercampur jadi satu," jawab Jenny lagi yang masih tertunduk malu dengan volume suara semut yang hampir tak terdengar namun masih bisa tertangkap oleh indera pendengaran Jeffrey.


Jeffrey meraih tangan Jenny lalu menuntunnya ke dadanya.


"Apa yang kau rasakan juga aku rasakan saat ini," ungkap Jeffrey.


"Astaga kenapa getaran di dadanya begitu sangat terasa, aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya saat ini," batin Jenny di dalam hati.


"Sepertinya aku memang sudah menyukaimu Jenny Dawson," ucap Jeffrey penuh keyakinan dan perasaan.


Ucapan Jeffrey sukses menambah kecepatan beat pada jantung Jenny. Tidak dapat disangkal lagi, bagaikan ada ribuan bunga yang bermekaran di hatinya, gadis itu jelas menyukai kalimat pernyataan yang baru saja keluar dari bibir Jeffrey. Jenny pun mulai memberanikan diri untuk membalas tatapan Jeffrey yang begitu dalam.


"Mungkinkah aku juga menyukaimu?" tanya Jenny sedikit ragu yang langsung mendapatkan hadiah ciuman tiba-tiba dari Jeffrey.


Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini ciuman Jeffrey begitu intensif. Tidak peduli saat ini mereka sedang berada di kawasan universitas. Meski kebetulan suasana lingkungan taman botanik sedang lenggang tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan ada satu atau dua orang yang melewati tempat itu.


"Fyuuuh! Kenapa kau suka sekali membuatku hampir tidak bisa bernapas?" protes Jenny yang berhasil melepas pagutan bibir Jeffrey.


"Kenapa kau begitu payah?" cibir Jeffrey lalu seraya mengusap bekas cairan salivanya yang membasahi bibir Jenny.


"Kau sepertinya sangat berpengalaman. Kau pasti sering melakukannya dengan Veronica," cebik Jenny.


"Bukankah itu wajar jika aku berciuman dengan kekasihku?" timpal Jeffrey.


Jantung Jenny seketika berdenyut dalam hingga terasa nyeri bagian dada ketika mendengar Jeffrey melontarkan kata kekasih.


"Apa Veronica masih sebagai kekasihmu?" tanya Jenny pelan.


"Bukankah kau tadi sudah mendengarnya kalau aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi?" jawab Jeffrey.


"Benarkah?" sepasang mata Jenny tampak berbinar-binar.


"Iya itu memang benar. Kau terlihat sangat senang, kau pasti cemburu kan jika aku bersama wanita lain?" goda Jeffrey menyeringai.


Jenny sontak menarik tubuhnya dari rengkuhan tangan Jeffrey.


"Siapa bilang aku senang? Aku tidak cemburu kok, jangan terlalu percaya diri," kilah Jenny lalu memutar tubuhnya dan berniat meninggalkan Jeffrey.


"Kau tidak bisa membohongiku Jenny Dawson. Aku tahu kau juga menyukaiku," ucap Jeffrey yang mencoba mengikuti Jenny.


"Katakan kau cemburu kalau aku dengan wanita lain," desak Jeffrey.


"Aku tidak dengar.. Aaaaaa... Aku tidak dengar," Jenny masih saja berkilah seraya menutup telinganya.


"Ayolah, akui saja,"

__ADS_1


"Aaaaaa... Aku tidak dengar kau berkata apa, aaaa..,"


Beberapa menit kemudian, sepasang suami istri muda itu sudah sampai di depan pintu apartemen mereka. Sepertinya Jeffrey masih larut dalam perasaan senangnya, nyatanya baru beberapa langkah mereka menjejakkan kakinya ke dalam apartemen, Jeffrey langsung memeluk tubuh Jenny dari belakang.


"Beruang kutub apa yang kau lakukan?" seru Jenny yang terkejut tindakan suaminya yang tiba-tiba.


"Aku ingin sekali memakanmu," seringai Jeffrey penuh arti.


"Beruang kutub tunggu sebentar, aahhhh, aku merasa sedikit geli, ahhhhh," ucap Jenny di sela desahannya.


Jeffrey beberapa kali menghujam leher Jenny dengan beberapa kecupan hangat. Bahkan pola kupu-kupu sudah sukses tercetak indah di sana. Jenny yang sudah terbuai akan sentuhan bibir Jeffrey mulai pasrah akan semua tindakan nakal suaminya.


Jenny memutar tubuhnya menghadap Jeffrey. Kedua pasang mata Jeffrey dan Jenny saling mengunci. Seolah saling menyalurkan perasaan dan nafsu melalui sorot matanya.


Bagaikan kedua kutub magnet yang berbeda, jarak muka mereka kian terpangkas dan kegiatan kecupan-kecupan basah nan lumer pun tak terhindarkan.


Masih dengan bibir yang saling berpagutan, Jeffrey menggiring Jenny mendekati sofa ruang tamu lalu mendaratkan tubuh kecil istrinya di atas sofa dengan posisi tubuh saling menindih.


Jenny meremas gemas rambut legam Jeffrey dikala lidahnya kembali menari-nari balet di leher mulusnya.


Jeffrey menghentikankan aksinya sesaat di kala lidahnya sudah sampai pada ambang perbatasan lereng gunung kembar yang berada tepat di depan mukanya. Pria itu menggiring mukanya ke arah muka Jenny yang sudah memerah karena sensasi basah dan hangat dari lidah Jeffrey yang menyengat tubuhnya.


"Apa aku boleh melakukannya sekarang?" tanya Jeffrey dengan tatapan berkabut.


"Melakukan apa?" Jenny balik bertanya.


Jeffrey meraih tangan Jenny dan menuntunnya menuju adik kecilnya yang ternyata sudah sangat mengeras. Muka Jenny seketika memerah karena bagaimanapun juga dia sedikit mengerti apa maksut Jeffrey.


"Bolehkah?" tanya Jeffrey lagi meminta persetujuan.


Jenny mengangguk pelan sebagai tanda dia memberikan ijin. Saat ini Jeffrey meminta haknya sebagai suami, bagaimana bisa Jenny menolaknya. Lagian itu juga sudah kewajibannya sebagai istri.


Jeffrey menyunggingkan senyuman di bibirnya tatkala mendapati sebuah anggukkan dari istrinya. Tidak ingin menundanya terlalu lama, pria yang sudah terselubung nafsu itu mulai menggencarkan aksinya.


Tangannya mulai meraba-raba pada setiap bagian sensitif tubuh Jenny. Kancing-kancing kemeja Jenny satu persatu juga sudah terlepas sehingga Jeffrey kini bisa melihat pemandangan yang tersaji dengan sangat indah dan elok. Sepasang gundukan kenyal yang masih terbungkus bra berwarna putih itu sukses membuat pria itu kesulitan menelan cairan salivanya.


Sedangkan Jenny hanya bisa menutup mukanya dengan kedua tangannya karena merasa sangat malu.


Jeffrey kembali memainkan tangannya pada gundukan sintal yang begitu menggodanya. Dan entah sejak kapan bra yang membungkusnya sudah terlepas dan berterbangan bagaikan piring terbang.


Entah rumus matematika apa yang diterapkan Jeffrey sehingga ia bisa dengan mudah melepas penutup gunung kembar Jenny tanpa melepas kemeja yang masih melekat di tubuhnya.


"Aahhh.. beruang kutub, pelan-pelan, aku merasa geli," keluh Jenny yang merasakan sensasi yang begitu asing ketika lidah jeffrey berputar-putar pada kedua biji yang sudah menegang secara bergantian.


"Ya Tuhaaannnn..! Sepertinya aku datang di waktu yang salah," pekik seseorang yang sontak membuat Jeffrey dan Jenny terkejut dan langsung menghentikan kegiatannya. Mau tidak mau nafsu yang sudah memuncak ke ubun-ubun harus tertahan.


Bersambung~~


Maaf jika ceritanya terksesan terburu2 dan gk enak dibaca, typo juga bertebaran kemana2, ni author ngetiknya sampai dh beberapa kali ketiduran. Maklum author selesai kerjanya jam 11 malam🙏🤣


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2