Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Alun Alun Kota


__ADS_3

Di depan lobby bandara sebuah sambutan meriah yang jauh dari kata epic menarik perhatian para tamu yang sedang berada disana, bahkan bukan lagi kata meriah yang cocok untuk menggambarkan sambutan tersebut, namun sambutan yang anti mainstream no abal-abal.


Iya, bagaimana tidak anti mainstream? Dari depan tampak Daisy menyambut kepulangan pasangan honeymoon Jeffrey dan Jenny dengan tingkat antusias yang melebihi batas kewajaran mental manusia. Tidak tanggung-tanggung, suara lumba-lumbanya seketika menggelegar tatkala sebuah alat pengeras suara genggam yang berbentuk corong berada tepat di depan mulutnya.


Sementara itu Sammy dan Alvin tampak membentang sebuah spanduk besar yang bertuliskan selamat atas berhasilnya ritual pembukaan segel kesucian kalian. Kami ikut senang dan terharu.


Tidak lupa sebuah foto Jeffrey dan Jenny yang sedang pose erostis juga terpampang jelas memenuhi spanduk. Entah siapa yang memiliki ide mengedit foto yang begitu jauh dari kata estestis itu. Apa mungkin Sammy? Ya mungkin saja. Pasalnya dari semua anggota geng Sammy adalah satu-satu spesies langka yang memiliki otak cabul dengan tingkat kapasitas kemesuman tak terhingga.


Sedangkan Jullian dan Avellyn, mereka tidak ikut. Jangan ditanya kenapa. Mereka berdua masih memiliki otak yang sangat waras dan tidak ingin ikut-ikutan gila.


"Yey! Selamat untuk pasangan double J yang baru saja pulang bercocok tanam di negeri kincir," Daisy bersorak sorai gembira seraya menyebarkan kelopak bunga mawar merah setelah melihat kedatangan Jeffrey dan Jenny.


Sammy yang tidak mau kalah, dia mengambil alih megefon dari tangan Jeffrey dan ikut bersuara.


"Jeff, akhirnya kau sudah tidak perawan lagi ya," cerocos Sammy heboh disertai mimik muka tak berdosanya.


"Woi! Apa kau tidak salah? Yang betul itu si Jeff sudah tidak perjaka lagi bodoh," Alvin membenarkan.


Dari jauh, Jeffrey dan Jenny yang menyadari aksi gila para geng, seketika merubah haluan langkah mereka mencoba kabur sejauh mungkin sebelum Sammy, Alvin, dan Daisy semakin membuat mereka malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Sudah kuduga, para anak setan itu pasti akan berbuat gila," gerutu Jeffrey di sela langkah cepatnya.


"Aaiiihh! Ini sangat memalukan," gerutu Jenny yang mengikuti langkah Jeffrey. Ia tampak sedikit menunduk seraya menutup mukanya.


"Jenny, kami di sini. Kalian mau kemana?" teriak Daisy setelah merebut kembali megafon dari tangan Sammy.


Alih-alih peka akan gelagat Jeffrey dan Jenny yang terlihat tidak suka dan malu, Daisy justru berlari mendekati mereka dan diikuti Sammy dan Alvin dengan spanduk yang masih terbentang.


"Kenapa kalian malah kabur? Padahal kami sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut kepulangan kalian," protes Daisy yang tampak ngos-ngosan setelah aksi kejar-kejaran.


Bukan hanya Daisy saja, namun sepasang suami istri Jeffrey dan Jenny serta Sammy dan Alvin juga tampak tersengal-sengal. Ya, akhirnya penyambutan gila itu berakhir dengan ngos-ngosan masal mereka berlima.


"Rasanya ingin sekali aku mencekik kalian satu persatu," geram Jeffrey di sela napasnya yang masih terisi separuh. Karena aksi tidak waras trio minim ahklak itu, harga diri Jeffrey seolah menguap seketika.


"Kau sungguh keterlaluan Jeff, karena kami teman yang baik dan perhatian makanya kami melakukan itu" timpal Sammy yang diikuti anggukan Daisy dan Alvin.


Jeffrey dan Jenny sontak memijit pelipisnya bersamaan.


"Sudahlah, sebaiknya kita segera masuk mobil. Aku sangat lelah," Jenny berusaha mengakhiri perdebatan mereka.


"Oke, kau yang nyetir," titah Alvin seraya melempar kunci mobil ke Jeffrey.


"Kenapa malah aku yang menjadi sopir kalian?" dengus Jeffrey.


"Karena aku juga sangat lelah, selama 2 jam aku menunggumu sambil membentang spanduk membuat tanganku pegal," timpal Alvin santai lalu melenggang pergi, masuk ke dalam mobil yang sudah tidak terkunci.


°°°


Waktu masih terus bergulir tanpa ada jeda sedetikpun. Sang surya masih setia terbit dari ufuk timur dan tenggelam ke ufuk barat. Sehingga pergantian malam ke siang, siang ke malam pun masih terus berlanjut.


Setelah dua bulan dari kegiatan bulan madu, Jeffrey dan Jenny melalui hari-hari mereka dengan hangat dan penuh sayang. Meskipun perdebatan-perdebatan kecil sering kali mewarnai kehidupan rumah tangga mereka, namun hal itu bisa diselesaikan dengan bijak.


Para mahasiswa di semester akhir mulai tampak sibuk dengan persiapan proposal sekripsi mereka. Begitupun Jeffrey dan Jenny.


Jeffrey mendengus geli dikala melihat Jenny tertidur di atas meja perpusatakaan. Dengan posisi duduk dan hanya berbantalkan tangan ia tampak begitu pulas.


Dengan membawa beberapa buku tebal yang akan dijadikan sumber referensi sekripsi, pria itu mendekati meja tempat Jenny tertidur.


Perlahan pria tampan bermuka masam itu meletakkan buku-buku yang dia bawa di atas meja.


"Hei, bangunlah. Kau tidak seharusnya tidur di perpustakaan," tutur Jeffrey mencoba membangunkan Jenny dengan mengusap lembut surai panjang bergelombangnya.

__ADS_1


"Hmmm, aku sangat mengantuk, mataku seperti ada lem supernya," gumam Jenny lirih dengan mata yang masih enggan terbuka. Hal itu sontak membuat Jeffrey mendengus geli.


"Kenapa kau akhir-akhir ini seperti kucing pemalas," canda Jeffrey gemas.


"Akhir-akhir ini aku sering sekali merasa ngantuk," timpal Jenny.


Selang tidak lama Sean juga datang untuk bergabung dengan Jeffrey dan Jenny. Di tangannya juga tampak beberapa tumpukan buku tebal dengan judul yang berbeda.


"Dia kenapa?" tanya Sean heran.


"Katanya dia sangat mengantuk," jawab Jeffrey.


"Sepertinya dia kelelahan, kau pasti mengerjainya setiap malam," kelakar Sean dengan suara sedikit rendah karena menyadari mereka sekarang berada di perpustakaan.


Jenny sontak mengangkat kepalanya dari meja. "Hiiish! Bisakah kau tidak membahas hal memalukan itu di depanku, kau dan Jeffrey ternyata sama saja," dengus Jenny lalu kembali mendaratkan kepalanya di meja.


Sedangkan Sean dan Jeffrey tampak mendengus geli seraya saling melempar pandang.


"Sebaiknya kau bawa pulang istrimu, dia tampak sangat kelelahan," tutur Sean kepada Jeffrey.


"Tanpa kau suruh, aku juga berniat membawanya pulang," timpal Jeffrey.


"Hei! Kucing pemalas, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Jeffrey yang langsung direspon Jenny.


"Baiklah, aku juga sudah sangat rindu dengan ranjangku dirumah," ucap Jenny seraya menutup mulutnya yang sedang menguap kemudian beranjak dari duduknya yang diikuti Jeffrey.


"Sean, aku pulang dulu ya," pamit Jenny.


"Baiklah, berhati-hatilah. Jeff kau harus mengawasi istrimu ketika memboncengnya. Takutnya dia tertidur di motor," tutur Sean yang cuma mendapat balasan anggukan samar Jeffrey.


Sean yang masih terduduk di bangku perpustakaan menatap sendu punggung Jenny yang kian mengecil dan menghilang dari pandangannya.


Meskipun dia sudah berusaha untuk ihklas, tapi tetap saja, hati kecilnya masih terasa perih ketika melihat kemesraan Jenny dengan Jeffrey. Dia begitu pandai menutupi rasa sakit yang menyelubungi jiwanya. Hingga siapapun tidak akan bisa menyadarinya.


Ditambah lagi kusutnya benang persahabatan antara dia dan Jeffrey lekas kembali lurus. Dia tidak ingin merusak hubungan yang seharusnya dijaga dengan baik itu.


Sean sesaat menghela napas panjang. "Angsa putihku, hiduplah dengan bahagia bersamanya, jangan buat aku menyesali keputusanku karena melihatmu menangis," Sean mengulas senyuman penuh ketulusan di bibirnya.


°°°


Motor sport yang dikendarai Jeffrey sudah berhenti di basement apartemen.


"Kenapa kau tidak segera turun?" tanya Jeffrey yang masih bertengger di atas motor. Dia merasakan gelagat aneh Jenny yang tak urung turun dari motor.


"Beruang kutub, tiba-tiba aku ingin makan ice cream dekat alun-alun kota," rengek Jenny.


"Kenapa kau tidak bilang di saat kita melewatinya tadi? Sekarang kita sudah sampai apartemen dan kau baru bilang, bukankah itu sangat merepotkan?" sembur Jeffrey sedikit kesal.


"Tadi aku memang belum ingin makan ice cream, tapi sekarang aku sangat menginginkannya," jelas Jenny dengan muka melas.


"Apa tidak bisa besok saja? Bukankah kau tadi terlihat sangat mengantuk? Sebaik kau segera istirahat saja," tutur Jeffrey mengandung penolakan.


"Aku sudah tidak mengantuk. Ayolah beruang kutub, aku sangat ingin makan ice cream dekat alun-alun kota. Membayangkan ice cream dengan ditaburi toping blueberries pasti sangat lezat dan segar," Jenny terus merengek seraya menarik-narik jaket yang dikenakan Jeffrey.


"Kenapa kau seperti anak kecil? Besok saja,"


"Jadi kau tidak mau mengantarku? Baiklah, aku juga bisa pergi kesana sendiri," Jenny terlihat ngambek kemudian langsung turun dari motor.


Jenny sudah hampir keluar dari basement apartement namun langkahnya terhenti karena Jeffrey menariknya dan membawanya kembali ke atas motor besarnya.


"Kenapa kau akhir-akhir ini sering kali mengambek? Hm? Baiklah aku akan mengantarmu," akhirnya Jeffrey menyerah dan menuruti permintaan Jenny.

__ADS_1


"Tapi kau terlihat tidak tulus?" dengus Jenny cemberut.


"Sekarang apa lagi? Aku tidak mengantarmu kau marah, sekarang aku berubah pikiran untuk mengantarmu kau ganti menuduhku tidak tulus?" ucap Jeffrey sebisa mungkin berusaha tetap tenang menghadapi mood kucing kecilnya yang menurutnya beberapa hari ini pasang surut tidak menentu.


"Kenapa kau malah memarahiku?" mata Jenny tampak berkaca-kaca.


"Hah! Aku tidak marah Jenny Dowson," sanggah Jeffrey yang mulai frustasi.


"Tapi kau sangat terlihat sedang kesal," kedua sudut bibir Jenny melengkung kebawah dan ia mulai menangis.


"Arrrgg! Sebenarnya dia kenapa? Aku merasa semuanya tidak ada yang benar," frustasi Jeffrey di dalam batin.


Jeffrey sesaat memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat hidung. Dia tidak suka jika melihat Jenny menangis.


"Kucing kecilku, aku sungguh tidak marah, aku akan mengantarmu membeli ice cream, jangan menangis lagi ya," Jeffrey mencoba menenangkan istrinya seraya merangkum muka kecil Jenny dengan ibu jari menyapu air mata yang membasahi pipi.


"Benarkah? Kau tidak bohong?" dengan mata yang masih lembab, Jenny menatap lekat sepasang lensa hijau milik Jeffrey.


"Iya, aku tidak berbohong. Sekarang aku akan mengantarmu membeli ice cream di alun-alun kota," seketika muka Jenny tampak berseri-seri.


"Kalau begitu ayo kita segera meluncur..," ucap Jenny setengah berteriak yang tampak bersemangat.


"Dasar kucing nakal," Jeffrey mengayak gemas rambut Jenny hingga akhirnya motor yang dia tumpangi melaju menuju ke tempat tujuan.


Di alun-alun kota Cambridge, sepasang kekasih itu sedang duduk di salah satu bangku dekat taman. Jenny tampak sangat menikmati ice cream bertoping blueberriess dengan porsi jumbo.


"Makanlah dengan pelan-pelan," tutur Jeffrey yang masih menamati cara makan Jenny yang terkesan rakus.


"Ini sangat enak, kenapa kau tidak mencobanya juga?"


"Dengan melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang,"


"Cobalah sedikit saja," pinta Jenny seraya menyodorkan ice cream-nya tepat di depan mulut Jeffrey.


Perlahan Jeffrey sedikit mel*mat makanan manis yang memberikan sesansi dingin tersebut.


"Bagaimana? Bukankah ini lezat dan manis?" tanya Jenny antusias.


"Iya kau memang benar, tapi ada ice cream yang lebih lezat dan manis daripada ini?"


"Benarkah? Aku juga ingin mencicipinya?"


"Kau sungguh ingin mencicipinya?" tanya Jeffrey yang langsung mendapat balasan anggukan Jenny.


Seringai nakal langsung tercetak di muka Jeffrey. Sejurus ia mengoles ice cream ke permukaan bibir Jenny lalu tanpa aba-aba ia menyapu benda kenyal yang masih belepotan ice cream tersebut dengan lidahnya yang disusul sebuah lum*tan lembut nan hangat namun berlangsung singkat karena Jenny mendorong pelan tubuhnya.


"Beruang kutub, jangan lakukan itu, di sini banyak orang, aku sangat malu," ucap Jenny dengan muka yanh sudah merona.


Jeffrey mendengus geli. "Kalau begitu cepat habiskan ice cream-mu, karena aku ingin melanjutkannya di apartemen kita," balas Jeffrey seraya mengusap lembut bibit Jenny.


Tiba-tiba jenny tampak mengernyit di kala sebuah aroma pekat yang menerobos ke dalam indera penciumannya. Seketika isi perutnya terasa bergejolak yang memberikan sensasi mual. Ia mencoba menutupi hidungnya, mencegah aroma pengganggu itu kembali menyusup ke dalam hidungnya agar perutnya berhenti bergejolak.


"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Jeffrey cemas karena menyadari gelagat aneh Jenny.


"Hmp! Hmp!" Jenny tampak berusaha menahan mulutnya agar tidak memuntahkan isi perutnya.


"Aku tidak suka aroma sosis bakar yang di bawa anak kecil itu tadi," jelas Jenny yang masih manahan mual.


Beraambung~~


...Untuk para Reader tersayang:...

__ADS_1


...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. -Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...


...Terimakasih🙏🥰...


__ADS_2