Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Akhirnya Putus


__ADS_3

Cuaca di akhir pekan tampak tak bersahabat. Gundukan kapas hitam kelabu mulai memayungi langit kota Cambridge. Seolah siap memuntahkan semua tampungan air di dalamnya. Sinar sang raja siang pun memilih bersembunyi di balik sang mega mendung.


Butiran bening mulai meloncat dari sarangnya secara serentak membasahi Bumi yang sudah tua. Membuat para penghuninya berlarian menyelamatkan diri dari hujaman cairan yang beraninya main keroyok tersebut. Mencari tempat teduh untuk berlindung.


Di belahan kota lain, seorang anak manusia bersurai coklat sedang duduk di balkon apartemennya. Sesekali dia menyesap cairan kuning keemasan dari dalam lowball glass khusus untuk minuman beralkohol.


Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke depan dengan sorotan kosong. Namun otaknya tak henti-henti terus memutar kembali akan kalimat ungkapan perasaan dari mulut sang kekasih.


Mungkin dia akan sangat berbahagia jika ungkapan itu ditujukan ke dia, tapi kenyataannya tidak. Hatinya dibuat hancur lebur karena ungkapan perasaan itu ditujukan kepada wanita lain yang tak lain istri dari kekasihnya. Amarah dan kecewa berkolaburasi dengan kedengkian iblis. Seketika matanya memerah, rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram gelas yang masih ia pegang begitu kuat.


Crang...!


Lengkingan suara pecahan gelas kaca memenuhi ruang balkon apartemen yang sedikit tersapu rintikan hujan.


Seolah belum puas menghancurkan sebuah gelas yang tak berdosa itu, wanita itu meraup pot bunga yang terletak cantik di ujung balkon lalu membantingnya hingga hancur tak terselamatkan.


Napasnya tampak mengudara dengan berat dan terdengar bergetar karena kemurkaan yang kian mendidih.


Setelah merasa sedikit tenang, wanita yang berstatus pacar Jeffrey itu meninggalkan pecahan benda yang dibiarkan berserak, kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di tepian ranjang.


"Keberadaan perempuan jalang itu sungguh mengganggu, apa kau tidak punya ide untuk menyingkirkannya?" tanya Veronica kepada seseorang yang berstatus tidak lebih dari partner in bed-nya yang tak lain adalah Diven.


Sedari tadi Diven memang hanya diam menikmati tontonan di depannya di kala Veronica melampiaskan luapan emosinya pada barang-barang yang mungkin akan protes jikalau bisa berbicara.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Diven yang memang belum tahu tentang alasan membuat teman bermain di ranjangnya itu badmood.


"Kekasihku terang-terangan berkata di depanku kalau dia mulai menyukai istri kontraknya itu. Hal itu bisa mengancam posisiku di sampingnya," terang Veronica geram.


"Ayolah, kenapa kau terlalu berpikir jauh? Bukankah selama ini dia tidak bisa meninggalkanmu karena kau pernah menyelamatkan nyawanya? Meskipun itu hanya rekayasa semata," tutur Diven seraya menyesap puntung rokok yang bertengger di antar kedua jari telunjuk dan tengahnya lalu menghembuskan asap putih beraroma tembakau di udara.


"Tapi tetap saja aku merasa terganggu. Selama 3 tahun lamanya aku berpacaran dengannya tanpa mendapatkan balasan cinta. Segala cara sudah aku lakukan untuk mengambil hatinya tapi semua itu terancam sia-sia karena kehadiran perempuan udik itu. Kenapa Jeffrey bisa secepat itu menyukai perempuan yang jelas-jelas kecantikkannya tidak sebanding denganku?" sarkas Veronica geram.


"Aku jadi penasaran seperti apa perempuan yang bisa dengan mudah menarik perhatian pacarmu yang berhati batu dan dingin itu, apakah dia cantik? Tubuhnya pasti sangat menggoda," ucap Diven seraya membayangkan bentuk sosok yang mulai membuatnya penasaran.


"Namanya adalah Jenny, penampilannya...? sungguh kampungan, dia seperti tidak memahami trend fashion," jelas Veronica dengan mimik muka mencemoh.


"Jenny?" Diven mencoba mengingat sebuah nama yang memang tidak asing didengar olehnya.

__ADS_1


"Jenny Dawson?" sambungnya lagi.


"Iya namanya Jenny Dawson, apa kau mengenalnya?" tanya Veronica terkejut.


"Sungguh menarik," ucap Diven menyeringai licik dengan raut muka tak terbaca.


"Kali ini kau harus membantuku untuk menjauhkannya dari Jeffrey," pinta Veronica. Lalu mendekati dan mulai meraba lembut dada telanjang Diven. Kemudian menurunkan tangannya dan menyelinap di balik kain yang membungkus benda sensitif yang mulai bangkit dari tidurnya.


"Uuuuhhhg! Apa kau sedang merayuku?" Diven mulai terangsang.


"Tentu saja aku sedang merayumu agar kau tetap bersedia membantuku. Lagian aku sudah terlanjur tenggelam dalam ikatan janji busukmu itu, jadi sekalian saja aku menyelam lebih jauh. Tapi ingat hubungan kita ini rahasia," ucap Veronica.


"Dasar rubah betina, puaskan aku dulu nanti akan aku cari cara untuk membantumu,"


Tanpa berpikir panjang, Veronica langsung memulai ritual pembangkitan benda sakral milik Diven. Menyenangkan pria itu dengan memberikan kenikmatan terlarang yang sudah menjadi candu baginya.


Suara desahan, erangan, lenguhan, jeritan kenikmatan mewarnai suasana kamar yang semakin terasa panas.


Kurang lebih 1 jam, akhirnya kegiatan olah raga ranjang selesai. Veronica yang merasa kekeringan pada tenggorokannya, bergegas menuruni ranjang dan keluar kamar. Berniat mencari sesuatu yang bisa mengobati rasa dahaganya.


"Sa-sayang, s-sejak kapan kau berada di sini? Bi-biasanya kau akan menelpon dulu kalau mau datang," tanya Veronica terbata-bata karena gugup. Sekilas dia tampak sedikit menoleh ke belakang, berharap Diven tidak keluar dari kamar.


"Aku sudah mendengar semua percakapanmu, aku juga mendengar suara kenikmatan dari aksi gilamu dengan pria bajingan itu di dalam," jawab Jeffrey dengan aura dingin yang mencekam.


"A-apa?! Sayang aku bisa menjelaskan semuanya, aku lakukan ini semua karena aku sangat mencintaimu, aku ingin memilikimu seutuhnya," jelas Veronica dengan suara yang bergetar antara merasa takut kehilangan dan menahan tangis.


"Aku tidak menyangka, ternyata selama ini kau menipuku. Ternyata bukan kau yang menyelamatkan nyawaku waktu itu! Dan kau! bisa-bisanya kau mengatai istriku jalang padahal kau sendirilah jalang sebenarnya!" hardik Jeffrey yang mulai naik pitam.


"Ck! Syukurlah, dengan ini aku jadi punya alasan kuat untuk memutuskanmu. Mulai detik ini, jangan sekali-kali kau menampakkan mukamu di hadapanku!" seru Jeffrey.


Veronica langsung bersimpuh dan memeluk kaki Jeffrey seraya menangis histeris.


"Sayang aku mohon maafkan aku, aku akan memperbaiki semuanya. Kau akan memaafkanku kan? Aku mohon jangan tinggalkan aku, kalau kau pergi lebih baik aku mati. Aku akan bunuh diri. Kau tau sendiri bukan kalau aku tidak pernah takut untuk melukai diriku sendiri?" Veronica memohon dengan sedikit ancaman yang biasa dia gunakan agar Jeffrey tidak meninggalkannya.


"Aaahhhkk! Sayang kau menyakitiku," pekik Veronica ketika tubuhnya terjungkal ke belakang karena Jeffrey mengibas kakinya dengan kasar.


"Terserah kau mau berbuat apa. Sekalipun kau mati, aku tidak akan menyesalinya," tandas Jeffrey lalu menggiring mata elangnya pada sosok pria yang menyembul dari dari balik pintu kamar karena merasa terganggu dengan kegaduhan di luar.

__ADS_1


Diven menyungging salah satu sudut bibirnya. Seolah rasa malu pada dirinya sudah menguap dia menyapa Jeffrey.


"Tidak ku sangka kita bertemu lagi dalam situasi yang kurang tepat," ucap Diven seraya bersandar pada bingkai pintu.


Jeffrey mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu. Jeffrey merasa tidak pernah bertemu dengan pria di hadapannya itu, tapi kenapa dia bersikap seolah mereka pernah bertemu?


"Kau pasti lupa, kita pernah bertemu di acara pesta Ella, saudara tiri istrimu," jelasnya lagi.


"Kita pernah bertemu atau tidak aku tidak peduli karena kau bukan orang penting bagiku," cerca Jeffrey.


"Ayolah kawan, jangan seperti itu, sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu, jangan larut dalam emosi. Aku dan kekasihmu hanya bersenang-senang sebentar," ucapan Diven langsung mendapatkan delikan tajam dari Veronica.


Veronica beberapa kali mengumpat di dalam hati. Menurutnya, keberadaan Diven semakin memperkeruh suasana.


"Ck! menjijikkan," cemoh Jeffrey. Tidak ingin berlama-lama berada di sana, dia memutar tubuhnya berniat segera keluar dari bangunan yang sering dijadikan tempat mesum itu. Tapi Jeffrey kembali memutar tubuhnya menghadap Veronica yang masih sesenggukan di lantai dan Diven yang masih berdiri dengan ekspresi yang sangat santai.


"Jangan sekali-kali kalian berniat menyentuh bahkan menemui istriku! Kalau aku tau kalian berbuat jahat padanya, maka kalian akan mati di tanganku!" Gertak Jeffrey penuh ancaman kemudian dia benar-benar menghilang dari hadapan kedua anak manusia yang baru saja ketangkap basah tersebut.


Tidak peduli ribuan butiran air hujan menghujam tubuhnya hingga basah kuyub, Jeffrey melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota Cambridge menembus derasnya guyuran air yang turun dari awang-awang.


Pria tampan bermuka masam itu masih terus mengutukki dirinya sendiri di sepanjang perjalanan. Dia sangat marah, dia sangat kecewa. Bukan karena Veronica menghianatinya melainkan karena kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya dia bisa mempercayai tipu muslihat wanita ular itu dengan sangat mudah. Dan hal itu berlangsung tak hanya sehari dua hari, melainkan 3 tahun. Bodoh bukan?


Namun di dalam bilik hatinya yang lain, Jeffrey merasa lega. Iya, dia merasa lega karena akhirnya dia bisa memutus jalinan yang tidak dilandasi cinta tersebut tanpa ada rasa tak enak hati.


Tiba-tiba bayangan seorang gadis yang sudah menguasahi otak dan pikirannya terlintas dalam pikirannya. Tampak seutas senyuman yang mengulas dari bibirnya. Keinginan untuk menemuinya kian merindu.


Belum sampai apartemennya, namun Jeffrey mengurangi kecepatan laju motornya dan akhirnya berhenti tidak jauh dari salah satu Coffee Shop tanpa peduli akan guyuran cairan bening yang beraninya main keroyokan. Masih berada di tengah-tengah siraman air mata cakrawala, suami muda itu mengunci matanya pada sosok gadis yang baru saja terlintas di pikirannya.


Iya, saat ini dia sedang melihat Jenny berada di sebuah Coffee Shop bersama seseorang yang belum lama menjadi rivalnya. Dia mengepal erat tangannya yang sudah membeku karena dinginnya air hujan ketika melihat pria itu menangkup dan mencium tangan Jenny dengan tatapan penuh makna.


Bersambung~~


...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa...


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2