
Kedua pemuda yaitu Jeffrey dan Alvin sedang berdiri di depan mobil yang terparkir cantik tidak jauh dari tepi sungai Cam. Jeffrey menekuk muka masamnya karena kesal. Pasalnya, sudah lewat 10 menit dari waktu yang dijanjikan tapi pucuk hidung belang Sammy belum juga nampak.
"Apa kalian sudah lama menungguku?" Kepala Sammy tiba-tiba menyembul dari belakang di antara bahu Jeffrey dan Alvin yang kebetulan sedang berdiri bersebelahan.
Jeffrey dan Alvin sontak memutar lehernya ke arah sumber suara secara bersamaan. Kedua sekawan yang sudah dibuat menunggu selama 10 menit tapi terasa seabad itu seketika terlonjak ketika melihat penampilan Sammy yang menurut mereka sangat menggelikan.
Jeffrey menepis tangan Sammy yang sedari tersampir di bahunya dengan mimik muka jijik dan sedikit menjauh.
"Kau sudah membuat aku menunggu dan sekarang kau muncul dengan penampilan seperti ini. Apa kau ingin mati di tanganku?!" hardik Jeffrey.
"Penampilanmu membuat bulu kuduk ber-breakdance,” sela Alvin bergidik seraya menyapu penampilan Sammy yang sudah mirip dengan mahkluk astral species berkelamin ganda jantina(Jantan dan Betina)
Bagaimana tidak, Sammy mengenakan mini dress selutut, membiarkan bulu-bulu kakinya bersorak ria karena bisa menghirup udara bebas. Bulu mata anti badai tornado dengan volume extra menempel di matanya yang tampak keberatan. Lipstick yang terpoles melebihi garis bibirnya menyerupai bibir artis hollywood Angelina Jolie. Alis tebal sebelah dan tambahan tahi lalat palsu di atas bibirnya. Tidak lupa rambut palsu sepinggang yang terbungkus topi pantai berpita semakin mendukung penampilannya yang tak lain bertujuan sebagai penyamaran.
"Iiihh! Kalian sungguh keterlaluan, aku sudah menyiapkan ini semua agar aksi kita bisa berjalan sukses. Kalian pria yang tak berperasaan, tidak menghargai jerih payahku," rajuk Sammy dengan suara mendayu-dayu sambil memukul-mukul ringan dada Jeffrey dan Alvin secara bergantian diikuti gaya lemah gemulainya yang semakin membuat Jeffrey dan Alvin bergidik.
"Tapi kenapa kau berdandan seperti ini?" tanya Alvin yang langsung menutup tubuhnya dengan kedua tangan menyilang ketika Sammy menatap genit seolah mendapat incaran sosis baru.
Cetak!
"Kenapa kau menjitakku?!" seru Alvin kesakitan karena jitakan maut Sammy.
"Apa kau pikir aku sudah tidak normal? Aku masih menyukai tubuh seksi wanita," dengus Sammy yang mengembalikan suara baritonnya.
"Kita harus menyamar agar mereka tidak nenyadari keberadaan kita yang sedang memata-matai. Kalian itu kenapa tidak pintar-pintar," cibir Sammy kepada Jeffrey dan Alvin.
"Berani-beraninya kau mengejekku," geram Jeffrey yang hendak melayangkan pukulan ke Sammy namun urung dia lakukan.
"Sudah, jangan banyak berdebat, kalian cepat pakai kostum ini juga kalau tidak ingin aksi kita ketahuan," Sammy menyodorkan dua pasang kostum serba hitam.
"Nanti mangsa incaran kita keburu datang," tambah Sammy lagi.
"Lebih baik kau bunuh saja aku daripada aku harus memakai itu," tolak Jeffrey yang disetujui Alvin.
10 minutes later~
Jeng jreng..!
Ketiga sekawan yang sudah siap dengan penyamarannya tampak menduduki salah satu bangku restauran yang terletak tidak jauh dari Sean dan Jenny berada. Iya, kali ini mereka hendak mengintip kegiatan kencan mereka atas perintah Jeffrey.
"Setelah urusan ini selesai, bersiaplah karena aku akan menenggelamkanmu di sungai Cam," dengus Jeffrey menahan emosi. Bagaimana tidak kesal, Sammy memaksanya untuk merubah penampilannya seperti gengster jalanan. Mengenakan celana cut bray yang dimasukkan ke sepatu bot, baju dan jaket berlapis ala prajurit dengan aksesoris rantai yang memenuhi tubuhnya. Tidak eye patch yang menutupi sebelah matanya.
Sementara itu Alvin tampak memasang muka sedatar datarnya. Penampilannya tidak beda jauh dengan Jeffrey namun sesuatu yang menempel di mukanya membuatnya ingin memaki Sammy di saat itu juga.
"Apakah tidak ada tompel yang lebih kecil? Ini terlalu besar. Seluruh mukaku hampir tertutup tompel imitasi ini," ucap Alvin datar.
"Kalau terlalu kecil itu namanya bukan tompel tapi kotoran cicak," balas Sammy santai.
"Ergg! Serasa ada kotoran kerbau di mukaku," gerutu Alvin.
Sementara Jeffrey sudah tidak menghiraukan perdebatan unfaedah antara Sammy dan Alvin. Matanya lebih tertuju ke arah Sean dan Jenny yang tampak bercengkrama di depan meja makannya.
Sean bersikap sangat perhatian kepada Jenny. Pria berlensa abu-abu tersebut beberapa kali menyuapi gadis pujaannya dan sesekali mengusap lembut pasta daging yang tampak belepotan pada bibirnya.
Sedangkan Jeffrey tampak mengerutkan dahinya hingga kedua ujung alis tebalnya hampir bersatu.
"Sean ternyata romantis, gadis mana yang tak terpesona dengannya. Sudah tampan, kaya, dan berkepribadian menyenangkan," sela Sammy yang mengalihkan perhatian Jeffrey dengan nada sedikit berbisik.
"Iya kau betul sekali Sam, coba kau lihat, Jenny terlihat sangat bahagia," sahut Alvin membenarkan.
"Apa kalian tidak bisa diam?!" Jeffrey tampak tidak suka mendengar ucapan Sammy dan Alvin.
"Sebenarnya kenapa kita harus mengawasi mereka? Jangan-jangan kau tidak rela Jenny berkencan dengan pangeran tampan berkuda putih itu," Alvin mencoba memancing untuk mencari jawaban. Berbeda dengan Sammy, sahabat Jeffrey yang satu ini sudah mulai mencium sesuatu yang aneh pada gelagat Jeffrey.
"Berpikir dulu sebelum berbicara. Aku hanya ingin memastikan si kucing kumuh pulang dengan keadaan utuh karena dia tinggal bersamaku sekarang, jadi otomatis dia menjadi tanggungjawabku juga," Jeffrey berkilah.
"Ck! Sejak kapan?" tanya Alvin berdecih.
__ADS_1
"Apanya?" Jeffrey balik bertanya.
"Kau memperhatikan si gadis yang selalu kau sebut kucing kumuh itu?"
"Belum lama juga,"
"Brarti kau belum lama juga menyadari perasaanmu?"
"Iya," jawab Jeffrey spontan sembari mengawasi Sean dan Jenny. Dia tidak sadar dengan jawaban dari pertanyaan pancingan Alvin.
Alvin menyeringai puas karena mendapat jawaban dengan mudah. "Ternyata benar dugaanku," bisik Alvin yang sangat lirih seraya melirik ke arah Sammy yang sedang memasang muka terkejut seraya menutup mulutnya yang menganga lebar 3 jari. Dia tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar dari mulut Jeffrey.
Tanpa menghiraukan Sammy dan Alvin yang sedang sibuk dengan pikirannya, Jeffrey bergegas beranjak dari duduknya, membuntuti Sean dan Jenny yang tampaknya akan keluar restauran.
"Hei! Tunggu kami," teriak Sammy dan Alvin yang langsung mengekori Jeffrey.
"Permisi Nona, anda harus membayar tagihan dulu sebelum pergi," ucap seorang waiter kepada Sammy.
"Oiya, maaf ya, aku tadi hampir lupa," ucap Sammy lembut. Dia tampaknya tengah menikmati perannya saat ini. Peran yang sesuai dengan penampilannya.
"Maaf, boleh aku minta nomor teleponmu?" tanya waiter setelah menerina uang dari Sammy. Si waiter dengan jelas melempar senyuman mesum kepada Sammy. Matanya berkali-kali melirik ke arah gunung kembar silikon Sammy yang tampak tidak seimbang.
Sammy seketika bergidik mendapati tatapan mesum dari waiter.
"Maaf ya, aku tidak bisa kasih nomor telepon ke kamu, nanti kedua suamiku bisa cemburu. Mereka kalau sudah cemburu sangat mengerikan. Semalaman bakal minta nyusu terus. Aku tidak mau sampai itu terjadi. Bye ganteng," ucap Sammy dengan logat bencongnya lalu melenggang pergi meninggalkan waiter mesum sambil beberapa kali mengangkat gunung kembar palsunya yang terus saja merosot.
"Ternyata, ada orang lain yang bisa menyaingi tingkat kemesumanku. Bisa-bisanya dia bernafsu, aku bahkan mau pingsan melihat penampilanku saat ini," gerutu Sammy di sela langkahnya mengejar kedua sahabatnya yang sudah meninggalkannya duluan.
。。。
"Sean, ini cantik sekali..," Jenny terkesima melihat sebuah yang melingkari lehernya. Kalung berliontin angsa putih berhias diamond bewarna merah jambu pada sayapnya.
"Apa kau suka?" tanya Sean tersenyum hangat.
"Tentu saja aku suka, ini sangat cantik. Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? Kalung ini pasti sangat mahal,"
"Apakah dia akan menciumku? Tapi aku belum siap. Bagaimana ini? Mungkinkah aku harus menerapkan apa yang diajarkan beruang kutub semalam? Dimulai dari mana? Kenapa aku bisa lupa?" batin Jenny yang merasa gugup dan pada akhirnya dia hanya memejamkan matanya begitu dalam dan pasrah.
Kedebuk!
"Vin! Menyingkirlah dari tubuhku, kau sangat berat!"
"Kakiku kram, susah untuk berdiri,"
Sementara Jeffrey hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat duo sahabatnya yang sedang terjerembat di tanah.
Suara kegaduhan yang tiba-tiba itu juga kontan menarik perhatian Sean dan Jenny. Sean mendekati para mahkluk yang telah mengganggu suasana kencannya saat ini.
"Aku sudah menahannya dari tadi, jika kalian ingin mengintip kami berpacaran setidaknya mengintiplah dengan tenang," cerocos Sean yang ternyata dari awal sudah menyadari keberadaan mereka.
"Apakah benar yang dikatakan Sean barusan? Kalian seperti kurang pekerjaan saja," sela Jenny terkejut.
"Kenapa bisa?" tanya balik Jeffrey kikuk. Habis ini entah mukanya mau ditaruh ke belahan bumi bagian mana.
"Kenapa bisa tahu kalau kalian memata-matai kami begitukah maksutmu? Itu karena wanita jadi-jadian dan makhluk bertompel itu selalu berisik," ketus Sean sambil menunjuk ke arah Sammy dan Alvin bergantian.
Jeffrey seketika melempar tatapan tajam ke Sammy dan Alvin yang baru saja beranjak dari tanah. Dia merasa usulan penyamaran gila dari Sammy sia-sia. Tidak ada manfaatnya. Dia merasa dirugikan.
"Hai, ganteng..," sapa Sammy centil seraya mentoel dagu Sean tanpa merasa dosa.
"Sebenarnya apa tujuan kalian mengawasi kami? Terus apa ini? Penampilan kalian sungguh merusak mata," cerca Sean. Namun belum sempat mendapat jawaban dari Jeffrey, Sammy, dan Alvin ponselnya berdering dan dia langsung mengangkat sambungan panggilan telepon tersebut.
Dari ekspresi mukanya, Sean tampak sedang berbicara serius dengan lawan bicaranya di telepon.
"Jenn, maaf ya, sepertinya aku harus segera pergi sekarang. Sebaiknya aku antar kau pulang sekarang," ujar Sean setelah mematikan panggilan di ponselnya.
"Baiklah, itu bukan masalah kok, tidak perlu minta maaf," timpal Jenny tersenyum.
__ADS_1
"Kau sepertinya tergesa-gesa, Jenny biar pulang bersamaku saja, kau bisa langsung pergi," sela Jeffrey.
Sean terlihat menyetujui tawaran Jeffrey. "Jenn, apakah kau tidak apa-apa pulang bersama dia?"
"Tentu saja tidak apa-apa Sean, ya sudah kau buruan pergi kalau memang ada hal yang mendesak," Jenny mencoba memahami.
"Awas kalau kau sampai macam-macam dengan calon kekasihku," ancam Sean kepada Jeffrey.
Jeffrey hanya bisa berdecih karena ancaman Sean yang nggak ada pengaruhnya baginya.
Sean mengecup kening Jenny terlebih dahulu hingga akhirnya dia berlalu dari hadapan Jenny.
"Kalian pergilah, aku akan pulang bersama Jenny," titah Jeffrey kepada kedua sahabatnya.
"Ihh! Kau tega sekali Jeff. Aku ingin pulang bersamamu," tolak Sammy dengan gaya genitnya.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, apa kau tidak bisa membaca situasi saat ini?" ajak Alvin seraya menarik rambut palsu yang menempel di kepala Sammy dan menyeretnya pergi.
"Tapi aku mau sama Jeff," Sammy merajuk.
"Cukup! Aksinya kita sudah berakhir, kenapa kau masih bergaya ganjen?" hardik Alvin.
"Kyaak! Kenapa kau menyibak rokku?!"
"Ya Tuhan, kau memakai G-String belalai? Menjauhlah! Kau membuatku takut,"
"Itu karena aku ingin menyamar dengan tidak setengah-setengah,"
Perdebatan Alvin dan Sammy yang terdengar semakin menjauh sontak mengundang gelak tawa Jenny. Suara tawanya terdengar sangat renyah sehingga membuat Jeffrey juga ketularan untuk tertawa.
"Ngomong-ngomong kenapa kau mengawasiku saat berkencan?" tanya Jenny di sela sisa tawanya seraya mengusap matanya yang lembab karena ketawa.
"Aku hanya ingin mengawasimu saja, tidak ada maksut lain," jawab Jeffrey.
"Aku merasa beberapa hari ini kau bersikap lebih baik kepadaku, biasanya kau akan bersikap sangat menyebalkan," cebik Jenny.
"Itu karena aku bosan saja bermusuhan denganmu," balas Jeffrey yang tampak serius.
"Benarkah? Bisakah kita menjadi teman? Setidaknya kita bisa bercerai dengan baik-baik kelak,"
Deg!
Hati Jeffrey tiba-tiba berdenyut mendengar ucapan Jenny. Kata bercerai seolah mulai mengusik pikirannya.
"Berteman? Itu juga tidak buruk," ujar Jeffrey.
Jenny menyuguhkan senyuman yang mengembang sempurna pada mukanya. Dia tampak senang saat ini.
"Biasanya pertemanan yang sehat akan saling berpelukan," Jeffrey kembali bermodus.
"Ya itu memang benar, aku sering memeluk sahabat-sahabatku," ucap Jenny lalu dia memberi sebuah pelukan hangat yang langsung disambut oleh Jeffrey.
"Hei! Beruang kutub, apa ini tidak terlalu lama kita berpelukan? Turunkan tanganmu, kita sebaiknya pulang," pinta Jenny yang merasakan pelukan Jeffrey kian erat dan berkesan enggan melepaskan.
"Okey, baiklah," Jeffrey melepas pelukkannya lalu menarik tangan Jenny menuju mobilnya.
Di tempat yang sama, sepasang mata mengawasi gerak gerik Jeffrey dan Jenny. Dia menatap tajam ke arah mereka. Gemertak suara gigi yang berhimpitan terdengar jelas.
"Perlahan-lahan, aku akan menghancurkan hidupmu! Tunggu saja tanggal mainnya," seringai tajam disertai sulutan amarah begitu terasa di sekitarnya.
Bersambung~~
...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa....
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Vote dan gift juga sangat bisa menyenangkan Author-. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1