
Hari ini, Jeffrey sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota Birmingham untuk memantau langsung proses pelaksanaan proyek baru.
Namun yang seharusnya dia sudah dalam perjalanan terpaksa mengulur sedikit waktu keberangkatannya karena mendapati sikap Jenny yang tidak seperti biasanya.
"Sayang, kenapa kau terlihat murung? Hm?" tanya Jeffrey yang sudah bersimpuh di depan Jenny yang masih terduduk di bibir ranjang.
"Apa tidak bisa kau tinggal di rumah saja hari ini? Aku tidak ingin kau pergi kemana-mana, aku bahkan ijin tidak masuk kerja hari ini," ucap Jenny merajuk.
"Tidak bisa sayang, lagian aku juga ada janji pertemuan dengan para investor proyek baru, bagaimana jadinya kalau aku membatalkan janji secara sepihak? Mereka pasti akan kecewa dan membatalkan kerjasama kita," Jeffrey mencoba memberi pengertian.
"Aku janji, setelah urusanku selesai, aku akan segera pulang," bujuk Jeffrey lagi seraya mengecup buku-buku jari Jenny dengan sayang kemudian kembali menatap netra Jenny yang tampak berkabut. Terlukis jelas sebuah kecemasan di dalam sana.
Kecemasan yang dimana Jenny pun tidak tahu penyebabnya. Dari semalam, hati dan pikirannya masih terus terganggu dengan perasaan yang entah darimana asalnya.
"Baiklah, tapi kau harus menepati janjimu, kau harus segera pulang setelah semuanya selesai," ucap Jenny yang masih terasa berat.
"Iya sayang aku janji, kalau begitu aku akan berangkat sekarang," Jeffrey beranjak dari simpuannya dengan pandangannya yang tak lepas dari muka istrinya yang masih terlihat muram.
"Apa kau tidak ingin mengantarku sampai pintu?"
Jenny langsung beranjak dari duduknya. "Tentu saja aku akan mengantarmu," namun bukannya langsung keluar kamar, ia justru memeluk tubuh Jeffrey dan menenggelamkan mukanya di dada bidang suaminya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu," lirih Jenny yang semakin mempererat lilitan tangannya.
Jeffrey mendengus geli mendapati tingkah Jenny yang memang selalu bersikap manja di rumah, dan hari ini ia merasa sikap manja Jenny semakin menjadi.
"Aku juga akan sangat merindukanmu kucing kecilku, lagian aku pergi hanya sebentar, nanti malam pasti sudah kembali," Jeffrey mengusap lembut rambut panjang Jenny lalu matanya melirik ke arah pergelangan tangannya. Ia mendesah ringan melihat pukul sudah melewati angka 8.
Melihat Jenny yang masih saja ingin menempel dan tidak rela melepas pelukannya, Jeffrey langsung berinisiatif membopong Jenny ala bridal style.
"Kyaakk! Beruang kutub kau mengejutkanku," seru Jenny yang tampak terkejut dengan tindakan dadakan Jeffrey.
Jeffrey mengulas senyuman. "Bukannya tadi kau bilang ingin mengantarku sampai depan pintu?"
Dengan gagah Jeffrey pun mengayunkan kakinya, menuruni anak tangga lalu menurunkan tubuh kecil itu dengan hati-hati di depan pintu.
"Baiklah aku berangkat sekarang ya, kau jangan nakal di rumah. Tunggu aku pulang," tutur Jeffrey lalu mendaratkan kecupan sayang di kening dan bibir Jenny. "Aku mencintamu kucing kecilku, sangat-sangat mencintaimu," lirih Jeffrey.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu beruang kutubku," balas Jenny dan kembali memeluk tubuh kekarnya dengan sangat erat seolah takut bahwa hari esok tidak ada lagi kesempatan baginya untuk merasakan kehangatan tubuh sang suami.
Jeffrey tergelak melihat tingkah Jenny. "Kalau begini aku akan kehilangan para investorku dan aku pasti akan bangkrut sayang," kelakar Jeffrey seraya mengayak gemas rambut Jenny.
Jenny sedikit mengurai pelukannya dengan tangan masih meliliti tubuh Jeffrey.
"Tidak apa-apa, meski kau bangkrut aku akan tetap menerimamu apa adanya," celetuk Jenny spontan.
Jeffrey menyentil kening Jenny sehingga membuat Jenny meringis seraya mengusap bekas sentilan Jeffrey.
"Dasar kucing bodoh, kalau aku bangkrut bagaimana aku bisa menafkahimu dan calon anak-anak kita kelak?" tutur Jeffrey gemas.
Jenny tersenyum simpul. "Berjanjilah segera pulang,"
Jeffrey mengusap pipi Jenny dan sekali lagi menghadiahinya ciuman penuh sayang di keningnya. Kali ini ciumannya sedikit lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Seolah mereka akan berpisah dalam kurung waktu lama.
"Baiklah, tunggu aku pulang ya, kucing kesayanganku," pamit Jeffrey kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah ada si sopir di dalamnya. Ia sempat melambaikan tangannya ke arah Jenny dengan senyuman manis yang mengembang sempurna hingga akhirnya dia dan mobilnya menghilang dari pandangan Jenny.
Setelah kepergian Jeffrey Jenny tampak menghela napas, membuang segala kerisauannya. Mencengkeram kain yang melekat di dadanya, sebagai bentuk mengurangi rasa tak kasat mata yang masih saja membelenggu.
°°°
"Tidak bisakah kau bersabar sedikit lagi?"
"Honey, kita sudah terlalu lama pacaran, 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar,"
"Sayang dengarkan aku, aku juga ingin segera menikahimu, tapi bersabarlah sedikit lagi ya, jika aku sudah bisa mempunyai tempat tinggal yang layak serta tabungan untuk kehidupan kita, aku akan segera melamarmu secepatnya," bujuk Jullian kepada kekasihnya, Avellyn.
"Honey, kau tidak perlu terlalu memaksakan dirimu. Untuk tempat dan kebutuhan hidup aku bisa mencukupi semuanya, jadi kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi," ucap Avellyn yang membuat raut muka Jullian berubah seketika.
"Apa saat ini kau meragukan kemampuanku sebagai seorang pria dan calon suamimu?" tanya Jullian tampak kecewa.
"Bukan begitu Honey, aku hanya ingin kita segera menikah, kau tidak perlu memikirkan hal lain, karena uangku sangat cukup untuk menghidupi kita berdua,"
Jullian tersenyum getir. "Aku tahu kau adalah seorang putri yang terlahir dari keluarga yang berstrata tinggi sedangkan aku hanyalah seseorang yang terlahir dari keluarga strata rendah dan pekerjaanku saat ini hanyalah seorang dosen. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki harga diri," ucapan Jullian yang sudah terselubung kekecewaan.
"Honey, bukan maksudku merendahkan harga dirimu, aku hanya ingin membantumu meringankan bebanmu," Avellyn masih bersikukuh dengan ucapannya seolah tidak menyadari bahwa perkataannya itu sudah menginjak-injak harga diri Jullian yang pada dasarnya memiliki tingkat kegengsian tinggi.
__ADS_1
"Sepertinya aku sudah tidak mampu memberimu pengertian lagi Avellyn. Apa kau sadar, akhir-akhir ini kita sering bertengkar karena hal ini. Aku sudah sangat lelah, aku merasa hubungan kita ini tidak bisa diteruskan lagi," ucap Jullian seraya melempar pandangan ke arah lain.
"Apa maksudmu Honey? Tidak, aku tidak ingin putus darimu," ucap Avellyn dengan suara bergetar menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya namun telaga beningnya sudah terlanjur tergenang hingga akhirnya air matanya sudah tak terbendung dan menerobos begitu saja membasahi pipi.
°°°
Matahari sudah kembali ke peraduan ternyamannya. Sinarnya yang semakin redup membuat hari yang terang berangsur gelap.
Jeffrey dan Darren sudah dalam perjalanan menuju ke bandara untuk kembali ke London karena urusan pekerjaan mereka untuk hari ini sudah selesai.
Darren sesekali melirik ke arah Jeffrey yang masih setia fokus dengan benda pipih di tangannya. Jari-jari tangannya beberapa kali terlihat begitu lincah menari-nari di atas layar ponselnya, merangkai pesan-pesan singkat yang tertuju ke seseorang yang sedang menunggu kepulangannya di rumah. Siapa lagi kalau bukan istri tercintanya, Jenny. Senyuman tipis terus menghiasi mukanya sepanjang perjalanan.
"Aku masih ada waktu 5 jam lagi untuk memberinya sebuah kejutan dan ucapan selamat ulang tahun, semoga Jenny suka dengan kado yang telah ku siapkan untuknya," batin Jeffrey yang sudah tidak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengan istrinya yang selalu menyambutnya dengan senyuman termanisnya.
Sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahun Jenny. Dan Jeffrey juga sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya.
Mobil yang di tumpangi Jeffrey dan Darren melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kawasan tebing pantai yang legang, menerobos di tengah gelapnya malam yang berkabut.
Ketika mobil yang mereka tumpangi mendekati tikungan tajam tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan yang melaju dengan kecepatan tinggi dengan haluan yang terlalu menjorok ke luar sehingga membuat sopir yang membawa Jeffrey dan Darren membanting setir ke kanan dengan kasar untuk menghindari tabrakan.
Ckittt...!
"Awaassss..!"
Bruak..!
Namun pada detik berikutnya, mobil yang mereka tumpangi hilang kendali sehingga menabrak besi pembatas jalan yang kemudian terperosok kedalam jurang dan terjun bebas ke dalam genangan air laut yang sedang pasang.
"Jeffrey...!" Darren yang sempat meloncat keluar sebelum mobil terperosok ke dalam jurang lebih dalam tampak sangat panik.
Dengan kepala yang bersimbah darah segar karena luka benturan keras serta tulang tangan yang patah, ia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan mencari keberadaan sang adik, berharap dia juga selamat.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1