Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Karena Kau Putraku


__ADS_3

Motor yang ditunggangi Jeffrey dan Jenny melaju membelah keramaian jalanan raya kota London. Cuaca malam kali ini sangat cerah, membuat keduanya memilih mengendarai motor seraya menikmati udara malam di pertengahan musim panas yang memang tidak terlalu dingin.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya motor sport yang mereka kendarai sudah memasuki pelataran sebuah restauran mewah milik Mommy Briana namun di handle sepenuhnya oleh Emy dan Addy.


"Beruang kutub tolong bantu aku, kenapa ini sulit sekali dilepas?" pinta Jenny yang tampak kesulitan melepas kunci helmnya.


Jeffrey mendengus geli ketika melihat ekspresi kesal Jenny dengan helm yang masih terpasang di kepalanya, membuat pipinya terlihat lebih cubby. Sungguh menggemaskan, itu yang dibatin Jeffrey saat ini. Kemudian pria itu menuruni motor dan berdiri tepat di sebelah Jenny.


"Kau selalu melakukan segalanya dengan terburu-buru, lakukanlah dengan pelan-pelan tapi pasti," tutur Jeffrey seraya membantu membukakan kunci helm.


"Fyuuh! Akhirnya lepas juga, aku seperti bisa kembali bernapas," ucap Jenny merasa lega dengan posisi tubuh masih nangkring di atas motor.


"Mana hadiahku?" Jeffrey memasang muka menuntut.


"Hadiah untuk apa?"


"Hadiah karena aku telah membantu melepaskan helmmu,"


"Mulai lagi deh, kau seperti anak kecil saja," ucap Jenny jengah. Ia hendak menuruni motor namun Jeffrey mengunci tubuh kecil jenny dengan kedua tangannya.


"Cepat berikan hadiahku," pinta Jeffrey seraya menunjuk pipinya yang tentu langsung dipahami Jenny maksudnya.


"Beruang kutub, disini tempat umum, aku malu," pipi Jenny mulai merona. Entah mengapa, hingga saat ini wanita blonde itu masih saja tersipu malu jika digoda Jeffrey.


"Kau itu lucu sekali, kita sekarang tinggal di negara yang menganut paham liberal, berciuman di tempat umum adalah hal yang biasa, cepat berikan hadiahku," desak Jeffrey.


"Hiissshh! Perasaan setiap menit kau selalu meminta hadiah yang sama, apa kau tidak pernah bosan?" cebik Jenny.


"Tidak akan pernah bosan, karena aku sudah kecanduan oleh semua yang ada di tubuhmu," Jeffrey kembali menujuk pipinya.


Blush...


Lagi-lagi semburat merah muncul ke permukaan pipi Jenny tanpa sopan kerena ucapan frontal Jeffrey.


"Cepat, keluarga kita pasti sudah menunggu di dalam,"


Jenny pun mulai mendekatkan mukanya untuk memberi sebuah ciuman di pipi, namun Jeffrey dengan cepat memalingkan mukanya hingga membuat kedua bibir mereka saling bertemu. Kedua bola mata Jenny seketika membulat sempurna.


Tidak ingin berakhir dengan cepat, Jeffrey langsung menarik tengkuk leher Jenny dan menekannya dengan posesif sehingga terciptalah sebuah ciuman yang begitu dalam.


Sebenarnya tindakan Jeffrey kali ini adalah sebuah bentuk pelampiasan, karena biasanya waktu sepulang kerja ia gunakan untuk menikmati ritual kebersamaan bersama sang istri tapi kali ini harus ia coret dari daftar kegiatan rutinnya karena ada undangan makan malam bersama keluarga.


"Hmmmp! Hmmmp!" Jenny memukul-mukul dada Jeffrey, berharap Jeffrey segera mengakhiri ciumannya namun Jeffrey tak mengindahkannya.

__ADS_1


"Ehemmm!" suara deheman seseorang sontak menghentikan kegiatan mereka.


"Kak, Darren," lirih Jenny dengan muka yang sudah memerah seperti kepiting rebus karena sangking malunya.


"Kalian itu memang tidak melihat-lihat tempat, selalu saja mengumbar kemesraan dimanapun, seakaan dunia hanya milik berdua dan yang lainnya hanyalah nyamuk yang tidak sengaja lewat karena tersasar," cibir Darren yang baru saja tiba dan tanpa sengaja melihat tontonan ciuman gratis yang bisa membuat siapa saja menelan cairan salivanya dengan kasar.


"Tidak ada yang salah dengan hal itu, karena kami adalah pasangan suami istri," sahut Jeffrey seraya menyungging kedua sudut bibirnya, tidak ada sedikitpun rasa malu dan rasa berdosa.


Darren menggelengkan kepala seraya mengusap dada. "Dasar adik durhaka, kau sama saja menusuk jiwa jombloku," cibir Darren seraya melangkah pergi meninggalkan mereka untuk segera bergabung dengan para orang tua yang sudah menunggu di dalam.


"Makanya kurangi bekerjamu dan segera cari pasangan," kelakar Jeffrey setengah berteriak.


"Aw! Kenapa kau mencubitku?!" pekik Jeffrey yang tiba-tiba mendapat serangan tiba-tiba dari Jenny.


"Dasar beruang kutub mesum, selalu saja asal bicara! Kak Darren tunggu aku," ledek Jenny sebelum akhirnya dia berlari mengekori Darren lalu menggamit tangan kekarnya yang masih berbalut jas kerja.


Dari jauh, terlihat Darren merespon antusias sikap manja Jenny yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Meskipun kebenarannya mereka memang saudara kandung namun masih dirahasiakan status hubungan darah mereka oleh para orang tua dengan alasan masih belum siap jika Darren tersakiti dan kecewa.


"Ck! Berani-beraninya dia bersikap manis kepada Darren. Bersiaplah aku akan menghukummu nanti setelah sampai di rumah," sungut Jeffrey. Meskipun ia tahu bahwa Jenny hanya menganggap Darren seperti Kakaknya sendiri tapi tetap saja ia tidak bisa menutupi rasa cemburunya. Sungguh posesif.


Kegiatan makan malam keluarga berlangsung menyenangkan. Beberapa kali percakapan ringan dan gurauan receh mewarnai kegiatan santap menyantap mereka. Terlihat Briana dan Emy masih terus menggoda ketiga anak muda, Jenny, Jeffrey, dan Darren. Sedangkan Darwin dan Addy tampak ikut tertawa renyah melihat anak-anak mereka selalu dibuat salah tingkah karena ulah jahil kedua wanita bersatus sebagai Ibu dan mertua tersebut.


"Darren kau tidak boleh memakan itu," larang Emy yang membuat Darren urung memasukkan dessert ke dalam mulutnya.


"Darimana Tante Emy bisa tahu hal itu?" tanya Darren menyeldik. Pasalnya dia sangat tidak suka jika ada orang lain mengetahui kelemahannya terkecuali kedua orangtua dan adiknya.


"Itu karena kau putraku sayang, aku sangat ingat dulu waktu masih bayi, kau harus dilarikan ke Rumah Sakit karena alergi kacang almond," batin Emy berubah sendu.


Emy sekilas tampak berusaha menutupi kegugupannya, bingung harus menjawab seperti apa, sedangkan Briana yang menyadari atmosfer yang sedikit tidak mengenakan sedang berlangsung, segera berinisiatif mencairkan suasana.


"Sayang, itu karena Mommy pernah bercerita ke Tante Emy tentang alergimu itu, tidak ada masalah kan?" sela Briana mengulas senyuman paksa di mukanya.


Namun, mimik muka masam belum juga luntur dari muka pria yang ada kemiripan dengan Jenny jika ditamati dengan teliti. Yaitu terletak pada rambutnya yang blonde, bentuk bingkai mata serta berlensa biru jernih.


"Ternyata Kak Darren memiliki alergi yang sama denganku ya, hmmm, seharusnya kau menjadi Kakakku saja karena kita mirip," kekeh Jenny yang tampak senang, karena memiliki kemiripan dengan pria yang sangat ingin dijadikan kakak lelakinya itu.


Deg!


Dada Emy berdenyut nyeri. Begitu juga dengan Briana dan Darwin. Pasalnya hanya mereka bertiga yang mengetahui status Darren sebenarnya.


Entah mengapa, perasaan Darren berangsur-angsur menghangat mendengar ucapan Jenny. Mimik muka masamnya menguap seketika. "Anggap saja aku sebagai Kakakmu sendiri, aku akan sangat senang mempunyai adik perempuan sepertimu," ucap Darren dengan senyum penuh ketulusan.


Deg!

__ADS_1


Lagi-lagi jantung ketiga orang tua yang saling menyimpan rahasia itu kembali berdenyut. Mereka sesekali tampak saling melempar pandang tanpa sepengetahuan yang lainnya.


Apa yang dirasakan Emy? Iya, jika memungkinkan ingin sekali ia berhambur memeluk putra semata wayangnya itu, menumpahkan segala rasa kerinduan dan kasih sayang. Namun apalah daya, mungkinkah Darren akan menerimanya sebagai ibu kandungnya jika dia mengetahui kebenarannya?


Apakah dia masih pantas menjadi seorang ibu baginya setelah sekian lama meninggalkan sang putra meskipun hal itu dia lakukan karena suatu alasan yang juga demi kebaikan sang putra? Sebagai seorang Ibu, dia juga tidak ingin merenggut kebahagiaan sang putra yang sudah memiliki tempat ternyaman di dalam keluarga Allison.


Oleh karena itu, selama ini Emy hanya mampu menyimpan kerinduannya dan mengamati putranya itu dalam diam. Hanya bisa mendoakan yang terbaik, doa ketulusan dari seorang ibu yang penuh akan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan.


°°°


"Tidak bisakah kau menerimaku? Lagian kau tidak punya kekasih? Tidak ada salahnya kita mencoba menjalin hubungan, aku sangat ingin kau menjadi kakasihku," ucap Kevin mulai memaksa.


"Maaf Kevin, Aku tidak bisa menjadi kekasihmu, selagi aku masih berbicara baik-baik, aku harap kau berhenti mengusikku," ucap Alesya yang mulai risih dengan keberadaan Kevin.


Hari ini Alesya benar-benar dibuat frustasi oleh para pria yang selalu berambisi untuk menjadikannya kekasih. Tidak hanya Kevin saja, setidaknya sudah ada dua pria lainnya yang juga mendatanginya secara bergantian hari ini. Apalagi kalau bukan menyatakan cinta kepada si gadis cantik bermata bulat itu.


Tidak jarang Alesya harus bersembunyi dari para pria yang sedang dimabuk asmara itu. Hidupnya sungguh dibuat tidak tenang karena mereka.


"Alesya, kau mau kemana?" tanya Kevin seraya menarik tangan Alesya yang hendak pergi.


"Kevin, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku," Alesya tampak memasang muka tak bersahabat.


"Terima aku jadi kekasihmu dulu baru aku akan melepasmu," Kevin tampaknya belum juga jengah akan penolakan Alesya.


"Ya Tuhan.. Kenapa begini amat nasibku karena terlahir cantik? Apa aku harus memasang tompel berbulu ganda di mukaku agar terlihat jelek? Arrrggghhh! Sungguh menyebalkan," Aleysa menjerit di dalam hati.


Alesya mencoba berpikir mencari cara agar Kevin tidak lagi mengejar-ngejarnya. Dia memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras. Kedua bola matanya tampak berlarian samar-samar. Dia mencoba menyapu pandangannya ke sekeliling hingga akhirnya sepasang netranya menangkap sosok pria yang sangat ia kenal. Pria itu sedang berada di dalam sebuah kafe mewah yang di kelilingi dinding kaca raksasa sehingga keberadaannya bisa di lihat dari luar.


"Kak Sean? Sedang apa dia di sana? Ah! Sepertinya aku bisa memanfaatkannya agar terlepas dari pria yang sangat menyebalkan ini," batin Alesya dengan seringai tipis karena dia sudah mendapatkan sebuah ide cemerlang.


"Kevin, asal kau tahu, aku tidak bisa menerimamu karena aku sudah memiliki kekasih," jelas Alesya dengan mimik muka penuh arti.


Kevin menyungging sebelah sudut bibirnya dengan mimik muka meledek. "Kau tidak usah berbohong Alesya. Aku bahkan tidak pernah melihatmu berkencan dengan seorang pria. Coba kau buktikan kepadaku kalau memang perkataanmu itu benar. Kalau kau tidak bisa membuktikannya, aku akan tetap memaksamu menjadi kelasihku,"


"Ck! Rasanya ingin sekali aku melempar mukanya dengan kotoran kerbau terus aku tenggelamkan tubuhnya ke dalam kolam piranha," kesal Alesya di dalam hati. Sebenarnya sangat tidak penting bagi Alesya memberi bukti. Tapi tidak ada cara lain agar manusia over percaya diri itu segera pergi dari kehidupannya.


"Baiklah, aku akan membuktikannya sekarang,"


bersambung~~


Maaf ya kemarin tidak up, cenut-cenut di kepala semakin menggila. Apalagi disini meskipun sakit, nggak ada yang namanya libur kerja😄


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2