Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Menolong Jenny


__ADS_3

Gadis bermutiara biru itu tampak duduk beralaskan rumput di tepi sungai Cam. Bersandar pada batang pohon oak yang rindang sembari menikmati suasana sekitar yang sejuk dan asri.


Seharian dia memang lebih memilih tempat yang tenang untuk mengalihkan perasaan sedih dan kecewanya. Sebenarnya ingin sekali dia menemui Emy sang Ibu untuk sekedar mendapat pelukan hangat yang menenangkan, tapi semenjak Mommy Briana menawarinya untuk meng-handle sebuah restauran di kota London, Emy dan Addy memutuskan untuk pindah ke ibu kota Inggris yang menyandang julukan kota kabut tersebut.


Waktu masih terus bergulir hingga tidak terasa sang cahaya sultan mulai kembali ke singgasananya dan digantikan oleh rembulan sang Dewi malam. Lampu-lampu yang berjajar rapi di pinggiran sungai mulai memancarkan cahaya pijarnya. Binar cahayanya membias pada permukaan air sungai Cam yang tampak tenang.


"Kenapa waktu cepat sekali berganti malam, aku masih sangat malas untuk kembali ke apartemen. Apalagi aku harus bertemu dengan sepasang kekasih yang menyebalkan itu," gerutu Jenny kesal.


"Aku tidak mungkin menginap lagi ke rumah Daisy, Avellyn, atau Jullian. Mereka pasti akan menghukumku dengan ribuan pertanyaan, aahh... Tidak, tidak, tidak, aku tidak mau," Jenny menggelengkan kepalanya.


Gadis blonde itu menghela napas panjang, membuang semua kesah di dalam jiwa. Pikirannya tiba-tiba memutar kembali pada kejadian pagi tadi. Seketika rasa nyeri pada ulu hatinya kembali menyeruak ke permukaan.


"Seharusnya aku sudah bisa menyadari kalau si beruang kutub yang menyebalkan itu tidak akan mungkin bisa bersikap baik kepadaku. Bisa-bisanya dia menuduhku seperti itu. Padahal aku belum pernah bersentuhan secara intim ke pada lawan jenis manapun kecuali dengan dia," celoteh Jenny seraya sesekali mencabut ujung rumput yang dia duduki.


Jenny masih saja tenggelam dalam pikirannya dan masih enggan berpindah dari tempatnya. Tidak peduli dengan dinginnya udara malam yang menembus setiap pori-pori kulitnya.


"Astaga, ternyata sudah jam 9 malam, sebaiknya aku segera beranjak dari sini," seru Jenny sendirian setelah melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.


Sesaat sepasang mata almondnya menyelidik sekitar yang tampak semakin sepi dan gelap lalu dia mulai melangkahkan kakinya untuk berpindah ke tempat yang lebih ramai dan terang.


Jenny semakin mempercepat langkahnya seraya menunduk ketika melihat ada beberapa preman yang muncul dari arah berlawanan. Sambil melafalkan doa Jenny terus melangkah dan melewati segerombolan orang yang berperawakan tinggi dan besar tersebut.


"Aahhkkk!" pekik Jenny ketika merasakan sepasang tangan mencengkram bahunya dengan kuat.


"Hai Nona, malam-malam begini kau mau kemana? Apa kau tidak takut pergi sendirian?" tanya salah satu preman berwajah sangar yang masih memegang bahu Jenny.


"Maaf Tuan, tolong lepaskan tanganmu, aku ingin segera pulang," ucap Jenny gugup. Mungkin kalau hanya menghadapi 1 preman dia masih berani untuk melawan. Tapi saat ini dia berhadapkan dengan 5 preman yang sudah jelas tubuhnya yang kecil tidak mampu melawannya. Kabur adalah pilihan yang terbaik untuk lepas dari situasi yang tak mengenakkan saat ini.


"Baiklah, aku akan mengantarmu, tapi kau harus menemani kita bersenang-senang dulu," ucap preman tersebut seraya memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk menggencarkan aksinya.


Mereka menyeret tubuh kecil Jenny dengan paksa menuju ke tempat yang sepi.


"Tolong lepaskan Tuan, kau akan membawaku kemana? Aku tidak mau!" mohon Jenny dengan perasaan takut tak terkira.


"Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu, kami justru akan memberimu kenikmatan surga dunia," ucap salah satu preman yang tak lain pemimpin gerombolan tersebut.


"Tidak Tuan, aku mohon lepaskan aku!" Jenny memberontak sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Tapi kekuatannya tak sebanding dengan mereka.


"Tolong..! Tolong..!" teriak Jenny meminta bantuan.


Salah satu dari preman itu membekap mulut jenny dengan rapat agar suara teriakannya tidak mengundang perhatian orang lain.


"Aaarrrggg! Berani-beraninya kau menggigit tanganku!" teriak satu preman yang membekap mulut Jenny tadi.


"Siapapun, tolong aku! Tolong..!" Jenny masih berteriak berharap ada orang yang datang membantu.


Preman yang lain tidak tinggal diam. Dia melepas slayer yang melilit di kepalanya lalu mengikatnya pada mulut Jenny agar berhenti berteriak. Lalu melepas sabuk pinggangnya untuk mengikat kedua tangan Jenny secara paksa.


Bruk!


Mereka melempar tubuh Jenny hingga tergeletak di atas rerumputan.


Kelima preman itu berdiri di depan Jenny yang tampak menjulang tinggi jika dilihat dari bawah. Mereka menatap tubuh Jenny seraya menyeringai mesum. Mereka bagaikan serigala kelaparan yang siap menyantap kelinci tak berdaya di hadapannya.


"Kau tidak akan merasakan kesakitan jika kau mau menurut sedikit sayang," ucap si pemimpin preman dengan suara berat karena mulai dikuasai nafsu.

__ADS_1


Preman bermuka sangar dan cabul itu menurunkan tubuhnya di atas Jenny. Tangannya membelai muka mangsanya dengan lembut. Dan tiba-tiba..


Kreekkk!


Dia merobek t-shirt yang dikenakan Jenny dengan sangat mudah dan melempar kain yang tak berdosa itu ke sembarang arah hingga menyisakan tanktop tipis yang membungkusi tubuh atasnya.


Api hawa nafsu si preman semakin menyala ketika melihat lekukan tubuh Jenny di balik kain tipis tersebut.


"Hmmmmmp! Hmmmmp!" Jenny berusaha berteriak sekuat tenaga meski usahanya itu akan sia-sia.


Kali ini Jenny benar-benar takut. Gadis itu benar-benar tak berdaya. Entah, sudah berapa banyak buliran air mata yang terjatuh. Dan entah mengapa, di saat genting seperti ini hanya satu orang dia ingat.


"Beruang kutub, aku mohon tolong aku! Hiks! Aku sangat takut!" Jenny berteriak di dalam hati.


°°°


Di sudut kota lain, Jeffrey terlihat sangat gusar dan cemas. Selama 4 jam dia mengelilingi kota Cambridge. Menyusuri jalanan untuk mencari keberadaan Jenny. Semua tempat yang sering dikunjungi Jenny juga sudah dia datangi. Tapi hasilnya nihil.


"Arrrggg! Sebenarnya kau di mana?" teriak Jeffrey frustasi. Dia beberapa kali memukul benda bulat di depannya. Keberadaan Jenny yang masih belum ditemukan semakin membuatnya merasa cemas dan bersalah yang begitu besar.


Deg!


Tiba-tiba organ inti di dalam tubuh Jeffrey berdenyut hebat. Dia seakan mendengar suara Jenny yang sedang memanggilnya meminta pertolongan.


"Kenapa perasaanku sangat tidak enak? Semoga tidak ada hal buruk yang menimpanya. Aku harus segera menemukannya,"


Suara dering smart phone mengalihkan perhatian Jeffrey. Dengan cepat dia menerima panggilan itu, berharap segera mendapatkan info tentang Jenny.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Sean di balik telepon.


"Belum, aku belum menemukannya," jawab Jeffrey yang terdengar sangat gusar. Hal itu tentu di sadari Sean.


"Oke, aku akan langsung kesana," Jeffrey langsung menutup panggilan Sean.


Tak ingin membuang waktu, pria itu menghidupkan kendaraan besinya. Memutar penuh setir mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang tepian sungai Cam, Jeffrey masih terus menyapu lingkungan di sekitarnya. Mencari sosok gadis yang dicarinya. Berharap kemungkinan keberadaan Jenny di sana.


°°°


"Hmmmmp! Hmmmmp!" Jenny masih terus berontak meski tenaganya kian tak tersisa.


Teriakan Jenny semakin menjadi ketika preman itu melesatkan bibir kotornya pada ceruk lehernya. Tubuh Jenny menggeliat tak beraturan untuk menggagalkan aksi cabul preman tersebut. Dia mengibas-ngibaskan mukanya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari ciuman bau dan menjijikkan itu.


"Hiks! Aku tidak sudi dicium olehnya! Lebih baik aku berciuman dengan beruang kutub daripada dengan preman tengik ini! Hiks! Kenapa napasnya bau sekali?! Hiks.. Hiks.. Aku ingin muntah! Beruang kutub tolong aku," teriak Jenny di dalam hati.


"Jauhkah tubuh kotormu dari gadisku!" suara bariton Jeffrey terdengar menggelegar, seketika mengalihkan perhatian kelima preman yang sudah terselimuti birahi tersebut.


Muka Jeffrey tampak merah padam, mata elangnya menyalang tajam. Dadanya naik turun karena luapan emosi yang sudah memuncak. Dia sangat tidak suka jika miliknya disentuh oleh mereka.


"Rupanya ada yang mencari mati karena sudah mengganggu kesenanganku," geram pemimpin preman yang langsung beranjak dari tubuh Jenny.


"Kalian segera habisi dia!" titah pemimpin preman kepada keempat anak buahnya yang langsung dipatuhi dan langsung memasang posisi kuda-kuda.


Tidak ingin menunggu lama, Jeffrey mengambil langkah terlebih dahulu. Mendekati dan langsung melayangkan serangan bertubi-tubi kepada satu persatu preman tersebut. Tidak ada satupun dari mereka yang lolos dari pukulan maut Jeffrey.

__ADS_1


Pertarungan satu lawan empat yang tak dapat terhindarkan tersebut masih terus berlangsung beberapa menit. Jeffrey beberapa kali berhasil menghindar dan menangkis serangan para preman tersebut hingga pada akhirnya dua preman roboh dan masih tersisa dua lagi.


Jeffrey menyadari energinya sudah terkuras sangat banyak. Namun dia tidak ingin menyerah. Melihat kondisi Jenny yang sangat menyedihkan saat ini membuatnya tidak ingin berhenti.


Bug! Bug!


Dua pukulan akhirnya berhasil mendarat tepat pada muka dan perut Jeffrey di saat ia lengah. Sehingga membuat tubuhnya tersungkur ke tanah.


Ketika Jeffrey masih terlihat lengah, satu preman menduduki tubuhnya dan berusaha melayangkan bogeman mentah namun berhasil di tahan oleh tangan Jeffrey. Dan satu premannya lagi tampak bardiri sedikit menjauh. Membiarkan kesempatan pada kawannya untuk memberi pelajaran pada Jeffrey dengan leluasa.


Sedangkan si pemimpin preman masih setia berdiri di belakang panggung guna menyaksikan aksi pertarungan di depannya seraya menahan Jenny agar tidak kabur.


"Hiaaaaaat!" tiba-tiba terdengar suara teriakan dua orang pria yang berlari dari kejauhan dan langsung melayangkan tendangan super kepada kedua preman yang mengkroyok Jeffrey dari belakang.


Mereka tidak langsung berhenti sampai di situ, pukulan demi pukulan terus mendarat pada kedua tubuh preman yang belum siap akan serangan tiba-tibanya.


Bug! Bug! Duak!


Duak! Bug! bug!


Suara pukulan, tendangan dan pekikkan memenuhi area yang tampak lenggang.


Melihat Sammy dan Alvin mengambil alih kedua preman tersebut, Jeffrey langsung menggunakan kesempatan itu untuk menolong Jenny.


"Lepaskan tanganmu dari tubuhnya kalau kau tidak ingin berakhir di Rumah Sakit," gertak Jeffrey dengan tatapan dingin penuh amarah.


"Ayolah, aku hanya ingin bersenang-senang. Kau bisa bergabung denganku jika kau mau. Kita bisa menggilirnya," ucap enteng si preman yang tak gentar dengan gertakan Jeffrey. Dia justru semakin mempererat lilitan lengannya pada leher Jenny.


Jeffrey semakin tersulut emosi mendengar perkataan biadab si preman bau itu.


"Tidak! Dia hanya milikku. Kau tidak berhak menyentuhnya," geram Jeffrey.


Namun di luar dugaan, tanpa ada perlawanan lebih, preman itu melepas lilitan tangannya dari leher sandra'annya. Jenny yang menyadarinya langsung menggunakan kesempatan itu untuk pergi menjauh dari preman dan langsung berhamburan pada pelukan Jeffrey.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jeffrey setelah melepas slayer yang membekap mulut Jenny dan ikatan pada tangannya. Tidak lupa dia menutup tubuh Jenny yang terbuka dengan jaket kulit yang dikenakannya.


Alih-alih menjawab, Jenny justru menangis pecah.


"Beruang kutub kenapa kau lama sekali datangnya. Aku sungguh takut, hiks, hiks!" protes Jenny yang masih menenggelamkan mukanya pada dada bidang Jeffrey.


"Maafkan aku karena datang terlambat, maafkan aku," ucap Jeffrey penuh sesal. Pria itu memeluk erat tubuh Jenny, mengusap dan mengecup ujung kepalanya.


Di sisi lain, diam-diam pemimpin preman menatap adegan sepasang anak manusia di depannya dengan mimik muka penuh arti.


"Karena kalian telah mengganggu kesenanganku, maka jangan harap kalian bisa bebas begitu saja," batinnya setelah mengotak atik ponselnya.


Sammy dan Alvin akhirnya berhasil menghajar kedua preman itu hingga tak sadarkan diri. Namun keduanya langsung terkejut ketika melihat segerombolan preman berpenampilan sangar yang terdiri dari 10 orang datang menghampiri mereka.


"Sial! Kenapa kuman-kuman berotot itu semakin beranak pinak?" seru Sammy mulai panik.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alvin.


"Hahaha.. Habislah kalian!" suara tawa yang menggelegar terdengar dari mulut pemimpin preman yang berdiri tidak jauh dari Jeffrey dan Jenny.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Vote dan gift juga sangat bisa menyenangkan Author-. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2