
Jeffrey tampak keluar dari ruang persalinan dan seketika tubuhnya terasa sangat lemas. Ia bersandar pada dinding sebelah pintu ruangan untuk menopang tubuhnya agar tetap berdiri pada pijakannya. Tubuhnya bergetar, keringat dingin masih tampak membasahi tubuhnya. Meski ia sudah merasa lega namun ketegangan yang tersisa masih sangat mempengaruhinya.
Jeffrey menggiring manik hijaunya ke arah para orangtua yang memang sudah berada disana, menunggu proses persalinan Jenny. Netranya seketika terkunci kepada seseorang wanita tengah baya yang masih memancarkan kecantikan dan keanggunan di usianya yang hampir menginjak angka 50.
Jeffrey melangkah mantap menuju wanita tersebut dan memeluknya dengan sangat erat.
"Mom, maafkan Jeffrey jika selama ini sudah sering menyakiti Mommy. Jeffrey baru tahu sekarang, perjuangan Mommy saat melahirkanku sungguh sangat besar. Mommy rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk melahirkan putra yang sering membuat onar sepertiku ini. Terimakasih karena Mommy selalu merawatku dengan kasih sayang yang akupun belum tentu bisa membalas semua jasa-jasamu," ucap Jeffrey dengan suara bergetar menahan tangis.
Setelah melihat perjuangan sang istri saat melahirkan, Jeffrey benar-benar sadar bahwa perjuangan seorang wanita saat membawa sang buah hati ke dunia sangatlah besar. Dia yang tadi menyaksikan Jenny yang tengah berjuang bertaruh nyawa untuk anaknya sudah sangat membuatnya cemas dan takut. Dengan hanya melihatnya saja sudah membuatnya merasa ngilu apalagi yang menjalaninya. Maka dari itu, ia sudah bersumpah kepada dirinya sendiri untuk selalu memberikan kebahagiaan kepada istrinya. Menempatkan Jenny sebagi satu-satunya ratu di hatinya untuk selamanya.
Sedangkan Briana seketika menangis haru mendapati tindakan dari si putra semata wayangnya. Ia balas pelukan Jeffrey seraya mengusap punggungnya dengan penuh sayang. "Kau putra Mommy yang paling bandel tapi paling Mommy sayang,"
"Bagaimana keadaan istri dan anakmu? sambung Briana kembali.
Jeffrey mengurai pelukannya. "Istri dan anakku sangat baik Mom. Sebentar lagi mereka akan di pindahkan ke ruang perawatan,"
Selang beberapa waktu kemudian, Jenny dan bayinya sudah di pindahkan di salah satu ruang perawatan Rumah Sakit.
Para orangtua yang baru saja menyandang status sebagai Kakek dan Nenek tersebut tampak mengerubungi si Jeaven dengan tatapan penuh damba. Ketampanan sudah tercetak jelas di muka polosnya. Membuat terpana siapa saja yang melihat.
"Sayang, coba kau lihat, dia sangat tampan. Mukanya mengingatkanku pada Jeffrey ketika masih bayi," ucap Briana penuh kagum kepada Darwin tanpa mengalihkan pandangannya dari cucunya.
Darwin tampak mengulas senyum seraya mengusap lembut pipi tembem si bayi Jeaven. "Dia sangat tampan seperti Kakeknya,"
"Dia itu anakku Dad, jadi sudah seharusnya dia tampan seperti ayahnya," sela Jeffrey tidak terima.
"Apa kau lupa ketampananmu itu berasal dari Daddy? Coba berkacalah, mukamu itu mirip dengan Daddy," Darwin tidak mau mengalah.
"Tapi dia itu anakku,"
"Sudah-sudah, kalian itu masih saja suka bertengkar seperti anak kecil. Anak dan Ayah sama saja, narsis," sela Briana menengahi sepasang ayah dan anak yang suka sekali berdebat jika berdekatan.
Dengan hati-hati, Briana mengangkat bayi yang masih merah itu dari baby box dan menimangnya.
"Lihatlah Emy, cucu kita sangat menggemaskan bukan?"Briana kembali memuji seraya mendekatkan bayi Jeaven kepada Emy.
"Iya, kau benar sekali Bri. Sepertinya ini karena ia terbuat dari bibit unggulan," timpal Emy dengan pandangan yang tak lengah dari bayi Jeaven yang masih tertidur pulas meskipun suasana ruangan sedikit berisik.
Jenny yang sedang duduk bersandar headboard ranjang tampak mengulas senyum bahagia di bibirnya. Pemandangan yang tersuguhkan di depan mata, sungguh memberi perasaan hangat di hatinya.
"Jeff, apa sebaiknya kita memberi kabar kelahiran putra kita pada para sahabat sekarang?" tanya Jenny kepada Jeffrey yang langsung mendapat penolakan.
__ADS_1
"Jangan sekarang, yang ada kita bakal ditegur sama petugas pihak Rumah Sakit," jawab Jeffrey.
"Hm? Kenapa?"
"Apa kau lupa mereka kalau sudah berkumpul suka membuat keributan?" tukas Jeffrey.
°°°
Dua hari kemudian, masih pada belahan bumi yang sama, kota London. Tepatnya di salah satu rumah tahanan bagi para pelaku tindak kriminal guna menjalani masa hukumannya.
"Selamat, Anda bisa bebas karena masa hukuman sudah berakhir," ucap seorang petugas sipir.
"Bukankah masa hukuman saya masih lama?" tanya pria yang baru saja dinyatakan bebas yang tak lain dan tak bukan adalah Darren.
"Ada seseorang yang memberikan uang jaminan sebagai permohonan penangguhan penahanan anda. Mari saya antar anda untuk menemui beliau," jelas sipir tersebut.
"Daddy?" ucap Darren lirih namun masih terlukis jelas gurat-gurat keterkejutannya.
Seutas senyuman terulas pada bibir pria yang sudah menginjak usia setengah abad namun masih terlihat gagah dan tampan. Pria itu adalah Darwin.
"Mari kita pulang sekarang," ajak Darwin.
"Masa hukumanmu sudah sangat cukup. Sekarang kau harus pulang dan kembali bergabung dengan keluarga," tutur Darwin yang masih menyisihkan keibawaannya.
Darren masih membatu pada pijakan kakinya seraya tertunduk dalam, menahan rasa yang bergejolak. Antara rasa haru dan bersalah, keduanya menggulung jadi satu.
"Daddy tahu, kau masih putraku yang dulu. Putra yang bertanggungjawab dan penurut. Kau sudah mempertanggungjawabkan semua kesalahanmu dan sekarang turuti perintah Daddy. Ayo kita pulang,"
Darren mentautkan pandangannya ke arah Darwin. Keraguan untuk melangkah seolah masih menjerat tubuhnya. Rasa bersalah yang masih merajai jiwanya membuatnya merasa tidak pantas untuk berada di tengah-tengah keluarga Allison.
"Keponakanmu sudah lahir, apa kau tidak ingin melihatnya? Adik-adikmu Jeffrey dan Jenny juga sangat mengharapkan keberadaanmu untuk melengkapi kebahagiaan mereka," tutur Darwin kali ini sepertinya sukses meluruhkan kebimbangan Darren. Membuat keraguan di dalam dirinya berangsur-angsur menguap.
"Baik Dad, terimakasih," lirih Darren.
°°°
Di kediaman Jeffrey dan Jenny sedang ramai sekarang karena semua para sahabat berbondong-bondong untuk menjenguk si bayi tampan yang sudah memiliki nama lengkap Jeaven Allison.
"Ya ampun.. Kenapa kau sangat tampan sekali..? Aku yakin waktu ibumu masih hamil dia diam-diam melirik banyak pria tampan dan seksi," cerocos Daisy asal yang langsung mendapat tatapan melotot dari Jenny. Pipi Jeaven tampak beberapa kali menjadi sasaran ciuman Daisy.
"Sembarangan kalau ngomong. Aku hanya melirik satu pria tampan, yaitu dia," sanggah Jenny lalu melirik ke arah jeffrey yang tengah duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Sudah cukup, jangan terlalu banyak menciumnya. Bibirmu bisa mengurangi kadar ketampanannya nanti," sembur Jeffrey seakan tidak rela pipi putranya menjadi sasaran bibir Daisy yang berpoles lipstik tebal.
"Jenn, bayimu ini memang sangat tampan. Mungkin kelak kalau sudah dewasa dia akan menjadi rebutan para wanita cantik," seloroh Avellyn dengan tatapan kagum kepada bayi yang sedang menjadi primadona tersebut.
"Kalau benar begitu tentunya akan sangat merepotkan bagiku," balas Jenny berseloroh.
"Aku berharap anak keduaku juga tampan seperti dia," sela Ella seraya mengusap perutnya yang membuncit karena tengah hamil 6 bulan.
Sammy yang juga berada di ruangan yang sama juga tidak ingin ketinggalan untuk berceloteh.
"Jeff, kenapa dia sangat mirip sekali denganmu?" Sammy tampak protes.
"Tentu saja mirip denganku karena dia anakku bukan anak Sean, Alvin atau Jullian," sahut Jeffrey ketus.
Sean, Alvin, dan Jullian tampak mendengus geli ketika mendengar ucapan ketus Jeffrey.
Sammy tiba-tiba terperangah ketika bayi yang tengah jadi sorotan utama itu menggeliat dan diikuti kedua matanya yang awalnya masih terpejam, pelan-pelan mulai terbuka memperlihatkan mutiara hijau yang begitu menawan dengan sorotan tajam, setajam mata elang.
"Astaga, tatapannya sungguh tajam sekali. Apa dia tidak menyukai keberadaanku?" Sammy masih berceloteh yang membuat si bayi Jeaven seketika memasang muka masam kemudian menangis.
"Wah dia sangat luar biasa. Masih bayi sudah terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka kepadaku," cerocos Sammy.
"Mungkin karena tubuhmu diselimuti aura negatif karena terlalu sering berpikiran mesum," sembur Daisy sekenanya lalu menyerahkan Jeaven yang masih menangis kepada Ibunya.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu kepada calon suamimu," cebik Sammy kepada Daisy.
Tangisan bayi tersebut seketika berhenti ketika Jenny mulai menimang-nimangnya. Makhluk kecil yang menggemaskan itu terlihat sangat nyaman ketika berada di dalam dekapan wanita yang telah melahirkannya itu.
Ehem!
Suara deheman seseorang sontak mencuri perhatian semua orang terutama Jenny dan Jeffrey tentunya.
"Kakak?" pekik Jeffrey dan Jenny bersamaan.
Bersambung~~
Oya, nama bayinya sudah Nofi ralat ya.. yang awalnya Heaven Nofi rubah menjadi Jeaven🤭
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1