Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Ciuman Basah


__ADS_3

Seolah Dewa hujan enggan untuk berbelas kasih, pria muda yang sedang tersulut api cemburu itu tampak basah pada setiap bagian tubuhnya hingga yang terdalam. Masih dalam kondisi basah kuyup, dia memasuki bangunan Coffee Shop dengan menenteng helm fullface-nya. Melangkahkan kakinya menuju tempat dimana gadisnya sedang duduk bersama pria lain yang tak lain adalah Sean.


"Turunkan tanganmu itu," perintah Jeffrey dengan nada dingin.


Suara bariton Jeffrey sontak mengalihkan perhatian Jenny dan Sean secara serentak. Sean yang menyadari tatapan membunuh Jeffrey, tersenyum kecut lalu melepas tangan Jenny.


"Beruang kutub, kenapa kau basah kuyub seperti ini?" tanya Jenny yang langsung memasang muka heran. Dengan polosnya tanpa menyadari ekspresi muka Jeffrey saat ini yang seakan ingin memakan onggokan daging bernyawa di hadapannya mentah-mentah.


Alih-alih menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya, Jeffrey menarik tangan jenny dan menyeretnya keluar menuju tunggangan bermotornya yang terparkir di pelataran Coffee Shop meninggalkan Sean sendirian yang terlihat pasrah dengan keadaan. Percakapannya dengan Jenny barusan membuatnya mengurungkan niat untuk menghentikan tindakan Jeffrey.


"Hai! Kau mau bawa aku kemana?!" tanya Jenny setengah berteriak di tengah-tengah guyuran hujan.


"Pulang," jawab Jeffrey singkat.


"Naik," Jeffrey menitah Jenny untuk segera menaiki motornya.


Jenny memutar kedua bola matanya karena jengah. Saat ini dia terlalu malas untuk berdebat dengan suaminya itu, lantas dia langsung membawa kakinya pada pijakan motor dan mendaratkan bokongnya pada jok motor belakang dan susul jeffrey yang duduk di jok depan.


"Pegangan," titah Jeffrey sebelum membungkus kepalanya dengan helm.


"Iya iya," jawab Jenny datar lalu menyapit kaos yang dikenakan Jeffrey dari kedua sisi sebagai isyarat mematuhi perintah Jeffrey.


Jeffrey berdecak sebelum menghidupkan kendaraan roda duanya. Pria itu melajukan motor lalu mengerem tiba-tiba sehingga membuat tubuh Jenny tersentak ke depan dengan tangan yang langsung melingkari perut berotot Jeffrey.


"Apa kau tidak bisa menaiki motor dengan benar?" gerutu Jenny namun tak dihiraukan oleh pria itu.


Setelah memastikan Jenny berpegangan dengan benar, Jeffrey lanjut melajukan motornya menembus guyuran hujan.


"Kenapa kau berhenti di sini? Kau bilang kita akan pulang?" tanya Jenny seraya menyapu pandangan ke sekitar.


Jeffrey memang menghentikan motornya pada salah satu jembatan yang membelah sungai Cam. Masih bertengger di atas motor, pria itu melepas helm dan menyampirnya pada gas motor. Kemudian memutar tubuhnya sehingga posisi sepasang anak manusia itu kini saling berhadapan.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah berhenti di sini? Tidakkah kau melihatnya sekarang kita sedang kehujanan, sebaiknya kita segera berteduh," ucap Jenny yang membentengi mukanya dengan kedua telapak tangannya, berlindung dari serangan air hujan meski tampaknya sia-sia.


"Jauhi Sean! Jangan melihat wajah dan jangan berbicara kepadanya," pinta Jeffrey yang sangat ketara bahwa dia sangat tidak menyukai cara Sean mengajak interaksi Jenny.


"Memang kenapa? Aku tidak mau, kenapa aku harus menjauhi orang baik seperti dia," tolak Jenny.


"Aku melarangmu, turuti saja,"


"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kau sangat aneh akhir-akhir ini, kau selalu saja bertindak sesuka hatimu. Kau saja boleh berteman dengan siapa saja, kau bahkan berpacaran dengan wanita lain di saat kau sudah beristri, kenapa aku tidak boleh? Apakah ini adil? Kenapa kau sangat menyeb," celotehan panjang Jenny tiba-tiba terputus karena Jeffrey membungkam mulutnya dengan ciuman tiba-tiba.


Gadis yang mendapat serangan dadakan itu tampak berkali-kali mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mencerna situasi. Setelah Jeffrey memberi lum*tan yang terasa hangat yang mengalahkan dinginnya guyuran hujan, Jenny sontak tersadar.

__ADS_1


Ini memang bukan kali pertama mereka berciuman, namun pagutan bibir Jeffrey kali ini terasa berbeda.


"Hmmmmp! Hmmmp!" Jenny mencoba melepaskan pagutan bibir Jeffrey namun kandas.


Alih-alih menghentikan aksinya, satu tangan kekar Jeffrey melingkari perut ramping Jenny dengan posesif dan menariknya sehingga membuat kedua tubuh mereka saling menempel hingga tiada ruang yang tersisa. Sedangkan satu tangan yang lainnya menarik tengkuk Jenny sehingga menciptakan sensasi ciuman yang semakin dalam dan intim.


Tidak peduli dengan pemberontakan Jenny. Pria itu tampak kalut dan membiarkan insting ingin memiliki menguasahi pikiran dan hatinya.


Jenny yang mulai kesulitan untuk bernapas tampak beberapa kali mengahdiahkan pukulan pada dada bidang suaminya hingga akhirnya Jeffrey menghentikan ciumannya dengan kening masih saling menempel. Keduanya berusaha mengatur napas yang masih tersengal-sengal karena ciuman berlangsung cukup lama.


"Hah! Hah! Hah! Apa kau ingin membunuhku?! seru Jenny yang masih ngos-ngosan.


Jeffrey sedikit menarik mukanya dan menatap lekat muka Jenny, hingga akhirnya kedua pasang manik berlensa beda warna itu saling terkunci.


"Bisakah kau berhenti berhenti bersikap manis ke Sean?" tanya Jeffrey dengan tatapan berkabut namun penuh harap.


"Kenapa?" Jenny balik bertanya tanpa melepas kuncian matanya.


"Karena aku tidak suka?"


"Tapi kenapa?"


"Karena kau milikku,"


Blush..


Meski saat berciuman Jeffrey tampak mendominasi namun keduanya tampak saling menikmati. Jenny tampak beberapa kali membalas lum*tan bibir Jeffrey meski masih terkesan kaku.


Jenny sedikit membuka bibirnya, mempersilahkan lidah tak bertulang Jeffrey mengespos setiap inci rongga mulutnya. Saling mencecap bibir atas dan bawah secara bergantian.


Seolah belum mendapatkan kepuasan, Jeffrey mengangkat tubuh Jenny hingga dia duduk di atas pangkuannya dengan kaki yang melingkari tubuhnya. Jeffrey beberapa kali menggantikan posisi berciumannya dengan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tidak ingin menyisakan satu incipun bagian bibir ranum Jenny dari cecapannya. Jeffrey juga mencoba menuntun Jenny untuk saling bertukar cairan saliva yang bercampur air hujan.


Suara decapan dan sesapan seakan menjadi simponi yang mengiringi suara rintikkan hujan sehingga adegan ciuman mereka tampak begitu berkesan manis.


Adegan ciuman sepasang suami istri kontrak di tengah siraman air mata langit yang berguguran berlangsung cukup lama, hinga akhirnya..


Haatchiih..!


Pagutan kedua bibir mereka terhenti seketika di kala Jenny tiba-tiba bersin. Mungkin akibat terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan membuat suhu tubuhnya menurun dan merasakan kedinginan hingga terbersin.


"Ah! Maaf," ucap Jenny seraya mengusap hidungnya yang terasa pengar.


"Sebaiknya kita segera pulang sekarang," Jeffrey langsung membetulkan posisinya, tidak lupa menarik kedua tangan kecil Jenny untuk memeluknya kemudian melajukan motor sport-nya untuk kembali ke apartemen.

__ADS_1


Di sudut lain yang tidak jauh dari tempat Jeffrey dan Jenny tadi. Seorang pria tampan terduduk lemas di bangku mobilnya. Dari balik kaca hitam, dia menyaksikan sendiri sebuah adegan manis namun begitu pahit baginya.


Hatinya seketika hancur luluh lantah, kedua netranya sudah memerah, genangan cairan bening sudah memenuhi pelupuk matanya. Hanya sekali kedip, buliran bening itu lolos begitu saja.


Air mata pilu yang baru kali pertama dia tumpahkan untuk seorang wanita selain sang Mama. Dia tidak menyangka, sebegitu perihnya hati ketika melihat seseorang yang dia cintai bercumbu kasih bersama yang lain.


"Apakah Mama juga merasakan hal yang sesakit ini juga?" gumam Sean begitu pilu.


Saat ini Sean memang kecewa, mungkin dia bisa saja membenci Jenny, tapi akhirnya dia mencoba berpikir lebih terbuka. Karena pada dasarnya hubungannya dengan Jenny memang belum sampai ke jenjang yang lebih serius. Hanya saja, selama ini pria berlensa abu-abu bening itu terlalu tinggi dalam berharap sehingga membuatnya merasakan sakit yang luar biasa ketika hatinya terjatuh.


Sean menatap lurus ke depan dengan perasaan meremang. Dia kembali mengingat percakapannya dengan Jenny sesaat sebelum Jeffrey datang dan membawa gadis itu dengan paksa.


"Sean, maafkan aku. Bisakah kita hanya berteman saja?" ucap Jenny seraya tertunduk. Dia benar-benar tidak berani menatap muka kecewa Sean.


"Kenapa? Bukankah kau menyukaiku?" tanya Sean sendu. Dia mencoba mencari kesungguhan di muka Jenny yang tampak tertunduk.


"Bukan karena suka atau suka Sean, bagaimanapun juga kedekatan kita ini adalah sesuatu hal yang salah. Statusku masih menjadi istrinya. Sebaiknya kita hentikan sekarang sebelum tenggelam lebih dalam pada kesalahan yang menjerumuskan kita berdua,"


"Apanya yang harus dihentikan? Kita bahkan belum sampai ke tahap berpacaran, tidak bisakah kau memikirnya lagi?" bujuk Sean penuh harap.


Jenny akhirnya mengangkat mukanya, memberanikan diri untuk menatap muka Sean yang tampak kecewa dan menyedihkan.


"Aku sudah memikirnya berulang kali. Aku tidak ingin memberimu harapan yang dimana aku sendiripun tidak bisa menentukan kepastiannya, aku tidak ingin kau terluka kelak. Kau adalah pria baik, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, wanita yang menerimamu dengan segenap cinta, kau juga berhak bahagia Sean," tutur Jenny penuh ketulusan.


Sean menatap sendu muka Jenny. Sekilas dia bisa menangkap kesungguhan kata Jenny dari guratan-guratan mukanya yang penuh akan syarat.


"Apa kau mulai menyukai Jeffrey?" Sean bertanya dengan ragu. Sungguh kali ini dia berharap akan mendapat jawaban yang bisa melegakan hatinya.


Jenny menggelengkan kepalanya. "Entahlah Sean, aku belum bisa mengartikan perasaanku saat ini, aku juga tidak berani asal menerka," beber Jenny apa adanya.


"Sekali lagi, aku minta maaf Sean. Kau boleh membenciku," sambung Jenny lagi.


Sesaat Sean menundukkan kepalanya, memejamkan matanya begitu dalam, berusaha menata perasaannya. Kemudian dia kembali mengangkat muka tampannya seraya mengulas sebuah senyuman tipis di balik rasa kecewanya.


"Mana mungkin aku bisa membencimu Jenn. Baiklah, aku hargai keputusanmu, lagian aku juga tidak berhak memaksamu. Tapi, jika sewaktu-waktu kau berubah pikiran, tanganku selalu terbuka lebar untuk menyambutmu kembali, karena bagaimanapun juga kau tetap angsa putih di hatiku," ucap Sean dengan tulus, meski terasa sangat berat.


"Terimakasih Sean," balas Jenny merasa lega.


Lalu Sean meraih tangan Jenny dan mengecupnya penuh kasih seolah esok tiada lagi kesempatan untuk menggenggam tangan mungil Jenny.


Sean kembali menarik paksa pikirannya. Dia menghela napas panjang untuk membuang himpitan perasaan buruk yang menyesakkan dada. Kemudian dia menghidupkan mesin dan memacu mobilnya menembus guyuran hujan.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2