
Acara pesta Ulang Tahun Ella telah usai. Tampak para tamu undangan keluar dari rumah yang berdesain tudor stile khas Eropa tersebut. Sebuah mobil sport bewarna hitam metalik tampak terparkir rapi di luar pekarangan rumah Jenny. Jeffrey yang sudah keluar sebelum acara pesta berakhir ternyata tidak sepenuhnya berniat untuk meninggalkan rumah yang di tempati Jenny.
Perasaan aneh yang begitu sulit dideskripsikan membuatnya enggan untuk segera melajukan mobilnya. Otaknya seakan tidak membiarkannya tenang walau sedetik. Kilas ingatan waktu di acara pesta terus saja terlintas di benak pikirannya.
Bukan karena penampilan buruk Jenny. Bukan pula karena tindakan jahil Ella kepada Jenny. Melainkan karena sebuah plester luka yang menghiasi punggung tangan Jennylah yang membuatnya seperti sekarang.
"Apa waktu itu aku terlalu kuat menginjak tangannya? Hah! Kenapa aku terus kepikiran?" batin Jeffrey.
"Tapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan waktu itu. Dia menamparku dengan keras waktu di dalam bus dan dia menendang barang behargaku," Jeffrey mencoba menggusur rasa bersalahnya dan membiarkan egonya memenangkan hati dan otaknya.
"Sampai kapan kita berada disini? Pestanya sepertinya sudah berakhir," ucap Sammy yang menyembulkan kepalanya dari bangku penumpang belakang.
"Sialan, kau mengagetkanku!" seru Jeffrey yang terjingkat karena kepala Sammy yang tiba - tiba menongol dari belakang.
"Aw! Jangan lakukan itu, kau bisa membuat aku bodoh," sungut Sammy ketika mendapatkan pukulan kilat di kepalanya seraya mengusap kepalanya.
"Bukankah kami dari tadi juga sudah berada di dalam mobil bersamamu? Kenapa kau bisa sekaget itu? Aneh," sela Alvin dengan mimik muka mencibir.
"Iya nih, lagian buat apa kita berlama - lama disini? Apa kau tidak lihat, kedua temanmu ini sudah dipenuhi sarang laba - laba di belakang," celoteh Sammy.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat tidak seperti biasanya," sela Alvin lagi.
"Kenapa kau tidak peka Alvin? Si Jeffrey itu masih ingin bertemu dengan cewek yang dia anggap kucing kumuh itu, tapi dia gengsi," cibir Sammy.
Jeffrey langsung meraih botol minuman dari holder mobil dan melemparnya ke arah Sammy.
"Mulutmu jangan asal bicara," kilah Jeffrey.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Mumpung weekend bagaimana nanti malam kita clubbing," saran Alvin.
"Aku setuju!" jawab Sammy antusias.
Dering suara panggilan telepon dari ponsel Jeffrey membuat percakapan mereka terhenti. Jeffrey mengambil benda pipih tersebut dari saku mantelnya. Terlihat nama Veronica menghiasi layar ponselnya.
"Ah! Aku lupa kalau aku ada janji dengan Vero untuk nonton," gumam Jeffrey sebelum menerima permintaan panggilan dari Veronica.
"Halo," Jeffrey menyapa.
"Sayang kamu tidak lupa dengan janji kita kan? Aku sudah menunggumu," ucap Veronica di seberang telepon.
__ADS_1
"Iya, aku akan menjemputmu sekarang, bye," jawab Jeffrey lalu mengakhiri panggilan.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut kalian bersenang - senang nanti malam," ucap Jeffrey kepada Alvin dan Sammy.
"Baiklah, kau bersenang - senanglah bersama pacarmu," timpal Alvin.
"Tapi aku penasaran, apa kau merasa senang saat berkencan dengan Vero? Karena yang aku tahu kau berkencan dengannya karena balas budi," ujar Sammy penasaran.
"Sudahlah, itu urusanku," ucap Jeffrey yang terlihat malas untuk bercerita tentang perasaannya.
Jeffrey mulai menghidupkan mobil dan hampir menginjakkan kaki pada pada pedal gas mobil. Akan tetapi niatnya itu terhenti karena melihat pemandangan yang tak mengenakkan dari rumah Jenny.
°°°
"Apa maksutnya ini? Untuk apa kalian membawa keluar koper dan barang - barangku?" tanya Jenny kepada Amber dan Ella seraya mengerutkan keningnya dalam sehingga menampakkan garis - garis halus horizontal.
"Sekarang kamu sudah tidak pantas tinggal di rumah ini. Pergilah dari rumah ini," ucap Amber sinis.
"Kalian tidak berhak mengusirku karena ini rumah Papaku," Jenny tidak terima.
"Coba kamu lihat, sekarang rumah ini sudah atas namaku, jadi rumah ini milikku sekarang," ucap Amber seraya menunjukkan sertifikat rumah yang sudah beralih atas namanya.
"Tentu saja bisa," jawab Amber santai.
"Sudah Ma, buruan usir dia. Dia juga sudah mencoba merayu pacarku. Selama ini kita sudah terlalu bersikap baik padanya, makannya dia semakin melunjak!" pinta Ella dengan nada geramnya kemudian dia menarik daun pintu keluar rumah hingga terbuka sempurna.
Amber menarik tangan Jenny menuju pintu dan mendorong tubuhnya dengan keras hingga membuat Jenny tersungkur di tanah.
Jenny yang belum ingin menyerah lanjut menggedor pintu rumah yang sudah tertutup dengan sangat keras.
"Buka pintunya, ini rumahku dan aku tidak akan pergi dari sini!" teriak Jenny dari luar.
"Aku bilang buka pintunya!"
Tiba - tiba pintunya terbuka dan terlihat Amber keluar di balik pintu dan melempar koper Jenny yang masih tertinggal di dalam lalu segera menutup pintunya kembali.
Bum! Suara dentuman pintu yang begitu keras sempat membuat Jenny mengerjapkan matanya dan tubuhnya terjengkat karena terkejut.
"Kenapa kalian selalu bersikap buruk padaku? Dulu saat Papa masih hidup kalian selalu bersikap manis kepadaku. Ternyata semua itu palsu," gumam Jenny yang mulai meneteskan buliran bening nan hangat di pipinya.
__ADS_1
Nenek Anne yang tidak sengaja mendengar keributan di luar bergegas keluar rumah. Dia terkejut melihat Jenny yang berdiri di depan pintu dengan koper bergelimpangan di tanah. Wanita tua itu langsung mendekati Jenny untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu menangis? Terus untuk apa koper ini?" deretan pertanyaan terlontar dari bibir Nenek Anne. Guratan kecemasan tergambar di sela - sela garis kulit keriputnya.
Jenny hanya memandang muka Nenek Anne tersebut dengan mimik muka sedih dan hal itu cukup menjawab semua pertanyaan wanita tua tersebut.
"Coba katakan, apa kamu di usir dari rumah ini?" tanya Nenek Anne dengan menatap lekat sepasang manik biru Jenny yang terlihat basah.
Jenny hanya manganggukkan kepalanya untuk sebagai jawaban.
"Dasar orang - orang tidak punya hati! Kenapa mereka bisa berbuat setega itu?" cerca Nenek Anne.
"Sekarang kamu akan tinggal dimana sayang? Kalau kamu bersedia, kamu boleh tinggal di rumahku," tawar Nenek Anne.
"Tidak Nek, Jenny sangat berterimakasih akan tawaranmu. Aku akan kembali ke rumah Mamaku saja," tolak Jenny secara halus.
"Aku akan sangat merindukanmu sayang," ucap Nenek Anne sendu.
"Oya, pakailah ini. Hawa di luar sedang dingin, jangan sampai kamu sakit," tutur Nenek Anne seraya melepaskan sebuah syal dari lehernya dan melilitkannya kembali di leher Jenny.
"Terimakasih Nek, aku juga akan sangat merindukanmu. Jagalah kesehatanmu selalu," ucap Jenny dengan mata yang tampak berkaca - kaca. Kemudian dia memeluk singkat tubuh wanita tua tersebut.
Jenny mendirikan koper yang tergeletak sembarangan di pekarangan rumah dan mulai melangkahkan kakinya keluar perkarangan.
Langkah Jenny terhenti di kala Jeffrey berada di hadapannya saat ini.
"Apa kamu melihat semuanya?" tanya Jenny dengan sorot mata kebencian namun masih terlihat basah karena air mata.
Jeffrey terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan gadis yang berada di hadapannya saat ini.
"Pasti kamu sangat senang bukan? Ini kan yang kamu inginkan? Mempermalukanku di depan banyak orang dan melihatku menderita," tuduh Jenny penuh keyakinan.
Lagi - lagi Jeffrey hanya terdiam. Dia hanya memandang muka Jenny dengan tatapan tak terbaca.
"Aku sangat membencimu. Sangat membencimu. Jika aku diberikan kesempatan terkahir untuk berdoa, aku akan berdoa kepada Tuhan untuk tidak mempertemukanku kembali denganmu setelah ini dan di kehidupan mendatang," ucap Jenny penuh kebencian. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Jeffrey yang masih terdiam seribu bahasa.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏