
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna sehingga membuat muka yang sudah penuh akan penyesalan itu menoleh ke samping.
Darwin yang sudah tersulut kobaran api amarah lantas mencengkram kuat sebuah kerah leher seraya melayangkan tatapan menyalang tajam.
"Dasar manusia tidak tahu diuntung! Apa ini balasanmu setelah aku merawat dan membesarkanmu hingga menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi?" hardik Darwin lalu melempar tubuh Darren hingga tersungkur ke lantai.
Darren hanya bisa berlaku pasrah menerima perlakuan kasar Darwin. Baginya itu memang pantas dia dapatkan. Bahkan tamparan dan pukulan tidaklah cukup untuk menebus akan kesalahan yang telah ia perbuat.
Sedangkan Briana hanya bisa menangis sesenggukan di dalam pelukan Jenny yang masih berusaha memberi ketenangan untuknya. Sebagai seorang ibu, sungguh ia tidak tega menyaksikan Darwin yang terus menghajar anak asuhnya yang tampak tak ada niat untuk membalas sedikitpun. Tapi di bilah hatinya yang lain juga terselip kekecewaan yang juga teramat besar.
"Apa alasanmu bertindak bodoh seperti itu hah?! Dasar anak kurang ajar!" umpat Darwin semakin berang. Ia kembali menghajar Darren dengan menghujam beberapa kali tendangan namun aksinya segera dihentikan oleh Jeffrey.
"Kenapa kau menghalangiku?! Dia memang harus diberi pelajaran," sergah Darwin kepada Jeffrey.
Darren tampak berusaha bangkit dari lantai dan bersimpuh dengan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Dad, aku minta maaf," ucap Darren seraya tertunduk.
"Jangan panggil aku Daddy karena kau bukan lagi putraku sekarang!" hardik Darwin seraya menunjuk-nunjuk muka Darren.
Tanpa diduga, senyuman getir seketika terlihat di muka Darren di kala mendengar ucapan Darwin barusan. Tentu saja hal itu membuat semua orang yang berada di sana, Darwin, Briana, Jeffrey, dan Jenny bertanya-tanya.
"Bukankah kenyataannya aku memang bukan putra kandungmu?" Darwin dan Briana seketika terperangah karena satu rahasia yang selalu mereka simpan rapat-rapat itu ternyata sudah diketahui oleh Darren.
"Daddy tadi bertanya alasanku melakukan hal nekat itu bukan? Itu karena aku kecewa pada kenyataan bahwa aku bukanlah anak kandung kalian, aku...," beber Darren terjeda. Sungguh ia belum menerima kenyataan, hatinya begitu sakit.
__ADS_1
"Aku cemburu dan iri kepada Jeffrey yang selalu mendapatkan perlakuan lebih spesial, meski selama ini aku selalu berusaha menjadi seseorang seperti yang kalian inginkan tapi akhirnya segala usaha dan pengorbananku sia-sia, dan hal itu membuatku gelap mata. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa perasaanku itu salah, tidak sepantasnya aku cemburu pada Jeffrey karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku juga menyesal setelah melihat penderitaan kalian karena tindakan bodohku," lanjut Darren kembali yang diikuti luruhnya buliran bening dari kedua pelupuk matanya.
Darwin dan Briana tampak tercengang mendengar luapan isi hati Darren yang sebenarnya diapun terluka.
Sedangkan Jeffrey dan Jenny terlihat lebih tenang karena mereka sudah mengetahui semuanya sebelum Darren membawa Jeffrey kembali ke keluarganya.
"Kau?!" ucapan Darwin terhenti karena mendadak dadanya merasakan sedikit sesak. Gegas ia mencoba menenangkan diri agar detak jantungnya kembali normal.
"Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu," tandas Darwin dengan intonasi lebih rendah, terlihat ia sedang menahan gejolak amarahnya saat ini.
"Jangan halangi aku! Aku ingin bertemu dengan keparat itu!" tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar membuat semua penghuni rumah tersentak.
Tampak seseorang pria berpenampilan sangat kacau memaksa menerobos masuk ke dalam rumah keluarga Allison.
"Maaf Tuan, kau tidak boleh membuat keributan di sini," sergah seorang satpam yang berkerja di keluarga Allison. Sedangkan satu satpam yang lain tampak mencekal kedua tangan pria itu agar berhenti membuat kegaduhan.
"Darwin, Keluar kau! Aku ingin berbicara denganmu!" teriak pria itu.
Baru beberapa langkah Darwin melewati ambang pintu, pria tersebut berhasil melepas cekalan tangan si satpam dan mengambil langkah lebarnya mendekati Darwin dengan tatapan membunuh seraya mengeluarkan senjata tajam berupa pisau dari saku mantelnya.
Jleb! Jleb! Jleb!
Tiga tusukan melesat cepat menerobos kasar tubuh yang sudah menjadi sasaran penusukan brutal tersebut.
"Tidakk!!" pekik Briana sangking terkejutnya karena menyaksikan anak asuhnya seketika tumbang setelah berusaha menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Terlihat cairan darah terus mengalir dari luka menganga di perutnya.
Darwin yang berada paling dekat dengan Darren tampak terduduk lemas dengan tubuh yang bergetar karena rasa takut, khawatir, serta panik bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Ck! Bahkan hingga akhir kau masih bersedia bekorban untuk keluargamu," decih pria si pelaku penusukan itu tanpa ada beban dan rasa bersalah sedikitpun karena sudah terlanjur dikuasai nafsu amarah setan yang membuatnya gelap mata.
"Lepaskan aku! Aku tidak akan puas sebelum melihat keluarga Allison hancur seperti nasib perusahaanku yang telah kalian hancurkan!" pria itu memberontak seperti orang kesurupan ketika kedua satpam kembali mencekal tubuhnya.
Bug!
Dengan sigap salah satu satpam tersebut berhasil membuat pingsan pria itu dengan memberi pukulan pada bagian titik lemah di lehernya.
"Cepat siapkan mobil, kita harus membawanya ke Rumah Sakit secepatnya," teriak Darwin kepada supir pribadinya.
Briana berlari menghampir Darren yang diikuti Jeffrey dan Jenny. Sama hal nya dengan Darwin, mereka saat ini begitu panik melihat kondisi Darren yang terlihat berusaha menahan sakit. Mereka seakan lupa dengan perasaan marah dan kecewa untuk Darren beberapa waktu yang lalu.
Briana dan Jenny tak henti-hentinya menangis histeris.
"Jeff, maaf akan semua kesalahanku, aku belum bisa menjadi Kakak yang baik," ucap Darren dengan suara terbata-bata.
"Sudah, jangan mengatakan apapun lagi, kau akan baik-baik saja," balas Jeffrey.
Seutas senyuman tipis tampak terselip pada muka Darren yang masih menahan sakit lalu ia menggiring manik matanya ke arah Jenny yang masih menangis. "Sayang, maafkan Kakak yang telah membuatmu menderita," Jenny terlihat semakin histeris.
"Mom, Dad, terima kasih telah merawatku dari kecil. Aku justru membalas kebaikan dengan keburukan, maafkan aku, uhuk! Uhuk!"
Darren tercekat dikala dadanya semakin merasakan sesak luar biasa, seperti ada dua bongkahan batu karang yang menghimpit dadanya, membuatnya kesulitan dalam bernapas. Pandangannya kian kabur, hingga akhirnya dunia menjadi gelap seolah tubuhnya tenggelam ke dalam palung laut terdalam, begitu kelam dan suram.
Bersambung~~
Yuhuuu.. semakin mendekati tamat nih. Terimakasih ya masih setia menyimak karya remahan rengginangku iniš„°
__ADS_1
Seperti biasa, Nofi masih mengemis dukungan kalian nih. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian seperti like dan coment. Bila ada rejeki lebih boleh dong sekali-kali sumbangin gift atau vote mingguan kalian biar lebih semangat nih si Author kentang. Xie Xie ni hauš
Wo ai niā¤