
Suasana ruang kelas yang sepi berangsur - angsur ramai. Beberapa bangku kosong juga mulai tampak berpenghuni. Sembari menunggu jam mata pelajaran pertama dimulai para murid terlihat sibuk dengan keseruanya masing - masing. Ada yang saling perang lempar kertas. Ada pula yang sibuk bercengkrama dengan teman sebangku.
Di sudut lain, Jeffrey, Alvin, dan Sammy terlihat sedang ngobrol.
"Nanti pada jam pelajaran terakhir kita cabut," titah Jeffrey kepada Alvin dan Sammy.
"Tapi jam pelajaran terakhir diisi oleh Guru killer kita," ucap Sammy berharap Jeffrey mengerti maksutnya.
"Iya, kalau ketahuan bolos lagi bisa - bisa kita disuruh menulis ulang semua tulisan dari buku pelajaran sejarah dunia yang sangat tebal," sela Alvin yang mengerti maksut Sammy.
"Hih! aku tidak bisa membayangkan, jari - jariku akan menjadi keriting seperti mie instan karena terlalu banyak menulis," ucap Sammy seraya menatap iba jari - jari tangannya.
"Kenapa tidak sekalian waktu jam pulang sekolah saja?" Alvin memberi saran.
"Bodoh! Nanti kita tidak bisa menemuinya karena dia sudah keburu pulang," jelas Jeffrey.
"Lagian sejak kapan kalian menjadi murid yang taat peraturan?" tambahnya lagi.
"Hmm, sejak kapan ya? Aku tidak tahu," jawab Sammy sambil nyengir kuda.
"Aku nggak mau tahu, kalian harus menuruti perkataanku," tandas Jeffrey dengan tatapan mata elangnya.
"Baiklah," ucap Alvin dan Sammy bersamaan seraya tertunduk lesu.
"Apa kalian takut terkena hukuman?" tanya Jeffrey.
Alvin dan Sammy menjawab bersamaan dengan anggukan kepala sebagai jawaban iya.
"Apa kalian lupa siapa aku disini?"
Alvin dan Sammy menjawab lagi dengan gelengan kepala sebagai jawaban tidak.
"Tenang saja, aku bisa buat kalian terbebas dari hukuman, maka dari itu turuti perintahku,"
Kini Kedua kawan tersebut mulai terlihat lega pada raut mukanya.
"Kita pegang perkataanmu Jeff," ucap Alvin.
"Kalau kau sampai ingkar janji, kita nggak mau berteman denganmu lagi," timpal Sammy seraya menampilkan mimik muka cemberut.
Jeffrey langsung menjitak kepala Sammy dengan sangat keras karena merasa jijik dengan ekspresi Sammy yang dibuat - buat.
"Aw! sakit!" Sammy mengaduh.
"Buang jauh - jauh ekspresi muka menjijikanmu itu,"
"Hahaha.. rasain kau Sam. Memang enak?" ejek Alvin kepada Sammy.
"Diam! apa kau juga ingin merasakan hal yang sama?" seru Jeffrey kepada Alvin.
"Ampun Bos! Saya tidak berani," ucap Alvin berlagak takut namun diakhiri dengan suara tawa pecahnya.
Pada jam pelajaran terakhir Jeffrey dan kawan - kawan meminta ijin untuk pergi ke toilet secara bergantian agar tidak menimbulkan kecurigaan sang Guru. Tentu saja di antara mereka bertiga tidak ada yang kembali ke kelas. Pergi ke toilet hanyalah sebuah alasan agar mereka bisa keluar dari sekolahan. Tas sekolah mereka memang sengaja ditinggal ke kelas.
__ADS_1
Setelah berhasil mengelabuhi Security sekolah akhirnya ketiga sekawan tersebut bisa membawa keluar mobil mereka dari gerbang sekolah.
Jeffrey yang memang masih dalam masa menerima hukuman dari kedua orangtuanya menumpang ke dalam mobil milik Alvin. Sedangkan Sammy memang kebetulan hari ini dia berangkat sekolah bersama Alvin jadi tentu saja dia juga berada dalam satu atap mobil bersama mereka.
"Yeaah! Akhirnya kita berhasil kabur," seru Sammy.
"Jeff, ngomong - ngomong cewek itu mau kamu apakan?" tanya Alvin yang masih fokus menyetir.
"Iya, ingat dia itu perempuan. Sebelumnya kamu tidak pernah membully anak perempuan," sela Sammy mengingatkan.
"Aku harap kamu tidak berlebihan menyiksanya Jeff," timpal Alvin berharap.
"Tiba - tiba perasaanku tidak enak," ucap Sammy dengan raut muka berubah serius.
"Ayolah, aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada cewek itu agar mau meminta maaf kepadaku," sanggah Jeffrey.
"Ada apa dengan kalian hari ini? tidak seperti biasanya kalian akan bersikap seperti ini? Pakai sok - sok menasehati segala," sambung Jeffrey lagi sewot.
"Aku hanya mengingatkan saja. Jangan berlebihan merundung anak perempuan," balas Alvin.
"Perasaanku juga tidak enak nih. Jeff sebaiknya nanti kamu berdoa dulu sebelum menggencarkan aksimu," saran Sammy kepada Jeffrey.
"Sudah cukup. Kalian apa - apaan sih. Membuat mood aku bertambah buruk saja," ucap Jeffrey sewot.
°°°
Suara deringan lonceng menyeruak nyaring memenuhi seluruh langit - langit ruang kelas sebagai tanda berakhirnya aktivitas belajar mengajar antara guru dan murid.
Para siswa dan siswi tampak antusias merapikan dan memasukkan semua perlengkapan belajarnya ke dalam tasnya masing - masing begitupun Jenny.
"Jenn, hari ini Ella saudara tirimu menyebarkan undangan ultah ke teman - teman," ucap Daisy.
"Apa kamu akan datang?" tanya Jenny.
"Sebenarnya aku terlalu malas untuk datang, mengingat Ella selalu berlaku buruk kepadamu,"
"Kamu datang saja, nggak apa - apa. Nanti kita bisa bertemu di acara ultahnya Ella,"
"Kita bisa bertemu tapi pasti nggak bisa ngobrol karena aku sangat yakin sekali, Ella dan Mamanya akan membuatmu sangat sibuk seperti pembantu. Aku sangat kasihan kepadamu Jenn," ucap Daisy sendu.
"Sudahlah, jangan berlebihan. Lagian aku nggak apa - apa kok,"
Tidak terasa mereka mengobrol hingga melewati gerbang keluar masuk sekolah.
Bruk!
Tiba - tiba tas yang tadinya tergantung di bahu Jenny terjatuh ke lantai karena ulah jahil Ella. Beberapa alat tulisnya tampak berserakan.
"Up! maaf, aku nggak sengaja," ucap Ella berlagak bodoh lalu berlalu begitu saja.
"Hei!" Teriak Daisy kepada Ella yang kini sudah hilang dari hadapannya.
"Kenapa dia sangat menyebalkan?!" gerutu Daisy.
__ADS_1
"Sudah, biarkan saja makhluk mitos itu bertindak sesuka hatinya," ucap Jenny santai seraya memungut barang - barangnya yang berserakan.
"Aw! Apa yang kamu lakukan?! Segera angkat kakimu dari tanganku!" teriak Jenny karena seseorang menginjak tangannya dan gadis itu seketika terkejut ketika melihat siapa pemilik kaki tersebut.
"Kamu?!"
"Iya, ini aku. Kenapa? Kamu terkejut?" balas Jeffrey menyeringai.
Dengan masih menginjak tangan Jenny, Jeffrey memberi isyarat kepada Alvin dan Sammy untuk melaksanakan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
Alvin membawa satu botol berisi air sedangkan Sammy menghidupkan aplikasi video dari ponselnya untuk merekam.
"Siram dia sekarang," titah Jeffrey kepada Alvin.
"Hei! Apa yang akan kalian lakukan?! lepaskan temanku," seru Daisy kemudian dia berjongkok untuk membantu Jenny terlepas dari injakan kaki Jeffrey. Namun Jenny menghentikannya.
"Dai, biar aku selesaikan sendiri. Kamu sedikit menjauhlah," pinta Jenny yang langsung mendapat anggukan kepala dari Daisy.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat siram dia," Jeffrey kembali bertitah.
Dengan perasaan ragu, Alvin menumpahkan semua air dari dalam botol ke kepala Jenny sehingga membuat rambut dan sebagian tubuhnya basah.
Posisi tangan masih dalam kuasa injakan Jeffrey Jenny mengusap mukanya dengan sebelah tangannya lalu dia mendongak ke arah Jeffrey.
"Apa yang kamu inginkan? hah?!"
Jeffrey kembali menyeringai.
"Minta maaflah kepadaku dengan mencium kakiku sekarang, maka aku akan melepasmu," Jeffrey memberi syarat yang sangat memberatkan Jenny.
"Tidak, aku tidak akan meminta maaf kepada cowok menyebalkan ini , apalagi mencium kakinya. Aku tidak sudi," lirih Jenny di dalam hati.
"Baik aku akan melakukannya," ucap Jenny dengan raut muka penuh makna.
"Jenn, jangan lakukan itu!?" pinta Daisy yang tidak terima jika temannya diperlakukan seperti itu.
Lagi - lagi Jenny memberi isyarat kepada Daisy dari kedipan matanya.
"Aku akan melakukan permintaanmu, tapi angkat dulu kakimu dari tanganku,"
"Apa kamu kira aku bodoh akan mempercayai perkataanmu itu?"
"Percayalah aku akan melakukannya. Tapi untuk saat ini tanganku terasa sangat sakit karena kamu menginjaknya dengan sangat kuat. Itu membuat aku kesulitan untuk mencium kakimu,"
Jeffrey tampak berpikir. Dia mencoba menimbang - nimbang perkataan Jenny.
"Baik aku akan melepaskan tanganmu," Akhirnya Jeffrey menyetujui permintaan Jenny.
Ketika Jeffrey melepas injakan kakinya, di saat itu juga senyuman menyeringai tergambar di muka Jenny.
"Dasar cowok bodoh, bersiaplah untuk menerima hadiah dariku," ucap Jenny di dalam hati.
Bersambung~~
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Jangan lupa tekan gambar ♥️ agar masuk dalam rak buku kalian. Like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian sangat beharga bagi Author🤗
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏