Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Kekuatan Jenny


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk," ucap Jeffrey dengan mata yang masih terpaut dengan layar laptop berukuran 17 inci.


Natasya masuk ke dalam ruangan seraya menimang beberapa map berisi dokumen.


"Permisi Tuan, ada beberapa dokumen yang harus anda tandatangani sekarang," lapor Natasya lalu meletakkan map bewarna ungu di atas meja besar Jeffrey.


Tanpa melihat ke arah Natasya meskipun sekilas, pria yang menjabat sebagai CEO itu membuka dan mengecek satu persatu lembaran dokumen tersebut sebelum menanda tanganinya.


Tanpa ia sadari, Natasya sedari tadi mengamati muka seriusnya dengan tatapan penuh damba. Sambil menunggu Bosnya itu selesai mengisi semua kolom tanda tangan, Natasya memutari meja kerja yang ternyata langsung disadari Jeffrey.


"Berhenti di situ, jangan coba-coba mendekat jika kau tidak ingin ku lempar dari lantai 10," titah Jeffrey sengit tanpa melirik ke arah Natasya sedikitpun.


Natasya yang sudah berdiri dekat disebelah Jeffrey seketika menghentikan pergerakannya. Namun sedetik kemudian ia kembali bergerak dan menyandarkan bokong sintalnya pada bibir meja. Seolah wanita cantik dengan muka full make up itu sedikitpun tak gentar dengan sikap dingin Jeffrey.


"Aku cuma mau mengetes saja, apa kau masih mengenaliku?" ucapnya yang menanggalkan cafa bicara dan sikap formalnya. Nada suaranya terdengar lembut dan menggoda. Jari-jemarinya yang lentik turut mengambil peran, menarik dasi Jeffrey lalu memainkannya dengan gerakan memutar. Sikap Natasya kali ini sukses membuat Jeffrey melirik ke arahnya meski dengan tatapan mata elangnya yang begitu tajam.


"Meski kau merubah sedemikian rupa bentuk wujud aslimu, aku tetap masih bisa mengenalimu. Sekarang ambil semua dokumen ini dan keluar," ucapan Jeffrey terdengar datar namun terasa begitu dingin.


Alih-alih menuruti titah atasannya, Natasya tampak masih enggan beranjak dari tempatnya.


"Ck! Kau ternyata masih sama seperti dulu, dingin seperti gunung es di kutub selatan. Tapi aku sangat senang kau masih mengenalku. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kau tidak merindukanku?"


"Apa kau tidak tahu bagaimana cara bersikap sopan di tempat kerja? Bekerjalah dengan benar jika tidak ingin aku memecatmu saat ini juga,"


"Ck! Kau sangat menyebalkan, padahal aku sangat merindukanmu," cebik Natasya tampak kecewa, lantas ia meraih dokumen-dokumen yang sudah ditanda tangani Jeffrey. Namun ternyata kali ini kesabaran Jeffrey kembali diuji.


Prank..!


Karena kurang berhati-hati, Natasya menyenggol air gelas yang terletak di atas meja hingga tumpah dan gelasnya pecah.


"Oh tidak! Maaf aku tidak sengaja menumpahkan airnya," pekik Natasya yang langsung mengeluarkan sapu tangannya kwmudian berusaha membersihkan air yang tumpah membasahi celana Jeffrey. Tepatnya pada bagian pisang tunggalnya yang nggak habis-habis meski setiap malam dimakan Jenny.


Jeffrey sontak beranjak dari kursi kebesarannya dengan kasar setelah mendapati tindakan Natasya yang sangat membuatnya tidak nyaman.


"Sudah cukup, biar aku bersihkan sendiri,"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, biar aku membersihkannya dulu," Natasya yang tak menggubris perintah Jeffrey malah semakin menundukkan tubuhnya ke arah pedang samurai milik Jeffrey yang setiap malam rajin diasah tersebut.


"Sepertinya basahnya sampai ke dalam. Sebaiknya kau buka saja celanamu biar aku keringkan dulu," Natasya semakin menjadi. Dengan jari-jarinya yang sudah lihai karena sudah sering terlatih pada medan pertempuran, tepatnya pertempuran di atas ranjang, ia berhasil membuka pengait celana Jeffrey dengan sangat profesional.


Krieekkk!


Resleting celana Jeffrey tampak pasrah ketika Natasya menariknya ke bawah.


"Apa kau sudah gila?! Hentikan! Lepaskan tangan menjijikkanmu itu! Pergi!" hardik Jeffrey dengan tangan masih menahan celananya agar tidak terjatuh.


Adegan tarik menarik celana berlangsung beberapa detik hingga akhirnya pintu kantor terbuka diikuti seseorang yang menyembul dari balik daun pintu.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!" pekik orang itu dengan mimik muka syok tak terkontrol. Orang itu adalah Jenny.


Tak beda jauh dengan Jenny. Jeffrey juga tak kalah syok dan terkejut akan keberadaan istri yang tiba-tiba datang, seolah sedang memergoki pasangan yang sedang berbuat mesum. Ia langsung menampik tangan Natasya yang masih menjepit ban pinggang celananya dan bergegas mengaitkan kembali celananya.


Pria itu tampak kesulitan menelan cairan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan melihat mimik muka garang Jenny yang bagaikan singa betina yang siap memangsa kelinci kecil yang tampak beringsut ketakutan dan tak berdaya. Hilang sudah aura kewibawaannya sebagai CEO di depan istrinya sendiri.


Bisa menebak situasi seperti apa yang akan terjadi selanjutnya, Jeffrey langsung berinisiatif mengaktifkan alat peredam suara ruangan dengan menekan tombol merah yang menempel pada dinding dekat dia berdiri. Agar tidak memancing rasa kepo para karyawan yang berada di luar ruangan karena suara gaduh yang diyakini akan dimulai beberapa detik lagi.


Sementara Natasya, ia masih tampak membatu dengan posisi berdiri tidak jauh dari Jeffrey. Tidak seperti Jeffrey, wanita itu justru terlihat lebih tenang. Sepertinya ia memang sudah terbiasa menghadapi situasi seperti sekarang.


Akan tetapi, usaha awal Jeffrey tampaknya sia-sia. Wanita yang sedang mengandung 5 bulan itu tampak melangkah cepat kakinya dan mendekati kedua manusia yang sedang dalam posisi yang dimana bisa membuat siapa saja berasumsi menuju ke ranah tak senonoh.


"Dasar beruang kutub mesum! Kau berani bermain nakal di belakangku! Teganya kau menghianatiku!" Hardik Jenny kepada Jeffrey seraya menghadiahi pukulan maut tas mahalnya secara bertubi-tubi.


"Sayang dengarkan dulu penjelasanku. Kau salah paham," tukas Jeffrey yang masih berusaha menangkis serangan brutal Jenny.


"Setelah aku melihat semuanya, apa lagi yang akan kau jelaskan? Setiap malam kau tidak pernah bolos untuk meminta jatah tapi ternyata di luar kau masih suka njajan," sahut Jenny geram. Hormon kehamilannya sepertinya ikut ambil andil dalam tingkat emosinya saat ini.


"Tidak sayang, aku nggak suka njajan di luar,"


"Terus itu tadi apa?! Hah?! Harusnya aku apakan sosismu itu agar kau kapok?" tukas Jenny.


"Gawat! Bisa-bisa sosisku di cincang-cincang halus," batin Jeffrey panik.


"Coba katakan. Ingin dicincang, digoreng, direbus atau langsung dikasih makan ke itik betina yang sedang ingin kawin? Cepat pilih?" ucap Jenny menggebu-gebu dengan dada yang bergerak naik turun karena masih tersulut emosi.

__ADS_1


Jeffrey sontak menggeleng cepat seraya menangkup pisang tunggalnya dengan kedua tangannya. "Aku tidak ingin memilih sayang. Sekarang kau tenang dulu ya. Kau sedang hamil sekarang, tidak boleh marah-marah," Jeffrey berusaha menenangkan.


Sedangkan Natasya yang masih setia menonton perseteruan sepasang suami istri tersebut malah terkikik. Baginya melihat ekspresi muka Jeffrey saat ini sudah menjadi lelucon baginya. Dia tidak menyangka saja, si Jeffrey yang terkenal akan sifat dingin dan juteknya sekarang terkesan menjadi sosok suami takut istri.


"Apa yang kau tertawakan?! Natasya sontak berhenti tertawa ketika menyadari bahwa sudah waktu gilirannya yang bakal menjadi amukan ganas Jenny.


Jenny mendekati Natasya dengan tatapan menyalang.


"Aku akan memberi pelajaran kepadamu karena sudah berani menggoda suamiku," dengan gerakan tangan secepat kilat, Jenny menjambak rambut panjang Natasya seraya berkali-kali menghadiahi kepalanya dengan tempelengan sakti.


"Kyaaakk! Sakit sakit sakit! Cepat lepasin tanganmu, kepalaku bisa botak," pekik Natasya mengaduh. Ingin sekali ia membalas Jenny saat ini, tapi melihat lawannya sedang hamil membuatnya lebih mengontrol tindakannya agar tidak membahayakan janin yang sedang dikandung Jenny.


Jenny menyeringai. "Aku tidak akan melepaskan tanganku sebelum kau botak!" seru Jenny yang semakin membabi buta.


"Sayang sudah hentikan sekarang. Tidak baik membuat keributan di kantor," Jeffrey berusaha menghentikan Jenny.


"Tidak mau!"


"Sayang, tolong hentikan," pinta Jeffrey yang mulai mencemaskan kandungan Jenny.


"Aku akan berhenti jika lebaran monyet bubar," sela Jenny yang entah sejak kapan serangan tempelengan sakti sudah berubah menjadi jitakan mematikan. Mungkin saat ini kepala Natasya sudah dihiasi oleh benjolan-benjolan yang sedang bercenut ria. Sangat ngilu.


"Aaaakkk! Rambutku...!" Natasya memekik kesakitan.


Suasana di dalam ruangan benar-benar riuh. Keberutalan Jenny sungguh sulit dihentikan. Cengkraman tangannya begitu kuat. Jeffrey sampai tak percaya bahwa istrinya memiliki kekuatan sebesar itu ketika marah.


Ceklek...!


Hingga aksi Jenny terhenti ketika seseorang memasuki ruangan tanpa permisi. Orang itu langsung terkejut ketika disuguhi pemandangan yang membuatnya bertanya-tanya. Keterkejutannya terus berlangsung ketika melihat seseorang yang dia kenal sedang dalam kondisi berantakan dan acak adul.


"John?!"


Siapakah yang baru masuk itu?Dan siapakah John?Tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya🤗


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2