Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Menonton


__ADS_3

Pria berambut blonde dan beriris biru tersebut tampak sedang memantaskan diri di depan kaca panjang yang terletak di salah satu sudut kamarnya yang bernuansa white and gold. Kemeja biru berlengan pendek berbahan chambray dikombinasikan dengan bawahan celana panjang dengan gaya slim straight. Setelan gaya yang cocok digunakan di musim semi yang bersuhu hangat.


Pria bernama Sean tersebut segera menyabet jaket yang berada di atas ranjang kemudian bergegas menuruni tangga, menuju ke mobilnya. Dia tidak ingin datang terlambat dan membuat Jenny menunggu lama.


Iya, beberapa hari yang lalu Sean beberapa kali merayu Jenny agar mau menerima ajakannya untuk menonton film di bioskop dan pada akhirnya Jenny menerima ajakannya tersebut.


Beberapa saat kemudian mobil Sean sudah terparkir di pelataran rumah Jenny. Dia segera menuruni mobil sport-nya dan menuju pintu rumah Jenny yang terlihat sederhana namun terawat tersebut.


"Selamat sore Tante," sapa Sean kepada Emy yang baru saja muncul dari balik daun pintu.


"Kamu sudan datang Nak? Tunggu sebentar biar Tante panggilkan Jenny. Kamu masuklah dulu," ucap lembut Emy yang memang sudah mengenal Sean sebagai salah satu teman putrinya.


"Kamu sudah datang Sean?" tanya Jenny yang muncul dari balik tubuh Emy yang tampaknya dia juga sudah siap untuk berangkat.


"Ternyata kamu sudah turun sayang, Mama baru saja menyuruh Sean untuk masuk ke Rumah," ucap Emy sedikit terkejut karena Jenny tiba-tiba muncul.


"Ow gitu, apa kamu mau masuk ke dalam rumah dulu Sean?" tawar Jenny.


Sean melirik ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.


"Lebih baik kita langsung berangkat saja agar tidak kemalaman saat pulang," saran Sean.


"Oke. Mama, Jenny berangkat dulu ya," pamitnya seraya mengecup singkat pipi Emy.


"Tante, kami berangkat dulu," Sean juga berpamitan.


"Iya sayang, kalian berhati-hatilah di jalan. Jangan pulang terlalu larut," nasehat Emy.


"Baik Tante,"


Kemudian Sean dan Jenny menuju ke dalam mobil dan melaju menembus jalanan kota Cambridge yang terlihat ramai oleh kendaraan.


Beberapa waktu kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di bessment mall Grand Arcade. Jenny dan Sean tampak menuruni mobil tumpangan mereka.


"Tunggu sebentar," ucap Sean menghentikan langkah Jenny yang hendak menuju kotak lift.


"Ada apa Sean?"


Sean tampak menyapu pandangannya pada penampilan Jenny saat ini. Jenny mengenakan setelan outfit bergaya overall yang dipadukan dengan t-shirt yang sedikit kedodoran sebagai lapisan dalamnya.


Sean tersenyum tipis melihat penampilan gadis blonde tersebut. Dimata Sean Jenny terlihat imut dan menggemaskan saat ini.


Sesaat Sean tampak berpikir kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menuju mobil. Tidak butuh lama, Sean kembali dengan sebuah slayer kecil di tangannya.


"Untuk apa itu Sean?" tanya Jenny yang heran.


"Maaf ya jika aku lancang, tapi aku harap kamu tetap diam dan menurutlah," pinta Sean.


Dengan cekatan, Sean menyibak ke belakang semua helaian rambut Jenny yang selalu tanpa sopan menutupi mukanya dan mengikatnya dengan slayer bewarna abu kayu bakar tersebut. Kini muka cantik Jenny benar-benar terpampang di balik tirai rambutnya yang membuat Sean tersenyum puas.


"Sean kenapa kamu lakukan itu?" Jenny tampak kikuk karena perlakuan Sean.

__ADS_1


"Setidaknya biarkan kali ini mata cantikmu itu bisa melihat dunia tanpa ada rambut yang menghalangi dan biarkan dunia melihat muka cantikmu yang selalu kamu sembunyikan," jawab Sean yang bukan bermaksud menggombal seperti yang dia lakukan pada lawan jenis lainnya, melainkan ucapan yang terlontar dari bibirnya memang tulus dari hati.


Blush..


Muka Jenny seketika merona karena ucapan Sean.


"Benarkah aku cantik?" batin Jenny tersipu malu tapi dengan cepat ia mengembalikan ekspresi mukanya ke pola normal.


"Ah, terimakasih Sean. Kalau begitu ayo kita segera masuk," saran Jenny yang mulai melangkahkan kakinya menuju kotak lift dan langsung diikuti Sean.


"Kamu ingin menonton film apa Jenn?" tanya Sean yang sudah berada di depan gedung bioskop.


"Aku ingin menonton film Candyman," balas Jenny seraya menunjuk poster film yang ingin ditontonnya.


"Film itu sangat menyeramkan, di dalamnya ada banyak sekali adegan pembunuhan yang dilakukan dengan cara brutal dan sadis. Apa kamu tidak takut?" Sean mencoba meyakinkan Jenny.


"Sebenarnya aku takut tapi aku juga penasaran," jawab Jenny seraya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu kamu tunggulah di sini, aku akan memesan tiket,"


Sean pun menuju ke loket tiket yang letaknya hanya berjarak lima langkah dari tempat Jenny berdiri.


"Sayang, aku ingin melihat film ini," terdengar suara manja seseorang yang berdiri membelakangi Jenny.


"Apa kau yakin? Lebih baik kita menonton film romansa saja," jawab seorang pria yang tampak seperti kekasihnya.


Jenny sangat mengenal jenis suara bariton yang baru saja tertangkap indera pendengarannya itu. Penasaran, dia lalu sedikit memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Dan benar saja, pemilik suara tersebut adalah Jeffrey yang sedang bersama Veronica.


Tidak ingin Jeffrey menyadari keberadaannya, Jenny kembali memutar tubuhnya ke semula dengan cepat. Dia tidak ingin mood-nya berubah buruk karena keberadaan Jeffrey musuh bebuyutannya tersebut.


"Tapi aku ingin melihatnya sayang, boleh ya?" Veronica membujuk.


Bukannya Jeffrey tidak suka dengan film yang berbau darah, pria itu justru sangat menyukainya. Kali ini dia hanya tidak ingin mendengar kebisingan Veronica karena ketakukan saat menontonnya. Maka dari itu, Jeffrey lebih memilih menonton film ber-gendre romansa jika bersama Veronica, karena pada saat itu wanita yang berstatus kekasihnya tersebut tampak anteng dan Jeffrey bisa tidur sambil menunggu filmnya habis.


"Terserah kamu saja," jawab Jeffrey yang akhirnya menerima permintaan Veronica.


"Yes! Akhirnya aku nanti bisa memeluknya dengan alasan ketakutan," batin Jenny menyeringai.


Dengan malas Jeffrey menuju ke loket pembelian tiket dan mengambil antri berada tepat di belakang Sean yang juga masih memesan dua tiket untuknya dan Jenny.


Suasana hati Jeffrey kian memburuk ketika orang yang berdiri di depannya memutar tubuhnya di kala selesai memesan tiket. Berbeda dengan Sean, dia justru mengulas senyum ketika mengetahui Jeffrey yang ada di belakangnya saat ini.


"Jeff, kau juga ingin menonton rupanya," tanya Sean seraya tersenyum, meski Jeffrey tampak memasang muka tidak bersahabat saat ini.


Sean menggiring pupil birunya ke arah Veronica yang sedang menggelayut manja di lengan berotot Jeffrey.


"Sepertinya kalian sedang berkencan. Semoga kencan kalian menyenangkan," ucap Sean yang kemudian berlalu dari hadapan Jeffrey.


Kedua ujung mata elang Jeffrey melirik mengikuti arah Sean berjalan dan berhenti tidak jauh dari tempatnya. Seketika Sepasang iris hijaunya bertemu pandang dengan Jenny yang memang belum dia sadari keberadaannya sebelumnya.


"Sepertinya mereka berdua juga sedang berkencan. Ck! Sungguh pasangan yang serasi," cibir Jeffrey di dalam hati.

__ADS_1


"Sayang kamu sedang apa? Buruan pesan tiketnya," sela Veronica yang menyadari sang pujaan hatinya sedang bertemu pandang dengan Jenny.


"Ish! Kenapa juga cewek burik itu juga berada disini? Merusak suasana saja!" gerutu Veronica di dalam diamnya.


Jenny dan Sean sudah duduk di kursi bioskop pada deretan tengah sesuai nomor yang tertera di tiket. Selang tidak lama, Jeffrey duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah Jenny.


Jenny tampak cuek dan sedikitpun tidak ada niat untuk sekedar melirik ke arah Jeffrey. Saat ini dia benar-benar ingin menikmati acara nontonnya.


Lampu bioskop mulai dimatikan, menandakan film akan segera diputar. Jenny segera memposisikan duduknya dengan benar dan nyaman.


Jenny tampak serius menyaksikan setiap adegan film yang masih berjalan separuh durasi tersebut. Sesekali dia memasukkan popcorn ke dalam mulutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar bioskop berukuran raksasa tersebut.


Jenny tidak menyadari bahwa dua pasang mata sedari tadi mencuri pandang kepadanya dalam diam. Sean tampak menikmati muka Jenny yang terlihat serius dan terlihat lebih cantik di sela-sela pencahayaan yang tampak samar-samar.


Sementara Jeffrey, sesekali dia melirik ke arah Jenny yang terlihat tampak beda dengan rambut yang tak lagi menutupi mukanya. Gadis yang masih mengunyah jagung kembang tersebut terlihat beberapa kali terjingkat karena kaget di saat tokoh yang berkarakter hantu di dalam film sedang menggencarkan aksi pembunuhan yang di lakukan secara sadis dan tidak manusiawi. Backsound effect horor yang tiba-tiba menderu ikut serta dalam membuat suasana semakin mencekam.


Kali ini Jenny sepertinya sudah berhenti menjumput beberapa popcorn yang ada di pangkuannya karena kini kedua tangannya dia gunakan untuk menutup mukanya tapi masih menyisihkan sedikit cela di sela-sela jarinya agar dia bisa mengintip adegan film yang masih terus berputar.


Sekilas Jeffrey tampak tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat ketika melihat tingkah Jenny yang menurutnya lucu. Pria bermuka masam tersebut bahkan tidak menghiraukan Veronica yang sedari tadi berteriak histeris dan masih terus memeluk tubuhnya karena ketakutan.


"Apa kamu menikmati filmnya?" tanya Sean kepada Jenny di kala mereka sudah berada di luar gedung bioskop.


"Tentu saja aku sangat menikmatinya dan menyukainya. Filmnya sungguh menyeramkan tapi juga sangat keren," jawab Jenny dengan antusias dengan senyum yang mengembang sempurna.


Deg. Deg. Deg.


Detak jantung Sean seketika berdegub kencang takala Jenny tersenyum manis menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi dengan mata cantiknya yang berbinar bagaikan bintang Venus.


"Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya kita sekarang mencari makan. Aku yakin energimu terkuras banyak karena sangking tegangnya waktu menonton film," canda Sean.


"Baiklah, kali ini biarkan aku yang mentraktirmu Sean," ucap Jenny.


"Tidak, aku yang mengajakmu jalan jadi sudah kewajibanku membayar semuanya," tolak Sean.


"Ayolah, tadi kamu sudah membayar tiket bioskop jadi sekarang gantian aku yang mentraktirmu. Apa kamu pikir aku sangat miskin?" Jenny memicingkan matanya.


"Aku tidak bermaksut seperti itu, ya sudahlah kalau begitu," akhirnya Sean menerima tawaran Jenny.


Akhirnya mereka melangkahkan kakinya menuju foodcourt yang berada satu atap dengan mall. Tanpa mereka sadari, semenjak keluar dari gedung bioskop Jeffrey mengamati mereka berdua.


"Sayang, setelah ini kita akan kemana?" tanya Veronica dengan manja.


"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang," jawab Jeffrey tanpa melihat ke arah Veronica dan melangkah pergi.


"Ini masih terlalu sore sayang, apa kamu tidak ingin mencari makan dulu?" tanya Veronica yang mencoba mengimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Jeffrey yang lebar.


"Saat ini suasana hatiku sangat buruk," balas Jeffrey dingin.


Seketika Veronica menekuk mukanya karena merasa tidak senang dengan sikap kekasihnya yang masih saja dingin seperti gunung es.


Bersambung~~

__ADS_1


Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. TerimakasihšŸ¤—


__ADS_2