Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Menerima Perjodohan


__ADS_3

Seorang gadis menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah berat dan tak bersemangat sehingga membuat lorong rumah sakit terasa sangat panjang dan jauh. Dia berjalan dengan pikiran berkecamuk. Percakapan semalam antara sang Dokter dan Papa tirinya masih terus terngiang di otaknya.


"Istri saya sakit apa Dok?" tanya Addy yang tampak cemas begitu juga dengan Jenny yang memang berada dalam satu ruangan dengan mereka.


"Dari hasil diagnosa kami, istri anda mengidap penyakit kanker serviks. Melihat riwayat kesehatannya ternyata istri anda dulu juga pernah mengidap penyakit yang sama dan sudah melakukan pengobatan hingga divonis sembuh. Sayangnya penyakit istri anda harus kambuh kembali," tutur Dokter.


Penuturan sang Dokter seketika membuat hati Addy berdenyut hebat. Sedangkan Jenny, tentu saja rasa kekhawatiran yang diikuti rasa syok di dalam dirinya semakin menyeruak hebat. Sepasang netra cantiknya mulai tergenang cairan bening hingga akhirnya jatuh tanpa permisi.


"Terus kami harus bagaimana agar istri saya bisa sembuh?" tanya Addy yang tampak gusar.


"Operasi pengangkatan serviks dan rahim merupakan penangan yang paling efektif. Selagi tingkat persentasi kanker belum sampai stadium 4, sebaiknya Nyonya Emy harus segera diberi penanganan lebih lanjut sebelum kanker menyebar ke organ-organ lainnya seperti getah bening yang tentu hal itu akan mengurangi harapan hidup istri anda," tutur sang Doktek panjang lebar namun tidak mengurangi keramahannya.


"Sebenarnya, Nyonya Emy juga sudah pernah memeriksakan perihal penyakitnya kepada saya. Sebelumnya saya juga sudah menyarankan kepadanya untuk segera melakukan operasi," sambung sang Dokter kembali.


Sekali lagi, penuturan sang Dokter semakin menambah rasa denyutan di dada Addy serta Jenny. Kali ini denyutan terasa sangat dalam dan perih.


"Emy, kenapa kau hanya menyimpan kesakitanmu sendiri? Apa karena aku yang sedang kesusahan hingga kau tidak ingin menambah bebanku? Aku memang bukan suami yang baik, maafkan aku," batin Addy yang terasa pilu.


Jenny masih mengayunkan kakinya hingga tidak terasa dia sudah berada di luar kawasan Rumah Sakit. Pikirannya yang melayang pada percakapan semalam tiba-tiba kembali karena suara kegaduhan yang tertangkap oleh indera pendengarannya.


"Papa!" teriak Jenny ketika melihat Papa tirinya sedang tersungkur di trotoar jalan raya.


"Apa yang kalian lakukan kepadanya?" teriak Jenny kepada tiga orang yang berperawakan besar dan tinggi berpakaian seperti preman. Sejujurnya Jenny sedikit takut berhadapan dengan para manusia yang berparas sangar tersebut.


"Hai! Gadis kecil, asal kau tahu. Aku sudah berbaik hati meminjamkannya uang dengan bunga yang sudah ditentukan, tapi sudah sampai jatuh tempo dia belum juga melunasinya," ucap salah satu preman yang diyakin adalah pemimpin dari gerombolan tersebut karena diamati dari penampilannya dia terlihat paling nyentrik dari pada kedua preman lainnya.


"Pa, berapa uang yang sudah Papa pinjam?" tanya Jenny ke Addy.


"20.000 Pound," jawab Addy sembari menahan sakit di perutnya akibat sebuah tendangan si preman.


"Apa?! Pa, buat apa uang sebanyak itu?" seketika tubuh Jenny merasa lemas tak berdaya. Biaya operasi Mamanya sudah cukup membuat dia pusing, sekarang ditambah lagi dengan masalah utang piutang sang Ayah tiri semakin membuatnya tubuhnya lunglai bagaikan tak bertulang.


"Kenapa kau tampak bingung? Kau bisa menjual putrimu ini. Dia tampak masih segar. Aku kira itu cukup untuk melunasi hutang-hutangmu," ucap si preman yang tampak menyapu tubuh Jenny dengan tatapan cabul.


"Tidak! Aku tidak akan melakukan hal segila itu, jangan berani-berani menyentuhnya atau aku akan menghajarmu hingga mati," tukas Addy yang langsung berdiri dan menarik tubuh Jenny untuk bersembunyi di belakangnya.


Bug! Bug!


Satu bogeman mendarat dengan keras pada pipi Addy dan diikuti satu tendangan yang melesat dengan kuat di perutnya, sehingga membuat tubuh Addy kembali tersungkur ke tanah.


"Kau masih berani menggertakku hah?! Apa kau ingin mendekam di penjara karena tuduhan penipuan dan penggelapan uang?" ancam si preman yang berprofesi sebagai lintah darat tersebut dengan tuduhan palsu.


"Aku mohon jangan lakukan itu, beri kami kesempatan sekali lagi," pinta Jenny yang mulai panik karena ancaman si lintah darat.


"Baik, aku masih berbelas kasih pada kalian. Aku beri waktu seminggu. Jika dalam kurun waktu seminggu tetap belum bisa melunasi utang-utangmu, aku akan menendangmu ke jeruji besi dan membawa putrimu ini," ucap si preman lintah darat lalu pergi meninggalkan Addy dan Jenny yang diikuti kedua anak buahnya.


"Sayang, maafkan Papa. Aku memang tidak becus menjadi Ayah yang baik," sesal Addy kepada putri tirinya tersebut.


"Pa, sebenarnya bagaimana Papa bisa mempunyai hutang sebanyak itu?" tanya Jenny yang sedikit kecewa namun juga terselip rasa iba kepada Addy.

__ADS_1


"2 tahun yang lalu Papa terpaksa meminjam uang kepada lintah darat karena harus menutupi lobang hutang kepada rekan bisnis Papa karena bangkrut," beber Addy tampak sangat frustasi.


"Tapi kau jangan memikirkan hal itu, biar Papa selesaikan sendiri," lanjut Addy yang tidak ingin Jenny cemas.


"Bagaimana bisa Jenny tidak memikirkannya Pa? Bagaimana bisa aku berpura-pura buta ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kesulitan yang dihadapi keluargaku? Ya Tuhan, tolong beri aku jalan," batin Jenny merintih.


Jenny tampak mengehela napas berat. Dia benar-benar tidak menyangka kejadian seperti ini menimpa keluarganya. Sebenarnya masih banyak lagi rentetan pertanyaan yang ingin dia bombardirkan ke Addy, tapi dia urungkan niatnya karena melihat kondisinya yang tampak kurang baik akibat beberapa kali terkena pukulan keras.


Akhirnya jenny menyarankan kepada Addy untuk menemani Emy yang masih dirawat di kamar perawatan Rumah Sakit sedangkan Jenny pulang ke rumah mengambil beberapa pakaian ganti untuk sang Mama sekalian membawa makan siang.


°°°


Jeffrey berniat menemui Jenny dan membujuknya agar menolak keras perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tuanya karena menurutnya itulah jalan satu-satunya agar pernikahan mereka tidak terlaksana.


Namun hari ini dia sama sekali tidak tahu di mana musuh bebuyutannya itu sedang berada sekarang. Jenny bahkan tidak hadir di kelas mata pelajaran kuliahnya. Rumah dan tempat Jenny bekerja part time juga sudah dia datangi tapi hasilnya nihil.


"Sial! Kenapa tidak dari kemarin-kemarin aku mengajak bicara dengannya? Biasanya mudah sekali mencari keberadaan si gadis burik itu, sial! sial! sial!" umpat Jeffrey di sela mengendarai motornya.


Di saat melewati sebuah choffee shop, sepasang mata elang Jeffrey tidak sengaja menangkap sosok makhluk yang sedari tadi menjadi bahan incarannya. Iya, dia adalah Jenny yang tampak sedang berbincang dengan seorang wanita yang mukanya sangat familiar baginya.


"Mommy? Sedang apa dia bersama gadis itu?" rasa ingin tahu Jeffrey kian mengbumbung ketika melihat kedua para kaum hawa yang dia kenal tersebut berbincang dengan mimik muka tampak serius.


Tidak ingin dibuat gila oleh rasa penasarannya, Jeffrey diam-diam mendekati mereka. Apalagi tujuannya kalau bukan menguping pembicaraan kedua wanita berbeda usia tersebut.


"Bagaimana? Apa kamu ingin segera memberi keputusan?"


"Baiklah Tante, saya akan menerima perjodohan ini,"


"Pilihan yang tepat."


Briana tampak merogoh isi tas mahalnya dan mengeluarkan beberapa gepokan uang dengan minimal yang tidak sedikit.


"Terimakasih Tante,"


"Tidak perlu berterima kasih sayang, anggap saja ini juga sebagai tanda balas budiku karena kamu pernah menolong Tante yang hampir ditabrak mobil waktu itu,"


Jeffrey yang memang berada tidak jauh dari tempat Jenny dan Briana duduk tentu saja dapat mendengar percakapan keduanya dengan sangat jelas yang seketika membuat darah di dalam tubuhnya terasa panas.


"Ck! Ternyata dia menerima perjodohan ini karena uang. Sepertinya dia juga memanfaatkan rasa balas hutang budi orangtuaku kepadanya, dasar cewek matre. Jika ini maumu, baiklah akan aku ikuti alur permainan yang kau buat," batin Jeffrey menyeringai sebelum berlalu dari tempatnya berdiri tanpa mengetahui yang sebenarnya.


Kebenaran beberapa waktu yang lalu..


Briana yang kebetulan baru saja tiba di kota Cambridge untuk mengunjungi putranya tiba-tiba mendapat kabar tentang keadaan Emy yang sakit. Tidak hanya itu saja, perihal Addy yang terlilit hutang si lintah darat juga diterimanya.


Setelah mengunjungi Emy, Briana meminta sedikit waktu luang Jenny untuk berbicara empat mata.


"Tante Briana ingin membicarakan hal apa?"


"Tante tau kamu sedang kesulitan saat ini, Papa tirimu juga tampak sudah berusaha keras tapi sepertinya belum juga membuahkan hasil," ucap Briana dengan mimik muka pernuh makna.

__ADS_1


Jenny hanya tersenyum tipis guna menutupi perasaan hatinya yang sedang gundah gulananya seraya membatin. "Darimana Tante Briana bisa mengetahui kalau aku sedang kesulitan?"


"Tante juga tahu tentang masalah Addy yang berurusan dengan lintah darat," beber Briana lagi yang tentu saja membuat si gadis bermutiara biru tersebut terheran.


"Tante tahu darimana?" tanya Jenny ragu.


"Kamu tidak perlu tahu darimana aku bisa mengetahuinya sayang. Tapi yang jelas saat ini Tante ingin menawarkan bantuan kepadamu," ucap Briana.


"Maksut Tante?"


"Tante akan membantumu membiayai operasi Mamamu dan membereskan masalah hutang piutang Papa tirimu, tapi dengan syarat," jeda Briana.


Melihat reaksi muka Jenny yang tampak bertanya-tanya, Briana melanjutkan kalimatnya.


"Sayang, Tante ingin kamu menjadi menantuku, menjadi istri dari putraku. Jika kamu menyetujui perjodohan ini Tante akan memberimu uang," pinta Briana dengan mengajukan syarat.


"Tapi Tante, Jenny bahkan tidak mencintai putramu, dan apa pantas aku menikah karena uang? Lagian Jeffrey pasti akan menentangnya," terang Jenny.


"Jeffrey juga akan menyetujui perjodohan ini jika kamu menyetujuinya," timpal Briana yang penuh keyakinan.


Jenny terdiam. Dia tampak menimbang-nimbang tawaran Briana yang menurutnya sangat menggiurkan. Sebuah tawaran yang akan menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa keluarganya. Lagian gadis blonde tersebut juga tidak yakin akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu singkat.


"Jangan terlalu lama berpikir, tawaranku ini adalah jalan satu-satunya untuk mengatasi kesulitanmu, apa kamu tidak ingin melihat Mamamu segera sembuh? Apakah kamu tega melihat Papa tirimu mendekam di penjara?" Briana masih terus memberikan suntikan bujukan maut agar Jenny menerima tawarannya.


Jenny sontak mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Perasaan gusar dan khawatir begitu jelas terukir di muka cantiknya.


"Tentu saja Jenny ingin melihat Mama sembuh. Jenny juga tidak ingin melihat Papa addy dipenjara," saut Jenny dengan durja yang begitu sedih.


"Bagaimana? Apa kamu ingin segera memberi keputusan?"


"Baiklah Tante, saya akan menerima perjodohan ini," jawab Jenny dengan sangat terpaksa. Saat ini ingin sekali dia menangis tapi ini sudah menjadi pilihan keputusannya.


"Pilihan yang tepat." Briana tersenyum. dia sangat puas dengan keputusan Jenny. Meski ada sedikit rasa bersalah di hatinya.


"Tapi Tante, Jenny mohon jangan beri tahu Mama dan Papa tentang perjanjian kita ini, aku tidak ingin membuat mereka sedih karena merasa bersalah" pinta Jenny. Tersirat penuh harap pada sepasang netranya.


"Inilah yang membuatku semakin yakin kalau kamu gadis yang cocok untuk Jeffrey. Rasa peduli, perhatian dan kasih sayang semuanya ada pada dirimu. Aku tidak akan pernah meragukan kata hatiku," batin Briana dengan perasaan yang menghangat.


Briana tampak merogoh isi tas mahalnya dan mengeluarkan beberapa gepokan uang dengan minimal yang tidak sedikit.


"Terimakasih Tante,"


"Tidak perlu berterima kasih sayang, anggap saja ini juga sebagai tanda balas budiku karena kamu pernah menolong Tante yang hampir ditabrak mobil waktu itu,"


"Emy, maafkan sahabatmu ini, aku telah memanfaatkan kesulitanmu untuk membuat putrimu ini menerima perjodohannya dengan putraku. Setelah kau sembuh, aku akan membiarkanmu menghukummu semaumu," Batin Briana yang merasa bersalah.


Bersambung~~


Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like pada setiap chapter saja, Author sudah sangat senang🙏

__ADS_1


Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏


__ADS_2