
"Sayang, apakah Jeaven rewel?" tanya Jenny dari balik sambungan telepon.
"Kau tenang saja, setelah meminum susu dengan rakus dia tidur seperti bayi beruang, suara dengkurannya bahkan sangat keras," jawab Jeffrey seraya memandang teduh muka Jeaven yang terlihat damai dalam lelapnya di dalam baby box.
"Syukurlah, jaga terus Jeaven ya, maaf sepertinya aku pulang agak terlambat. Masih banyak belanjaan yang belum aku beli,"
"Iya sayang, kau tenang saja, berhati-hatilah,"
"Oke, bye... Love You, emuaah!"
"Love you too, emuaah!"
Papa muda tampan itu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya sebelum perhatiannya kembali berpaling ke arah makhluk mungil yang berparas sangat mirip dengannya. Seutas senyuman terbentuk dari sepasang bibirnya.
"Hei, si tukang tidur, sampai kapan kau hanya bermalas-malasan seperti ini. Bangunlah," bisik Jeffrey seraya mentoel gemas pipi chubby Jeaven yang tampak tak terusik sedikitpun oleh gangguan jahil sang Daddy.
"Dasar pemalas, bangunlah aku akan mengajakmu menonton film kesukaanmu," Jeffrey kembali berusaha membangunkan Jeaven dengan memberi gelitikan kecil pada perutnya.
Jelas saja, usahanya itu langsung membuahkan berhasil. Jeaven tampak menggeliat. Mulut kecilnya menguap lebar diikuti kerjapan mata bulatnya. Makhluk mungil itu tampak memasang muka masam karena merasa tidurnya terusik, dan tentu saja hal membuat Jeffrey mendengus geli karena gemas.
"Hei, beruang kecilnya Daddy...," sapa Jeffrey lalu mengangkat tubuh Jeaven dari baby box. Daddy muda itu mengangkat tinggi tubuh kecil tersebut hingga di atas kepala, namun rona masam masih terlukis jelas pada muka tampannya, seolah sebagai wujud protes karena telah menganggu keasyikannya yang sedang bermimpi menghisap rakus tampungan kembar ASI sang Mommy. Sungguh Daddy telah merenggut kesenanganku. Seperti itulah batin Jeaven saat ini.
"Hei, apa kau sedang marah karena aku mengganggu tidurmu? Ayolah, kau sudah terlalu lama tidur. Ayo temani Daddy menonton film."
Jeffrey gegas membawa Jeaven di atas ranjang besar dan meletak tubuh mungil itu di atas pangkuannya kemudian membuka laptop berukuran 15 inci, memutar sebuah film monster ber-genre Action, Sci-Fi, dan Thriller yang berjudul Godzilla vs Kong.
Mimik muka masam Jeaven seketika menguap. Bayi itu terlihat begitu girang dengan lensa hijau yang berbinar diikuti tangan mungilnya yang terlihat ingin menggapai layar laptop di depannya. Sepasang kakinya bergerak antusias seolah dia sedang menggambarkan perasaan hatinya yang begitu riang. Jeffrey hanya bisa tertawa melihat tingkah Jeaven.
"Apa kau menyukainya?" tanya Jeffrey setelah durasi film yang menceritakan pertarungan dua monster terkuat di bumi itu berakhir.
Jeaven menatap muka Jeffrey lalu kembali tersenyum seolah ia mengerti dengan apa yang dikatakan Daddy tampannya.
Jeffrey terdiam sejenak sebelum akhirnya sebuah ide muncul dari otaknya.
"Apa kau ingin sesuatu yang lebih menyenangkan?" Jeaven menanggapi segala ucapan Jeffrey dengan mimik muka girang diiringi celotehan khas bayi yang terdengar sangat antusias dan menggemaskan, seolah ia sedang mengajak sang Daddy berinteraksi.
Jeffrey lantas memasang gendongan bayi pada tubuhnya lalu memasukkan tubuh mungil Jeaven ke dalamnya dengan posisi menghadap ke depan. Kemudian Daddy muda itu membungkus tubuh Jeaven dengan mantel yang melekat pada tubuhnya, sehingga membuat tubuh Jeaven tenggelam dan hanya menyisakan kepalanya yang menyembul keluar.
°°°
Jeaven tidak henti-hentinya tertawa girang ketika motor yang ditumpanginya melewati beberapa kendaraan lainnya. Sepasang mata bulatnya tampak menyipit karena terpaan angin. Ia akan merengek jika Jeffrey mengurangi laju motornya. Bayi itu bahkan memberontak ketika laju motor terpaksa berhenti di lampu merah.
Setelah 30 menit menyusuri padatnya jalanan kota, Jeffrey memarkirkan motor sport-nya di pelataran toko mainan terbesar di London. Tindakan Jeffrey tak ayal membuat Jeaven kembali merengek. Tubuhnya tampak menggelinjang di balik mantel besar sang Daddy.
"Sssttt..! Tenanglah dulu. Kau pasti akan senang setelah masuk di dalam," ujar Jeffrey yang mencoba menenangkan Jeaven.
Ya, memang benar. Jeaven seketika kembali girang ketika berada di antara mainan yang tersusun rapi pada rak besi. Jeffrey tampak mendengus geli melihat ekspresi muka Jeaven yang begitu excited. Perhatian Jeaven yang masih asyik dengan mainan-mainan lainnya seketika teralihkan karena dua buah robot yang menyerupai dua monster favoritnya, yaitu Godzilla dan Kong.
Bayi tampan itu tampak berusaha keras mengeluarkan kedua tangannya yang masih terkurung di dalam mantel sang Daddy. Hingga akhirnya satu tangan mungilnya berhasil lolos dan langsung mengulurkan tangannya ke arah depan berusaha menggapai mainan robot monster idolanya tersebut.
__ADS_1
"Apa kau menginginkannya?" tanya Jeffrey seraya menunjuk mainan yang memiliki ukuran dua kali lipat lebih besar dari pada tubuh mungil Jeaven.
"Tenanglah, Daddy akan membelikannya untukmu," ucap Jeffrey lalu menjentikkan jarinya ke atas guna memanggil salah satu pelayan toko.
"Bungkus kedua mainan ini dan langsung kirim ke alamat rumahku," pinta Jeffrey setengah memerintah.
"Sebaiknya kita segera pulang sebelum Mommymu tiba di rumah karena Daddymu yang tampan ini bisa berakhir seperti sosis cincang kalau dia tahu aku membawamu dengan mengendarai motor," ujar Jeffrey setelah selesai memborong banyak mainan yang disukai Jeaven, kemudian kembali membawa putranya tersebut mengelilingi kota London dengan motornya.
°°°
Jenny tampak berjalan mondar mandir di halaman depan rumahnya dengan perasaan cemas. Serentetan kalimat omelan seolah sudah siap menyembur ke suaminya jika ia bertemu nanti.
Beberapa saat yang lalu, Jenny melihat Jeffrey mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dan ia langsung dikejutkan ketika menyadari putranya ada di balik mantel besar yang dikenakan Jeffrey.
Brum... Brum...
Jeffrey terkesiap ketika melihat Jenny melangkah mendekatinya dengan mimik muka garang. Daddy tampan itu tampak menelan cairan salivanya dengan berat. Ia sontak berusaha menyembunyikan keberadaan Jeaven dengan mencelupkan kepala kecil Jeaven ke dalam mantelnya yang masih menyembul keluar.
"S-Sayang..., ternyata kau sudah pulang?" Jeffrey tampak gelagapan. Ia seolah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Jeffrey, Jenny menyibak mantel Jeffrey dan muncullah bayi tampan yang langsung tersenyum girang ketika melihat sang Mommy. Ia gegas menyabet tubuh mungil itu dan menyerahkannya kepada asisten rumah tangga yang kebetulan sedang lewat.
"Tolong bawa Jeaven ke dalam ya," pinta Jenny kepada si asisten rumah tangga.
Jenny kembali menggiring mukanya ke arah Jeffrey yang terlihat sedang panik.
"Aw! Aduh sayang! Sakit sayang!" Jeffrey mengaduh ketika Jenny menjewer telinganya dengan keras.
"Aku hanya mengajaknya jalan-jalan sayang bukan balapan motor," sanggah Jeffrey yang masih meringis karena jeweran Jenny belum berakhir.
"Aku tadi melihat kau membawa Jeaven mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, apa kau masih mau beralasan?!" seru Jenny yang kini beralih menghadiahi cubitan maut pada pinggang Jeffrey.
"Aduh sayang hentikan, itu tadi karena putra kita yang minta. Dia terus merengek ketika aku mengurangi laju motornya. Aw! Sayang tolong hentikan, kau sudah melakukan kekerasan rumah tangga kepadaku," protes Jeffrey yang langsung turun dari motor.
"Biar saja! Aku masih sangat kesal denganmu," Jenny masih terus menghadiahi cubitan-cubitan berutal kepada Jeffrey yang tampak beberapa kali menangkis serangannya.
"JEFFREY...!" teriakan menggelegar seseorang dari arah gerbang rumah sontak menghentikan aksi Jenny. Jeffrey yang merasa namanya disebut sekali lagi harus menelan cairan salivanya dengan berat karena melihat Mommy Briana datang membawa mimik muka horor yang seolah ingin menyantapnya bulat-bulat saat itu juga.
Jeffrey lanjut menggiring pupil matanya ke arah tiga sekawan yang berdiri di belakang Briana. Mereka adalah Sean, Sammy, dan Alvin yang kini tampak kebingungan. Kehadiran mereka saat ini juga karena paksaan Briana.
"Aduh du du Mom, telingaku bisa putus!" pekik Jeffrey yang kembali mendapatkan jeweran dengan intensitas 10x lipat lebih kuat daripada jeweran Jenny sebelumnya. Telinganya yang masih terasa sangat panas karena jeweran Jenny mau tidak mau harus kembali menerima sensasi nikmat panas yang semakin meremang.
Seolah menjewer telinga Jeffrey belum bisa memberinya kepuasan, Briana lanjut memukul Jeffrey menggunakan tas mahalnya secara brutal.
Sedangkan Jenny tampak berusaha melerai karena bagaimanapun juga dia tidak tega melihat beruang kutub kesayangannya menjadi bulan-bulanan sang Ibu mertua tapi nampaknya usahanya sia-sia.
"Mom! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Mommy tiba-tiba menghajarku?" tanya Jeffrey heran setelah mengambil beberapa langkah, menjauh dari Briana.
"Kau memang pantas dihajar! Dasar anak bandel! Bisa-bisanya dulu kau memperlakukan menantu kesayanganku seperti pembantu! Kau menyuruhnya tidur di gudang dan membuat kesepakatan pernikahan kontrak!" tukas Briana yang tampak ngos-ngosan.
__ADS_1
Jenny sontak terkejut mendengar ucapan Briana. Padahal selama ini dia selalu menyembunyikan tentang hal itu kepada para orangtua. Sedangkan Jeffrey dia langsung melempar tatapan ingin memangsa kepada Sean, Sammy, dan Alvin yang seketika membuat nyali mereka menciut seraya mengutuki diri mereka masing-masing karena tidak berhati-hati dalam berbicara sehingga keceplosan.
"Mommy akan membawa Jenny dan Jeaven selama seminggu. Jangan harap kau bisa bertemu dengan mereka. Ini sebagai wujud hukuman karena tindakan jahatmu itu kepada menantuku," tentu saja ancaman Briana sukses membuat Jeffrey kelimpungan. Sehari tidak bertemu dengan istri dan anak sudah bagaikan setahun, apalagi seminggu. Oh no...! Bisa merana itu si beruang kutub.
Jeffrey menggeleng cepat. "Tidak Mom, mereka itu anak dan istriku, Mommy tidak berhak membawa mereka."
"Sayang..., kenapa kau hanya diam saja? Tolong bujuk Mommy," Jeffrey beralih ke Jenny untuk mencari pembelaan.
Jenny tampak mengulum bibirnya karena menahan tawa. Sepertinya tidak ada salahnya jika memberi sedikit hukuman ke suaminya itu. Batin Jenny saat ini. Mengingat sebelumnya ia juga sempat kesal karena Jeffrey membawa Jeaven menggunakan kendaraan bermotornya dengan kecepatan tinggi.
"Maaf ya, sepertinya aku harus mematuhi perintah Mommy," jawab Jenny enteng yang membuat Jeffrey lemas seketika.
Dan bagaimana tentang ketiga sekawan lucknut tadi? Mereka sudah menghilang tanpa jejak. Berusaha kabur sebelum Jeffrey menelan mereka hidup-hidup secara tak manusiawi.
°°°
Siang telah berganti malam. Awan kelabu yang menyelimuti sebagai penyebab langit tak berbintang. Menciptakan suasana suram, sesuram hati Jeffrey yang harus rela menghabiskan beberapa malam kedepan tanpa anak dan istrinya.
Ceklek...!
Suara knop pintu kamar yang terbuka sontak membuyar lamunan Jeffrey. Kesuraman pada hatinya seketika menguap tergantikan perasaan senang yang ditandai dengan mimik muka yang berseri. Ia melangkahkan kakinya mendekati objek yang sukses merubah suasana hatinya yang sempat memburuk.
"Sayang..., kau sudah pulang?" tanya Jeffrey seraya mengamati Jenny yang tengan sibuk meletakkan tubuh mungil Jeaven ke dalam baby box. Bayi tampan itu sudah tampak damai dalam lelapnya.
"Kau sepertinya tidak suka jika aku pulang cepat," cebik Jenny.
"Tidak sayang, aku sangat senang. Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku jika harus berpisah dengan kalian?" sanggah Jeffrey yang langsung memeluk Jenny dari belakang, menenggelamkan mukanya pada ceruk leher yang sangat ia sukai.
Seutas senyum mengulas manis pada bibir Jenny. "Tentu saja aku tahu, makanya aku pulang. Aku tidak ingin suamiku terlihat menyedihkan."
"Terima kasih," timpal Jeffrey yang kian mempererat lilitan tangannya pada tubuh Jenny.
Suasana hening sesaat hingga terdengar pekikan Jenny yang tertahan.
"Ada apa sayang?" suara Jeffrey sudah terdengar parau.
"Jangan digerak-gerakin, geli," pinta Jenny yang mendapati sesuatu menyodok-nyodok pantatnya.
"Adik kecilnya sudah bangun lagi sayang, minta di elus biar cepet tidur."
"Aku baru saja sampai rumah sayang, besok saja ya, aku lelah sekali," tawar Jenny yang mengerti arah percakapan suaminya.
"Tapi sudah ngilu sayang," rengek Jeffrey.
Jenny menggeleng cepat. "Enggak besok saja, aku lelah sekali, kyaaakkk!" seolah penolakan Jenny hanyalah angin lewat, Jeffrey tak menghiraukannya. Dia segera mengangkat tubuh kecil Jenny ala bridal style dan membawanya ke kamar sebelah.
...~TAMAT~...
Yuhuu.. Maaf ya, Nofi baru bisa kasih Bonchap hari ini. Tapi lumayan -kan bisa mengobati kangen akan keuwuhan pasangan double J 😆
__ADS_1
Sekalian Nofi ingin mengumumkan kalau karya terbaru Nofi sudah lahir dengan selamat. Karya yang masih anget-anget ini menceritakan kisah Sean dan Allesya ya. Mampir yuk.. Terimakasih🙏🥰🥰🥰