Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Melahirkan


__ADS_3

Kehamilan Jenny sudah memasuki bulan HPL (Hari Perkiraan Lahir). Hal itu membuat Jeffrey semakin ketat memasang siaga jika sewaktu-waktu Jenny melahirkan. Pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai Ayah tersebut, bahkan memilih mengerjakan semua pekerjaan kantornya di Rumah. Dia tidak ingin lena dalam mengawasi istrinya meski barang sedetikpun.


Semalaman Jeffrey merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman dengan perutnya. Rasa mules yang tiba-tiba muncul dan menghilang berulang kali ia rasakan.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Jenny cemas setelah tidak sengaja menangkap mimik muka sang suami yang terlihat seperti menahan sakit.


"Aku tidak apa-apa, mungkin semalam aku salah makan," balas Jeffrey seraya mengusap lembut rambut Jenny. Sebisa mungkin ia terlihat tenang agar Jenny yang sedang hamil tua itu tidak cemas berlebihan.


"Aku akan ambilkan kau obat dulu ya," ucap Jenny yang hendak beranjak dari duduknya.


"Tidak usah, sekarang aku sudah baik-baik saja," ucap Jeffrey seraya menuntun tubuh Jenny agar kembali duduk.


"Apa kau ingin jalan-jalan di taman? Aku akan menemanimu," tawar Jeffrey.


Semenjak menginjak masa kehamilan tri semester ke 3. Jeffrey memang sering mangajak Jenny melakukan olah raga ringan seperti jalan kaki. Semua ilmu yang tertulis pada buku-buku pedoman kehamilan yang menggunung di meja kerjanya, ia serap dan terapkan semua kepada Jenny.


Jenny mengangguk antusias. "Iya tentu saja, tapi..," Jenny menggantung kalimatnya.


"Tapi apa sayang? Hm?"


"Seperti biasanya ya," Jenny tersenyum penuh makna yang langsung dipahami Jeffrey.


"Baiklah," jawab Jeffrey tanpa ada penolakan atau perdebatan ia langsung membuka T-shirt yang membungkus tubuh gagahnya menyisakan kaos tanktop hitam yang tampak melekat sempurna. Permintaan aneh Jenny yang satu itu bukanlah kali pertama baginya, melainkan sudah berkali-kali.


Jenny langsung menggamit lengan polos Jeffrey dengan manja. Mencium dan mengusap tangan berotot itu penuh damba.


Jeffrey mendengus geli melihat tingkah Jenny yang memang tidak biasa itu, tapi ia sangat menikmati semua tingkah Jenny yang seperti kucing kecil manja.


Sepasang suami istri tersebut mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun langkah mereka tertahan di ambang pintu ketika Jenny merasakan gejolak di dalam perutnya.


"Sayang, kau kenapa? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Jeffrey yang sebenarnya ia juga tengah melawan sensasi mulas di perutnya.


"Hah! Kenapa perutku kembali terasa mulas?" batin Jeffrey mengaduh.


Jeffrey seketika terkejut dan melupakan rasa sakit yang dirasakan dikala melihat cairan bening merembes dari balik daster hamil yang dikenakan Jenny.


"Aahhhh! Beruang kutub, perutku tiba-tiba terasa sakit sekali," pekik Jenny seraya memegang kuat perutnya menahan sakit.


"Sayang ketubanmu pecah, sepertinya kau mau melahirkan, aku akan membawamu ke Rumah Sakit sekarang," Jeffrey yang panik bergegas membopong tubuh Jenny yang mulai tak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri.


"Alex siapkan mobil dan antar aku ke Rumah Sakit sekarang juga," titah Jeffrey kepada supir pribadinya.


"Baik Tuan," tidak butuh waktu lama, mobil sudah terparkir di depan Jeffrey. Dengan cekatan, Alex membukakan pintu mobil untuk Tuan dan Nyonyanya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan, Jeffrey menyempatkan diri untuk menghubungi para orangtua, mengabari Jenny akan melahirkan.


"Sayang bertahanlah," Jeffrey berkali-kali menghujani kepala Jenny kecupan sebagai bentuk sebuah penyemangat dan penenang untuk Jenny. Sesekali ia usap peluh keringat yang membasahi muka Jenny.


"Aarrggg! Lagi-lagi perutku mulas sekali. Isrtiku yang akan melahirkan tapi kenapa aku yang merasakan sakit?" gerutu Jeffrey yang masih berusaha menahan sakitnya.


Beberapa menit kemudian akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di depan lobby Rumah Sakit. Dengan langkah cepatnya, Jeffrey membawa Jenny masuk ke dalam bangunan dan memanggil perawat yang sedang berjaga.


Melihat ada pasien yang harus segera ditangani, dua orang perawat dengan sigap menarik brankar yang tersedia di area lobby dan Jeffrey langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang beroda tersebut. Kemudian para perawat langsung membawanya menuju ruang persalinan karena melihat ketuban Jenny sudah pecah.


"Tuan, silahkan masuk ke dalam ruangan bersalin untuk menemani istri anda," ucap seorang perawat yang langsung dipatuhi Jeffrey.


"Jeff! Jangan kemana-mana, temani aku," pinta Jenny seraya menahan sakit luar biasa akibat kontraksi pada rahimnya. Tanpa ada yang tahu, Jeffrey saat ini juga merasakan hal sama dengan Jenny.


"Iya sayang aku disini, aku nggak akan kemana-mana," bisik Jeffrey yang terus mencoba menenangkan istrinya. Ia genggam tangan kecil yang sudah basah oleh keringat itu. Kening Jenny juga tak lepas dari beberapa kali kecupan sayang Jeffrey. Berharap tindakannya ini dapat menjadi sebuah kekuatan untuk wanitanya yang sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan sang buah hati.


"Jeff, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat," tanya Jenny yang masih sempat menanyakan keadaan Jeffrey di selanya menahan sakit.


"Aku baik-baik saja, kenapa kau masih sempat-sempatnya mencemaskanku di saat genting seperti sekarang ini?" ucap Jeffrey yang heran bercampur panik.


"Tapi Jeff, kau terlihat sangat tegang," sela Jenny lagi.


"Ayolah sayang, fokuslah dengan bayi kita, jangan hiraukan aku, oke?" Jeffrey mencoba menutup ketegangannya. Entah mengapa, rasa mules di perutnya juga terasa semakin mendera. Namun sebisa mungkin ia menahan rasa yang sangat mengganggunya itu. Saat ini istrinya membutuhkan dukungan besar darinya. Itulah yang tertanam di benak pikiran Jeffrey saat ini.


Mulut rahim Jenny sudah sampai pada pembukaan 10. Sang Dokter pun segera memberi intruksi mengejan untuk mendorong bayi keluar.


"Sekarang coba tarik napas lalu keluarkan perlahan. Silahkan anda mengejan ketika saya memberi intruksi ya," ucap sang Dokter dengan ramah setelah membuka lebar kedua kaki Jenny.


"Baik Dok," semua penghuni isi ruangan sontak menoleh ke arah Jeffrey termasuk Jenny.


Sang Dokter dan para perawat tampak melipat bibirnya untuk menahan tawa.


"Jeff, Dokter memberi intruksi kepadaku tapi kenapa kau yang terlihat bersemangat?" tanya Jenny yang sempat-sempat terkekeh geli mendapati tingkah lucu si beruang kutub kesayangannya. Ia sangat tahu, suaminya itu sedang dirundung ketegangan yang teramat besar.


Menyadari sikapnya yang berlebihan, rasa malu seketika menghimpit hati Jeffrey di sela kepanikannya.


"Ayo sayang tarik napas terus buang. Kamu pasti bisa," Jeffrey mencoba menampik rasa malunya dengan memberi semangat Jenny.


"Segaralah mengejan sekarang!" Sang Dokter memberi arahan.


Jenny pun mengejan sekuat tenaga. "Emmmmmp! Huh! Huh!"


"Ayo sayang, kau pasti bisa," Jeffrey masih setia memberi semangat.

__ADS_1


Setelah memberi jeda beberapa detik Dokter kembali memberi aba-aba. "Sekali lagi ya Nyonya, mengejanlah!"


"Emmmmpp! Huh! Huh!


"Kepalanya sudah kelihatan Nyonya, kurang sedikit lagi," ucap Dokter.


"Jeff, rasanya sakit sekali!" rintih Jenny.


"Sabar sayang, Dokter bilang kurang sedikit lagi. Berjuanglah," Ucap Jeffrey seraya melekatkan keningnya pada pelipis Jenny, seolah ia berusaha mentrasfer sinyal positif untuk wanitanya yang sedang berjuang bertaruh nyawa demi sang buah hati. Sungguh ia tidak kuat melihat Jenny yang merintih kesakitan terlalu lama.


Kemudian sang Dokter lanjut memberi instruksi.


Jenny kembali mengejan dengan sisa tenaganya. "Emmmmpp!"


Pada kejangan terakhir akhirnya suara tangis bayi terdengar melengking memenuhi langit-langit ruangan.


Jeffrey seketika menangis haru setelah melihat perjuangan istrinya berakhir. "Kau sangat luar biasa kucing kecilku, kau wanita hebat," bisik Jeffrey lalu mencium kening dan bibir Jenny sebagai hadiah wujud dari perjuangan Jenny.


Jenny hanya merespon perkataan Jeffrey dengan seutas senyuman yang menyiratkan sebuah kebahagiaan yang luar biasa.


Emy, Addy, Briana, dan Darwin yang kebetulan sudah datang dan menunggu di luar ruang persalinan terlihat juga terlihat senang dikala mendengar suara tangis cucunya yang sangat mereka dambakan selama ini.


"Selamat kalian sudah resmi menjadi orangtua sekarang. Putra anda lahir dengan sehat dan sangat tampan," ucap sang Dokter tersenyum ramah seraya menyerahkan bayi yang masih merah tersebut kepada Jenny untuk mendapatkan asupan ASI pertamanya.


"Sayang coba kau lihat, bayi kita sangat tampan sepertimu," puji Jenny penuh damba.


"Iya sayang, ia sangat tampan," balas Jeffrey membenarkan perkataan Jenny seraya memandang muka bayinya yang masih polos.


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Jenny.


"Jeaven, Jeaven Allison," ucap jeffrey.


Jenny mengulas senyum. "Nama yang cantik,"


Jeffrey tersenyum lalu mendekatkan mukanya pada si buah hati.


"Selamat datang anak Daddy. Selamat datang di dunia yang penuh kisah dan warna ini," bisik Jeffrey kepada bayinya kemudian ia mencium pipinya diikuti tetesan air mata kebahagiaan.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2