Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Kenyataan Yang Menyakitkan, Darren.


__ADS_3

Seoarang pria yang sudah melewati usia setengah abad namun masih menyisakan guratan ketampanan yang matang berkarisma dan berwiba tersebut tampak menyusuri lorong gedung kantor menuju salah satu ruangan putranya, Darren.


"Selamat sore tuan Presdir," sebuah sapaan formal langsung menyambut kedatangannya yang tiba-tiba.


"Sudah ku bilang, panggil aku Daddy jika kita hanya berdua saja di kantor," tandas Darwin yang langsung mendapat tanggapan hangat dari Darren.


"Ada apa Daddy datang kemari?" tanya Darren yang lantas beranjak dari tempat duduk kebesarannya dan mendekati sang Daddy.


"Daddy ingin mengingatkan, besok kau harus pergi kota Birmingham untuk memantau langsung pembangunan proyek baru dan pergilah bersama adikmu,"


Darren mengulas senyuman tipis. "Daddy kau lucu sekali, aku tidak akan lupa dengan semua jadwal kerjaku selama ada asisten pribadi di sampingku. Aku yakin Daddy punya alasan lain datang kemari," tebak Darren yang diyakini tepat sasaran.


"Dasar anak nakal! Kau kalau begitu kau pasti sudah bisa menebaknya tujuan Daddy menemuimu bukan?"


Darren memijit kedua pelipisnya yang seketika terasa pening, mengingat Daddynya selalu mendesaknya untuk menikah.


"Jangan paksa aku Dad, karena aku belum ingin memikirkan sebuah pernikahan, aku masih ingin mewujudkan semua cita-citaku termasuk membuat Daddy bangga kepadaku," tandas Darren sehalus mungkin agar sang Daddy tidak tersinggung.


"Kau sudah menjadi salah satu kebanggaanku Nak, apa lagi yang ingin kau wujudkan? Perusahaan kita juga sudah menjadi perusahaan raksasa. Dan Daddy nasehati agar kau jangan terlalu memforsir tubuhmu, kau juga butuh istarahat cukup. Kau harus bisa membedakan mana waktu untuk bekerja dan mana waku untuk bersantai. Kau juga bisa mengambil cuti kerja untuk refreshing," tutur Darwin penuh perhatian.


"Daddy harap dalam waktu dekat kau membawa calon menantu untuk Daddy," desak Darwin. Sebenarnya dia berharap, dengan menikahnya Darren akan sedikit mengurangi sifat gila kerjanya yang bisa saja menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Darren menghela napas panjang. "Baiklah Dad, setelah urusan pembangunan proyek baru kita tuntas aku akan mencoba memikirkannya,"


"Bagus, kalau begitu Daddy pulang sekarang," Darren mengangguk ringan.


Setelah Darwin menghilang di balik pintu, tiba-tiba mimik muka Darren berubah total. Suasana dingin mulai menyelimuti sekitar ruangan. Darren berdiri tegap di depan dinding kaca raksasa di ruangannya, menatap lurus pemandangan yang ada di luar kaca dengan sorot mata sangat sulit diartikan. Kedua tangannya mengepal erat sehingga buku-buku tangannya memutih dan urat-urat tangannya menyembul ke permukaan.


Bayangan percakapan antara Darwin dan Briana yang seharusnya tidak dia dengar semalam kembali menyeruak ke permukaan pikiran otaknya.


"Sayang, kau harus banyak beristirahat dan biarkan putra-putra kita meng-handle sepenuhnya perusahaan keluarga. Lagian kau juga sudah mengakuinya sendiri bukan akan kemampuan bekerja kedua putra kita? Jadi kau hanya tinggal memantau saja. Dokter juga sudah bilang kalau kau tidak boleh sampai kelelahan bukan?" tutur Briana seraya memijit lengan sang suami.

__ADS_1


Darwin mendesah ringan. "Aku tidak menyangka, kedua putra kita itu sudah dewasa dan kedudukan mereka berdua sama-sama berperan penting dan berpengaruh positif di perusahaan, hanya saja aku sedikit kepikiran dengan Jeffrey," ucap Darwin.


"Memang ada apa dengan putra kita yang satu itu? Apa dia kembali membuat onar?" mimik muka Briana berubah cemas.


Darwin mengulas senyuman tipis. "Dia bukan Jeffrey si bocah nakal yang suka membuat onar lagi sayang, dia sudah menjadi pria dewasa yang selalu berpikir secara bijak," balas Darwin penuh bangga.


"Terus apa yang kau khawatirkan?" tanya Briana menyelidik.


"Hahhh, bocah itu sepertinya menolak keras untuk memasukkan namanya di dalam daftar calon kandidat CEO dengan alasan dia tidak ingin bersaing dengan Darren, dia terus bersikukuh hanya Darren yang pantas menyandang jabatan itu," Darwin menjeda perkataannya.


"Kau tahu sendiri bukan, meskipun Darren terlebih dahulu terjun dan berperan banyak dalam kemajuan perusahaan, tapi aku sangat berharap Jeffrey lah yang akan menyandang jabatan itu karena hanya dialah putra kandung kita satu-satunya,"


Deg!


Darren yang sedari tadi ternyata diam-diam menguping pembicaraan kedua orang tua itu seketika tersentak luar biasa. Seakan sebilah pedang tajam tengah menghunus jantungnya dengan tanpa belas kasihan sehingga menciptakan rasa sakit yang begitu dahsyat yang tidak bisa diungkapkan sekalipun dengan kata-kata.


Darren kembali menampik ingatannya semalam. Menarik lamunannya dengan paksa. Ekspresi mukanya begitu sulit di artikan.


°°°


Suasana malam di pertengahan musim panas terasa hangat. Hembusan angin ringan membuat surai bergelombang itu meliuk-liuk indah.


Seorang wanita tampak sedang berkelut dengan pikiran tanpa arahnya di sebuah balkon perumahan yang terletak di kawasan elit London. Entah mengapa perasaannya begitu gusar tanpa sebab. Seolah hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi.


Lamunannya tiba-tiba pecah ketika sepasang tangan kekar melingkari perutnya yang langsing. Hangatnya hembusan napas menggelitik telinganya. Ia memutar lehernya dan melirik ke arah pemilik tangan yang sedang memeluknya dari belakang dengan posesifnya.


Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas ketika menyadari keberadaan pria sang pemilik hatinya, Jeffrey. Tampak jari-jemarinya mengusap lembut tangan kekar itu.


"Sayang apa kau tidak ingin masuk ke dalam? Kau sudah terlalu lama berdiri di luar, angin malam tidak terlalu bagus untukmu," tutur Jeffrey penuh perhatian.


"Beruang kutub, apakah kelak kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Jenny tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Jenny yang tidak biasa itu, Jeffrey lantas memutar tubuh istrinya sehingga mereka kini saling berhadapan.


Jeffrey mengerutkan dahinya hingga kedua ujung alisnya hampir bersatu. Mata elangnya menatap intens mutiara biru Jenny dengan kedua tangan menyentuh lembut kedua pundak Jenny.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau meragukan cintaku? Bagaimana aku bisa pergi meninggalkanmu sedangkan separuh nyawaku ada disana," ucap Jeffrey penuh ketulusan seraya menurunkan tangannya ke bagian tubuh Jenny yang dimana letak jantung bersarang.


"Tapi aku takut jika tiba-tiba kau meninggalkanku," ucap Jenny dengan mimik muka yang berubah sendu.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Bukankah kita sedang tidak ada masalah? Apa mungkin aku telah melakukan kesalahan yang tidak aku sadari? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Coba katakan ada apa" Jeffrey merasa heran dengan sikap Jenny saat ini.


Jenny menggeleng cepat. "Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya cemas saja. Entah mengapa tiba-tiba perasaanku tidak enak. Seperti ada yang mengganjal di dalam sini," jelas Jenny.


Jeffrey yang mengerti saat ini istri kesayangannya itu sedang dirundung perasaan cemas yang tanpa sebab mencoba menangkup kedua pipi Jenny hingga kedua pasang mata beda warna itu bersiborok dengan sangat lekat.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu Jenny Allison. Aku akan selalu bersamamu hingga di hari tua kita. Hingga dibatas usia kita,"


Perasaan Jenny seketika menghangat. Ucapan Jeffrey sukses menampik pikiran buruknya. Ia begitu bahagia mendengar setiap ucapan Jeffrey yang begitu manis.


"Kau harus menepati janjimu itu," tuntut Jenny dengan kedua netranya yang sudah berkaca-kaca karena terharu.


"Aku berjanji," balas Jeffrey lalu menarik tubuh Jenny ke dalam dekapan hangatnya dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala Jenny dengan penuh cinta dan kasih.


Bersambung~~


Apakah firasat buruk Jenny merupakan sebuah pertanda? Tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya🥰


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


...Big love and hug for you❤🤗...

__ADS_1


__ADS_2