
"El, bisakah aku berbicara denganmu?" pinta Diven dengan sesekali melirik ke arah balita yang sedang asyik dengan mainannya.
Ella bergeming, ia tampak menimbang-nimbang permintaan Diven. Namun ternyata rasa penasarannya mengalahkan semua. Ia juga ingin tahu apa tujuan kedatangan Diven. Kenapa dia menggunakan kursi roda saat ini dan kenapa dia bisa keluar di saat masa hukuman penjaranya belum berakhir.
"Alvin, bisakah kau membantuku? Tolong jaga Shelly sebentar karena aku ingin berbicara dengannya," pinta Ella yang langsung mendapat anggukan dari Alvin sebagai tanda jawabannya.
°°°
"Apakah bayi tadi adalah anakmu?" tanya Diven ragu. Muka pucat dan mata sayunya menatap Ella dengan penuh penyesalan.
"Iya, dia anakku, anakmu juga," jawab Ella dingin.
Diven seketika tertunduk. Kedua pundak kurusnya tampak naik turun tak beraturan. Dengan kondisi kakinya yang lumpuh dan kesulitan, pria itu turun dari kursi rodanya dan bersimpuh di kaki Ella.
"El, maafkan aku. Maafkan atas semua kesalahanku," mohon Diven sesenggukan.
"Div, apa yang kau lakukan? Jangan begini," Ella terkesiap dan tampak melirik ke seorang pembantu yang sedang berdiri di belakang kursi roda agar mau membantunya untuk mengembalikan Diven ke kursi rodanya.
"Tolong maafkan aku, aku sangat menyesal. Aku telah banyak berdosa. Aku mengidap sifilis stadium akhir yang menyebabkan aku lumpuh sekarang, itu adalah karma yang kudapatkan dari hasil semua perbuatan bejadku," isak Diven seraya memeluk kaki Ella.
Ella terperangah mendengar pengakuan Diven barusan. Sungguh, hatinya yang mengeras berangsur-angsur melunak. Seketika rasa iba menyerang hatinya. Bagaimanapun juga, Diven adalah seseorang yang pernah singgah di hatinya, ayah dari putrinya.
"Aku sudah memaafkanmu dari dulu, jadi berhentinya bersikap seperti ini dan kembalilah ke kursi rodamu," ucap Ella yang mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang kebetulan sedang berlalu lalang karena posisi mereka saat ini berada di tempat terbuka.
Perkataan Ella semakin membuat Diven terisak karena terharu. "Terimakasih El, terimakasih kau masih bersedia memaafkanku, aku tidak menyangka kau memiliki hati seluas samudra,"
Dengan bantuan si pembantu, Ella mengangkat tubuh Diven untuk kembali ke kursi rodanya. Wanita satu anak itu melirik ke arah Diven sekilas lalu melempar pandangannya ke sembarang arah.
"Aku belajar dari Jenny untuk selalu bersedia memaafkan siapapun, meski orang itu telah berbuat jahat kepada kita. Dan seharusnya kau meminta maaf kepadanya, gara-gara perbuatanmu dan Veronica ia kehilangan janinnya," tutur Ella tanpa melihat ke arah Diven.
"Tapi apakah dia bersedia memaafkanku? Kesalahanku begitu banyak. Aku sudah melakukan pelecehan seksual, menculik, serta membunuh janinnya, apa aku masih pantas mengemis maaf kepadanya?" ucap Diven dengan suara bergetar karena menangis.
Kini Ella memutar lehernya, menggiring mukanya ke arah Diven. Seutas senyuman tipis menghiasi mukanya. "Jenny adalah manusia berhati malaikat Diven, asal kau tahu itu," ungkap Ella yang tiba-tiba hatinya menghangat mengingat semua kebaikan Jenny kepadanya meski ia dulu sering menyakitinya bahkan mengusirnya dari rumah serta merampas seluruh harta hak milik Jenny hanya untuk kesenangannya sendiri. Hingga akhirnya, dia sendiripun mendapatkan karma yang setimpal karena perbuatannya. Dia sadari hal itu.
°°°
Alvin menjaga Shelly yang sudah terlelap dengan penuh perhatian, namun dari sorot matanya menyiratkan sebuah kesedihan dan keputus asa'an. Kedatangan Diven membuat ia patah arang.
__ADS_1
"Mungkin sudah seharusnya aku menyerah, Ella berhak hidup bahagia dengan pria yang ia cintai, Shelly juga pasti membutuhkan kasih sayang dari Ayah kandungnya," gumam Alvin yang mulai berkecil hati.
"Maaf jika aku kembali terlalu lama," ucap Ella yang merasa tidak enak. Suaranya seketika menarik Alvin dari lamunannya.
Alvin menoleh ke arah sumber suara kemudian senyuman simpul tercetak di sepasang bibirnya. "Tidak apa-apa, apa urusanmu sudah selesai?"
Ella mengangguk ringan dengan raut muka bertanya-tanya ketika melihat muka Alvin yang tampak muram.
Alvin beranjak dari duduknya, lalu mengambil tiga langkah mendekati Ella. "Aku harap kau dan Diven bisa hidup bahagia," ucap Alvin yang tidak berani menatap langsung mata Ella. Sedetik kemudian ia melangkahkan kakinya berniat pergi dari hadapan wanita yang ia cintai.
"Vin," lirih Ella seraya menarik baju Alvin yang sudah memunggunginya yang sontak membuat pria berbadan kekar itu berhenti ketika sudah berada di ambang pintu.
"Apakah kau tidak ingin mendengar jawaban dariku?" sambung Ella.
Alvin memutar lehernya ke samping, melirik ke Ella dengan sudut ekor matanya.
"Tidak perlu kau jawab karena aku sudah tahu jawabannya,"
"Jika kau tahu jawabannya kenapa mukamu tampak muram?"
Pria beriris biru tersebut memutar 180 derajad tubuhnya, kini ia menghadap sempurna ke Ella. Sepasang alis tebalnya tampak menaut sehingga menciptakan dua garis sudut siku-siku di keningnya.
Ella mengulas senyuman tipis yang penuh akan makna yang tersirat.
"Kalau kau sudah mengetahui jawaban dariku, bukankah seharusnya kau terlihat bahagia?"
Alvin mencoba mencerna setiap rangkaian kata yang dilontarkan Ella. Sedetik kemudian roman mukanya yang muram berubah cerah.
"Apakah..?"
Ella mengangguk cepat sebagai jawaban dari pertanyaan Alvin yang belum selesai.
"Maaf jika aku membuatmu menunggu lama, sebenarnya aku juga sudah mencintaimu, tapi aku merasa tak pantas untukmu," ucap Ella dengan jari-jari tangannya yang tampak memelintir ujung bajunya. Jujur, dia juga malu mengungkapkan isi hatinya saat ini.
Bagaikan mendapat undian jackpot Euromillion sebesar jutaan poundsterling, Alvin meloncat girang dengan menarik ke samping kedua tangannya yang mengepal. "Yesss! Akhirnya kau menerimaku," teriak Alvin lalu mendekap tubuh Ella dengan sangat erat. Kemudian ia melerai pelukannya dan menatap lekat kedua mata Ella.
"Kita menikah besok," Ella seketika terkesima mendengar ajakan tiba-tiba Alvin yang sungguh di luar dugaannya.
__ADS_1
°°°
Di kediaman keluarga Allison. Darren menatap nanar ke arah seorang wanita yang sudah merawatnya dari kecil dari balik daun pintu. Wanita itu adalah Briana, ia sedang menangis sesenggukkan seraya memeluk poto Jeffrey, putra semata wayangnya. Sementara Darwin yang tak kuasa melihat kesedihan sang istri turut berderai air mata seraya mengusap lembut kedua bahu kecil yang tengah bergoncang tersebut.
Sudah satu tahun lamanya, namun kedukaan masih terus menyelimuti. Seolah awan kelabu masih setia memayungi istana megah keluarga Allison, memuntahkan bulir kesedihan yang tiada habisnya.
Begitu pilu, itu juga yang dirasakan Darren ketika melihat kedua orangtua yang sudah merawatnya itu masih dirundung kepahitan dari sebuah kenyataan.
Ditambah lagi, Darwin yang harus berkali-kali memeriksa kesehatan jantungnya karena kenyataan yang masih belum bisa ia terima dengan lapang dada hingga saat ini semakin membuat Darren terpukul.
Suasana rumah yang dulunya penuh akan cinta, kasih, sayang, dan perhatian kini begitu kelam. Semuanya tenggelam tergantikan oleh kesuraman. Tiada lagi kehangatan yang dia rasakan. Tiada lagi keteduhan kalbu yang menenangkan. Gelap dan berkabut, itulah yang ada saat ini.
Ingin sekali ia mengembalikan kebahagiaan yang telah terenggut tersebut. Mengembalikan roman sukacita di muka Briana dan Darwin. Meskipun setelah hilangnya Jeffrey Briana dan Darwin seolah lupa akan keberadaannya di keluarga Allison.
Sakit memang, rasa iri dan cemburu berkali-kali menggerogoti hatinya ketika mengetahui dia bukanlah anak kandung Darwin dan Briana. Padahal semasa hidupnya, hanya merekalah yang selalu bertempat di singgahsana hatinya paling utama.
Selama ini dia telah melakukankan segalanya agar kedua orangtua tersebut merasa bangga dengannya. Bahkan banyak hal yang telah ia korbankan seperti Masa muda dan kisah romansa cintanya. Tapi kenyataannya, kasih sayang mereka ke dia tidak lebih besar daripada kasih sayang mereka ke Jeffrey.
Dia mengira setelah ketiadaan Jeffrey akan menempatkan dirinya ke posisi utama di hati kedua orang tua itu. Tapi kenyataannya, semua tidak sesuai dengan ambisinya.
"Siapkan penerbangan jet pribadiku menuju ke tempat biasanya untuk satu jam dari sekarang," titah Darren kepada salah satu orang kepercayaannya melalui sambungan panggilan telepon selulernya.
°°°
Malam sudah begitu larut tapi hal itu tidak mematahkan niatnya untuk tetap mengunjungi tempat singgah pribadinya yang sengaja ia beli beberapa tahun yang lalu.
"Selamat malam Tuan, anda sudah datang? Dia sedang tidur saat ini," lapor seorang pria yang bertugas merawat apartemen mewahnya.
Darren hanya mengangguk samar lalu melenggang pergi menuju ke salah satu kamar apartemen yang memang sedang berpenghuni. Perlahan ia memutar knop pintu dan hanya menciptakan sedikit cela antara daun pintu dan gawang, membiarkan sepasang lensa birunya menangkap sosok yang sedang terlelap di ranjangnya, memastikan dari jauh bahwa sosok tersebut dalam keadaan baik.
"Apa dia rutin meminum obatnya?" tanya Darren kepada si pria tua setelah menutup kembali daun pintu kamar.
"Dia meminum obat dengan rutin Tuan, tidak ada satu haripun yang terlewatkan,"
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...