
Waktu masih terus bergulir. Jarum jam masih berputar pada porosnya. Sang surya kembali mengemban tugas mulianya. Mengiringi setiap kehidupan dengan sentuhan hangat cahayanya.
"Sayang, ayo bangun. Hari sudah hampir siang," Jeffrey menggoyang-goyangkan tubuh istrinya yang masih tidur sambil memeluk tubuhnya.
"Masih ngantuk," jawab Jenny malas.
Jeffrey mendengus geli ketika tangan Jenny kembali memainkan bulu-bulu ketiaknya, memelintirnya hingga kusut dengan mata yang masih terpejam. Seolah ujung jari-jari tangannya begitu menikmati setiap sensasi bersentuhan dengan bulu-bulu halus itu.
Entah mengapa, sudah beberapa hari ini ada-ada aja tingkah aneh Jenny yang membuat Jeffrey gedek. Dia bahkan meminta Jeffrey memanjangkan rambutnya serta melarangnya memangkas jambang halusnya.
"Dasar kucing pemalas, ayo bangun," Jeffrey beranjak dari pembaringannya kemudian menarik tubuh Jenny hingga terduduk di bibir ranjang.
"Hmmmm! Beruang kutub kau mengganggu tidurku," protes Jenny yang hendak kembali tidur namun langsung ditahan Jeffrey.
"Nggak, kau harus segera mandi. Bukankah hari ini kita akan mengunjungi Yayasan Panti Asuhan? Mumpung hari ini hari libur,"
Jenny sontak membuka matanya yang masih terasa berat.
"Hmmm, gendong," minta Jenny manja seraya merentangkan kedua tangannya.
Jeffrey mengayak gemas rambut Jenny sebelum akhirnya ia menggendong Jenny seperti anak monyet dan membawanya ke kamar mandi untuk mandi bersama.
°°°
"Buka mulutmu, aaaa," pintaa Jeffrey yang langsung dipatuhi Jenny.
"Hmmm, ini enak sekali," puji Jenny dengan mata berbinar-binar sambil mengunyah makanan yang dimasak khusus oleh tangan Jeffrey sendiri.
"Telan dulu makanannya baru bicara," tutur Jeffrey seraya menyeka saos yang menempel di bibir Jenny.
"Aku heran apa sih yang tidak bisa kau lakukan? Kau pintar memasak, pintar bermain musik dan bernyanyi, pintar di dalam bidang akademik, pintar berbinis, dan pintar bermain di," celotehan Jenny tiba-tiba terhenti dan seketika mukanya tampak merona.
Jeffrey langsung memasang mimik muka tengilnya.
"Pintar bermain di apa sayang? Apa kau ingin berkata aku pintar bermain di atas ranj," Jenny langsung menyumpal mulut Jeffrey dengan potongan daging agar dia berhenti bicara.
Jeffrey langsung tergelak melihat muka Jenny yang sudah memerah. "Akhirnya kau mengakui keperkasaanku bukan,"
Jenny menyebik menutupi rasa malunya, hingga akhirnya..
"Hmp! Hmp!" gelak Jeffrey seketika berhenti ketika melihat Jenny yang tampak ingin memuntahkan makanannya.
"Kau kenapa sayang?"
Alih-alih langsung menjawab, Jenny langsung berlari menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutnya hingga hanya menyisakan cairan bening.
__ADS_1
"Kita ke Dokter sekarang," ajak Jeffrey yang cemas melihat Jenny tampak lemas dan pucat setelah memuntahkan semua isi perutnya.
"Tidak perlu, sekarang aku sudah baik-baik saja kok," tolak Jenny tapi sepertinya Jeffrey sedang tidak menerima penolakan. Ia langsung membopong Jenny untuk masuk ke dalam mobil menuju Rumah Sakit.
°°°
Di dalam salah satu ruang pemeriksaan Rumah Sakit. Sepasang suami istri muda itu tampak sedang menunggu hasil dari pemeriksaan Dokter.
"Bagaimana Dok, istri saya kenapa?" tanya Jeffrey.
Setelah melewati beberapa prosedur pemeriksaan dasar dan mencermati keluhan Jenny, sang Dokter tampak mengulas senyuman hangat. "Istri anda baik-baik saja Tuan. Saya justru ingin mengucapkan selamat bahwa sebentar lagi kalian berdua akan menjadi orangtua," jelas sang Dokter tanpa menyurutkan sedikitpun senyuman di bibirnya.
"Apa maksud Dokter istri saya sedang hamil?" tanya Jeffrey memastikan.
"Benar Tuan, istri anda positif hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tujuh," jelasnya lagi.
Jeffrey seketika memasang mimik muka bahagia. Sepasang bibirnya tersenyum mengembang sempurna. Ia langsung memeluk Jenny yang juga tak kalah bahagia.
"Sayang, aku akan menjadi ayah," Jenny hanya mengangguk bahagia seraya tersenyum haru dan mata yang sudah berkabut. Ia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata karena sangking bahagianya.
"Terima kasih sayang. Terima kasih," Jeff tak henti-hentinya mengucap kata syukur. Ia mengurai pelukannya dan menghujani muka cantik Jenny dengan kecupan-kecupan ringan. Hingga akhirnya Jenny menghentikan aksinya karena merasa malu setelah menyadari keberadaan Dokter yang sedari tadi menyaksikan mereka.
"Iihhh, malu dilihat Dokter," lirih Jenny dengan muka yang sudah seperti kepiting rebus.
"Dok, apa kami masih diperbolehkan melakukan hubungan intim di ranjang?"
°°°
Setelah selesai melakukan pemeriksaan serta mendapatkan penjelasan dari Dokter mengenai panduan-panduan yang berhubungan dengan kehamilan akhirnya mereka meninggalkan ruangan.
"Beruang kutub turunkan aku sekarang, aku bisa jalan sendiri," pinta Jenny sedikit berbisik karena merasa malu karena sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di Rumah Sakit.
"Tidak, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Tubuhmu masih lemah dan kau sedang mengandung anakku sekarang," tolak Jeffrey yang masih membopong tubuh Jenny dengan langkah hati-hatinya menuju parkiran mobil.
"Tapi ini sangat memalukan. Coba kau lihat, semua mata tertuju ke kita sekarang," Jenny masih terus protes.
Jeffrey menghentikan langkahnya lalu memutar lehernya ke arah muka Jenny yang memerah karena malu. Ia menyungging kedua sudut bibirnya, hingga kemudian sebuah kecupan mendarat di bibir manis Jenny sehingga membuat sepasang mata cantik itu membulat sempurna.
"Diamlah, atau aku akan melakukan lebih dari ini," ucap Jeffrey yang masih menautkan netranya pada netra Jenny.
"Aiihhh! Kenapa kau malah menciumku? Ini sangat memalulkan. Ayo cepat pergi dari sini," gerutu Jenny yang langsung menenggelamkan mukanya ke dada bidang Jeffrey.
Setelah di dalam mobil.
"Sayang, sebaiknya rencana kita ke yayasan ditunda dulu ya. Kondisimu masih lemas, mukamu saja masih terlihat pucat," saran Jeffrey seraya membantu Jenny memasang seat belt.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi aku ingin menemui Mama dulu, aku ingin memberi kabar gembira ini. Dia pasti akan sangat senang," pinta Jenny.
"Ya sudah, kita temui Mama sekarang, tapi jangan lama-lama karena kau harus banyak beristirahat,"
"Oke," balas Jenny seraya membentuk jari-jarinya sebagai tanda ok.
°°°
Di salah satu sudut kota London, seorang wanita tengah baya tampak fokus merawat bunga-bunga yang tertanam rapi di pelataran rumahnya. Namun siapa yang tahu, jika pikirannya sudah tidak lagi fokus pada bunga-bunga tersebut. Pikirannya melayang dalam lamunan.
Sungguh, saat ini ia sangat merindukan sang putra. Ingin sekali ia melihatnya untuk mengetahui kondisinya paska operasi. Akan tetapi, ia seakan tidak punya nyali meski hanya sekedar bertatap muka setelah Darren mengetahui siapa dia sebenarnya. Rasa takut bahwa sang putra akan kecewa kepadanya terus saja menghantuinya.
Biasanya Emy akan menghabiskan waktunya untuk meng-handle restauran bersama Addy, namun tidak untuk hari ini. Setelah mendonorkan ginjalnya, kesehatannya memang tidak sebugar seperti biasanya. Kadang tubuhnya akan merasakan lemas. Pusing juga turut menyerang akibat tekanan darah yang tinggi. Maka dari itu, sang suami selalu meminta untuk lebih banyak beristirahat sampai efek dari operasi benar-benar hilang.
"Ibu?" pikiran Emy seketika ditarik paksa dari lamunannya ketika mendengar suara seseorang dari belakang. Suara yang sangat ia kenal, suara yang sangat ia rindukan.
Perlahan Emy memutar tubuhnya mencari tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Ibu," sekali lagi, orang itu memanggilnya dengan sebutan ibu ketika Emy menyadari keberadaannya.
Emy seketika berlari berhamburan memeluk orang tersebut yang tak lain adalah putranya, Darren. Hanya dalam hitungan detik, mukanya sudah basah karena deraian air mata kebahagiaan bercampur haru.
Emy mengurai pelukannya. Ditatapnya manik biru milik Darren penuh intens dengan kedua tangan menangkup muka tampan putranya tersebut.
"Tolong ulangi lagi yang kau ucapkan tadi sayang," pinta Emy.
"Ibu, maaf baru sekarang aku datang menemuimu," ucap Darren yang juga diliputi rasa haru.
"Tidak sayang, kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah," ucap Emy dengan suara yang bergetar di sela isak tangisnya.
"Maafkan aku Bu, karena aku belum bisa menjadi putra yang baik. Aku bahkan telah menyakiti Jenny dengan perbuatanku,"
Emy menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, ini semua berawal dari kesalahanku yang telah meninggalkanmu," ucap Emy yang kembali memeluk tubuh Darren penuh penyesalan.
"Tidak Bu, Mommy telah menceritakan semuanya kepadaku bahwa Ibu melakukan itu demi kebaikanku," Darren yang tak kuasa menahan haru mulai membalas pelukan Emy.
Entah mengapa, hati Darren merasa hangat ketika berpelukan dengan Emy. Sama halnya di saat Briana memeluknya. Suasana haru tampak masih menyelimuti keduanya.
Emy tidak pernah menyangka bahwa putranya bisa menerima keberadaannya sebagai ibu. Sungguh, ia tak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Tuhan akan nikmat yang ia berikan.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1