Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Persahabatan Jeff Dan Sean


__ADS_3

Malam di musim gugur, di mana sang Surya akan lebih lama bersarang di peraduannya. Membuat gelapnya malam yang menyelimuti kota London lebih terasa panjang dibanding siang hari.


Jeffrey melangkah menuju balkon kamar Darren yang sedang terbuka lebar, membiarkan angin malam yang dingin menyelinap masuk memenuhi ruangan.


"Apa kamu sedang melamun?" tanya Jeffrey tiba-tiba yang tentu membuat Darren sedikit terperanjat dari lamunannya,"


"Sejak kapan kamu berada disini? Aku bahkan tidak mendengar suara langkah kakimu," tanya Darren seraya memutar tubuhnya dan membiarkan punggungnya bersadar pada pagar besi balkon.


"Kamu saja yang terlalu larut dalam pikiranmu, hingga tidak menyadari kedatanganku," timpal Jeffrey setelah meletakkan kedua sikunya di atas pembatas balkon tersebut. Dia menengadah mukanya ke langit. Memastikan langit malam ini penuh dengan taburan bintang yang menandakan cuaca malam sedang mendukungnya untuk pergi ke klub malam bersama Alvin dan Sammy nanti.


"Kak, apa kamu pernah merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadamu ketika bertemu seorang wanita?" tanya Jeffrey penuh makna.


"Aneh bagaimana maksutmu?" Darren balik bertanya.


"Ah, sudah lupakan saja," Jeffrey berkilah lantas menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.


"Aku, akan keluar sebentar untuk bersenang-senang," sambungnya lagi lalu berlalu meninggalkan Darren sebelum otak Kakaknya tersebut menaruh tanda tanya semakin besar.


Awalnya, remaja tampan bermuka jutek tersebut berniat bertanya kepada sang Kakak guna mencari tahu tentang perasaan yang beberapa hari ini begitu mengganggunya. Tapi sepertinya hal itu urung dia lanjutkan.


Darren menatap punggung adiknya hingga tidak terlihat di pelupuk mata. Kedua sudut bibirnya melengkus ke atas. Mimik mukanya menyiratkan sebuah arti.


"Kau akan menyadarinya sendiri tentang perasaan apa itu seiring berjalannya waktu," gumam Darren yang ternyata sudah bisa membaca perasaan adiknya.


Pria itu menghela napas panjang.


"Karena aku juga pernah merasakan hal yang sama dan hingga saat ini perasaan itu masih tetap ada. Sayangnya, perasaan itu harus aku pendam," ucapnya lagi lirih.


Di salah satu tempat hiburan malam Mayfair yang terletak di jantung kota London. Gemerlap cahaya lampu disko warna warni yang menyilaukan mata. Indera pendengaran yang dipenuhi oleh suara musik dengan sound system yang memekakkan telinga. Dengan perpaduan aroma khas klub malam seperti bau minuman alkohol yang menusuk indera penciuman dan asap rokok yang menjalar memasuki rongga pernapasan.


Lautan anak manusia yang beranekaragam bentuk dan rupanya terlihat asyik meliukkan tubuhnya mengikuti alunan suara musik yang menghentam dengan cepat dan keras di atas dance floor.


Jeffrey, Alvin, dan Sammy memasuki gedung dan melangkah menerobos kerumunan orang-orang yang sudah larut dalam kenikmatan hiburan malam menuju barstool yang terletak di salah satu sudut ruangan besar tersebut. Kemudian menduduki kursi bundar berkaki tinggi yang berada di depan meja pembatas antara bartender dan tamu.


"Seperti biasanya," ucap Jeffrey kepada sang bartender yang langsung direspon dengan anggukan mengerti. Bartender tersebut terlihat lihai meracik minumannya.


Selang tidak lama sebuah gelas kristal berisi cairan bening sudah tersuguh di depan Jeffrey.


Alvin dan Sammy tidak langsung memesan minuman karena mereka lebih tertarik untuk bermain dengan wanita penghibur di atas dance floor.


Jeffrey hanya menikmati keriuhan klub malam seraya meneguk cindernya. Bermain dengan wanita penghibur bukanlah perangainya.

__ADS_1


Perhatian Jeffrey seketika beralih kepada seorang tamu yang mendaratkan tubuhnya pada kursi kosong di sebelahnya. Air muka malas begitu tampak ketika dia menyadari bahwa Seanlah yang berada di dekatnya sekarang.


"Apa kau datang sendirian?" tanya Sean setelah memesan segelas wine.


"Ternyata kau masih punya muka untuk berbicara kepadaku?" ucap Jeffrey dingin.


Menanggapi ucapan ketus mantan sahabatnya tersebut, Sean hanya tersenyum simpul.


"Aku baru tahu, selera perempuan yang bakal menjadi mainanmu sudah turun level," ejek Jeffrey.


"Apa yang kau maksut perempuan yang bersamaku saat di restauran waktu itu?" tanya Sean memastikan.


Jeffrey menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dan Sean bisa manangkap maksut jawabannya.


"Dia gadis baik, aku tidak mungkin mempermainkannya. Sekalipun aku mendekatinya, itu karena aku sungguh-sungguh. Sebenarnya dia gadis yang menarik," sanggah Sean.


Berbeda dengan Jeffrey, Sean memang lebih pengalaman dalam bermain dengan lawan jenis. Sikapnya yang selalu baik kepada makhluk yang dinamakan wanita tersebut juga sering membuat mereka terpesona dan terbuai.


"Ck! Dia hanyalah seekor kucing kumuh, apanya yang menarik,"


"Kau salah, dia sebenarnya seekor angsa putih,"


"Matamu mungkin sudah buta!" cemoh Jeffrey.


Sedangkan Sean menatap punggung Jeffrey dengan tatapan tak terbaca. Kemudian dia menggiring iris abu-abunya pada gelas kristal yang berada di genggamannya.


Satu kali tegukkan, gelas kristal tersebut sudah terlihat kosong.


"Kasih aku satu gelas lagi," pinta Sean kepada pramutama bar.


Tidak butuh waktu lama, bartender tersebut meramu minuman dengan cekatan dan menyuguhkannya di depan Sean. Sean menatap lurus ke arah gelas kristal yang berisi cairan bening beralkohol tersebut. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu.


Di rooftop bangunan sekolah. Kedua murid lelaki yang sudah menjalin persahabatan semenjak kecil sedang menikmati aktivitas bolos jam pelajaran mereka.


"Aku sepertinya menyukai Amelle," ucap Jeffrey yang masih berbaring menatap langit yang terlihat teduh.


"Apa kau akan menyatakan perasaanmu kepadanya?" tanya Sean yang juga merebahkan tubuhnya di sebelah Jeffrey.


"Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu," ucap Jeffrey.


Sean tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya kau juga tahu kalau aku juga menyukai Amelle,"


"Tentu saja aku tahu, perasaanmu itu mudah sekali dibaca," cebik Jeffrey


"Begitukah?" Sean masih mengulas senyum.


"Berjanjilah, salah satu di antara kita tidak ada yang boleh berpacaran dengan Amelle. Karena persahabatan kita lebih beharga," ucap Jeffrey serius yang masih menatap langit yang berwarna biru berpadu awan putih yang menggelantung.


"Baiklah, aku berjanji," jawab Sean.


Tiga bulan setelah percakapan di rooftop.


Kedua anak manusia terlihat sedang berseteru. Salah satu di antaranya terlihat beberapa kali melayangkan tinjuan pada muka lawannya yang tampak pasrah tanpa adanya perlawanan.


"Ternyata kau mengkhianatiku, diam-diam kau mendekati Amelle!" seru Jeffrey yang tampak kelelahan karena energi yang terkuras setelah melayangkan beberapa kali pukulan pada Sean.


"Dan paling menyakitkan lagi, kau tidak pernah bercerita kalau Amelle sakit. Aku bahkan tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya!" tambah Jeffrey lagi yang begitu murka, meski tersirat rasa sedih yang mendalam karena kehilangan seseorang yang dia sukai untuk selamanya.


"Aku bisa menjelaskannya Jeff, Sebenarnya..," ucapan Sean terputus.


"Aku tidak butuh penjelasanmu! Dia sudah pergi, apa lagi yang harus dijelaskan?"


Jeffrey langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rooftop dengan amarah disertai kekecewaan yang menderu.


Sebuah usapan lembut dan manja pada pundak kekarnya membuyarkan lamunan Sean dari ingatan di masa lalunya.


"Hai tampan, kenapa kamu melamun? Ayo kita bersenang-senang," rayu seorang wanita penghibur yang menempelkan tubuhnya pada punggung bidang Sean seraya mengusap lembut bahunya.


"Malam ini aku sedang ingin sendiri," tolak Sean yang lagi-lagi senyuman manis selalu menghiasi muka tampannya.


"Baiklah, datangi aku jika kamu berubah pikiran," ucap wanita sexy tersebut seraya mengerlingkan satu matanya lalu meninggalkan Sean yang tampaknya tidak ingin diganggu.


Sekali lagi, Jeffrey meneguk minumannya langsung habis tak tersisa.


"Kenapa kau masih saja keras kepala Jeff. Seharusnya kau dengarkan dulu penjelasanku," Gumam Sean yang penuh sesal.


"Ah, aku tiba-tiba teringat dengan si gadis angsa putih. Kenapa hingga sekarang dia tidak menghubungiku? Aku masih sangat penasaran dengannya," Kesah Sean.


Bersambung~~


Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏

__ADS_1


Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏


__ADS_2