
Setelah kepergian Briana, Jenny tampak termenung. Dia tidak menyangka bahwa dia berani menerima keputusan itu. Putus asa, dia tidak punya pilihan lain. Membayangkan dalam kurun waktu dekat dia harus menjadi istri dari seorang Jeffrey yang tak lain musuh bebuyutannya seketika membuatnya bergidik.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Getaran benda pipih dari dalam sakunya seketika mengembalikan pikirannya yang sempat membuana. Gadis yang sedang dirundung kegalauan tersebut segera meraih ponselnya.
Sean:
Selamat pagi Jenny, tadi aku pergi ke kelasmu tapi sepertinya kamu tidak mengikuti kelas kuliah hari ini, apa kamu baik-baik saja?
Hati berdenyut perih ketika mendapat pesan dari Sean.
Jujur, keberadaan Sean sebenarnya sudah mulai menempati hati Jenny. Dan sekali lagi, hatinya berdenyut hebat, mengingat bahwa dia harus segera memberi jawaban dari pernyataan cinta Sean beberapa hari yang lalu. Jenny tidak ingin membuat pangeran tampan tersebut terlalu menunggu lama jika pada akhirnya dia harus kecewa.
Jenny:
Sean, kamu di mana? Bisa kita bertemu sekarang? Aku akan menemui.
Sean:
Tentu saja bisa. Kasih tau posisimu sekarang, biar aku saja yang menemuimu.
Jenny:
Aku berada di Livingstone Coffee Shop, dekat Rumah Sakit Cambridge.
Sean:
Oke. Aku meluncur ke sana sekarang.
Beberapa saat kemudian Sean sudah sampai di sebuah Coffee Shop tempat Jenny menunggu.
"Maaf telah membuatmu terlalu lama menunggu," ucap Sean yang kemudian menarik bangku dan mendaratkan tubuhnya. Senyuman terus mengulas muka tampannya.
"Sean, apa kita tidak bisa berteman saja?" tanya Jenny langsung pada inti pokok tujuan pembicaraannya. Sungguh dia juga merasa berat untuk mengatakan hal itu.
Seketika senyuman Sean berangsur-angsur luntur. Dia sangat mengerti dengan apa yang dikatakan Jenny saat ini.
"Kenapa?" tanya Sean kecewa.
Jenny masih terdiam seraya menunduk. Dia bingung, harus bagaimana mestinya dia menjelaskan. Sedangkan di sisi lain, dia tidak ingin Sean tahu tentang dia akan segera menikah.
"Kenapa hanya diam Jenn? Aku menyukaimu dan Aku yakin kau juga menyukaiku, terus kenapa kita tidak bisa berpacaran?" kata Sean begitu yakin.
"Apa memang kau tidak ada perasaan lebih kepadaku meskipun hanya sekecil kerikil?" tanya Sean yang mencoba mencari jawaban dari raut muka Jenny.
__ADS_1
"Sebenarnya aku memang sudah mulai menyukaimu Sean, tapi sepertinya kita hanya ditakdirkan untuk berteman saja," ucap Jenny yang sebisa mungkin menutup segala kesedihannya.
"Apa aku boleh tahu apa alasan yang membuat cintaku ini di tolak?"
"Maaf Sean,"
Sean menghela napas dengan sangat berat. Dia mengerti jawaban singkat dari gadis pujaan hatinya tersebut sebagai tanda bahwa dia sedang enggan untuk menceritakan alasan penolakan cintanya lebih jauh.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau berubah pikiran segera kabari aku karena hatiku akan selalu terbuka lebar untukmu," ucap Sean seraya menampilkan bentuk senyuman terpaksa pada bentuk bibirnya yang khas.
"Terimakasih Sean," ucap Jenny penuh haru.
Kecewa? Tentu saja Sean kecewa. Mereka saling memiliki rasa yang sama tapi tidak bisa menjalin cinta karena sebuah alasan yang tidak dia ketahui sama sekali.
Harapan? Sudah pasti pria tampan berlensa grayish tersebut masih menaruh harapan tinggi akan perasaannya kepada Jenny.
°°°
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Jeffrey, Briana tampak mengedar pandangannya pada pemandangan di luar kaca mobil. Suasana kota yang tampak lebih sejuk karena banyak pepohonan rindang yang berjajar rapi dan cantik di setiap bibir jalanan dengan bangunan-bangunan yang khas melukiskan kota Cambridge dengan julukan sebagai kota pelajar.
Wanita cantik yang hampir menginjak usia setengah abad tersebut merasa lega perihal kesetujuan Jenny untuk menjadi menantunya. Meski, dia terpaksa harus menggunakan cara yang sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang baik.
Briana bisa saja membiayai pengobatan Emy tanpa pamrih, karena bagaimanpun juga, Emy adalah sahabat kesayangaannya. Akan tetapi dia juga tidak ingin membuang kesempatan yang ada.
"Tuan, bertahanlah. Mobil ambulan akan segera tiba. Saya mohon bertahanlah," pekik Briana yang tampak panik melihat Thomas yang sudah terluka parah dengan tubuh yang bersimbah darah.
Sementara itu, Jeffrey yang juga berada sangat dekat dengan Thomas tampak syok dengan tubuh yang lemas disertai denyutan hebat pada kepalanya. Tulang-tulang pada tubuhnya seakan sudah tidak berfungsi untuk menopang tubuhnya. Bukan karena luka ringan yang dia dapatkan, melainkan dia melihat sendiri seseorang sedang bertaruh meregang nyawa di pangkuannya karena berusaha menolongnya dari incaran malaikat maut.
"A-ku mempunyai gadis kecil yang sangat cantik dan pemberani, semua orang akan sangat mudah untuk menyukainya," Thomas memaksa lidahnya untuk berucap di sela napasnya yang terasa berat.
"D-iaa, hah! hah! D-iaa gadis yang baaiik, ak-ku inginnn, hah! dia hidup bahagia," ucapnya yang semakin kesulitan. Napasnya seakan tercekat di kerongkongonan. Detakkan induk organnya kian melemah. Raganya sudah tak kuasa menampung jiwa dan akhirnya lepas dan terbang menuju surga.
"Nyonya, kita sudah tiba di tempat tujuan," ucap si supir pribadi yang sontak membuyarkan lamunan Briana di masa lalu.
Briana sudah berada di depan pintu apartemen milik Jeffrey. Jari-jarinya menekan beberapa nomor yang berjajar rapi pada mesin Access Door. Selain Jeffrey, Briana adalah orang kedua yang mengetahui password pintu apartemen tersebut.
"Apa kamu tidak bisa menyambut kedatangan Mommy dengan sedikit tersenyum saja? Padahal dulu Jeffrey kecilku selalu terlihat ceria dan tersenyum manis meski gigi depannya ompong," gerutu Briana yang melihat Jeffrey selalu memasang muka masam.
"Apa Mommy sudah makan?" tanya Jeffrey yang enggan meladeni kicauan sang Mommy.
"Mommy belum makan, tapi Mommy berniat mengajakmu keluar untuk mencari makan siang," terang Briana.
Tanpa berkata apapun, Jeffrey menuju dapur mini. Mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin dan mulai memainkan beberapa alat dapur.
Tidak butuh waktu lama, hidangan yang terbuat dari fillet ikan yang dibalur tepung lalu digoreng kemudian disajikan dengan kentang goreng sudah siap dieksekusi. Tidak lupa saus tartar dan saun sambal juga melengkapi hidangan yang terkenal dengan sebutan fish and chips tersebut sehingga semakin menambah cita rasa kelezatannya.
__ADS_1
"Aku sedang malas keluar, kita makan di rumah saja," ucap Jeffrey seraya meletakkan dua porsi fish and chips di atas meja makan minimalis.
"Hemm, masakanmu memang selalu lezat," puji Briana dengan mulut yang masih mengunyah suapan makanan.
"Apa Mommy baru tahu sekarang?" balas Jeffrey dingin seraya memotong filet ikan yang berbalut tepung kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Mommy heran, dari mana bakatmu itu diturunkan," cebik Briana.
"Segera habiskan makananmu, setelah itu berbicaralah," kata Jeffrey yang seakan tahu tujuan kedatangan sang Mommy.
"Hish! Dasar anak menyebalkan," cebik Briana yang kemudian kembali fokus menghabiskan makan siangnya. Pasalnya dia sendiri juga tidak ingin menunda terlalu lama untuk memberitahu ke putranya perihal keputusan Jenny yang menerima perjodohan tersebut.
Setelah selesai menyantap makanan mereka, kedua anak manusia yang berhubungan darah tersebut kembali ke ruang tamu.
"Sayang, hari ini Mommy bertemu Jenny, gadis manis itu sudah memberi keputusan untuk menerima perjodohan ini," Briana mulai membuka pembicaraan. Jujur dia khawatir jika Jeffrey masih bersikeras untuk menolak keputusan itu seperti yang sudah-sudah.
"Baiklah, Jeffrey juga menerima perjodohan itu?" ucap Jeffrey yang seketika membuat Briana tercengang, karena jawaban Jeffrey tidak seperti yang dia khawatirkan beberapa saat yang lalu.
"Apakah yang Mommy dengar barusan tidak salah? Sayang, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?" Briana mencoba meyakinkan kebenaran dari ucapan Jeffrey.
"Kenapa Mommy masih bertanya kepadaku? Apakah kalian akan meng-iyakan jika aku menolaknya? Lagian sehebat apapun aku menentangnya, kalian akan tetap memaksaku untuk menerima perjodohan ini, karena keputusan gadis itulah yang kalian prioritaskan," ucap Jeffrey kecewa.
"Sayang, mungkin kamu kecewa dengan sikap Mommy dan Daddy yang selalu memaksamu, tapi ini demi kebaikanmu juga. Jenny gadis yang baik," tutur Briana seraya menangkup kedua tangan Jeffrey yang terlihat lebih besar dari tangannya. Menatap lekat sepasang iris hijau putranya.
"Perempuan yang menikah karena uang apa pantas disebut perempuan baik? Sebenarnya sihir apa yang kucing kumuh itu kirimkan ke Mommy sehingga membuat Mommy buta akan keburukkannya yang jelas-jelas sangat ketara," cemoh Jeffrey di dalam hati.
"Mommy tinggal urus saja waktu pernikahannya, aku akan menurutinya. Tapi aku ingin mengajukan sebuah syarat,"
"Memang syarat apa sayang? Jangan yang aneh-aneh karena Mommy akan menolaknya,"
"Aku ingin pernikahan ini di rahasiakan sampai aku lulus kuliah," Jeffrey mengajukan syarat dengan mimik muka penuh arti.
"Kenapa harus dirahasiakan sayang?"
"Ayolah Mom, aku tidak ingin teman-teman mentertawakanku karena menikah muda," Jeffrey beralasan.
"Baiklah, Mommy terima syaratmu itu,"
Briana berpikir syarat yang diajukan putranya bukanlah masalah besar. Baginya, Jeffrey tidak lagi menentang perjodohan ini sudah merupakan hal yang sangat luar biasa. Dia tidak menyangka saja, putranya yang terkenal pembangkang tersebut bisa menjadi penurut seperti sekarang.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like pada setiap chapter saja, Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1