Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Aksi Licik Duo Penguntit


__ADS_3

Di ruangan bernuansa serba putih yang berselimutkan aroma khas Rumah Sakit, seorang pria tampak terduduk di sebelah ranjang perawatan. Menatap sendu muka istri kecilnya yang sedang terlelap karena beberapa saat yang lalu Dokter menyuntikkan obat penenang.


Dia adalah Jeffrey. Ia membelai lembut rambut Jenny dan memberi kecupan hangat di keningnya sebelum keluar meninggalkan ruangan.


Jeffrey berniat mengambil beberapa baju ganti untuk Jenny. Kebetulan jarak Rumah Sakit dengan hotel tempat dia menginap sangat dekat. Jadi dia berpikir tidak akan masalah jika meninggalkan Jenny sebentar.


"Itu dia, ayo lekas jalankan mobilmu," titah seorang wanita yang sedang mengawasi gerak gerik Jeffrey di balik kaca hitam mobil.


"Diamlah, kau sangat berisik," timpal si pria yang langsung melajukan kendaraannya mengikuti mobil taxi yang ditumpangi Jeffrey.


"Rencana kita harus berhasil dan tidak boleh gagal. Apa kau sudah menyiapkan obat biusnya?" tanya si wanita.


"Tenang saja, semua akan berjalan lancar," jawab si pria menyeringai jahat.


"Baguslah," jawab si wanita yang tampak tersenyum penuh arti.


"Kenapa kita tidak menggunakan obat perangsang saja, bukankah hasilnya akan lebih terlihat nyata?" tanya si pria itu dengan santai.


"Pria itu sangat kuat menahan efek dari obat itu, dulu diam-diam aku pernah memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya agar dia mau bercinta denganku, tapi ternyata dia lebih memilih melukai dirinya sendiri dari pada harus membiarkan tubuhnya dikuasai obat itu," beber si wanita dengan ingatannya yang kembali ke masa lalu.


"Apa pria itu tahu kau yang telah memberinya obat perangsang?" tanya pria si pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Diven.


"Tentu saja dia tidak tahu, karena aku wanita cerdik," timpal lawan bicaranya yang tentu saja Veronica.


"Aku heran, kenapa dia sama sekali tidak tergoda dengan tubuhmu yang seksi itu, jangan-jangan dia impoten," cemoh Diven yang langsung tertawa merendahkan. Dia tidak tahu bahwa Jeffrey adalah seorang pria yang begitu jantan, nyatanya Jenny dibuat sampai tidak bisa berjalan🤭


"Tolong jaga perkataanmu, aku tidak suka kau menghinanya," dengus Veronica tidak terima.


Kedua penguntit itu terus mengikuti Jeffrey diam-diam sampai di depan pintu kamar hotel hingga akhirnya salah satu dari mereka menyuntikkan sebuah obat bius dari belakang yang tentunya di saat Jeffrey sedang lengah.


"Siapa kau?! " seru Jeffrey yang sempat menyadari keberadaan Diven namun tidak bisa mengenalinya karena mukanya tertutup masker dan topi.


Namun obat bius yang sudah merasuki tubuhnya sepertinya menyebar dan bekerja dengan cepat, sehingga membuat kesadaran Jeffrey berangsur-angsur menghilang.


"Cepat bantu aku, keburu ada yang lihat," ucap Diven. Sesekali dia mengedarkan pandangannya ke sekitar berharap tidak ada orang yang melihat gelagat aneh mereka.


Veronica yang tadinya hanya mengawasi pergerakan Diven dari balik tembok lantas berjalan mendekatinya dan membantu membuka pintu kamar hotel menggunakan lock keycard milik Jeffrey.


"Cepat kerjakan sesuai yang sudah kita rencanakan, obatnya hanya berlangsung tak lebih dari satu jam," titah Diven setelah membaringkan Jeffrey di ranjangnya.


"Hish! Kenapa kau tidak menambah dosisnya sedikit lebih tinggi agar dia bisa tertidur sedikit lama?" gerutu Veronica yang mulai melucuti baju yang membungkus tubuh Jeffrey satu persatu hingga hanya menyisakan celana boxer-nya saja.


"Kau terlalu banyak bicara," timpal Diven seraya menyaksikan Veronica yang tampak tergesa-gesa melepaskan minidress dan dalaman yang dia kenakan hingga kini tubuh polos terpampang nyata di depan Diven.


Veronica dan Diven memang berniat membuat sebuah foto rekayasa yang seolah Jeffrey sedang tidur dengan Veronica.


Dengan tubuh yang telanjang bulat, Veronica memposisikan tubuhnya dengan memeluk Jeffrey seolah mereka sedang terlelap karena usai melakukan kegiatan panas di atas ranjang.


Diven yang sudah mengerti dengan apa yang harus dia lakukan, mulai mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa jepretan foto Veronica dan Jeffrey.


"Oke! Aku sudah mengambil beberapa foto. Terus kapan kau akan menggencarkan aksimu selanjutnya?"


"Tidak untuk waktu dekat ini, aku akan berbaik hati dan membiarkan mereka bersenang-senang terlebih dulu,"


"Ayolah, kenapa kau begitu lambat? Aku ingin segera menjadikan Jenny milikku," tukas Diven sedikit protes. Mengingat keinginannya beberapa tahun yang untuk memiliki Jenny terhalang membuatnya semakin tidak sabar.


"Kau jangan gegabah, kita harus mencari waktu yang tepat, lagian dengan foto-foto ini, aku ingin membuat wanita jalang itu menjauhi Jeffrey tanpa aku harus bekerja keras dan aku ingin Jeffrey membencinya karena ulah si jalang itu sendiri, dan pada saat itu aku pastikan Jeffrey akan kembali ke pelukanku" seringai Veronica yang penuh akan rencana busuk.


"Terserah kau saja, terus cepat pakaikan kembali pakaiannya agar dia tidak curiga,"


Veronica pun memakaikan kembali baju Jeffrey agar terkesan seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ayo cepat pergi dari sini sebelum dia sadar," ajak Veronica.


Akhirnya Veronica dan Diven pergi keluar kamar meninggalkan Jeffrey yang masih tertidur karena pengaruh bius.

__ADS_1


Selang tidak lama, Jeffrey tampak mengernyitkan dahinya. Keasadarannya berangsur-angsur kembali. Rasa sakit akibat sisa pengaruh obat masih merajai kepalanya.


Dengan kepala yang masih terasa berat Jeffrey bangkit dari berbaringnya dan pindah ke posisi duduk. Sesekali ia tampak menggelengkan kepalanya untuk menghempas rasa pening.


Jeffrey tampak bingung dengan keadaanya sekarang, kenapa dia merasa tubuhnya begitu lemas dan pusing. Terkahir kali ingatannya berhenti di saat dia akan membuka pintu kamar dan tiba-tiba kepalanya merasa pusing dan saat sadar dia sudah berada di atas ranjang.


"Ah! Aku ingat, siapa pria yang memakai masker itu? Sepertinya dialah yang membuat aku tidak sadarkan diri," gumam Jeffrey yang mulai mengingat sesuatu.


"Tapi apa tujuannya sebenarnya? Ini sangat aneh," Jeffrey masih mencoba menerka-nerka tujuan si pria asing itu.


Jeffrey mencoba memeriksa tubuhnya, tapi tidak ada yang yang janggal. Kemudian dia kembali menyelidiki seluruh kamar dan hasilnyapun sama, tidak ada satupun petunjuk yang mencurigakan. Semua barang-barang miliknya masih berada di tempat yang sama dan tidak berpindah satu sentipun.


"Ah, aku sudah terlalu lama meninggalkan Jenny sendirian di Rumah Sakit, sebaiknya aku harus cepat kembali kesana. Soal pria misterius itu akan aku cari tahu setelah ini,"


°°°


Jeffrey memasuki kamar Rumah Sakit tempat Jenny di rawat. Ketepatan dengan suara langkah kakinya yang mengetuk lantai Jenny pun bangun dari lelapnya. Sepertinya kerja efek obat penenang yang diberikan Dokter sudah berakhir.


"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Hm?" Jeffrey langsung melempar serentetan pertanyaan kepada Jenny. Guratan kecemasan begitu tersirat di mukanya yang tampan.


Jenny merubah posisinya ke dalam duduk dan bersandar pada head board ranjang yang langsung dibantu Jeffrey.


"Aku harus menjawab yang mana dulu? Aku heran kenapa si beruang kutub yang dingin dan arogan bisa berubah menjadi nenek-nenek cerewet dalam waktu singkat?" celoteh Jenny yang tampaknya kondisinya sudah membaik.


"Aw! Lagi-lagi kau menyentilku. Apakah ini caramu memperlakukan seorang pasien?" gerutu Jenny setelah jeffrey menghadiahi sebuah sentilan gemas ke keningnya.


"Bisa-bisanya kau bercanda ketika aku mencemaskanmu. Sepertinya keadaanmu sudah membaik dan aku menuntut penjelasan darimu sekarang juga," ucap Jeffrey penuh tuntutan.


"Apa yang harus aku jelaskan?" sungut Jenny yang masih mengusap keningnya dengan ujung-ujung jarinya.


"Kenapa kau bisa tenggelam? Bukankah aku sudah memintamu untuk duduk tenang menungguku datang membawa makanan?" tanya Jeffrey seraya menatap lekat kedua netra jenny.


"Ah itu, karena aku sedikit bosan aku mencoba menikmati pemandangan kanal dengan berdiri di tepiannya. Lagian aku berpindah tidak jauh dari bangku tempatku duduk. Tapi tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mendorongku dari belakang, entah itu di sengaja atau tidak, aku tidak tahu dengan jelas," papar Jenny dengan mimik muka menerawang kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria misterius tadi ya? Kenapa aku merasa ada yang janggal? Sepertinya ada yang diam-diam mengawasi aku dan Jenny," Jeffrey berspekulasi di dalam hati.


"Ah, aku hanya mencemaskanmu saja," kilah Jeffrey berusaha menutupi agar tidak membebani pikiran kucing kecilnya itu.


"Aku sudah baik-baik saja kok, bisakah kita kembali ke penginapan sekarang? Aku sangat tidak menyukai bau Rumah Sakit," pinta Jenny.


"Tidak, kau harus tetap dirawat disini sampai aku benar-benar yakin bahwa kau sudah baik-baik saja," tolak Jeffrey dengan tegas.


"Ayolah.. Kita kembali saja di penginapan ya," Jenny mulai merengek namun usahanya tidak mempan.


"Jangan seperti anak kecil, turuti perkataanku, kenapa kau selalu keras kepala?" tegas Jeffrey sekali lagi dengan nada sedikit meninggi.


Sesaat Jenny langsung terdiam sebelum akhirnya dia berbicara lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali beristirahat kau bisa keluar sekarang," ucap Jenny yang kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Jeffrey.


Jeffrey yang menyadari perubahan raut muka istrinya sedikit merasa bersalah. Dia memejamkan matanya seraya membuang napas panjang hingga akhirnya dia mencoba menenangkan hati istrinya dengan ikut berbaring di ranjang yang sama seraya memeluk tubuhnya dari belakang.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksut membentakmu. Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa. Apa kau tahu, aku sungguh sangat ketakutan ketika melihatmu tidak sadarkan diri tadi. Bagaimana jadinya kalau kau terlambat diselamatkan tadi? Duniaku pasti akan hancur berkeping-keping. Bisakah kau mengerti sedikit saja perasaanku?" keluh Jeffrey yang berubah sendu. Dia benar-benar menumpahkan segala kekhawatiran melalui ucapannya.


Mendengar keluhan Jeffrey yang begitu tulus, jenny lantas memutar tubuhnya menghadap ke arah Jeffrey dengan berbantalkan lengan kekar suaminya itu. Dia menatap lekat kedua lensa hijau pria yang memiliki panggilan sayang si beruang kutub tersebut.


Di dalam telaga bening bewarna hijau itu memang tersirat dengan jelas akan sebuah ketulusan dan kecemasan yang begitu besar yang entah mengapa membuat hati kecil Jenny ikut bersedih. Seolah dia mengerti apa yang dirasakan Jeffrey saat ini.


"Maaf jika aku telah membuatmu cemas dan ketakutan," ucap Jenny penuh sesal.


Jeffrey mengulas senyuman hangat di bibirnya. "Tidak perlu minta maaf, dengan melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku," ucap Jeffrey lalu mendaratkan kecupan hangat beberapa detik ke kening Jenny lalu kembali menatap muka Jenny begitu intens seraya mengusap lembut pipinya menggunakan ibu jari.


"Kenapa kau tersenyum dan menatapku seperti itu? tanya Jeffrey heran dengan tatapan Jenny saat ini.


"Aku merasa si beruang kutubku semakin hari semakin bersikap manis,"

__ADS_1


"Apa kau tidak suka?"


"Aku tidak mau menjawabnya karena aku akan malu,"


"Kenapa?"


"Ya malu aja, jangan bertanya lagi,"


"Ya sudah kau tidak perlu menjawabnya,"


"Kenapa?"


"Karena aku sudah mengetahui jawabannya dari mimik mukamu yang berseri-seri itu,"


Blush...


"Sudah tahu kalau aku akan malu, seharusnya kau berpura-pura tidak tahu," sungut Jenny.


Jeffrey terkekeh geli melihat ekspresi muka Jenny yang cemberut seraya memanyunkan bibirnya.


"Lagi-lagi kau menggodaku dengan bibirmu, apa kau ingin kita melakukannya disini? Sepertinya sensasinya akan berbeda jika melakukannya di kamar Rumah Sakit," goda Jeffrey seraya mengusuk-usukkan gemas hidungnya ke hidung Jenny.


Blush...


Lagi-lagi Jenny merasa malu dengan ucapan frontal Jeffrey. Dia sedikit beringsut menjauh dari tubuh Jeffrey.


"Jangan coba-coba kau lakukan itu, atau aku akan menendang adik kecilmu itu," sungut Jenny sedikit mengancam yang langsung membuat Jeffrey kembali mengulas senyuman.


"Jangan lakukan itu lagi, karena itu sangat menyiksaku, waktu itu aku bahkan tidak yakin apakah adik kecilku ini bisa berfungsi lagi setelah kau tendang, tapi syukurlah ternyata masih sangat berfungsi setelah aku coba ke kamu," ucap Jeffrey yang mengingatkan Jenny pada kejadian di masa lalu.


"Apakah benar-benar sakit? Maafkan aku, tapi kau dulu memang sangat sangat sangat menyebalkan, jangan sepenuhnya menyalahkanku," Jenny membela diri.


Lagi-lagi Jeffrey terkekeh. "Tidak aku tidak menyalahkanmu, mungkin itu mang pantas aku dapatkan, maafkan aku," balas Jeffrey lalu menarik kembali tubuh Jenny kedalam dekapannya.


"Aku juga minta maaf," Jenny semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat suaminya.


"Hmmm, beruang kutub aku mohon jangan ceritakan ke para orangtua kita ya tentang apa yang baru saja aku alami hari ini," pinta Jenny sungguh-sungguh.


"Memang kenapa lagi?"


"Aku hanya tidak ingin membuat orang tua kita khawatir. Lagian aku juga sudah tidak apa-apa kan?" jelas Jenny.


"Hm, baiklah. Kau memang selalu begitu," timpal Jeffrey menyetujui.


Bersambung~~


Untuk para pembaca yang tersayang mohon untuk dukungannya dong..🥺 Biasakan tinggalkan like lah minimal jika komen, gift, dan vote terlalu berat. Dukungan kalian merupakan sokongan semangat terbesar bagi Author.


Terus terang sudah 1 bulan ini mood Author benar-benar buruk, ditambah lagi waktu kerja yang terlalu over time, sehari bisa tidur 3-4 jam sudah sangat bagus. Tapi tetap saja tubuh dan otak masih sangat terasa lelah. Sehingga membuat semangat menulisku berkurang. Tapi dengan tidaknya kalian menjadi Silent Reader bisa menambah semangatku dalam menulis.


Terus maaf ya jika disini ceritanya tidak begitu menarik dan narasinyapun tidak mengena di hati. Karena ya itu, mood author terus naik turun. Kalau pas lelah gitu ingin rasanya ingin sekali aku berhenti menulis. Tapi aku kembali mengingat, meskipun hanya segelintir masih ada para reader setia yang selalu menyimak ceritaku. Jadi kalianlah yang membuatku terus menulis di sini.


Sekali lagi Nofi juga ingin mengucapkan terima kasih bagi para Author kece yang selalu memberi suport pada setiap bab ceritaku, karena kalian aku seperti memiliki teman baru yang sefrekuensi🤣. Dan Nofi juga ingin mengucapkan terimakasih kepada para Reader setia.🥰🙏







__ADS_1




__ADS_2