
Penguasa cahaya yang seharian berdiri gagah di singgasana kebesarannya mulai kembali ke peraduan. Semburat sisa-sisa anak cahayanya membawa senja keemasan yang senantiasa menyelimut langit sebagai pergantian siang ke malam.
Di sebuah area luas tempat pembuangan mobil bekas yang terletak di pinggiran kota London. Daerah yang sedikit jauh dari kawasan permukiman warga sekitar. Empat pemuda yang berada dalam satu atap mobil sedang tampak serius. Mereka adalah Jeffrey, Sean, Sammy, dan Alvin.
"Apa kau yakin kau akan masuk sendirian?" tanya Sean berharap Jeffrey mempertimbangkan kembali niatnya itu.
"Bajingan mesum itu menyuruhku untuk datang sendirian jika menginginkan Jenny selamat," jelas Jeffrey yang tidak bisa menutupi kecemasan di sela amarahnya.
"Terus untuk apa kau menyuruh kami ikut denganmu? Jangan bilang kau menyuruh kami hanya untuk menjaga mobilmu kesayanganmu ini. Ah..! Nggak seru kan jadinya. Padahal aku sudah menyiapkan jurus turun temurun dari nenek moyangku untuk menghajar para preman di dalam," celetuk Sammy yang langsung mendapat tempelengan brutal dari Jeffrey, Sean, dan Alvin secara bergantian.
"Lag-lagi kepalaku menjadi sasaran kalian. Aku yakin bentuk kepalaku sudah tidak simetris lagi," sungut Sammy seraya mengusap kepalanya yang bernasib peyang.
"Di situasi gawat seperti ini bisakah kau sedikit lebih serius?" sergah Alvin dengan tatapan tajam. Sedangkan Jeffrey dan Sean hanya bisa menghela napas kasar seraya menggelengkan kepalanya.
"Buat apa aku memanggil kalian jika tidak membutuhkan bantuan," sanggah Jeffrey.
"Kalau dilihat dari tangkapan Video Call tadi, sepertinya Jenny disekap di dalam ruangan. Tapi aku juga tidak tahu pasti. Aku akan segera masuk ke dalam dan kalian lindungi aku dengan mengawasi semua pergerakan anak buahnya secara sembunyi-sembunyi," Jeffrey mengintrupsi.
°°°
Di dalam sebuah ruangan kecil. Ruangan yang diselimuti aroma lembab dan pengap yang begitu menusuk indera penciuman.
"Jangan mendekat! Menjauhlah bajingan!" hardik Jenny seraya melangkah mundur membuat jarak antara tubuhnya dan Diven.
"Menurutlah sayang, aku akan mengembalikanmu kepada keparat itu setelah mendapatkan file tersebut dan juga tentunya setelah menikmati tubuhmu," seringai Diven dengan mimik muka cabulnya.
Dia berulang kali menelan cairan salivanya ketika melihat belahan dada Jenny di balik kemeja yang sempat dirobek paksa olehnya.
Langkah mundur Jenny terhenti ketika tubuh belakangnya sudah membentur dinding. Menyadari jarak tubuh Diven semakin terkikis, wanita blonde itu berlari kesamping menuju pintu keluar berniat melarikan diri, namun pergerakan tubuhnya kalah cepat dengan pria mesum yang sudah mencengkram lengannya lebih dahulu dan mendorongnya hingga kembali membentur dinding. Pria itu mengunci kedua tangan Jenny ke atas sehingga mengikis ruang geraknya.
Dengan hasrat yang sudah menggebu Diven menempelkan tubuhnya ke tubuh Jenny.
"Apa kau tidak bisa merasakannya, tubuhku selalu bereaksi jika berdekatan denganmu," bisiknya penuh nafsu. Lidahnya pun mulai memainkan perannya. Menjilat telinga Jenny hingga basah.
"Kyyaaakkk! Jangan lakukanku itu brengsek! Kau sungguh menjijikkan," pekik Jenny seraya berontak sekuat tenaga.
"Lakukan sekali saja denganku, kau pasti akan ketagihan," rayu Diven dengan suara parau karena sudah terpengaruh nafsu libido-nya.
"Aku lebih baik mati dari pada harus melakukannya dengan bajingan sepertimu, cuih!" hardik Jenny kemudian meludahi muka Diven yang berada tepat di depannya.
"Beraninya kau bertindak kurang ajar kepadaku?!" Diven yang sudah terpancing emosi mencengkram kedua pipi Jenny dengan kasar.
Tercekat, tubuh kecil Jenny sempat bergetar. Di balik tatapan berani dan sikap tegarnya, terselip rasa cemas yang begitu menderu jiwanya. Ia takut, Diven akan melukai janin yang ia kandung. Janin yang baru berusia 5 minggu tapi begitu mudah dan cepatnya perasaan kasih sayang itu tumbuh untuknya.
"Baiklah jika itu maumu, jangan salahkan aku jika aku bermain dengan kasar," kecam Diven dengan jemarinya yang naik turun dari leher ke dada Jenny.
"Jangan! Jangan lakukan itu, aku sedang hamil," pinta Jenny dengan kedua netra yang sudah berkabut.
Alih-alih mendengarkan atau iba, Diven justru semakin menggencarkan aksi birahinya. Ia mendaratkan ciuman brutal di muka Jenny. Pemberontakan dan penolakan yang dilakukan Jenny seolah tak mampu memangkas hasrat Diven yang sudah memuncak.
Remasan pada buah dadanya terasa sangat sakit. Sungguh harga diri Jenny bagaikan terinjak-injak dan hancur seketika. Mukanya yang cantik sudah basah akan air mata. Dia berkali-kali berdoa bahwa Jeffrey segera datang menolongnya. Hingga akhirnya..
"Aarrrrggggg!" Suara teriakan Diven menggema memenuhi langit-langit gudang yang seketika menarik perhatian anak buah Diven yang kebetulan sedang berjaga di depan pintu.
Beberapa anak buah yang berparas dan berpenampilan khas preman itu terperangah melihat kondisi bosnya yang sedang berguling meringis kesakitan di atas lantai dengan menangkup alat vitalnya. Keterkejutan mereka semakin bertambah ketika menyadari daun telinga Diven yang berlumuran darah dan hampir terputus.
"Jangan biarkan dia kabur!" titah Diven kepada anak buahnya yang menyadari Jenny berniat memanfaatkan situasi untuk melarikan diri.
Dengan cekatan, salah satu preman bertubuh kekar mencengkram tangan Jenny dengan kuat hingga tubuh kecilnya tak bisa lagi berkutik.
__ADS_1
Plak! Plak!
Dua tamparan keras langsung mendarat sempurna hingga meninggalkan cap 5 jari di kedua pipi Jenny.
"Seret dan masukkan dia ke tempat itu," titah Diven dengan amarah yang memuncak akibat tindakan berani Jenny yang mencederai telinganya serta meninggalkan rasa ngilu yang teramat besar di batangnya yang seketika layu dibayar kontan. Nafsu yang awalnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun seketika menguap tak tersisa.
°°°
"Tidak ku sangka kau berani datang sendiri," Diven mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan Jeffrey memang datang seorang diri.
Dia tidak menyadari bahwa ketiga sahabat Jeffrey sedang bersembunyi di balik salah satu mobil rongsokan yang berada tidak jauh dari sana.
"Dimana kau sembunyikan dia?" tanya Jeffrey yang tidak menemukan sosok Jenny di sekitar Diven.
Alih-alih langsung menjawab, Diven malah tertawa keras. Setelah menikmati gelak tawanya yang sesaat Diven seketika memasang muka bengisnya.
"Aku sedang menghukumnya di suatu tempat karena berani melukaiku,"
"Lepaskan wanitaku sekarang," Jeffrey memasang muka super dingin dengan tatapan tajam mengkilat. Cemas, saat ini dia sangat mengkhawatirkan keadaan Jenny dan calon bayinya.
"Serahkan dulu semua bukti-bukti file video yang kau bawa,"
"Tidak, sebelum aku yakin wanitaku baik-baik saja,"
"Wanitamu akan baik-baik saja selama kau tidak mengulur-ulur waktu. Saat ini kau membutuhkan kunci ini untuk mengeluarkan Jenny dari mobil box pendingin. Maka dari itu serahkan bukti-bukti itu padaku sekarang jika kau menginginkan kunci ini, kau tidak ingin melihatnya mati membeku bukan?" ucap Diven seraya memutar-mutar sebuah kunci di jari telunjuknya.
Suara gemertak gigi yang terdengar samar dan kedua tangan yang mengepal erat sebagai tanda bahwa Jeffrey sedang menahan amarahnya saat ini. Dia benar-benar tidak ingin ceroboh dalam bertindak.
Saat ini Jeffrey memang tidak punya pilihan. Dengan sedikit ragu ia menyerahkan flash diks kepada salah satu anak buah Diven yang juga berada di sana.
"Ini kuncinya, kau bisa mengambilnya," Diven menjatukan kunci tersebut tepat di bawah kakinya. Saat ini dia sangat ingin melihat Jeffrey berlutut di kakinya.
"Aku ingin kau mengambil kunci ini sambil berlutut di kakiku," seringai Diven mencemoh.
"Ayolah, apa kau masih akan terus mempertahankan harga dirimu yang selangit itu di saat nyawa wanitamu terancam?"
Dengan berat hati, akhirnya Jeffrey mengesampingkan harga dirinya demi keselamatan Jenny dan bayi yang dikandungnya. Ia melangkah mendekat ke arah Diven yang sedang berdiri di depan bemper mobilnya.
Kalau saja Jenny tidak dalam bahaya mungkin sudah dipastikan ia akan mencabik-cabik pria mesum yang sedang berdiri di depannya saat ini.
Jeffrey mulai membungkuk dan siap mengambil kunci yang berada di kaki Diven. Tanpa ia sadari Diven telah memberi isyarat kepada para anak buahnya hingga akhirnya sebuah pukulan benda tumpul mendarat keras di punggung Jeffrey, membuat tubuhnya bersimpuh pada tumpuan kedua lututnya.
"Hahaha! Kau pikir akan semudah itu hah?!" Diven menyeringai tajam.
"Kasih dia pelajaran!" titah Diven kepada para preman. Sejurus kemudian ia masuk ke dalam mobilnya.
Anak buah Diven yang terdiri dari 8 preman itu mulai beraksi menjalani titah si bos.
"Angkat tangan kalian!" teriak seseorang kontan mengehentikan aksi para preman yang belum sempat terlaksana itu.
Jeffrey yang melihat ada cela langsung mengambil kesempatan untuk meraih kunci yang masih tergeletak di atas tanah. "Aku akan menyelamatkan Jenny, mereka aku serahkan kepada kalian," ucap Jeffrey sebelum akhirnya pergi meninggalkan segerombolan orang tersebut.
Dari arah lain, tampak Sammy menodongkan sebuah senjata api berlaras pendek ke arah para preman. Dari belakang Sean dan Alvin juga berjalan mengikuti Sammy.
"Jatuhkan senjata kalian kalau tidak ingin aku tembak satu persatu burung perkutut kalian!" gertak Sammy yang sontak membuat para preman ketakutan lalu menjatuhkan senjatanya.
Sean yang menyadari Diven hendak kabur langsung mendekati mobilnya dan membuka pintunya yang kebetulan belum terkunci, lalu menyeret keluar si pemilik mobil dan melemparnya ke tanah hingga jatuh tersungkur dengan sangat tidak elit-nya. Ia mengambil tali yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri sejurus kemudian mengikat tubuh Diven agar tidak bisa kabur.
Sementara Sammy tampak mendekati sederetan para preman dengan senjata pistol yang masih bersemayam di tangannya.
__ADS_1
"Sam, jangan gegabah, kembalilah!" pinta Alvin setengah berbisik. Entah mengapa kali ini firasatnya berkata buruk.
"Kau tenang saja, aku bisa mengatasi mereka dengan sangat mudah, kyakkkk!" belum selesai Sammy berbicara, Sammy dibuat terkejut luar biasa hingga hampir terkencing di celana ketika salah satu preman yang bertato Helloy Kitty di lengan kirinya telah berhasil mengambil alih pistol dari tangan Sammy dan balik menodong senjata api tersebut ke arah Sammy dan kawan-kawan.
"Hahaha! Ucapkan kata perpisahan terakhir untuk burung pipitmu itu, karena aku akan menembaknya dan ku jadikan santapan kucing liar," gertakan preman bertato Hello Kitty itu sontak mengundang gelak tawa para preman yang lain.
"Enak saja kau bilang burung pipit! Punyaku sebesar burung unta asal kau tahu!" seru Sammy yang tidak terima.
"Diam!" tubuh Sammy terlonjak karena kaget.
Sean dan Alvin yang melihat kecerobohan Sammy langsung memijit pelipisnya yang terasa pusing. Sepertinya kali ini mereka harus menyiapkan diri dan tenaga ekstra untuk melawan para preman tengik yang sepertinya berbulan-bulan tidak mandi.
Preman bertato Hello Kitty mengarahkan pistolnya ke arah burung Sammy dan mulai menarik pelatuk. Kedua mata Sammy membulat sempurna ketika moncong pistol sudah menempel tepat di batang sosisnya. Ia merasa gugup dan tegang begitupun Sean dan Alvin yang sedang menyaksikan burung si Sammy siap-siap di eksekusi.
Tanpa merasa ragu preman Hello Kitty menarik pemicu pistol dengan cepat tapi semuanya dibuat tercengang ketika melihat bukan peluru yang keluar dari moncong namun gelembung-gelembung bening yang berterbangan di udara dengan cantiknya.
°°°
Di dalam sebuah box mobil besar yang merupakan tempat khusus untuk menyimpan segala jenis makanan beku, Jenny tampak menggigil karena suhu dingin yang menusuk daging hingga ke tulang-tulangnya. Muka cantiknya yang merona mulai berubah pucat. Bibirnya yang ranum sudah membiru.
Tidak ingin hanya berdiam saja, saat ini ia butuh seseorang yang bisa mengeluarkannya. Ia beberapa kali menggedor-gedor pintu box mobil dengan sisa-sisa tenaganya.
Dok! Dok! Dok!
"Tolong...! Siapa saja yang di luar tolong keluarkan aku dari sini! Hiks! Hiks! Tolong aku..."
Dok! Dok! Dok!
"Tolong..! Hiks! Beruang kutub kau dimana? Tolong aku!" teriakan histeris Jenny begitu menggema di dalam box.
Jenny masih terus berteriak meminta pertolongan namun belum juga ada sinyal-sinyal bantuan dari luar. Hingga tenaganya yang kian terkikis dan suhu tubuhnya yang sudah seperti mayat hidup membuat ruas-ruas tulang kakinya tidak mampu lagi menompang tubuhnya hingga akhirnya ambruk begitu saja.
Dok! Dok! Dok!
Usaha Jenny masih berlanjut meskipun kekuatan hantaman tangannya terhadap dinding box mobil kian melemah.
°°°
Jeffrey menyusuri setiap sudut area pembuangan mobil bekas dengan perasaan gusar. Hingga akhirnya sepasang mata elangnya menangkap sebuah mobil box pendingin yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ia gegas berlali dengan cepat dan berusaha membuka pintu box dengan gerakan cepat karena tidak ingin membiarkan Jenny terlalu lama di dalam sana.
"Jenny?! Apa kau baik-baik saja?! teriak Jeffrey yang melihat Jenny menggigil hebat dalam kondisi setengah sadar.
"Beruang kutub, akhirnya kau datang, aku sangat ketakutan! Hiks! Hiks!" Jenny langsung memeluk tubuh Jeffrey, menumpahkan segala ketakutan dan kecemasannya.
"Aku sangat kedinginan," suara Jenny terdengar bergetar karena udara dingin hampir membekukan semua saraf pada tubuhnya.
"Tenanglah, selama ada aku, kau akan baik-baik saja," Jeffrey lantas membopong tubuh istrinya menuruni box mobil dan membawanya pergi. Namun di tengah perjalanannya menuju mobil, langkahnya terhenti karena melihat ketiga sahabatnya berlari tunggang langgang menghindari kejaran dari para preman.
Bersambung~~
Maaf ya, jika ceritanya semakin membosankan🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, atau gift dan vote ya..🥰
Please, minimal like aja nggak apa-apa. Itu juga sudah termasuk menghargai karya Author yang seperti kulit kuaci tengik ini.
Untuk para Author yang karya kecenya belum Nofi kunjungi, sabar ya.. Akhir-akhir ini semakin disibukkan dengan kegiatan RL. Tapi tenang saja, Nofi bakal tetap lanjut baca karya keren kalian kok😉
__ADS_1
TERIMAKASIH🥰