Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Di kediaman Emy.


Jenny dan Jeffrey turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju pelataran rumah Emy. Namun langkah keduanya tiba-tiba terhenti ketika disodori pemandangan yang bisa membuat hati siapapun menghangat ketika melihatnya.


Iya, disebuah bangku panjang yang terletak di teras rumah tampak Darren sedang tertidur di pangkuan Emy. Kedua manusia Ibu dan anak tersebut tampak menikmati kebersamaan yang baru saja terjalin dengan rekat.


Darren tampak menikmati setiap sentuhan lembut tangan Emy yang tak henti-hentinya mengusap rambutnya.


Apa yang dirasakan Jenny? Bukan rasa cemburu ataupun iri, melainkan rasa haru yang sudah membiru pekat seketika menyelimuti hatinya. Sungguh, ia seolah lupa akan perbuatan sang Kakak yang pernah membuatnya tersiksa karena telah memisahkan dia dengan Jeffrey, suami tercinta. Kecewanya luruh begitu saja, tergantikan oleh rasa bahagia, kasih dan sayang.


Jenny menautkan matanya ke arah Jeffrey.


"Maafkan akan kesalahan Kakakku kepadamu ya, aku mohon jangan membencinya," pinta Jenny yang membuat Jeffrey membalas tautan mata Jenny.


"Apa yang kau pikirkan sayang? Aku sudah memaafkannya. Dia juga masih Kakakku yang dulu," balas Jeffrey penuh ketulusan.


Seutas senyuman tampak menghiasi muka cantik Jenny. "Terima kasih," lirihnya.


"Dasar wanita aneh, kenapa kau berterima kasih untuk hal ini?" Jeffrey mengayak gemas rambut Jenny.


Sejurus kemudian, Jenny mulai mendekati Emy dan Darren. Dia sudah tidak tahan, kali ini ia juga ingin ikut merasakan kebahagiaan di antara mereka.


"Mama...," Jenny berhamburan memeluk Emy yang langsung disambut senyuman hangatnya.


"Sayang, kau datang bersama siapa?" tanya Emy yang langsung mendapat jawaban ketika melihat Jeffrey menyusul Jenny dari belakang.


Sementara Darren langsung terbangun dari tidurnya dan berpindah dalam posisi duduk. Sebenarnya pria itu tidak sepenuhnya tertidur. Ia hanya sedang memejamkan mata, menikmati sentuhan sang Mama yang mungkin setelah ini tidak akan dia dapatkan lagi dalam waktu yang lama.


"Hei, apa diam-diam Kakak ingin merebut Mama dariku?" seloroh Jenny yang langsung memeluk Emy dengan posesifnya seraya memicingkan kedua mata.


Darren langsung mencubit kedua pipi Jenny dengan gemas. "Ternyata adikku ini sungguh pelit sekali," ia tersenyum gemas.


Darren seketika terpaku ketika sang adik tiba-tiba menatap muka tampannya begitu lekat. Mimik muka jenny sungguh tak terbaca. Ia merasakan kehangatan ketika Jenny menggenggam tangannya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Hm?" Darren merasa heran.


Alih-alih langsung menjawab, Jenny malah memeluk tubuh Darren yang selama ini sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri jauh sebelum ia tahu bahwa sebenarnya Darren memang Kakak kandungnya.


"Terima kasih," lirihnya.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Darren heran.


"Terima kasih karena Kakak masih memiliki rasa manusiawi. Terima kasih karena Kakak sudah merawat Jeffrey selama ia koma hingga sadar. Dan terima kasih karena Kakak terlahir untuk menjadi Kakakku," ucap Jenny tulus yang semakin menenggelamkan mukanya di dada Darren.


Deg!


Dada Darren berdenyut dalam. Sungguh, hatinya merasa tercubit karena ucapan Jenny. Setelah apa yang ia lakukan, bukankah kata-kata sumpah serapah yang pantas untuknya. Akan tetapi semuanya di luar dugaan, ia justru mendapat ucapan terima kasih yang terdengar begitu tulus. Kasih sayang yang tersirat di dalam setiap untaian katanya begitu terasa.


"Aku tak tahu, sebenarnya terbuat dari apa hatimu ini adik?" ucap Darren dengan kekaguman akan sifat Jenny yang berhati emas.

__ADS_1


"Bisakah kalian akhiri adegan pelukannya sekarang juga?" sergah Jeffrey yang langsung menampik tangan Jenny untuk segera melepas tangannya yang masih memeluk Darren.


"Kak, kau harus ingat dia itu istriku. Kau tidak boleh asal memeluknya," dengus Jeffrey yang tak menghiraukan bahwa dia sedang berada di depan mertuanya sekarang.


"Jangan bilang kau sedang cemburu?" sela Jenny mencebik.


"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka saja jika kau bersentuhan dengan pria lain. Meskipun ia Kakakmu sendiri," kilah Jeffrey yang gengsi untuk mengakui kecemburuannya.


"Hiishh! Terus itu apa namanya kalau bukan cemburu?" cebik Jenny kembali.


Darren dan Emy hanya bisa mendengus geli melihat perdebatan ringan antara sepasang suami istri tersebut. Bagi mereka ada kesenangan sendiri melihat Jeffrey dan Jenny yang sering berdebat namun tidak mengurangi sedikitpun kemesraan mereka.


"Kau tidak berhak melarangku. Aku bahwa diperbolehkan mencium pipinya karena Jenny adikku," Jeffrey seketika memasang muka masam semasam jeruk nipis. Ketara sekali bahwa ia tidak menyukai perkataan Darren.


Darren seketika tergelak mendapati mimik muka tidak suka Jeffrey yang terlihat lucu.


"Oya, Ma, Kak, Jenny datang membawa kabar buat kalian," ucap Jenny yang tampak berseri.


"Apa sayang? Dari mukamu yang tampak berseri sepertinya kau membawa kabar gembira," sahut Emy.


Jenny merangkul bahu Darren penuh sayang. "Sebentar lagi, Kak Darren akan menjadi Paman,"


Sesaat Darren dan Emy terlihat mencerna perkataan Jenny.


"Apa berarti Mama juga akan menjadi Nenek?"


Jenny mengangguk senang. "Iya Ma, Jenny positif hamil,"


"Mama kok bilang aku seperti kutu loncat sih?" protes Jenny tidak terima.


Sedangkan Darren tampak mendekatkan mukanya ke perut Jenny yang masih rata dan mulai berbisik. "Keponakan Paman tidak boleh nakal ya di dalam sana. Maafkan Paman karena nanti kita tidak bisa langsung bermain bersama saat kau lahir nanti, tapi Paman janji akan membelikan banyak mainan untukmu kelak,"


Bisikan Darren yang tentu masih terdengar oleh Jenny, Jeffrey, dan Emy membuat ketiganya bertanya-tanya.


"Kakak kok berkata seperti itu? Emang Kakak mau kemana?" tanya Jenny yang tampak mengerutkan keningnya.


"Iya sayang, kau nggak akan kemana-mana kan?" sela Emy dengan perasaan yang sama dengan Jenny.


"Kenapa kau berkata seakan kau akan pergi jauh?" Jeffrey juga menyela seraya bersedakap. Dia tampaknya juga tidak senang dengan ucapan Darren.


Darren hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan orang-orang yang masih diliputi rasa ingin tahu. Lantas ia melirik ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya.


"Ma, Jenn, Jeff. Maaf aku sepertinya harus pergi sekarang," ucap Darren. Ia melirik ke arah luar perkarangan yang ternyata Natalie sudah menunggu disana.


"Iya sayang, hati-hatilah di jalan ya," tutur Emy penuh perhatian.


Darren hanya mengangguk seraya tersenyum simpul. Ia menatap satu persatu orang yang berada bersamanya saat ini. Sekilas, sorot matanya melukiskan sebuah kesenduan.


"Semoga setelah aku menebus semua kesalahanku, kita bisa kembali berkumpul dan hidup bahagia," batin Darren berdoa.

__ADS_1


。。。


"Apa kau tidak bisa mengurungkan niatmu itu? Bukankah keluargamu sudah memaafkanmu? Dan belum lama ini kau menjalani operasi ginjal, kesehatanmu masih harus diperhatikan dengan ketat," Natalie tampak berurai air mata dan berusaha membuat Darren menarik kembali keputusannya. Sungguh saat ini rasa khawatir begitu menyelimuti hatinya.


"Aku akan selalu diliputi rasa bersalah jika tidak melakukannya,"


"Apakah kau juga pernah merasa bersalah ketika kau lebih memilih menggapai ambsimu dengan mengesampingkan perasaan cinta kita? Aku yakin tidak,"


Darren tertunduk. "Maafkan aku," sesal Darren.


Dulu Darren memang sempat menjalin hubungan dengan Natalie, wanita yang terpaut usia tiga tahun lebih tua darinya. Wanita yang juga bekerja sebagai asisten pribadinya. Namun karena egonya yang lebih mementingkan ambisinya dia mengorbankan cintanya.


"Sebenarnya aku masih mencintaimu," lirih Darren tanpa melihat ke arah Natalie.


"Aku tahu itu," Darren sontak menautkan tatapannya ke mata coklat Natalie.


"Tapi aku berharap kau bisa hidup bahagia dengan seorang pria yang jauh lebih baik daripada aku," ucap Darren.


"Tidak, aku akan menunggumu karena aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu,"


"Kau tidak akan hidup bahagia denganku, karena aku calon penghuni sell deruji besi dalam hitungan menit," Darren tampak putus asa.


"Aku akan tetap setia menunggumu hingga kau bebas dari penjara,"


Darren malah membisu. Dia tidak tahu, haruskan ia berbahagia atau bersedih. Bahagia ada seorang wanita yang selalu mencintainya dengan tulus. Bersedih karena lagi-lagi ia membuat wanita itu harus lebih lama menunggunya.


"Apa kau tidak ingin memelukku untuk terakhir kalinya," ucap Natalie yang masih sesenggukan.


Tidak ingin membuat Natalie menunggu terlalu lama, Darren mendekat dan langsung memeluk erat tubuh Natalie. Meletakkan dagunya pada pucuk kepala Natalie seraya memejamkan mata dan diikuti buliran bening yang menerobos pelupuk matanya.


"Maafkan aku, karena telah menyakitimu,"


Darren mengurai pelukannya, menatap lekat netra Natalie yang masih basah. Jari-jari besarnya menyapu air mata yang membasahi muka cantik Natalie. Seakan tidak rela air mata kesedihan menyentuh mukanya.


"Jika kau sudah tidak kuat menunggu lama, kau boleh meninggalkanku. Hiduplah bahagia dengan pria lain,"


"Apa kau meragukanku?" Natalie tampak kecewa.


"Maaf,"


"Sepertinya rasa cintamu memang tidak sebesar rasa cintaku. Nyatanya kau rela melihatku dengan pria lain," Natalie memutar tubuhnya membelakangi Darren.


"Bukan seperti itu sayang, justru aku sangat mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia," sanggah Darren yang langsung mendekap tubuh Natalie dari belakang. Ia merasakan tubuh Natalie yang berguncang karena menangis.


Darren memutar tubuh Natalie untuk menghadapnya. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bersama pria lain. Tolong bersabarlah dan tunggu aku bebas. Dan pada saat itu aku akan melamarmu,"


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2