
Di dalam salah satu kamar VIP Rumah Sakit, seorang wanita dengan muka sendunya tengah duduk di atas ranjang perawatan. Pandangannya yang sayu masih enggan beralih dari jendela kamar yang memperlihat pemandangan di luar gedung.
Langit kota London terlihat muram, awan-awan hitam mulai menggelayut manja dan siap memuntahkan isi perutnya. Kilatan cahaya serta suara gemuruh cambukan petir seolah ikut menyambut hari yang suram.
Pemandangan gelap di luar seolah menggambarkan suasana hati wanita yang sedang dirundung kesedihan. Sepasang telaga beningnya kembali menumpahkan sumber mata air yang diikuti rintikan air hujan yang membasahi bumi.
Satu hari setelah insiden penculikan yang menyebabkan Jenny kehilangan janinnya, ia masih tenggelam di laut kesedihan. Bahkan ia sempat mengalami shock dan menolak untuk percaya bahwa ia sudah kehilangan janinnya. Ia juga Beberapa kali menyalahkan dirinya karena gagal menjadi orang tua. Rasa sesal kian menderu dikala sebuah ketakutan dan kekhawatiran kalau dia tidak akan bisa hamil lagi mulai menyelubung hatinya.
Jeffrey yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang Jenny menatap nanar keadaan istrinya saat ini. Sama halnya dengan Jenny, ia juga tak kalah sedih, hatinya juga sakit karena kehilangan calon anaknya.
Baru sekejap ia merasakan kebahagiaan akan harapan kehadiran malaikat kecil di dalam biduk rumah tangganya, namun dalam sekejap pula kebahagiaan itu hanyut, melebur ke dalam dasar lautan angan-angan dan sirna begitu saja. Dan kesedihannya kian mencuat ketika melihat kondisi psikologis Jenny yang terlihat sangat terpukul. Perih yang dirasa seolah mengalahkan ribuan jarum tak kasat mata yang menembus dadanya.
"Sayang, kau belum makan, setidaknya isi perutmu meski sedikit, Mama Emy tahu makanan di Rumah Sakit terasa hambar, itu sebabnya ia sengaja membawakan makanan kesukaanmu," tutur Jeffrey seraya mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
Sedangkan Emy dan Addy yang memang berada di ruangan yang sama hanya bisa menatap sendu putri mereka. Sebagai orang tua, merekapun ikut merasakan kesedihan putri semata wayangnya itu. Keduanya bahkan harus kehilang calon cucu di saat mereka belum sempat mengetahui kabar kehamilan Jenny.
Jenny melirik ke arah Jeffrey sekilas lalu kembali menautkan pandangannya ke arah jendela kamar.
"Bisakah aku memakannya ketika aku sudah lapar? Demi Tuhan, aku sangat tidak ingin makan saat ini," jawab Jenny tanpa melihat ke arah Jeffrey. Ia pun kembali terisak. Bahkan mata sembab akibat sisa menangisnya semalaman belum juga menghilang tapi ia harus kembali menangis lagi.
Dada Jeffrey berdenyut dikala melihat sang istri kembali beruraikan air mata. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah kecil Jenny. Ia menatap lekat sepasang iris biru yang terlihat sayu itu.
"Jangan terlalu lama bersedih sayang, malaikat kecil kita sudah berada di tempat terindah di surga. Dia juga akan sedih jika melihatmu sedih seperti ini," Jeffrey mencoba menenangkan seraya mengusap butiran kristal yang membasahi pipi Jenny.
"Andai aku lebih berhati-hati, pasti dia masih berada di dalam sini, di perutku," ucap Jenny sesenggukan seraya menunjuk ke perutnya.
"Aku memang calon ibu yang buruk! Aku gagal menjadi orang tua, ini semua salahku" tangis Jenny semakin pecah.
Jeffrey benar-benar tidak tahan melihat psikis Jenny yang sangat tergoncang. Suami mana yang tak sakit melihat kesedihan istrinya yang begitu mendalam. Tanpa ia sadari, buliran asin turut membasahi muka tampannya.
Tidak hanya Jeffrey, Emy juga tampak berkali mengusap air mata yang masih terus menganak sungai di mukanya, sedangkan Addy hanya bisa menenangkan sang istri dengan terus mengusap punggung wanita yang terasa bergetar.
Jeffrey beranjak dari duduknya lalu memeluk tubuh Jenny yang masih bergetar tak beraturan.
"Tidak, ini semua sama sekali bukan salahmu tapi ini memang sudah garis takdir yang sudah tertulis, aku mohon bersabarlah. Bukankah kau kucing kecilku yang kuat?" tutur Jeffrey, sesekali mengecup pucuk kepala Jenny.
Ketika dirasa Jenny terlihat mulai tenang, Jeffrey mengurai pelukannya lalu mencium hangat buku-buku jari Jenny. "Kau belum makan dari pagi, aku mohon makanlah, kau harus cepat pulih. Kau harus menyayangi dirimu seperti halnya kau menyayangi malaikat kecil kita yang sudah bahagia di atas sana," pinta Jeffrey selembut mungkin.
Jenny mengangguk pelan. "Baiklah,"
Jeffrey mengulas senyuman tipis, lalu ia mengambil makanan dari atas nakas dan dengan tlaten menyuapi Jenny.
"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Jenny setelah selesai makan.
__ADS_1
Seutas senyuman terulas di bibir Jeffrey. Dia benar-benar kagum kepada sosok wanita yang telah menjadi ratu di hatinya itu. Di saat dia masih dirundung duka kesedihan tapi masih sempat memikirkan orang lain.
"Keadaan Daddy sudah lebih membaik, semalam ia sudah sadar dari komanya,"
"Aku ingin menjenguknya sekarang,"
"Apa kau yakin? Tubuhmu masih lemah,"
"Aku tidak apa-apa, tolong antar aku ke ruangannya ya,"
"Baiklah,"
°°°
Di kamar tempat Darwin di rawat. Briana dan Darren tampak sedang menemani Darwin yang baru saja selesai menjalani pemeriksaan Dokter. Perhatian mereka tiba-tiba beralih ke arah kedua sosok yang baru saja memasuki ruangan.
"Sayang, kenapa kau kesini? Bukannya kau harus beristirahat dulu?" ucap Briana dengan raut muka cemas. Gurat kesedihan juga masih terlihat dimukanya mengingat ia baru saja kehilangan calon cucunya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Darwin dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Jenny baik kok Dad, Daddy bagaimana keadaannya?"
"Seperti yang kau lihat sekarang, bukankah Daddy terlihat sangat sehat?" Darwin mencoba mencairkan suasana agar tidak larut dalam kesedihan. Bagaimanapun juga dia tidak ingin membiarkan semua orang termasuk dia sendiri terlalu larut dalam kesedihan.
Suasana ruangan kamar tempat Darwin dirawat terasa hangat. Obrolan ringan mewarnai kebersamaan mereka, meski gurat kesedihan masih terlihat jelas di muka Jenny, namun setidaknya sedikit senyuman mulai terulas di bibirnya.
"Mommy, bisakah Jenny berbicara sebentar dengan Mommy?" pinta Jenny.
"Ada apa sayang? Bicaralah di sini," sahut Briana.
Jenny menggeleng. "Kita bicara di luar saja, lagian Daddy juga masih harus beristirahat,"
"Baiklah sayang,"
Briana dan Jenny keluar kamar meninggalkan Darwin, Jeffrey, dan Darren.
"Kau ingin membicarakan hal apa sayang?" tanya Briana setelah mendudukkan bokongnya di bangku tunggu yang terletak di lobby Rumah Sakit.
"Mommy kenapa tidak bercerita ke Jenny bahwa pemuda yang telah ditolong Papa Thomas adalah Jeffrey?" Tanya Jenny menyelidik. Garis-garis kekecewaan tergambar jelas di mukanya.
Briana seketika tertegun mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Jenny. Jeffrey memang sempat bercerita ke dia bahwa Jenny sudah mengetahui tentang perihal tersebut. Dia juga sudah mengira bahwa menantunya itu akan segera menanyakan hal itu, tapi ia tidak menyangka saja kalau Jenny akan bertanya secepat itu.
"Sayang, Mommy tidak bermaksud merahasiakannya darimu, Mommy takut kau akan sangat kecewa kepada Mommy apa lagi kepada Jeffrey. Jadi Mommy sedikit mengulur waktu guna mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu. Sebenarnya Mommy juga baru mengetahui kalau kau adalah putri dari almarhum Thomas, beberapa tahun setelah Papamu meninggal, tepatnya di hari kau menolong Mommy dari mobil yang hampir menabrakku waktu itu,"
__ADS_1
Jenny tampak mengerutkan dahinya, mimik mukanya penuh akan tanda tanya. Menyadari hal itu Briana langsung menceritakan semuanya secara mendetail dan tidak ada satupun yang terlewatkan.
Ia bercerita dari awal mula terjadinya insiden yang merenggut nyawa Thomas, tentang keberadaan Jenny yang ditutupi ibu tirinya, hingga Jeffrey yang sempat mengalami trauma berat hingga menyebabkan ia mengidap amnesia psikogenik yang membuat Jeffrey tidak bisa mengingat insiden yang menyebabkan Thomas meninggal.
"Mom, apa benar kalian selalu bersikap baik kepada Jenny hanya semata-mata ingin membalas kebaikan Papa? Apa itu tujuan Mommy memintaku menikah dengan Jeffrey?" tanya Jenny dengan netra yang mulai berkabut. Entah mengapa hatinya terasa sakit menanyakan hal itu. Seakan ia tidak rela bahwa kasih sayang Briana selama ini hanya untuk membalas budi.
Briana sempat tercengang medengar pertanyaan Jenny yang menurutnya sangat di luar nalar.
"Tidak sayang, bukan seperti itu. Jangan sekali-kali kau berpikiran seperti itu. Kalau memang Mommy hanya bertujuan untuk membalas kebaikan Papamu, mana mungkin Mommy ngotot agar kau bisa menjadi bagian dari keluarga Allison? Mommy bisa saja, melakukan cara lain untuk itu. Lagian Mommy tidak mungkin asal menikahkan putra Mommy dengan sembarangan gadis. Asal kau tahu sayang, sebelum Mommy mengetahui fakta bahwa kau putri dari Thomas, hati kecilku ini sudah langsung menyukaimu secara alami di saat kita baru pertama kali bertemu. Mungkin terdengar aneh, tapi memang begitulah kenyataannya," jelas Briana panjang lebar dengan mimik muka penuh akan ketulusan dan keseriusan.
"Sayang, Mommy sungguh minta maaf, Mommy tahu saat ini kau pasti sangat kecewa dengan keluarga kami karena kau harus kehilangan Papamu untuk selamanya di saat kau masih sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya. Tidak apa-apa jika kau ingin menyalahkan kami," sambung Briana penuh sesal.
"Terus terang, Jenny memang sangat kecewa akan fakta kebenarannya, tapi itu sebelum Mommy menjelaskan semuanya," Jenny menjeda ucapannya. Ia menghela napas yang tampak samar lalu melanjutkan kalimatnya.
"Setelah mengetahui semuanya, mana mungkin Jenny menyalahkan kalian sedangkan Jenny sadar bahwa itu semua memang sudah suratan takdir dari Tuhan," Briana seketika merasa lega setelah mendengar pernyataan Jenny yang diluar dugaanya.
"Sayang, terimakasih. Mommy memang tidak pernah ragu dengan kata hatiku yang selalu mengatakan bahwa kau anak yang sangat baik," Briana langsung memeluk tubuh menantu kesayangannya dengan perasaan penuh haru.
"Jangan pernah lupa ya sayang, bahwa selamanya kau tetap menantu kesayangan Mommy. Mommy sudah menganggapmu seperti putri kandungku sendiri. Kasih sayangku ke kamu benar tulus dari hati, bukan karena ingin membalas budi," tutur Briana kembali.
"Terimakasih Mom, Jenny sangat senang mendengarnya," balas Jenny yang tak kalah mengharu biru.
"Mungkin Mommy Briana memang sangat tulus, tapi kenapa aku sangat ragu dengan ketulusan Jeffrey? Aku merasa kebaikannya selama ini memang karena ingin membalas kebaikan Papa," batin Jenny dengan pikiran yang berkecamuk.
Bersambung~~
Yaahh! Ternyata masih membosankan ya? Maaf ya.. Tapi Nofi masih sangat senang karena masih ada beberapa readers yang masih menyimak ceritaku ini dengan setia sampai di bab ini🥰
Nofi kasih sedikit bocoran, insya Allah masih ada satu konflik lagi yang dimana Darren akan menjalani perannya sesuai yang Nofi perintahkan ya🤭
Masih ingatkan sama Darren kan? Dia kakaknya Jeffrey. Tapi sebenarnya dia adalah kakak kandungnya Jenny.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian di karya kentangku ini ya..Like dan komen. Atau kalau ada rejeki lebih boleh dong gift dan votenya juga..
Yaelah, ni minta dukungan apa malak? Maaf ya jika Nofi terkesan maksa. Tapi memang maksa beneran sih🤣🤣
Terimakkasih semuanya🙏 Semoga kalian bahagia selalu🤗
Wo ai nimen❤
Peluk dan kecup basah untuk kalian🤗💋
Salam hangat dari babu Taiwan🥰🙏
__ADS_1