Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Salam Rinduku


__ADS_3

Luke berhenti mendorongan kursi yang diduduki pria yang selalu ia kenal sebagai Nuan tersebut tepat di sebuah bukit kecil yang berada di kawasan pantai Ryde. Bukit yang menjadi salah satu spot incaran para wisatawan pengunjung karena dari sana mereka juga bisa menikmati hamparan bunga liar bluebell serta pemandangan pantai yang begitu eksotis.


"Nuan, ehem! Maksudku Tuan muda Jeffrey," Luke sempat mengoreksi ucapannya sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Tuan, saya juga sempat terkejut mendengar semua cerita dari Tuan Darren tadi, saya benar-benar tidak percaya bahwa ia menyimpan sebuah fakta yang mencengangkan karena selama ini yang saya lihat bahwa ia adalah orang yang selalu hangat kepada siapa saja termasuk kepadaku yang hanya seorang bawahannya," papar Luke yang mendadak bersikap formal. Setelah mengetahui semuanya, ia merasa canggung jika harus bersikap santai seperti biasanya kepada orang yang selama ini ia rawat tersebut.


"Jangan kaku begitu, cukup panggil aku Jeffrey," pinta Jeffrey.


"Tapi kau adalah..,"


"Kau membuatku tidak nyaman dengan sikap formalmu itu," sela Jeffrey.


"Baiklah Jeff,"


"Luke, apakah aku salah jika aku sangat membencinya saat ini?"


"Membenci seseorang yang telah menyakitimu adalah pilihanmu Jeff. Tapi jangan biarkan hatimu menjadi kotor karena terlalu lama membenci. Perjalan hidup yang singkat ini begitu beharga, daripada menghabiskan sisa hidupmu untuk membenci lebih baik digunakan untuk menyayangi orang-orang yang menyayangi kita, masih banyak hal beharga lainnya yang bisa kau lakukan," tutur Luke.


Jeffrey menatap lurus pemandangan air laut yang terhampar luas di depannya dengan mimik muka seolah ia sedang mencerna setiap perkataan Luke.


"Jeff, aku tidak tahu apa ini akan mengurangi kekecewaanmu. Tapi asal kau tahu, waktu kau koma Tuan Darren sering mengunjungimu dan di saat itu dia akan menyisihkan waktunya untuk menemanimu. Dan dia akan membisikan sebuah kata maaf di telingamu sebelum ia pergi. Waktu itu, aku belum bisa mencerna situasi yang sebenarnya meski hatiku sering bertanya-tanya karena mimik muka Tuan Darren sungguh sulit dibaca, tapi sekarang aku sudah menemukan jawabannya yaitu seburuk apapun tindakannya, masih terselip rasa kasih sayang dan penyesalan pada dirinya untuk dirimu. Dan tadi aku juga mendengar bahwa Tuan Darren akan mundur dari jabatannya sebagai CEO. Sepertinya dia memutuskan melepas semua untuk menebus kesalahannya," beber Luke panjang lebar. Sungguh ia sangat prihatin mengetahui tentang apa yang telah terjadi antara kedua Tuannya itu. Dan dia sangat berharap bahwa semuanya segera kembali mendingin. Tidak ada permusuhan di antara mereka.


Jeffrey mendesah berat. Saat ini ia sungguh membutuhkan ketenangan.


"Luke, bisakah kau meninggalku sendiri disini?"


"Tapi Jeff,"


"Tenang saja, nanti aku akan menelponmu jika aku sudah merasa sedikit tenang,"


"Apa kau yakin?" Luke tampak ragu untuk meninggalkan Jeffrey yang sedang berada di atas kursi roda sendirian di sebuah bukit yang tampak lengang saat itu.


Meski rute jalan setapak menuju bukit sudah direnovasi sedemikian rupa untuk memudahkan para pengguna jalan tapi tetap saja Luke mencemaskan Jeffrey.


"Kau tenang saja, aku tidak akan kemana-mana, lagian jalan menuju pulang sudah sangat mendukung bagi orang penyandang cacat yang menggunakan kursi roda sepertiku ini," Jeffrey meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu," ucap Luke yang akhirnya menuruti permintan Jeffrey dengan berat hati.


Jeffrey mencoba menenangkan pikirannya. Suara alunan melodi alam yang tercipta dari hembusan angin yang bergesekan dengan dedaunan serta suara deburan ombak seolah mentransfer sebuah sugesti positif yang membuat hatinya sedikit tenang. Aroma air laut yang bercampur hamparan bunga liar seolah mampu menjadi sebuah aroma terapi yang menenangkan jiwa.


Tap! Tap! Tap!


Ketukan sayup langkah kecil seseorang terdengar mengiringi suara hembusan angin lembut dan melebur menjadi satu membentuk sebuah simponi nan elok.


"Wanita itu?" gumam Jeffrey yang menyadari akan keberadaan seorang wanita yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.


Tanpa disadari sang wanita, seseorang sedang mengamati setiap tingkahnya di balik pohon yang tidak jauh dari ia berpijak.


Wanita blonde itu berdiri di tengah-tengah hamparan bunga liar bluebell yang sedang bermekaran. Ia tampak menikmati suasana perbukitan dengan penuh penghayatan. Merentangkan kedua tangannya membiarkan angin menerpa tubuhnya. Surai panjangnya meliuk-liuk dengan gemulainya seolah menyambut tiupan nakal sang angin.


Sekilas, Jeffrey menangkap seutas senyuman manis di bibirnya.


Deg! Deg! Deg!


Iya, sekali lagi dada Jeffrey berdegup hebat hanya karena senyuman yang tercetak cantik pada muka si wanita. Ingin sekali ia mendekati pujaan hatinya tersebut meski hanya sekedar bertegur sapa, tapi ia kembali insecure dengan kondisinya saat ini.


"Mungkin Tuhan hanya mengijinkan aku untuk mengagumimu dari jauh. Ia hanya sebatas melihatmu dari balik pohon seperti saat ini, sungguh memprihatinkan," Jeffrey tersenyum getir, merenungi nasibnya.


Deg! Deg! Deg!


"Apa dia sedang bersedih saat ini? Haruskan aku mendekat untuk menghiburnya? Hah! Sebaiknya kau urungkan niatmu itu Jeffrey, yang ada dia malah memandang iba dirimu," Jeffrey seolah sedang berdebat dengan seseorang yang bersembunyi di dalam jiwanya.


Jeffrey menghentikan perdebatan pada dirinya sendiri di saat melihat si wanita mulai melangkahkan kakinya menuruni bukit dan mendekati bibir pantai.


Jeffrey sedikit memajukan kursi rodanya, mendekati bibir bukit agar lensa hijaunya tetap bisa menjangkau tubuh si wanita. Seakan tidak ingin ketinggalan satu momenpun dari si wanita yang sudah bagaikan pemandangkan yang begitu menawan baginya mengalahi pemandangan pantai Ryde yang seharusnya menjadi sang primadona.


Sepasang mata elang milik Jeffrey tampak memicing dan diikuti beberapa garis kerutan di dahinya dikala menyaksikan si wanita yang kini sudah tidak lagi berada di bibir pantai. Kakinya melangkah lebih jauh menuju ke perairan yang lebih dalam.


Panik, itu yang sedang menyelimuti perasaan Jeffrey. Dia sangat tahu, pemandangan yang dia saksikan sekarang bukan sesuatu yang harus dibiarkan begitu saja.


"Bodoh! Sepertinya wanita itu akan bertindak nekat!" seru Jeffrey seraya menyapu pandangannya di sekitar bibir pantai berharap ada seseorang yang menyadari tindakan janggal si wanita tersebut. Tapi kenyataan, tiada satu orangpun yang menyadarinya karena jarak si wanita dan para pengunjung pantai lainnya lumayan jauh.

__ADS_1


"Sial! Bagaimanapun juga aku harus bertindak secepatnya," Jeffrey berusaha menggerakkan kakinya sekuat tenaga, melupakan rasa nyeri pada setiap persendian kakinya yang masih kaku dan belum pulih sepenuhnya namun belum juga berhasil membawanya beranjak dari duduknya.


"Arrrrgggg! Kenapa aku harus mempunyai kaki tak berguna seperti ini?!" teriak frustasi Jeffrey. Mata elangnya juga beberapa kali membidik pergerakan wanita itu yang ternyata setengah tubuhnya sudah masuk ke dalam genangan air laut.


Butiran-butiran keringat dingin sudah menyembul melalui pori-pori kulitnya dan membasahi sekujur tubuhnya. Pria itu masih terus berupaya menggerakkan kakinya. Perlahan, kakinya berhasil mendongkrak tubuhnya untuk berdiri dan mulai mengambil langkah namun tubuhnya justru terjerembab ke lereng bukit dan berguling hingga berakhir di kaki bukit.


°°°


Jenny melangkahkan kakinya menuju ke tengah-tengah hamparan rerumputan dan bunga liar bluebell yang sedang bermekaran di atas bukit yang mengelilingi pantai Ryde. Ia tampak menikmati suasana sekitar yang terlihat sepi dan menenangkan.


Ia rentangkan kedua tangannya membiarkan angin menghempas tubuh kecilnya.


"Angin, tolong sampaikan salamku kepadanya bahwa aku sangat merindukannya,"


"Beruang kutub kau sedang apa sekarang? Tidakkah kau juga merindukanku? Apakah kau tahu, ketiadaan dirimu di sampingku sungguh menyiksaku. Asal kau tahu, aku masih ingat akan janjimu yang bahwa kau tidak akan meninggalkanku sendiri, bolehkan aku menagih janjimu sekarang? Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama karena aku sangat membutuhkanmu,"


"Tolong aku, hati ini sudah masuk ke tahap kritis. Hanya kau yang bisa mengobatinya,"


"Haruskah aku membawa diriku ke dalam situasi berbahaya agar kau mau datang? Haruskah begitu?"


Jenny masih terus bermonolog di dalam hati dengan pikiran berkecamuk. Suasana hati yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba kembali sendu. Niatnya mengunjungi pulau Isle Of Wight untuk mencari ketenangan, menyisihkan sejenak perasaan luka laranya tampaknya tak sepenuhnya berhasil.


Entah pikiran seperti apa yang mulai merebak ke otaknya. Usahanya keranya selama ini untuk selalu berpikiran optimis mendadak berubah haluan menjadi pesimis. Seolah tubuhnya di tuntun oleh jiwanya yang lain, ia menuruni anakan bukit kecil mendekati bibir pantai.


Tiada lagi terselip keraguan dalam langkah keputus asa'annya. Ia terus melangkah menembus deburan ombak yang membasahi bibir pantai.


Air laut yang awalnya hanya menggenangi sebatas mati kaki kini sudah sampai ke dada karena ia masih terus melangkah semakin jauh dan semakin dalam. Sesekali tubuh kecilnya bergoncang akibat deburan ombak. Seolah penunggu lautanpun sedang berusaha menghentikan aksi nekatnya.


Kini tubuhnya sudah hampir tenggelam sempurna, namun cekeraman tangan seseorang yang sangat kuat menarik tubuhnya dengan cepat. Menyeretnya kembali ke bibir pantai.


"Apa kau sudah gila?! Tindakanmu ini sangat berbahaya?!" hardik seseorang yang baru saja menghentikan niat nekat Jenny.


"Nona? Apa kau tidak mendengarku? Kenapa kau hanya diam?" tanya orang itu yang mulai heran karena Jenny hanya membisu dan menatap mukanya dengan tatapan tak percaya.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2