
Jeffrey dan Jenny seketika tercekat ketika mendapati seseorang mendengar percakapan mereka beberapa detik yang lalu. Percakapan yang seharusnya tidak boleh didengar oleh orang lain.
"S-Sean? Sejak kapan?" tanya Jenny terbata-bata.
"Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Sean memastikan apa yang dia dengar adalah tidak benar.
"Apa kebiasaanmu itu menguping pembicaraan orang lain?" dengus Jeffrey kesal. Dan rasa kesalnya bertambah 3 tingkat lebih tinggi melihat ketiga teman Jenny serta pacarnya Veronica datang ketepatan di saat ucapan kalimat terakhir Sean yang menanyakan tentang kebenaran status pernikahan mereka.
"Apa?! Benarkah kalian sudah menikah? Itu tidak mungkin!" pekik Veronica yang mewakili keterkejutan Daisy, Jullian, dan Avellyn. Sepasang netra Veronica mulai tergenang cairan bening yang pada akhirnya luruh begitu saja.
"Aaarg! Sial! Kenapa jadi begini?" umpat Jeffrey di dalam hati.
Sepasang suami istri muda tersebut tampak membeku setelah mendapati hujaman tatapan penuh tuntutan dari beberapa pasang mata di hadapan mereka. Lagi-lagi, sepertinya Jeffrey dan Jenny berhutang penjelasan kepada mereka.
"Kau lihat Sammy, belum lama si bocah setan itu menyuruh kita untuk membungkam mulut perihal pernikahannya. Tapi ternyata mulutnya sendiri yang membeber semuanya," gerutu Alvin yang berada tidak jauh dari gerombolan orang-orang yang masih terlihat syok.
"Betul sekali, rasanya ingin sekali aku meledeknya sampai mati gaya," sahut Sammy.
Jeffrey yang mendengar celotehan Sammy dan Alvin langsung melempar tatapan yang seakan ingin melahap mereka bulat-bulat sehingga membuat keduanya tercekat dan cepat-cepat mengatup mulutnya masing-masing.
"Kau jelaskan sendiri kepada teman-temanmu ini, dan ingat suruh mereka untuk menjaga mulut tentang pernikahan rahasia ini," ujar dingin Jeffrey kemudian berlalu seraya menyeret Veronica dari gerombolan orang-orang yang masih diliputi keinginan menuntut tersebut.
Akhirnya Jenny mulai bercerita. Tidak banyak yang dia katakan. Gadis itu hanya menyampaikan sebatas pernikahan mereka karena perjodohan dan bersifat rahasia sampai mereka lulus kuliah.
Tentang perjanjian kontrak serta sikap Jeffrey yang memperlakukannya seperti pembantu urung dia ceritakan. Mengingat teman-temannya itu akan bertindak gila jika mengetahui semuanya, membuat Jenny memilih berkata seperlunya.
Jenny beberapa kali mendapatkan omelan dan umpatan dari Daisy, Jullian, dan Avellyn. Pasalnya mereka merasa tidak dianggap sebagai sahabat. Bagaimana bisa, hal sepenting itu mereka tidak diberi tahu. Apa lagi mengetahui Jeffrey masih berpacaran dengan Veronica di saat sudah menyandang status suami Jenny membuat ketiga sekawan sahabat tersebut terus saja meluapkan emosinya melalui sumpah serapahnya. Mereka bisa saja mendatangi Jeffrey dan memakannya hidup-hidup jika saja Jenny tidak mencegah mereka.
Jenny terus berusaha memberi penjelasan dan pengertian pada ketiga sahabatnya yang akhirnya mereka memilih untuk diam tapi bukan berarti tidak peduli. Bagaimanapun juga, mereka juga tidak berhak terlalu ikut campur urusan rumah tangga Jenny.
Di sisi lain, Sean yang masih setia dengan kebisuannya tampak memasang mimik muka tak terbaca selama Jenny bercerita. Apakah Jenny menyadarinya? Iya, Jenny menyadari bahwa ada hal lain di pikiran pemuda yang sudah lama menyimpan rasa terhadapnya itu. Sean terus saja menatap Jenny penuh curiga yang tentu saja membuat Jenny seperti ditelanjangi.
"Hah! Sepertinya Sean menyadari bahwa ada yang aku sembunyikan?" batin Jenny resah.
Setelah Jenny selesai bercerita, Sean membawa Jenny ke suatu tempat yang di mana mereka bisa berbicara empat mata saja.
"Maukah kau menceritakan yang sebenarnya? Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan?" Sean mencoba mengorek kebenarannya. Sungguh, hati Sean sangat sakit ketika mengetahui gadis yang dia cintai sudah menjadi milik pria lain.
Jenny masih bergeming.
"Apa karena alasan ini kau menolakku?" tanya Sean seraya menatap lekat sepasang netra Jenny.
"Maafkan aku Sean," Jenny menunduk.
"Aku merasa kau menikah karena terpaksa Jenn. Apakah ada sesuatu yang menyulitkanmu hingga kau harus menikah dengannya? Aku mohon berceritalah kepadaku," bujuk Sean.
__ADS_1
"Iya Sean, aku memang terpaksa karena tidak ada pilihan lain, waktu itu Mamaku sakit dan harus dioperasi. Ditambah lagi masalah pelik utang piutang Papa tiriku kepada rintenir yang mengancam akan memenjarakannya jika tidak segera melunasi hutangnya sungguh membuatku putus asa," Jenny mulai bercerita, sepasang netranya mulai terasa panas, tapi dia tetap berusaha tegar.
"Dan di saat aku benar-benar putus asa, Mommy Briana datang dan menawarku sebuah bantuan bersyarat yang di mana aku harus menerima perjodohan antara aku dan Jeff," lanjut Jenny.
Sean mengehela napas berat. "Aku sangat menyesali bahwa kau tidak bercerita padaku waktu itu, padahal aku pasti akan membantumu dengan senang hati Jenn. Dan kau..," Sean menggantung kalimatnya.
"Dan kau pasti tidak menikah dengannya. Mungkin saja kita sudah berpacaran saat ini," sambung Seal dengan guratan-guratan sesal dan kecewa di muka tampannya.
"Maafkan aku," timpal Jenny penuh sesal.
Sean memegang kedua bahu Jenny dan menatap lekat kedua manik biru gadis di depannya.
"Apa Jeffrey memperlakukanmu dengan buruk? Tadi aku sempat mendengar ucapannya yang menurutku tidak pantas di lontarkan seorang suami kepada istrinya," tanya Sean khawatir.
"Dia bersikap baik kok, Jeffrey tadi hanya bercanda. Kau jangan mencemaskan hal itu," kilah Jenny sebisa mungkin menutupi kebenaran dengan senyuman di wajahnya.
Sean menghela napas dan diikuti senyuman getir. "Kenapa kau tidak pandai dalam berbohong? Hm?" Sean masih menatap lekat netra Jenny yang selalu berusaha menghindari bersiborok dengannya.
"Kalau dia bersikap baik, mana mungkin dia masih berhubungan dengan Veronica di saat dia sudah menikah," sambung Sean.
"Kalau tentang itu jangan salahkan dia Sean, karena aku sendiri juga sudah menyetujui perjanjian antara aku dan Jeffrey," balas Jenny pasrah. Dia merasa menutupi semuanya dari Sean adalah hal yang sia-sia. Sean terlalu pintar memahami gelagat dan pikiran Jenny.
"Perjanjian apa? Jangan bilang kalian membuat perjanjian tanpa sepengetahuan orang tua kalian," Sean mencoba menerka.
"Perjanjian konyol! Dia mempermainkan sebuah ikatan suci dalam pernikahan," Sean tampak emosi dan kecewa. Mungkin harusnya Sean merasa senang karena perjanjian itu, karena itu bisa jadi kesempatan baginya untuk menjalin hubungan lebih dekat kepada Jenny. Tapi di sudut hatinya yang lain, pria tampan itu merasa sakit melihat Jenny seperti dipermainkan.
Di kala hatinya masih menderu, sepasang netra Sean yang mulai memanas tanpa sengaja menangkap luka-luka lecet pada telapak tangan Jenny.
"Tanganmu kenapa begitu banyak luka lecet seperti ini?" tanya Sean menyelidik seraya mengangkat tangan Jenny, mengamati dan mengusap tangan kecilnya dengan hati-hati.
Jenny menarik tangannya dengan cepat. "Ah ini, bukan apa-apa kok Sean. Sudah sebaiknya kita pulang sekarang," Jenny mengalihkan topik. Dia tidak mungkin bercerita kalau luka itu dia dapatkan karena Jeffrey selalu menyuruhnya mencuci baju yang sangat banyak menggunakan tangan.
Reaksi Jenny yang terkesan menutup-nutupi bisa ditangkap Sean dengan mudah.
"Sepertinya dugaanku saat ini tidak salah, aku yakin bocah sialan itu memperlakukan Jenny dengan buruk," batin Sean yang masih menahan luapan emosinya.
°°°
"Kenapa kau jahat sekali sayang? Apa salahku? Kenapa kau menghianatiku? Padahal aku sangat mencintaimu," Veronica menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak punya pilihan lain Vero, aku terpaksa menikahinya. Kau boleh mencari pria lain yang lebih baik," ucap Jeffrey.
"Tidak! Aku hanya ingin kamu sayang. Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu!" Vero mengambil pisau kecil dari dalam laci rak ruang tamu apartemennya.
"Vero apa yang kau lakukan? Turunkan pisau itu!" titah Jeffrey ketika melihat Veronica meletakkan pisau tersebut pada pergelangan tangannya.
__ADS_1
Veronica tampak meringis ketika sayatan kecil mulai menggaris pada pergelangan tangannya. Darah segar mulai merembes dari luka sayatan tersebut.
"Apa kau gila?! Kau bisa membunuh dirimu sendiri!" bentak Jeffrey setelah menghentikan aksi gila Veronica sebelum berakhir fatal.
"Aku ingin kau pisah dengannya, kalau tidak aku akan terus membahayakan diriku," ancam Veronica seraya menekan tangannya yang terasa perih.
Jeffrey menghela napas panjang. "Kau bersabarlah, karena kami akan segera bercerai setelah lulus kuliah karena kami hanya menikah kontrak," papar Jeffrey yang mulai mengobati luka Veronica yang untungnya hanya berupa sayatan kecil dan tidak sampai memutus urat nadi pergelangan tangannya.
"Benarkah? Tapi apa kalian tidur bersama? Apa kalian juga berhubungan badan?" tanya Veronica yang masih tersulut cemburu.
Jeffrey seketika tertegun mendengar pertanyaan frontal Veronica. Ingatannya kembali mengulang di saat hari pertama pernikahannya dengan Jenny.
Kejadian di kamar mandi yang mempertontonkan lekuk tubuh Jenny yang hanya berbalut handuk membuat darah di tubuhnya tiba-tiba berdesir.
"Jangan berpikiran sejauh itu. Kami bahkan tidur di kamar yang berbeda," jawab Jeffrey setelah membuyarkan bayangannya tentang Jenny.
"Sayang aku mohon, kau harus tepati janjimu untuk menceraikannya setelah kuliahmu berakhir," pinta Veronica yang menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Jeffrey.
"Hm," jawab Jeffrey singkat.
"Bisakah kau belajar membuka hatimu untukku? Selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikapmu yang selalu dingin terhadapku. Bukankah aku ini kekasihmu? Seharusnya kau bersikap manis kepadaku," Veronica kembali terisak tanpa melepaskan pelukannya.
"Apakah aku bisa? Selama ini aku memacarinya karena merasa berhutang budi. Dan melihat kejadian barusan membuat aku khawatir kalau dia melakukan hal nekat lagi jika aku memutus hubungan dengannya," batin Jeffrey dengan kegundahannya.
"Baiklah aku akan belajar membuka hatiku untukmu, tapi maaf karena aku tidak bisa berjanji," jawab Jeffrey memutuskan.
"Aku sangat senang mendengarnya sayang,"
Veronica mengangkat mukanya kemudian mengecup lembut bibir Jeffrey. Tidak ada penolakan maupun penyambutan ciuman dari Veronica. Namun hal itu tidak menghentikan niat gadis bersurai coklat itu berhenti. Dia mengangkat tangannya dan mengalungkannya ke leher Jeffrey untuk memperdalam ciumannya.
"Hentikan, sebaiknya kau beristirahat dan aku akan pulang," Jeffrey menghentikan aksi Veronica. Pria itu bergegas keluar dari apartemen Veronica untuk menghindari situasi yang menurutnya sangat tidak nyaman.
"Aarrg! Menyebalkan! Aku harus bisa mendapatkanmu seutuhnya Jeffrey. Dan wanita jalang itu, berani-beraninya dia merebut milikku! Aku akan membuat perhitungan kepadanya," geram Veronica yang melupakan rasa perih luka pada tangannya.
Sementara itu, Jeffrey yang sudah sampai di parkiran gedung apartemen ---hendak memasuki mobilnya. Namun seseorang menarik tiba-tiba tubuhnya hingga memutar ke belakang.
Bug!
Satu pukulan mendarat tepat pada pipinya yang seketika membuat tubuhnya terhuyung dan hampir tersungkur ke tanah.
Bersambung~~
...Untuk para Readers:...
...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...
__ADS_1