
Selama seminggu, pamlet warna-warni berisi ucapan selamat datang untuk mahasiswa baru terus terpasang di sekitar kampus-kampus Universitas Cambridge. Berbagai kegiatan mewarnai kemeriahan ospek di sana. Mulai dari tur keliling kampus, pameran kegiatan ekstrakurikuler, daftar ulang, pengenalan pustaka, dan konser musik.
Hari ini adalah hari terakhir kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Perjamuan welcome dinner party dijadikan acara puncak sebagai penutup kegiatan ospek.
Pesta penutup dilaksanakan di gedung aula universitas. Setelah beberapa sambutan dari Presiden Mahasiswa Universitas, Rektor, dan ketua panitia disampaikan, semua penghuni aula dipersilakan menyantap menu makan malam yang sudah disajikan oleh pihak kampus yang di iringi alunan musik yang memenuhi ruangan aula.
Di salah satu sudut ruangan aula yang luas, Jenny, Daisy, Julian, Avellyn berada dalam satu meja bundar. Dan tentu saja sosok Sean juga ikut gabung dengan mereka.
Mereka menikmati makanan dengan tenang. Sesekali pembahasan topik yang mengocok perut mewarnai suasana meja makan mereka.
"Jenn, waktu itu kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu tidak segera menghubungiku?" tanya Sean kepada yang tengah mengunyah makanan di mulutnya.
"Maaf. Waktu itu aku lupa karena aku sangat kelelahan," jawab Jenny santai lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Asal kamu tahu, aku sangat menanti pesan darimu," ujar Sean dengan mimik muka kecewa.
"Sebenarnya aku penasaran, bagaimana kalian bisa berkenalan?" Julian mulai bersuara.
"Itu mungkin karena aku dan Jenny berjodoh," ceplos Sean yang penuh percaya diri seraya menampakkan senyuman manisnya.
"Ahhh! Sean cukup! Jangan tersenyum lagi, hatiku tidak tahan melihatnya," celetuk Daisy yang memang telah terpesona sejak pertama bertemu dengan Sean.
"Aw! Apa yang kamu lakukan Julian?" gerutu Daisy setelah sepotong kentang goreng mendarat kasar di kepalanya.
"Apa kamu tidak punya harga diri? Tahan sedikit sifat genitmu itu," sarkas Julian yang merasa gedek dengan sikap terang-terangan Daisy.
Daisy yang tidak ingin kalah juga melempar balik potongan kentang tersebut kepada Julian.
"Ini, aku kembalikan kepada tuannya," cebik Daisy sebelum menimpuk kentang yang tak berdosa tersebut kearah Julian.
Jenny dan Sean terkekeh melihat adegan saling lempar kentang tersebut. Sedangkan Avellyn terlihat sangat menikmati santapan makan malamnya tidak memperdulikan keributan yang ada di depannya.
Julian hendak membalas kembali perbuatan Daisy tapi dia urungkan niatnya yang membuat nasib si kentang berakhir ke dalam penggilingan mulutnya.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Jeffrey masih belum baikan juga Sean?" kini Avellyn mulai bersuara.
"Sebagai sepupunya kau pasti sangat mengenal Jeffrey yang mempunyai sifat kelas kepala yang begitu luar biasa kan Ave?" timpal Sean.
Iya, Avellyn adalah putri dari adik kandung Briana, yang tak lain sepupu Jeffrey.
"Apa kalian berdua sebelumnya berteman?" sela Jenny penasaran.
"Iya kami sebelumnya adalah sahabat dari kecil," jawab Sean lalu meneguk minumannya.
"Jenn, bolehkah nanti aku mengantarmu pulang?" tanya Sean mengalihkan topik. Dia sedang tidak ingin membahas permalahannya dengan Jeffrey terlalu jauh.
"Apa kau mempunyai niat terselubung kepada Jenny?" tanya Julian menyelidik. Dia benar-benar belum bisa mempercayai Sean sepenuhnya.
"Ayolah, aku hanya ingin mengantarnya pulang dan tidak ada maksut lain," sanggah Sean.
"Sayang, kenapa kamu tampak sangat peduli dengan Jenny? Apa kamu menyukainya?" tanya Avellyn cemberut. Dia sangat tidak suka melihat kekasihnya itu selalu perhatian kepada kedua sahabat perempuannya Jenny dan Daisy.
"Kau bisa membuat mataku buta karena melihat kemesraan kalian yang tidak mengerti tempat, seperti ada bongkahan batu di mataku, apa kalian tidak mengasihaniku yang masih saja setia dengan status kejombloan ini?" cibir Daisy.
Perkataan Daisy sontak mengundang gelak tawa mereka.
"Sean, jika kau berniat mempermainkan Jenny sebaiknya kau buang niatmu itu, karena aku akan selalu mengawasimu, camkan itu!" ancam Avellyn.
Hati Jenny terasa hangat mendengar perkataan Avellyn. Itulah yang disukai Jenny dari kekasih sahabatnya Julian tersebut. Meskipun dia selalu terlihat ketus, tapi sebenarnya dia gadis yang manis, seperti yang selalu dikatakan Julian.
Jenny baru saja keluar dari toilet yang terletak tidak jauh dari gedung aula. Baru beberapa langkah keluar dari pintu toilet Jenny harus merasakan ngilu pada lengannya karena ulah seseorang yang tampak menabraknya dengan sengaja.
"Hei! gunakan matamu ketika berjalan!" cerca Veronica seraya menyapu bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan Jenny.
"Hei! Apa tidak salah? Bukannya kamu yang jalannya miring-miring kayak kepiting mabuk dan sengaja ingin menabrakku? Aku tidak buta dan aku melihatnya tadi!" cerca Jenny yang tidak mau kalah.
Veronica mendesis. Pandangannya menyapu penampilan Jenny dari atas hingga bawah. Seketika mimik muka mengejek terulas di muka cantiknya yang dipenuhi aplikasi make up.
__ADS_1
"Pantas saja Jeffrey membencimu, penampilanmu saat ini sungguh menjijikkan," cemoh Veronica yang tengah menyilang kedua tangannya di depan dada.
Jenny menatap dingin Veronica.
"Kamu bakal kebakaran bulu ketiak jika aku memberitahu alasan sebenarnya dia membenciku, tapi aku terlalu malas menceritakannya kepadamu," ucap Jenny menyeringai.
"Kalau penasaran, kau tanyakan sendiri kepada pacarmu yang seperti singa ingin kawin itu yang selalu mengamuk dimana-mana," umpat Jenny lalu melangkah pergi dari hadapan Veronica dengan perasaan dongkol.
Lagi dan lagi, Jenny yang baru saja melewati tikungan koridor tiba-tiba tubuhnya tertarik dengan kasar. Gadis blonde tersebut seketika terkejut ketika tubuhnya diseret secara paksa oleh seseorang yang belum juga menampakkan mukanya karena masih menatap lurus ke depan dan fokus dengan langkahnya.
Jalan yang mereka lewati sedang tampak sepi yang tentu saja membuat Jenny merasa takut. Bayangan tentang beberapa tahun yang lalu ketika dia hampir menjadi korban pelecehan tiba-tiba memenuhi ingatannya tanpa sopan. Hal itu semakin menambah kepanikan Jenny yang mengakibatkan deguban jantung yang sudah di luar irama dan keringat dingin yang menyembul dari pori-pori kulitnya tanpa instruksi.
"Hei! Kamu siapa dan mau apa?! Lepaskan tanganku!" pekik Jenny.
Namun orang tersebut tak bergeming dan acuh akan suara yang terdengar bergetar tersebut.
Beberapa kali Jenny berontak sekuat tenaga untuk lepas dari cengkramannya namun tubuhnya yang kecil tidak dapat mengimbangi kekuatan orang yang memiliki tubuh besar dan tangan yang kekar dan berotot.
"Aku akan berteriak jika kamu tidak melepaskan tanganku!" ancam Jenny memberanikan diri.
Akan tetapi, lagi dan lagi seruan gadis yang merasa terancam tersebut tidak mendapat respon yang signifikan. Alih - alih menjawab pekikan Jenny, orang tersebut semakin gencar menyeret tubuh kecilnya dengan memperlebar langkah kaki jenjangnya.
"Aaargg!!" suara teriakan pemilik suara bariton tersebut menderu memenuhi area tempat keduanya berdiri. Orang tersebut langsung melepaskan cengkramannya dari tangan Jenny yang terlihat kecil di saat berada dalam lilitan jari-jari besar dan panjangnya.
"Apa kau itu anjing yang sedang kelaparan?!" umpat orang tersebut yang sontak memutar lehernya ke arah Jenny.
"Kamu?!" seru Jenny yang terkejut.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1