
Jenny melangkah mundur untuk memberi jarak kepada orang yang sedang mencoba mendekatinya dengan pandangan yang begitu intens saat ini. Namun usahanya sepertinya tidak menuahkan hasil ketika langkahnya terhenti karena punggungnya sudah membentur tembok. Gerak tubuhnya semakin terbatas ketika kedua tangan kekar itu mengungkung tubuhnya di dinding.
"Apa yang kamu lakukan Diven? Menjauhlah dariku!" Seru Jenny kepada orang yang sering menggodanya di belakang Ella ketika dia berkunjung di rumahnya.
"Ssttt! Jangan berteriak, nanti orang melihat kita," bisik Diven. Sesaat dia terlihat menyelidik ruangan berharap tidak ada orang di sekitarnya.
"Pergi atau aku akan," kalimat Jenny terputus.
"Kalau kamu akan apa? Hem?"
"Aku akan berteriak dan memukulmu!"
Diven menyeringai. Seakan ancaman Jenny itu cuma gertakan kecil yang tak ada gunanya.
"Sebaiknya tarik kembali ancamanmu itu sayang, sebab kamu sendirilah yang akan rugi. Semua orang tahu aku pacar saudara tirimu, yang ada mereka akan mengira kamu menggodaku," terang Diven.
Jenny mendorong tubuh Diven dengan keras hingga membuat tubuh Diven terhuyung mundur. Gadis itu mencoba menyingkir dari hadapannya tapi Diven masih terus menghalangi jalannya.
Jenny lanjut memasang muka datar tapi terkesan dingin.
"Ayolah, apa yang kamu inginkan dari aku? Kamu bisa lihat kan? Aku jelek dan penampilanku sangat tidak menarik. Aku tidak sebanding dengan Ella pacarmu, tapi kenapa kamu terus menggangguku?"Jenny mencoba meyakinkan Diven.
Diven tersenyum penuh arti.
FLASHBACK ON
Diven dan Ella baru saja kembali dari acara kencan mereka di hari weekend.
"Honey, kamu pasti haus. Kamu tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan minuman untukmu," ucap Ella lalu meninggalkan Diven di ruang tamu.
Diven hanya tersenyum tipis. Kemudian Dia melirik ke arah kamar Jenny yang terletak tidak jauh dari tempatnya. Pintu kamar Jenny sepertinya tidak tertutup dengan benar. Rasa penasarannya mulai menuntunnya untuk mendekati kamar Jenny. Tentu dia memastikan Ella sudah menghilang dari pandangannya terlebih dahulu sebelum melakukan aksinya.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka dia langsung disuguhkan pemandangan yang mengundang libidonya. Dia melihat Jenny yang sedang mengenakan bathrobe yang panjangnya tidak melebihi lututnya. Rambutnya yang basah dibungkus dengan handuk kecil yang memamerkan kulit lehernya yang putih. Di dalam sana Jenny terlihat seksi dan cantik di mata Diven. Tidak seperti penampilan biasanya yang selalu berantakan.
"Sepertinya dia habis mandi. Sial kenapa penampilannya saat ini sangat menggoda? Padahal tubuhnya masih terbungkus handuk.Tapi aku sangat tahu bentuk tubuhnya lebih menggairahkan dibandingkan bentuk tubuh Ella. Mukanya juga terlihat cantik," batin Devin seraya menelan cairan salivanya yang terasa berat.
Suara langkah Ella terdengar menuju ruang tamu. Sontak Devin segera kembali ke tempat duduknya semula sebelum Ella menyadari gelagatnya.
"Honey, ini minumlah," ucap Ella seraya meletakkan minuman untuk Devin di atas meja.
__ADS_1
"Iya, terimakasih ya," balas Devin.
"Oya Mamamu dimana?" tanya Devin penuh maksut.
"Mama sedang keluar, sepertinya dia juga sedang berkencan," jawab Ella sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Sweety, mumpung Mamamu nggak ada di rumah, ayo kita melakukannya sekali saja," pinta Devin penuh arti. Libidonya sudah terlanjur terpancing gara - gara melihat Jenny tadi. Saat ini, dia hanya ingin segera melampiaskan hasratnya kepada Ella
"Baiklah, ayo kita ke kamarku," Ella menyetujui ajakan Devin.
FLASHBACK OFF
Semenjak itu, Diven selalu ingin menggoda Jenny. Dia tidak peduli dengan penampilan kusut gadis itu yang terkesan ditutup - tutupi.
"Aku ingin berkencan denganmu," ucap Diven.
"Apa pantas kamu berkata seperti itu di saat kamu sedang berpacaran dengan Ella?" timpal Jenny kesal.
"Aku akan memutuskan Ella jika kamu bersedia menjadi kekasihku," rayu Diven.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi," tandas Jenny.
"Oke, aku tidak akan memaksamu untuk menjadi kekasihku, tapi biarkan aku merasakan tubuhmu. Tenang saja, itu tidak gratis, aku akan membayarmu karena aku tahu kamu sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolahmu," Diven masih berusaha merayu. Dia sudah tidak peduli dengan reaksi apa yang dia dapatkan dari Jenny setelah ini. Selama ini dia sudah berusaha keras menahannya nafsunya setelah mengintip Jenny waktu itu.
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna pada pipi Diven.
"Kurang ajar! Aku bukan perempuan seperti itu!" hardik Jenny dengan rona muka yang sudah merah padam.
Bukannya merasa jera karena tamparan yang diterima, Diven justru semakin menggalakkan perbuatan mesumnya. Dia menarik kuat tangan Jenny dan mulai mendekatkan mukanya pada muka Jenny.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Ella yang berhasil menghentikan aksi Diven.
Diven tampak terkejut, sedangkan Jenny justru terlihat lega karena lolos dari perbuatan mesum Diven.
"Sweety, kejadiannya tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa menjelaskannya," Diven berkilah.
"Kamu! Pasti kamu yang menggoda pacaraku!" tuduh Ella seraya menunjuk muka Jenny.
"Ck! Asal kamu tahu, justru pacarmu itulah yang selalu menggodaku di belakangmu, tapi aku selalu menutupinya darimu," terang Jenny.
__ADS_1
"Mana mungkin dia menggodamu sedangkan penampilanmu selalu terlihat udik!" Ella justru membela Diven.
"Sayang, ada apa ribut - ribut?" tanya Amber yang sempat mendengar keributan di area dapur.
"Anak tirimu ini telah menggoda pacarku Ma,"
"Apa?! Berani - beraninya kamu bertindak seperti itu, dasar perempuan murahan!"
"Kenapa kalian malah menyalahkanku? Aku adalah korban disini," sanggah Jenny yang merasa tersudutkan.
"Halah! jangan berkilah!" seru Ella dan mulai menjambak rambut Jenny.
"Sudah - sudah jangan bertengkar," Amber mencoba melerai.
"Kamu pergilah," titah Amber ke Jenny.
Jenny langsung melangkahkan kakinya keluar dari dapur dengan perasaan gondok.
"Mama kenapa kamu membiarkannya pergi? lagi - lagi kamu menghalangiku untuk menghajarnya," protes Ella.
"Tenang dulu, acara pestamu belum usai. Tidak enak kalau teman - temanmu tahu,"
"Biarkan saja semua orang tahu kalau dia sudah menggoda pacarku,"
"Stttt! Kamu itu selalu bertindak dengan emosi. Setelah pesta berakhir, Mama akan mengusirnya dari rumah ini," ucap Amber santai seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Benarkah?" Mimik muka Ella yang mengeras berangsur - angsur melunak.
"Apa Tante akan benar - benar mengusirnya?" Diven menyela. Dia merasa tidak senang dengan rencana Amber.
"Honey, kenapa kamu malah terlihat tidak senang begitu?" Ella menyelidik.
"Ah, itu karena aku merasa tidak enak saja. Gara - gara aku dia harus keluar dari tempat tinggalnya,"
"Ini bukan salahmu, ini semua salahnya karena telah menggoda dan mengganggumu," tegas Ella.
Diven hanya diam. Dia tidak ada niat untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana mungkin dia akan menceritakan kebusukannya kepada Ella dan Amber. Dia lebih memilih menyelamatkan dirinya.
Bersambung~~
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏