Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Bentuk Asli Darren.


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Waktu yang seharusnya kebanyakan para anak manusia sudah berkelana di negeri kapuk setelah lelah menjalani aktivitasnya seharian.


Namun hal itu tidak berlaku bagi pria berambut blonde dan berlensa biru, Darren. Pria itu masih berkutat dengan laptop kerjanya. Ia berniat meretas jaringan sistem keamanan salah satu perusahaan pesaingnya.Tentunya hal itu memang sudah beberapa kali ia lakukan untuk menggulung beberapa perusahaan yang menghalangi jalan dan ambisinya.


Iya, di balik sifatnya yang hangat dan penyayang di dalam keluarga, Darren adalah orang yang memiliki tingkat ambisi yang begitu tinggi. Ia terkenal sebagai sosok yang berdarah dingin di dunia bisnis. Ia bahkan tidak segan-segan menghancurkan lawan tanpa belas kasian.


Setelah melakukan riset sangat dalam berupa observasi fisik dan pencarian celah keamanan, pria yang dikaruniai otak dengan tingkat IQ 140+ itu mulai menggencarkan aksinya.


Jari-jari besarnya dengan lincah menekan setiap tombol keyboard laptopnya hingga tertera tulisan-tulisan kecil melambangkan kode yang sangat memusingkan kepala bagi yang belum terbiasa melihatnya.


Setelah hampir satu jam berkutat dengan kode rumit akhirnya ia berhasil menembus jaringan target dan mulai mencuri data penting dan informasi yang bersifat sensitif. Aksi peretasannya sukses yang di akhiri dengan penekanan tanda send.


Seringai puas seketika tercetak jelas di muka Darren. "Bersiaplah untuk menghadapi mimpi terburuk yang akan menimpa perusahaanmu, itulah akibatnya jika berurusan denganku,"


°°°


Langkah jenjang pemilik tubuh kekar terlihat menyusuri lorong kantor perusahaan, melewati beberapa ruang devisi yang tampak sibuk dengan peranannya masing-masing.


Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jeffrey, dengan mimik muka tak terbaca ia terus melangkah menuju ruang kerja pribadi milik sang kakak, Darren.


"Adik, ada perlu apa kau datang ke ruanganku? Apa kau sudah makan siang?" tanya Darren tanpa beranjak dari kursi kerjanya. Seperti biasa, Darren akan selalu bersikap hangat kepada sang adik


Alih-alih segera menjawab pertanyan Darren, Jeffrey justru mendekat ke dinding kaca raksasa, melihat pemandangan kota London dari ketinggian gedung tepatnya di lantai 40 tempat ia berpijak saat ini. Ia tampak menghela napas berat dan mengambil sedikit waktu untuk menyiapkan rangkaian kata yang akan dia sampaikan ke Darren.


"Kak, apakah kepuasan yang kau dapatkan setelah menghancurkan perusahaan lain?" tanya Jeffrey tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar dinding kaca.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Darren berlagak tidak mengerti. Padahal dia sangat yakin, saat ini adiknya itu sudah mulai mengendus tindakannya yang sudah berpijak di luar batas sehat dalam persaingan di dunia bisnis.


"Kak, aku mohon jangan lakukan itu, karena itu sudah melenceng jauh dari kode etik cara bersaing yang sehat, dan Daddy pasti juga sangat menentang tindakanmu itu jika ia mengetahuinya," pinta Jeffrey penuh harap.


Darren menyeringai, sepertinya tidak ada gunanya ia terus berkilah di depan Jeffrey. "Dunia bisnis memang sangat kejam adikku. Dan disana hanya ada dua pilihan yaitu menindas atau ditindas. Menindaslah jika kau ingin bertahan, dan jangan biarkan dirimu menjadi seorang pecundang karena ditindas," tutur Darren yang sangat jauh dengan cara berpikir Jeffrey.


"Tapi Kak, kita tidak harus menindas jika tidak ingin ditindas bukan? Masih banyak cara lain yang lebih sehat. Bukankah hal yang biasa jika sebuah persaingan selalu ada di dunia bisnis?"


"Ayolah Adik, kau harus membiasakan dirimu dalam hal seperti ini. Ini adalah hal yang awam di dunia bisnis,"


"Kak, lagian dari hasil pantauanku, perusahaan yang kau hancurkan itu tidak pernah berbuat curang kepada perusahaan kita. Cara persaingan yang mereka pakai juga masih di tahap wajar. Dan apa kau tidak memikirkan lebih jauh, bahwa tindakan kau itu menyebabkan semua karyawan disana terancam di PHK, hal itu otomatis memutus mata pencaharian mereka. Aku yakin banyak dari mereka adalah tulang punggung keluarga yang dimana anak, istri, atau orangtua menaruh harapan besar ke mereka," lanjut Jeffrey berasumsi dengan mimik muka kecewa.


"Kak, bukan hanya itu saja, aku juga sangat mengkhawatirkanmu karena tindakanmu itu termasuk ilegal dan melawan hukum," sambung Jeffrey lagi. Kali ini dia memang sangat cemas akan kedudukan sang Kakak.


"Semua akan baik-baik saja selama kau menutup mulutmu, karena aku yakin hanya kau yang tahu tentang ini," timpal Darren dengan raut muka tak terbaca.


Hening sesaat. Darren bahkan terlihat enggan bersuara meski sekedar memberi apresiasi terhadap bentuk kepedulian sang Adik.


"Baiklah, kalau bagitu aku akan pergi sekarang," Jeffrey tidak ingin meperpanjang perdebatannya. Dia sangat yakin, suasana akan semakin panas jika ia masih terus melanjutkan argumennya.


Sesaat Jeffrey menghentikan langkah kakinya ketika sudah berada di depan pintu dan memutar tubuhnya ke arah Darren. "Mommy mengajak makan malam bersama nanti malam, aku harap kau juga bisa ikut hadir. Jangan jadikan dirimu seorang workaholic yang terlalu mengabdikan seluruh hidupmu hanya untuk bekerja. Kau juga butuh kesenangan, sayangi dirimu," tutur Jeffrey sebelum tubuhnya menghilang di balik daun pintu.


"Adik kecilku yang dulunya suka membuat onar ternyata sudah berubah dewasa dan bisa berpikir dengan bijak sekarang. Aku memang menyayangimu, tapi jangan salahkanku jika aku bertindak di luar nalar jika kau terus berusaha menjadi penghambatku," lirih Darren setelah kepergian Jeffrey. Sorot matanya seolah menyiratkan sesuatu yang dimana hanya dialah yang tahu.


°°°

__ADS_1


"Sayang kenapa kau pulang tanpa menunggu jemputanku tadi?" tanya Jeffrey seraya memasang muka masam. Pasalnya Jenny tidak mengabari Jeffrey bahwa dia pulang bersama Daisy yang tadi kebetulan bertemu di saat jam kerja berakhir. Sehingga membuat Jeffrey sempat cemas karena setibanya di kantor Jenny ia tidak mendapati keberadaanya.


"Maafkan aku , karena aku lupa untuk mengabarimu terlebih dahulu, kau jangan marah ya," ucap Jenny penuh sesal seraya memasang mimik muka memelas.


"Sudahlah, lain kali jangan kau ulangi lagi. Kau sangat membuatku cemas," timpal Jeffrey yang memang sedang tidak ingin berdebat panjang. Saat ini dia sudah dipusingkan tentang perihal tindakan ilegal yang dilakukan Darren.


"Kemarilah, aku sangat merindukanmu," pinta Jeffrey seraya merentangkan kedua tangannya.


Tanpa menunggu lama, Jenny langsung berhamburan ke dalam pelukan kekasih hatinya itu.


"Apa suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja?" tanya Jenny yang sempat menyadari mimik muka Jeffrey yang tampak memikirkan sesuatu.


"Iya suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja sekarang," lirih Jeffrey dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa yang bisa aku lakukan agar suasana hatimu membaik?" Jenny menengadahkan mukanya dengan posisi tubuh yang masih tenggelam di pelukan hangat Jeffrey.


"Tetaplah seperti ini," lirih Jeffrey lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening kucing kecilnya dengan penuh sayang.


Jeffrey menghela napas panjang. "Memelukmu sungguh membuatku nyaman, suasana hatiku seketika membaik," ucap Jeffrey seraya menenggelamkan mukanya ke dalam ceruk leher Jenny. Menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang menyenangkan dan menenangkan. Aroma tubuh yang begitu candu baginya.


Bersambung~~


Maaf ya, bab kali ini sangat pendek, nggak ada seribu kata. Kepala Nofi lagi bercenut-cenut ria nih😭


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2