Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Sammy dan Alvin


__ADS_3

Dua orang pria berbadan tinggi dan tegap tampak memasuki salah satu toko pakaian yang terletak di pusat perbelanjaan kota. Sebuah masker hitam tampak menutupi muka mereka dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya serta topi yang membungkus kepalanya. Sehingga membuat orang-orang di sekitar tidak bisa melihat bentuk asli muka mereka.


"Kenapa kau membawaku kemari? Ini sangat memalukan!" ucap Alvin seraya mengedar pandangannya di sekitar ruangan yang hanya dipenuhi oleh kaum wanita.


Dua penjaga stand khusus pakaian dalam wanita tampak menahan senyum melihat gelagat kedua pria tersebut.


"Ayolah, aku tidak mungkin berbelanja sendirian. Lagian saat ini orang-orang tidak akan mengenali kita. Kenapa kau harus malu?" jawab Sammy santai yang tengah asyik memilih pakaian dalam wanita. Dia beberapa kali menjembreng kain yang berbentuk segitiga terbalik di depan mukanya dengan mimik muka menilai.


"Jangan bilang kau ini mempunyai gangguan fetisisme," tuding Alvin curiga.


Fetisisme merupakan gangguan yang memiliki kepuasan tersendiri jika melihat, atau memegang benda-benda yang dipakai oleh kaum perempuan. Biasanya pengidap gangguan sering mengkoleksi, bahkan memakai benda-benda yang dipakai oleh kaum wanita, seperti CD, BH, stocking, dan berbagai benda perempuan lainnya.


"Apa kau ini gila! Aku masih normal!" sanggah Sammy seraya melempar CD wanita berumbai dan bercorak macan tutul ke arah muka Alvin.


"Terus untuk apa kau membeli banyak pakaian dalam wanita? Kalau bukan karena ada penyimpangan seksual," Alvin masih terus menuding Sammy.


"Rasanya aku ingin menyumpal mulutmu menggunakan BH bergabus ini," timpal Sammy sambil mengangkat bra yang menyerupai dua bukit kembar.


"Nanti malam aku akan berkencan dan aku ingin menghadiahkan barang-barang ini kepada teman kencanku, aku sudah bisa membayangkan tubuhnya yang seksi ketika mengenakan pakaian dalam yang aku belikan ini, uuuuuuhh! Pasti sangat menggoda," sambung Sammy dengan nada gemas disertai muka mesumnya.


"Buang otak mesummu itu dan ayo segera pergi dari sini. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ini sangat memalukan, bisa-bisanya kau,"


"Ssssttt!" Sammy tiba-tiba mendesis yang seketika membuat omelan Alvin terhenti.


"Bukankah itu Tante Briana dan Jenny?" ucap Sammy seraya menunjuk ke arah kedua wanita yang tanpa sengaja tertangkap mata.


"Iya itu memang benar. Mereka tampak sangat akrab," sahut Alvin yang juga menyadari keberadaan mereka.


"Ayo kita sapa mereka," ucap Sammy yang langsung dihalangi Alvin.


"Apa kau tidak malu menyapa mereka di tempat seperti ini? Mereka akan berpikiran aneh tentang kita,"


"Oiya, benar juga yang kau katakan," Sammy membenarkan perkataan Alvin seraya menggaruk ceruk lehernya yang tidak gatal.


"Tapi aku penasaran mereka sedang membicarakan apa," jiwa kekepoan tingkat kecamatan Sammy mulai kumat. Dengan tampang tak berdosa dia menyampir bra berumbai yang dia pegang ke bahu Alvin dan berlalu dari tempatnya. Alvin yang juga tidak ingin ketinggalan, menggusur bra yang tersampir di bahunya dan mengikuti Sammy.


Kedua sekawan yang sedang dilanda kekepoan tersebut mulai mengendap-endap, menyelinap di antara rak baju toko dan mendekati Briana dan Jenny diam-diam.


"Apa kau dengar? Ternyata Jenny sudah menikah, omigot...!" bisik Sammy yang tampak terkejut.


"Aku juga mendengarnya, dari tadi Tante Briana membahas tentang suami Jenny," sahut Alvin menjawab.


"Dengar, dengar, dengar! Apa kau mendengarnya lagi?!" ucap Sammy semakin memperdalam pendengarannya.


Tak!


"Auh! Kenapa kau menjitakku?" protes Sammy setelah mendapat jitakan dari Alvin.


"Bagaimana aku bisa mendengarnya kalau kau begitu berisik? Dan apa kau baru saja kentut lewat mulut? Bau mulutmu buat aku ingin pingsan," cibir Alvin karena posisi mereka berdua saat ini sangat dekat dan bersembunyi di antara baju-baju yang tergantung di rak.


"Hehehe, aku tadi makan bawang mentah sebelum pergi, haaaah.. haaaaah..," balas Sammy seraya menghembus napasnya dan menghirupnya dalam-dalam untuk mencari kebenaran dari perkataan Alvin.


"Fokuslah mendengar!" perintah Alvin kesal.

__ADS_1


"Apa? sepertinya Tante Briana adalah Ibu mertua Jenny, jangan jangan Jenny menikah dengan salah satu putra dari keluarga Allison," seru Sammy setengah berbisik setelah mendengar perbincangan kedua wanita yang sedang mereka mata-matai.


Sammy dan Alvin saling melempar tatapan. Mereka memasang mimik muka sama seakan apa yang ada di pikiran keduanya juga hal yang sama.


"Ehe.. mana mungkin Jeffrey dan Jenny menikah," ucap keduanya bersamaan menampik apa yang otak mereka pikirkan.


"Mungkin saja Jenny menikah dengan Darren," terka Alvin.


"Iya mungkin saja," Sammy membenarkan.


"Di dunia ini kan serba mungkin," tambah Alvin yang sekali lagi membuat keduanya saling beradu pandang.


"Kalau di dunia ini serba mungkin, jadi mungkin saja Jeffrey dan Jenny...," ucapan Sammy menggantung.


"Eh, mereka sepertinya akan pergi, apa sebaiknya kita ikuti mereka saja?" Alvin memberi opsi.


"Setuju!" balas Sammy yang langsung meninggalkan Alvin begitu saja.


"Woi! Bagaimana tentang pakaian dalam wanita yang sudah kau obrak abrik tadi?" teriak Alvin.


"Tolong kau bayarkan dulu nanti aku ganti uangnya, mereka berdua keburu menghilang nanti," balas Sammy tanpa menghiraukan Alvin yang sedang kesal karena ulahnya.


°°°


Jenny dan Briana sudah sampai di apartemen milik Jeffrey dengan membawa beberapa kantong paper bag yang memenuhi kedua tangan mereka.


Dari dalam Jeffrey tampak keluar dari ruangan yang biasa dia gunakan untuk berolahraga. Pria itu menuju kulkas dan mengambil satu botol minuman dingin isotonik kemudian menghampiri Briana dan Jenny dengan penampilan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana berbahan denim selutut. Tidak lupa, muka dingin dan masamnya selalu menjadi satu paket yang tak pernah ketinggalan sebagai ciri khasnya.


Tubuhnya yang kekar terlihat mengkilap karena sisa-sisa keringat yang membasahi tubuhnya sehingga membuat Briana terkagum-kagum dengan pemandangan eksotis di hadapannya.


"Menantuku, coba kau lihat! Tubuh suamimu ini sungguh menggoda. Bukankah begitu?" kelakar Briana seraya mentoel genit 6 roti sobek yang berjajar rapi di perut Jeffrey.


Jenny melirik sekilas ke arah tubuh Jeffrey kemudian kembali berpaling. Gadis berlensa biru tersebut terlalu malu untuk menanggapi gurauan Mommy mertua.


"Sayang, kau harus buktikan kepada Mommy bahwa tubuh kekarmu ini tidak hanya untuk pajangan saja," goda Briana kepada sang putra.


"Apa maksut Mommy?" tanya Jeffrey menyelidik lantas meneguk air isotonik dari botol.


"Maksut Mommy kau harus cepat beri Mommy dan Daddy seorang cucu yang lucu. Percuma kan punya tubuh kekar dan berotot tapi tidak bisa kasih Mommy cucu,"


"Pffffffttt! Uhuk! Uhuk!" ucapan frontal Briana sontak membuat Jeffrey menyemburkan air dari dalam mulutnya dan terbatuk-batuk.


Sedangkan Jenny, dia lebih memilih bergegas menuju dapur untuk menghindari topik yang bisa membuatnya semakin canggung.


Jenny segera memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam kulkas. Dia tidak ingin kedua Ibu dan anak tersebut menyadari bahwa mukanya sudah memerah bagaikan kepiting rebus.


"Sayang apa kamu tidak apa-apa? Minumlah dengan pelan-pelan," tutur Briana yang tak menyadari bahwa dialah penyebab Jeffrey tersedak.


"Bukannya tadi Mommy bilang ada janji bertemu Mama Emy," Jeffrey mengalihkan topik.


Briana sontak melirik ke arah pergelangan tangannya.


"Oiya, kamu benar sayang. Ya sudah, Mommy pergi dulu. Kalian yang akur ya. Mommy akan sering-sering mengunjungi kalian," pamit Briana. Dia terlebih dahulu mencium kedua pipi Jeffrey dengan gemas sebelum menuju pintu keluar apartemen.

__ADS_1


"Fyuuuuhhhh!" Jeffrey dan Jenny menghembus napas lega bersamaan setelah melihat kepergian Briana.


Jenny seketika melempar lirikan tajam ke arah Jeffrey yang kebetulan disadarinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jeffrey heran.


"Jangan sekali-kali kau berpikiran untuk melakukan hal itu denganku," tegas Jenny.


"Melakukan apa maksutmu?" Jeffrey melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Jenny.


"Isshh! Jangan berlagak bodoh," cibir Jenny.


"Aku memang tidak paham maksutmu apa," Jeffrey berlagak bodoh dan semakin mendekat yang sontak membuat Jenny semakin gugup.


"Kenapa mukamu merah?" tanya Jeffrey yang mengamati muka Jenny tampak memerah seperti tomat yang sudah matang.


"A-aku..," Jenny gelagapan.


"Jangan-jangan kau sudah membayangkan hal itu," goda Jeffrey yang mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Jenny namun gerakan badannya terhenti karena timun.


Iya, Jenny menekan perut telanjang milik Jeffrey dengan timun berukuran besar yang ada di tangannya untuk memberi jarak antara mereka.


"Jangan mendekat, atah aku akan melemparmu dari gedung apartemen," ancam Jenny.


"Ck! Memangnya kau pikir aku mau berbuat apa kepadamu?" decih Jeffrey seraya mendorong kening Jenny dengan jari telunjuknya sehingga membuat tubuh Jenny yang tadinya menghalangi kulkas bergeser mundur.


Jeffrey meraih minuman kaleng dari kulkas lalu berniat kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat beberapa paper bag yang memenuhi meja makan.


Jeffrey sedikit penasaran dengan isi tas-tas kertas tersebut. Dia mencoba merogoh salah satu tas bewarna coklat dan mengeluarkan salah satu benda dari dalamnya.


"Untuk apa kau membeli benda seperti ini?" tanya Jeffrey seraya menjembreng G-string di depan mukanya dengan mata membelalak.


Jenny sontak beranjak dari tempatnya berdiri dan mendekati Jeffrey lalu menyabet dengan kasar benda yang menurutnya memiliki bentuk yang sangat aneh itu dari tangan Jeffrey.


"Kenapa kau sangat tidak sopan?!" seru Jenny.


"Ck! Ternyata kau tidak sepolos yang aku kira," cibir Jeffrey.


"Kau jangan sembarangan berbicara, semua ini Mommy Briana yang membelinya," sanggah Jenny.


"Lalu kau akan memakainya?" tanya Jeffrey menyelidik.


"Aku tidak mau memakainya, bentuknya sangat aneh. Aku bisa masuk angin jika memakainya, lagian kenapa kau penasaran aku akan memakainya atau tidak?" Jenny memicingkan matanya ke arah Jeffrey.


"Siapa juga yang penasaran,"


Tiba-tiba suara bell pintu berbunyi yang tentu saja menghentikan percakapan sepasang suami istri muda tersebut.


Jenny seketika tercekat ketika melihat monitor pada Security Door Camera.


Bersambung~~


...Untuk para Readers:...

__ADS_1


...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...


__ADS_2