Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Hanya Sekedar Istri Kontrak


__ADS_3

Seluruh onggokan daging bernyawa yang menyaksikan perseteruan antar manusia tersebut tampak terkejut akan pernyataan Jeffrey. Seketika seisi ruangan mulai berisik oleh cicitan-cicitan para nitizen. Itu adalah berita besar yang tentunya akan menjadi trending topic untuk menyerukan kegiatan menggosip yang menjadikan ladang dosa, terlebih lagi bagi mereka para lidah-lidah licin bak belut.


Selama ini, Jeffrey dan Jenny terkenal sebagai sepasang musuh bebuyutan. Hubungan mereka selalu diwarnai dengan pertengkaran dan perdebatan. Jeffrey yang sangat rajin mem-bully si kucing kumuh, dan si kucing kumuh yang selalu berani melawan si raja bully. Dan tiba-tiba ada berita menghebohkan bahwa hubungan mereka kini berstatus sebagai sepasang suami istri. Tentu saja hal itu menggemparkan seantero kampus.


Sean, Daisy, Sammy, Alvin, Jullian, dan Avellyn sungguh tidak menduga, bahwa lidah Jeffrey sendirilah yang menyiarkan ikatan pernikahannya dengan Jenny secara langsung di depan publik. Pernikahan yang tadi bersifat rahasia pribadi itu kini resmi menjadi rahasia umum.


Sedangkan Veronica saat ini dibuat tercengang akan sikap Jeffrey. Niatnya ingin mempermalukan Jenny di depan umum, tapi istilah senjata makan tuan berlaku untuknya. Kini justru dialah yang dipermalukan di depan umum.


"Dia tidak pernah merayuku, aku putus denganmu karena kesalahan yang kau perbuat. Jadi berhentilah memfitnahnya," beber Jeffrey penuh penekanan pada setiap kalimatnya.


"Satu lagi, kita sudah ada hubungan apa-apa lagi, jadi stop memanggilku dengan sebutan sayang," tandas Jeffrey kepada Veronica yang sontak membuat lidahnya kelu.


Jeffrey memutar lehernya ke arah Jenny yang sedari tertunduk menahan dilema perasaan yang dimana hanya dia yang tahu.


Pria berstatus suami muda itu meraih tangan Jenny hingga kini tampak jari-jari tangan mereka saling berkaitan. Matanya kembali menyapu ruangan, seolah mengabsen satu-persatu makhluk yang berada di depannya.


"Dia adalah istriku jadi mulai saat ini bersikap baiklah kepadanya," titah Jeffrey kepada semua orang yang berada di sekitar.


Veronica si bunga kampus yang sudah terbiasa dengan pujian dan sanjungan kini dalam waktu singkat harus merasakan harga dirinya terjatuh dan merosot ke dalam jurang kekecewaan yang begitu curam dan gelap.


Tidak tahan dengan situasi yang memberatkannya, dia lebih memilih mundur dan pergi dari kerumunan orang-orang dengan langkah cepat serta perasaan sakit hati yang langsung berakar hingga menumbuhkan tunas-tunas kebencian dan ambisi berbalas dendam.


"Lihat saja kau wanita jalang, saat ini Jeffrey memang berada di pelukanmu tapi aku pastikan hal itu hanya bersifat sementara. Untuk selanjutnya, Jeffrey tetap milikku!" teriak kebencian Veronica di dalan hati.


Sementara itu, tentang apa yang dirasakan Jenny sungguh berbeda dari yang diharapkan. Terkejut? Iya, gadis berlensa biru itu memang sempat merasakan hal itu, namun ternyata rasa kecewalah yang lebih mendominasi hatinya saat ini.


Perlahan, Jenny melepas tautan jari-jari tangannya yang langsung membuat Jeffrey merotasikan mukanya ke arah Jenny. Jeffrey terheran-heran tatkala menangkap gelagat dan mimik muka Jenny yang tak terbaca.


"Kenapa kau selalu bertindak sesuka hatimu?" tanya Jenny lirih yang masih terdengar oleh Jeffrey dan kawan-kawan.


Jeffrey mengerutkan kedua ujung alisnya hingga hampir menyatu. "Apa maksutmu?"


Alih-alih memberi jawaban sebagai penawar kebingungan Jeffrey, gadis itu justru sekilas melirik ke arah Jeffrey dengan tatapan sendu lalu melangkah pergi.


Jeffrey yang masih tenggelam dalam pikirannya tampak mematung hingga akhirnya dia tersadar karena sebuah tempelengan keras yang mendarat di kepalanya.


"Berani-beraninya kau memukulku?!" bentak Jeffrey kepada orang yang baru saja menghadiahkan sebuah pukulan ke kepala Jeffrey. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Sean.


"Apa kau bodoh?! Lekas kejar dia! Kenapa kau hanya berdiam diri?! Apa kau ingin aku yang mengejarnya?! Dasar tidak peka sama sekali," seru Sean yang merasa kesal ternyata mantan sahabatnya itu masih saja sama seperti dulu. Tingkat kepekaannya benar-benar nol.


Emosi Jeffrey menguap begitu saja ketika mendengar ucapan Sean yang menurutnya benar, lalu bergegas mengambil langkah mengikuti Jenny.

__ADS_1


"Woaaah! Sean kau benar-benar berani memukulnya," puji Sammy seraya bertepuk tangan kegirangan.


Sean memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Karena aku dan Jeffrey sebenarnya sama. Kami dulu juga suka mem-bully murid lain waktu SMP. Bedanya dia selalu memasang muka masam sedangkan aku selalu memasang muka tampan dengan sejuta pesona," jawab Sean narsis yang langsung membuat Sammy, Alvin, Daisy, Jullian, dan Avellyn muntah pelangi di tempat.


Tapi kenyataannya memang begitulah adanya. Jeffrey dan Sean adalah dua pria tampan dengan khas pesonanya masing-masing.


"Tapi aku heran. Aku lebih tampan darinya, tapi kenapa setiap wanita yang aku sukai selalu berakhir dalam pelukannya," gerutu Sean.


"Itu karena kau terlalu banyak tebar pesona," jawab sinis Alvin yang langsung mendapat tatapan tajam Sean.


"Uwuuhh! Sungguh Seanku yang malang, coba kau dekati dan dekap diriku, pasti aku senang hati terjun langsung ke pelukanmu," goda Daisy yang langsung terbang dan menggelayut pada lengan Sean.


"Ih! Ih! Dasar genit!" cebik Sammy langsung menampik tangan Daisy lalu mengambil alih lengan Sean dengan gaya tak kalah manja.


Melihat tubuh Sammy jauh lebih besar dari pada tubuh Sean, membuat pemandangan saat ini begitu kontras. Bagaikan seekor gorila menggelayut manja di tangan anak simpanse.


"Sean adalah milikku! Iya kan Sean? Mulai saat ini kau harus kembali bergabung dengan kelompok kami agar aku bisa memintamu memukul kepala Jeffrey ketika aku sedang sebel dengannya," rayu Sammy dengam suara mendayu-dayu seolah tidak ingin kalah dengan Daisy.


"Dasar banci malam!" dengus Daisy kesal.


"Apa kau bilang?! Siapa yang banci malam? Kau belum tahu kehebatan kejantananku rupanya ya? Sekali aduk aku bisa buat perutmu itu membuncit seperti badut," seru Sammy tidak terima.


"Mau kemana kau? Jangan pergi!" teriak Sammy yang berusaha mengejar Daisy.


"Kyaaakkkk! Kenapa kau malah mengejarku?!" terdengar suara jeritan Daisy dari jauh.


"Woi! Berhenti gadis gila!"


"Kyaakkk! Jullian..! Avellyn..! Sean sayangku tolong aku!" teriak Daisy setelah tertangkap oleh Sammy. Dari kejauhan terlihat Sammy sedang menyeret Daisy dengan menarik ujung kerah bajunya dan akhirnya mereka menghilang bagaikan ditelan bumi.


Sedangkan Sean, Alvin, Jullian, dan Avelly hanya bisa menggeleng kelapa seraya menepuk jidat melihat tingkah bar-bar Sammy dan Daisy.


°°°


Di taman botani Universitas Cambridge.


"Berhentilah," pinta Jeffrey seraya menarik tangan Jenny dari belakang yang sontak membuat sang pemilik tangan menghentikan langkahnya namun masih enggan memutar tubuhnya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau terlihat tidak senang?" tanya Jeffrey heran.


Jenny memutar tubuhnya menghadap Jeffrey. Perlahan ia menatap lekat ke dalam manik hijau suami kontraknya tersebut. Mimik mukanya sungguh tak terbaca.

__ADS_1


"Kenapa kau mengumumkan tentang status pernikahan kita? Bukankah kau sendiri yang memintanya agar hubungan kita ini di rahasiakan? Tapi sakarang justru kau sendiri yang membongkarnya," Jenny mulai bersuara.


"Karena aku berubah pikiran. Aku ingin orang-orang tahu kau itu istriku," jelas Jeffrey seraya menatap lekat mutiara biru milik Jenny.


"Ck! Yang benar saja," Jenny berdecih seraya tersenyum miris.


"Apa maksut dari responmu itu?" tanya Jeffrey mulai kecewa.


"Karena aku tidak suka dan aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku itu istrimu," beber Jenny dengan mata mulai berkaca-kaca.


Perkataan Jenny bagaikan ribuan jarum yang menghunus dada pria itu. Terluka tapi tak berdarah, terasa sakit tapi tak ada rupa. Marah dan kecewa seketika merayap memenuhi hatinya.


Padahal di dalam palung hatinya sudah mulai menaruh harapan besar akan hubungan pernikahannya. Pria itu juga berharap istrinya tersebut memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi pupuslah sudah, satu kalimat yang terlontar dari mulut Jenny membuat harapannya pupus.


"Baiklah kalau itu maumu," ucap Jeffrey dingin lalu melangkah pergi meninggalkan Jenny begitu saja tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


Jenny memutar tubuhnya karena tak sanggup melihat punggung Jeffrey yang meninggalkannyan kian menjauh.


Cairan bening yang sedari tadi terbendung kini mulai merembes membingkai kedua telaga beningnya hingga akhirnya tak tertahan dan jatuh begitu saja membasahi pipinya.


Jenny menangis tanpa suara, bahkan isakan tangis pun tak terdengar. Namun tubuhnya tidak dapat berbohong. Tubuh kecilnya sesekali tampak bergetar meski sebisa mungkin ia menahan luapan tangisnya agar tidak pecah.


"Mungkin aku akan merasa sangat senang jika situasinya berbeda. Istri mana yang tidak bahagia ketika suaminya mulai mengakui statusnya di depan orang banyak," gumam Jenny sendu.


"Tapi aku hanyalah seorang istri kontrak, yang akhirnya akan berakhir dalam perceraian. Mereka pasti akan memandang rendah diriku karena sudah menjadi janda di usiaku yang masih muda. Maka dari itu, aku ingin pernikahan ini tetap dirahasiakan, tapi semuanya sudah terlanjur mengetahuinya," lirih Jenny penuh pilu dengan air mata yang masih terus menganak sungai di pipinya.


Entah mengapa, saat ini gadis blonde itu berharap Jeffrey kembali menemuinya. Hatinya yang sedang terselubung kesedihan dan kepiluan seolah haus akan sifat manis Jeffrey beberapa hari trakhir. Tanpa ia sadari, hati kecilnya sudah menyimpan sebuah rasa yang membuatnya nyaman dan membutuhkan.


Dengan gerakan lesu dan muka yang menunduk, Jenny memutar tubuhnya berniat meninggalkan tempat dia berpijak saat ini.


Dia mulai melangkahkan kakinya tanpa memandang lurus ke depan. Sepertinya rerumputan yang menjadi pijakan kakinya saat ini tampak lebih menarik baginya sehingga membuatnya enggan mengalihkan pandangannya dari bawah. Padahal kenyataannya bukan seperti itu. Dia hanya terlalu lelah meski hanya sekedar menegakkan lehernya.


Bruk..!


Jenny yang baru berjalan beberapa langka tiba-tiba berhenti mendadak karena menabrak sesuatu di depannya.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2