
Di dalam sebuah kendaraan umum bus kota yang penuh akan penumpang. Jenny dan Jeffrey duduk bersebelah pada salah satu bangku kosong yang terletak paling ujung belakang. Beberapa saat yang lalu setelah keluar dari Covent Garden, Jeffrey terpaksa menuruti rengekan Jenny yang mendadak ingin menaiki bus umum kota dan meninggalkan mobil pribadinya di parkiran yang tersedia di Covent Garden.
"Hei kau! Apa tidak sebaiknya meminta maaf dulu kepadaku?! Kau baru saja menabrakku ketika akan masuk bus tadi," seru seorang remaja perempuan kepada seorang remaja lelaki yang diyakini telah menabraknya beberapa saat yang lalu.
"Itu karena kau menghalangi jalanku, jadi bukan salahku jika kau tertabrak," jawab remaja lelaki itu ketus.
"Tidak, kau yang buta tidak melihat dengan benar jika ada orang di depanmu," hardik remaja perempuan.
"Kau bilang apa tadi?! Berani-beraninya kau berkata seperti itu kepadaku," gertak si remaja lelaki.
Perseteruan antara dua remaja tersebut tentu saja mengundang perhatian seluruh para penumpang bus tak terkecuali Jeffrey dan Jenny. Hingga akhirnya..
Ckiiittt..!
Bruuk!
Tubuh seluruh penumpang tersentak ke depan dengan kasar karena bus yang mereka tumpangi mendadak berhenti yang di ikuti suara gesekan ban mobil dengan permukaan jalan raya karena sang supir mengerem secara tiba-tiba.
"Hei Nona, tidak bisakah kau lebih berhati-hati? Tindakanmu itu sangat berbahaya," teriak si supir kepada salah satu pengguna jalan yang hampir tertabrak karena kurang berhati-hati saat akan menyeberang jalan.
Dan apa yang terjadi dengan kedua remaja yang sedang bercekcok mulut tadi? Iya, karena dari awal posisi mereka sedang berdiri, goncangan keras pada bus yang secara tiba-tiba membuat kedua remaja berbeda jenis kelamin itu terjatuh dan saling tumpang tindih dengan bibir yang saling menempel.
Plak!
Sebuah tamparan kuat melesat tepat pada pipi si remaja pria setelah keduanya bangkit dari lantai bus.
"Dasar pria mesum! Kau telah mencuri ciuman pertamaku,"
"Berani-beraninya kau menamparku!"
Perang mulut mereka masih terus berlanjut meski keduanya sudah berada di luar bus yang mereka tumpangi.
Perhatian Jeffrey dan Jenny yang sedari tak lepas dari adegan perang mulut dari kedua remaja tersebut seketika saling melempar pandang yang diikuti senyuman yang menerbit jelas hingga akhirnya tawa merekapun terdengar pecah.
Mereka seperti melihat potret masa lalu diri mereka sendiri. Iya, pemandangan yang baru saja tersaji mengingatkan pada kejadian serupa yang menimpa mereka beberapa tahun yang lalu di bus yang sama.
Jenny menyandarkan kepalanya pada ujung bahu Jeffrey. "Apakah akhirnya kedua remaja itu juga akan saling jatuh cinta?" ucap Jenny dengan pikiran yang mengulang kembali ingatan di kala itu.
Jeffrey tersenyum simpul kemudian menarik tangan kecil Jenny dan menautkan jari-jarinya. "Mungkin saja hal itu bisa terjadi, seperti apa yang pernah kita alami hingga saat ini," balas Jeffrey lalu mencium buku-buku jari tangan Jenny.
"Aku harap mereka bisa saling jatuh cinta kelak,"
"Terus terang, bibirmu terasa sangat manis ketika kita berciuman untuk pertama kalinya di bus waktu itu," Jeffrey mengulas kembali apa yang dirasakan waktu itu.
Jenny sontak mengangkat kepalanya dari bahu Jeffrey lalu melempar lirikan tajam.
__ADS_1
"Hish..! Padahal waktu itu aku sudah sangat kesal setengah mati kepadamu," sungut Jenny.
"Tapi sekarang sudah berbeda, kau bahkan diam-diam sering mencuri ciumanku ketika aku sedang tidur," tukas Jeffrey berniat menggoda Jenny.
"Sudah ku duga kalau kau hanya berpura-pura tidur," cebik Jenny yang membuat senyuman Jeffrey semakin merekah.
Drrttt..! Drrttt..! Drrtt..!
Percakapan mereka terhenti karena ponsel Jeffrey bergetar. Pria itu tampak menautkan kedua pangkal alis ketika nama John tertera jelas di layar ponselnya. Kemudian dia mengusap layar menggunakan ibu jarinya untuk menerima permintaan panggilan suara tersebut.
"Hm,"
"Jeff, kau ada dimana?" suara John terdengar mendayu-dayu seperti sedang merayu mangsa pejantannya.
"Katakan saja ada perlu apa?"
"Errgg! Selalu dingin seperti biasanya," John terdengar ngambek.
"Ya sudah aku tutup teleponnya,"
"Eh! Jangan jangan jangan! Aku ingin mengatakan sesuatu," tukas John.
"Katakan,"
"Sebenarnya saat pertama kali aku bertemu istrimu, aku seperti mengingat sesuatu tapi aku lupa,"
"Siapa?" Jenny yang melihat raut muka Jeffrey mulai terlihat kesal jadi penasaran lalu menanyakan kepada Jeffrey hanya dengan gerakan mulut tanpa suara namun langsung dipahami Jeffrey. Wanita itu langsung mendapat jawabannya ketika Jeffrey menunjukkan nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Dengarkan dulu...," John yang memiliki nama lain Natasya tersebut terdengar kesal dari nada suaranya di balik telepon.
"Aku ingat, waktu itu pihak Rumah Sakit sempat kehabisan stok darah yang kau butuhkan. Dan entah darimana datangnya, Jenny tiba-tiba muncul menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya ketika kau sedang kritis karena kehilangan banyak darah akibat kecelakaan balap motor liar. Waktu itu, akulah yang mendampingimu di Rumah Sakit sebelum kedua orangtuamu dan yang lainnya datang, jadi aku sempat melihat Jenny namun setelah itu aku tidak lagi melihatnya," sambung John kembali yang tidak meninggalkan ciri khas suaranya yang mengalun manja.
Jeffrey seketika tertegun. Sesaat ia menggiring mukanya ke arah Jenny yang tengah sibuk melihat pemandangan di luar jendela bus. Tangannya yang masih menggenggam tangan Jenny sontak kian mempererat tautan jari-jarinya.
"Kenapa kau baru menceritakannya sekarang?"
"Aku juga baru ingat, makanya aku baru cerita,"
"Kau sudah bekerja selama 5 bulan lebih denganku dan kau baru mengingatnya sekarang? Selama 3 bulan gajimu aku potong," putus Jeffrey seenak jidatnya. Mentang-mentang dia Bos.
"APA?! Kenapa?! Pekik John tidak percaya.
Tut! Tut! Tut!
Jeffrey memutuskan sambungan panggilan telepon secara sepihak. Sudah diyakini, saat ini John sudah kembali menjelma menjadi pejantan yang sedang mengamuk karena sangking kesal dan merutuki tindakannya karena menyesal. Menyesal bukan karena ia lambat mengingat tentang kebenaran siapa yang mendonorkan darah untuk Jeffrey, melainkan menyesal karena telah menceritakan apa yang dia ingat kepada Jeffrey.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apakah wanita yang berada di sampingku saat ini adalah seorang malaikat berwujud manusia yang kau kirimkan kepadaku? Apakah dengan membahagiakan dan mencintainya dengan sepenuh hati sebanding dengan apa yang telah dia lakukan untukku?" batin Jeffrey penuh haru.
Jeffrey kembali mencium buku-buku jari tangan Jenny lalu ia tarik tubuh Jenny untuk masuk ke dalam pelukannya dan menghujani pucuk kepala Jenny dengan kecupan-kecupan penuh cinta.
"Ada apa?" Jenny bertanya-tanya. Pasalnya baru beberapa detik yang lalu Jeffrey terlihat kesal tapi dengan begitu cepatnya kekesalannya itu seolah menguap begitu saja.
"Nanti aku akan bercerita," jawab Jeffrey semakin menenggelamkan Jenny ke dalam dada bidangnya dengan perasaan yang begitu sulit di artikan.
°°°
Semilir angin berhembus lirih. Menggoyangkan setiap daun yang menggantung pada rantai-rantai dahan pohon. Suasana tempat pemakaman begitu hening dan tenang. Bahkan suara angin pun hanya terdengar samar-samar.
Pria berlensa hijau tampak berdiri dan memandangi sebuah pusara makam Thomas Dawson, Ayah Jenny yang juga Ayah mertuanya. Sorotan matanya tersirat akan kesenduan dan rasa syukur.
Sedih karena dialah penyebab kematian Thomas dan bersyukur karena pengorbanan Thomas waktu itu telah menjadi jembatan takdir yang mempertemukannya dengan Jenny, wanita yang telah menjadi istri dan ibu dari putranya. Wanita yang selalu menempati pada singgasana tertinggi hatinya.
Apakah Tuhan sangat menyayangiku sehingga selalu mengirimkan malaikat penolong di setiap aku dalam bahaya. Itu yang sempat terlintas dalam benak pikiran Jeffrey. Pria itu tak henti-hentinya bersyukur ketika memutar kembali ingatan-ingatan di masa lalu.
Setelah pengorbanan Thomas seolah Tuhan tak pernah bosan menunjukkan kasih sayangnya dengan mengirim darah daging Thomas untuk kembali menolongnya yang tak lain dan tak bukan adalah Jenny.
"Aku masih mengingatnya, sebelum menghembuskan napas terakhirmu di pangkuanku kau sempat bercerita bahwa memiliki seorang putri yang kuat dan pemberani. Siapa saja bisa menyayanginya dengan mudah. Iya, aku sudah bertemu dengan putrimu dan membuktikan sendiri apa yang kau ceritakan," Jeffrey menjeda ucapannya dan memutar lehernya ke arah Jenny yang sedang berdiri di sampingnya. Ia raih tangan Jenny dan menautkan jari-jarinya lalu mengecupnya dengan tatapan penuh bangga karena sudah memiliki Jenny seutuhnya.
Jeffrey kembali menggiring mukanya ke arah pusara Thomas.
"Putrimu memang wanita yang luar biasa. Di saat semua orang takut dan tidak berani melawanku, tapi dia malah sebaliknya. Aku juga bisa mencintainya dengan sangat mudah. Bahkan di saat kehilangan semua ingatan memori di otakku, aku kembali jatuh cinta kepadanya. Bukankah putrimu sangat mengagumkan?" Jeffrey masih terus berkata seolah batu pusara di depannya adalah lawan bicara yang sedang menjadi pendengar yang baik.
"Di depan pusara makammu, aku berjanji dan bersumpah untuk selalu mencintai dan menjaga putrimu dengan segenap jiwa. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanya hingga raga ini tak mampu lagi berdiri," lanjut Jeffrey kembali dengan mata yang sudah terasa panas.
Takdir adalah misteri dan selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Seperti halnya takdir cinta Jenny dan Jeffrey yang mengawali kisahnya dengan rasa saling benci. Tapi siapa sangka, jauh sebelum rasa benci itu tumbuh seolah benang cinta tak kasat mata sudah mengikat hati keduanya untuk saling menghubung.
Kisah perjalanan cinta Jeffrey dan Jenny sudah berputar bahkan sebelum mereka bertemu dan saling membenci hingga akhirnya sebuah rasa yang sama mendiami jiwa mereka yang disebut cinta. Cinta dan benci, dua rasa itu memang berbeda, tetapi perbedaannya hanya sebatas garis tipis tak kasat mata.
Cinta layaknya angin, apa pun yang ditiupnya akan merasakan sensasi sejuk. Seperti air, yang menghidupkan segalanya. Bagaikan bumi, ia bisa menumbuhkan apa pun. Ibarat cahaya, apa pun yang disentuhnya akan bersinar. Seperti langit, apa pun yang ada di bawahnya akan dipayunginya. Akan tetapi Cinta juga bisa berperan sebagai api, apa pun yang dilewatinya akan terbakar.
Skala integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, berkembang dalam untaian kata, terurai dalam tindakan.
Kisah romansa cinta dan kehidupan Jeffrey dan Jenny belumlah berakhir. Perjalanan mereka masih panjang. Selama nyawa masih bersemayam di dalam tubuh, kehidupan masih akan terus berlanjut, ujian hidup masih siap menghadang. Ujian yang menentukan seberapa kokoh pondasi bahtera keluarga yang berlandaskan cinta dan kepercayaan. Ujian yang siap menghantam kapal bahtera rumah tangga yang mengarungi luasnya kisah kehidupan.
"Istriku, aku mencintaimu. Kau telah membuatku jatuh cinta setiap hari. Dan maaf atas segala kesalahanku di masa lalu,"
"Suamiku, aku juga mencintaimu. Janganlah berhenti mencintaiku. Jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah di sini bersamaku dan putra kita,"
"Aku akan tetap bersamamu, mendampingimu apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama hingga ajal memisahkan kita,"
"Tidak, meski ajal telah tiba, kita akan tetap kembali bersama di surga,"
__ADS_1
...~TAMAT~...