
Sammy dan Alvin mengambil beberapa langkah mundur hingga mendekati titik posisi Jeffrey dan Jenny. Jarak mereka dengan segerombolan preman itu semakin dekat. Keempat pasang mata, Jeffrey, Jenny, Sammy, dan Alvin tak lepas dari kawanan preman yang tampak seperti zombie kelaparan.
"Hahaha..! Selamat, kalian akan menjadi santapan mereka," seru si pemimpin preman di sela gelak tawanya kemudian dia pergi dari sana, membiarkan para anak buahnya mengambil alih.
"Woi! Pengecut! Mau lari kemana kau?! teriak Jeffrey yang masih memeluk Jenny.
"Jeff, apa kita harus melawan mereka? jumlah mereka tak sebanding dengan jumlah kita saat ini," tanya Alvin tampak panik.
Sammy memutar tubuhnya ke arah Jeffrey. "Sebaiknya kita kabur saja, bagaimana menurut kalian?" saran Sammy dengan tubuh terlihat gemetar. Rasanya ingin sekali dia kencing di celana.
Bug!
Tiba-tiba tubuh Sammy terpental maju akibat tendangan keras pada tubuh belakangnya yang berasal dari salah satu kelompok preman yang entah sejak kapan mereka sudah berdiri di hadapan Jeffrey, Jenny, Sammy, dan Alvin.
"Woi! Kenapa kau menendangku tanpa bertanya dulu?! seru Sammy seraya meringis karena rasa sakit di punggungnya.
Tiba-tiba indera penciuman Sammy mengendus-endus sesuatu bau tak sedap di sekitarnya. Dia terus menyelidik dan berputar-putar mencari sumber bau tersebut seperti anjing german shepherd yang sedang melacak sesuatu yang mencurigakan.
Hingga di ujung pengendusan, dia menyentuh punggungnya, bekas tendangan tadi dan merasakan sesuatu benda benyek, bau, dan sangat menjijikkan menempel di tangannya. Dia sangat yakin, kotoran itu berasal dari sepatu salah satu preman minim ahklak yang menendangnya tadi.
"Kyaaaakkkk! Kotoran anjing!" teriak Sammy sambil mengibas-ngibas tangannya yang sontak membuat Jeffrey, Jenny, dan Alvin mengambil seribu langkah mundur secara serentak dari Sammy karena tidak ingin menjadi korban selanjutnya benda menjijikkan itu.
"Kenapa kau sangat jorok sekali?! Kotoran anjing tak berdosapun kau injak-injak," hardik Sammy lalu melayangkan sebuah tamparan keras kepada preman yang telah berani menendangnya tadi.
"Hueekkk! Huekkkk! Dasar bajingan! Kau menamparku dengan kotoran itu!" Hardik si preman yang ingin muntah karena kotoran anjing yang menempel di pipi dan mulutnya.
"Rasakan! Makan itu kotoran anjing," seru Sammy.
"Apa kau gila?! Kau membuat mereka semakin marah," ucap Jeffrey setengah berbisik.
Dan memang benar, kini para preman itu mulai mengepung sehingga semakin sulit bagi mereka untuk kabur.
Beberapa di antara preman tersebut mulai menggencarkan aksinya. Sammy dan Alvin sudah menerima beberapa kali hadiah pukulan dan tendangan. Meski mereka beberapa kali berhasil membalas pukulan para berandalan tersebut, tapi tetap saja mereka kesulitan dalam mengimbangi kekuatan para brandal yang dimana jumlah yang kalah telak.
Sedangkan Jeffrey juga berusaha beberapa kali menerjang para berandalan meski ruang geraknya saat ini sangat terbatas karena harus melindungi Jenny, menjadikan tubuhnya sebagai benteng agar istri kecilnya itu tidak terluka. Maka tak khayal beberapa luka juga tampak bersemayam di muka dan tubuhnya.
Bug! Bug! Bug! Duak! Duak!
Suara hujaman pukulan dan tendangan mentah masih berlanjut. Hingga akhirnya aksi mereka terhenti karena terdengar suara sirine mobil polisi yang begitu nyaring. Menyadari nasib mereka terancam mendekam di dalam deruji besi, para preman yang memang kesehari-hariannya sudah sangat meresahkan masyarakat tersebut berhamburan berusaha melarikan diri.
Dorr!
"Berhenti dan serahkan diri atau kami akan menembak kalian!" teriak salah satu petugas kepolisian setelah menembakkan satu amunisi dari senjata apinya ke arah langit.
Sebagian preman memilih menyerah karena masih menyayangi nyawanya dan sebagian harus menerima luka timah panas yang bersarang di kakinya karena tetap berusaha untuk kabur. Akhirnya petugas polisi berhasil meringkus semua para pelaku criminal crime tersebut.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Sean yang baru saja menghampiri para korban aksi brutal para preman.
"Jenn, bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?" tanya Sean lagi yang terlihat sangat cemas.
Iya, beberapa saat yang lalu Sean datang dengan membawa beberapa petugas polisi.
Jujur, Sean merasa cemburu karena melihat Jeffrey tampak enggan melepas pelukannya dari tubuh Jenny.
"Kami baik-baik saja, hanya ada luka ringan," jawab Alvin.
Sedangkan Jenny hanya memberi sedikit anggukan kepalanya, gadis itu masih tampak syok akibat kejadian yang baru saja menimpanya.
"Iya, untung saja kau segera datang membawa polisi, kalau tidak bagaimana nasibku mukaku yang tampan ini," timpal Sammy.
Cetak!
"Aw! Kenapa kau suka sekali menjitakku?!" dengus Sammy setelah menerima hadiah jitakan mentah dari Alvin.
__ADS_1
"Masih sempat-sempatnya kau memikirkan muka jelekmu itu," cebik Alvin.
"Terimakasih karena kau sudah menolong kami, aku akan membawanya pulang sekarang," sela Jeffrey yang langsung menggendong Jenny ala-ala bridal style yang sontak membuat Jenny terkesiap dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Beruang kutub! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku karena aku masih bisa berjalan sendiri," rengek Jenny sedikit berbisik dan meronta minta diturunkan. Saat ini dia sangat malu karena tindakan impulsif Jeffrey. Dan di sisi lain, dia merasa tidak enak hati kepada Sean yang sedari tadi mengamatinya.
Alih-alih mendengar rengekkan istri kecilnya, Jeffrey justru semakin mempererat gendongannya seraya tersenyum tipis.
"Jangan banyak bergerak nanti kau bisa jatuh," pinta Jeffrey.
Jenny akhirnya hanya bisa mendengus kesal dan membiarkan Jeffrey bertindak sesuka hatinya.
Alvin menepuk pundak Sean untuk memutus tatapan Sean yang tidak lepas dari keberadaan Jeffrey dan Jenny yang semakin menjauh.
"Sean, sepertinya kau harus merelakan pujaan hatimu itu kepada Jeffrey," ucap Alvin dengan mimik muka iba. Pasalnya semua orang tahu, tentang perasaan pemuda itu kepada Jenny selama ini.
"Bagaimanapun juga, Jeffrey adalah pemilik mutlak gadis itu karena dia adalah suaminya," tutur Alvin lagi.
Sean menyibak kebelakang rambutnya dengan kasar kemudian pergi meninggalkan Sammy dan Alvin dengan berbagai perasaan yang bercampur jadi satu.
Sedangkan Sammy dan Alvin hanya bisa melihat punggung Sean yang semakin mengecil dengan tatapan iba.
°°°
"Sudah hentikan, kau bisa melukai lehermu!" pinta Jeffrey yang melihat Jenny masih saja menggosok kasar lehernya dengan kain.
Gadis itu juga sudah berkali-kali mencuci lehernya dengan sabun tapi usahanya itu seakan tak mampu menghilangkan rasa jijik pada tubuhnya. Mengingat perlakuan mesum preman bau tadi membuatnya merasa kotor.
Alih-alih menuruti perkataan Jeffrey, Jenny semakin memperkasar usapan pada lehernya hingga kulitnya memerah dan menimbulkan rasa perih.
"Apa kau bodoh?! Kau bisa melukai lehermu!" Jeffrey sedikit menaikkan nada bicaranya yang sontak membuat Jenny tersentak dan menghentikan kegiatannya.
Cairan bening mulai membingkai sepasang jendela hati Jenny dan pada akhirnya mencelos membasahi pipinya begitu saja.
"Sebaiknya kita obati dulu lukamu," Jeffrey kembali menurunkan nada bicaranya dan menuntun Jenny ke bibir ranjang.
Dia mengoles obat berbentuk gel pada leher Jenny. Suami muda itu sesaat terdiam seraya menelan cairan saliva yang seolah menyangkut di tenggorokan. Hanya sebatas melihat dan menyentuh leher putih Jenny, sudah berhasil membuat adik kecilnya bergejolak.
"Kau memang brengsek Jeff! Bisa-bisanya kau terangsang di saat gadis ini dalam keadaan menyedihkan," Jeffrey mengutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Untuk mengalihkan hasratnya, Jeffrey menggiring manik hijaunya ke bawah untuk memeriksa kondisi tangan kecil Jenny. Dia sangat yakin, terdapat lebam pada tangan istrinya itu akibat ikatan tadi.
Dan benar saja, luka memar bewarna biru keunguan sudah melingkari tangan Jenny. Namun Jeffrey melihat ada yang aneh pada pergelangan tangan Jenny. Matanya terpaut lekat pada luka-luka yang berjajar dan tampak dalam pada kedua tangan Jenny.
"Preman brengsek tadi sepertinya mencengkeram tanganmu terlalu kuat hingga kukunya menancap di kulitmu," ucap Jeffrey yang langsung mendapat tatapan datar Jenny.
"Ini bukan ulah preman itu," sanggah Jenny ketus.
"Terus darimana kau dapatkan luka ini?" tanya Jeffrey penasaran.
"Kau tidak akan percaya jika aku memberitahumu," balas Jenny lalu mengambil alih obat dari tangan Jeffrey dan mulai mengolesnya pada luka di muka suami kontraknya tersebut.
"Aku sudah mengobati lukamu, kau bisa kembali ke kamarmu sekarang," pinta Jenny yang hendak beringsut ke dalam selimut namun ditahan Jeffrey.
"Kau harus menjawabnya dulu baru aku akan pergi," pinta Jeffrey.
"Aku tidak mau," tolak Jenny.
Tiba-tiba luka itu mengingatkan pada kejadian di mana Jeffrey lebih membela Veronica daripada dia. Hal itu kembali menciptakan denyutan yang begitu dalam dan terasa sangat tidak nyaman di dadanya. Sejujurnya, Jenny masih kecewa kepada Jeffrey.
"Baiklah, aku akan tidur bersamamu malam ini hingga kau mau memberitahuku darimana asalnya luka-luka itu," ancam Jeffrey yang kemudian menarik tubuh Jenny dengan paksa dan tenggelam bersama di dalam selimut.
"Sebenarnya kau ini kenapa? Sejak kapan kau peduli denganku? Lepaskan tangan nakalmu itu," Jenny mencoba melepas lilitan tangan Jeffrey pada perutnya.
__ADS_1
Namun Jeffrey tak mengindahkan permintaan Jenny. Dia justru semakin mempererat pelukkannya dan menengelam kepalanya pada ceruk leher Jenny yang memunggunginya.
Jenny mengehela napas dengan kasar.
"Baik aku akan cerita. Lepaskan dulu tanganmu dari perutku," Jenny memutuskan.
Kemudian Jenny pindah ke posisi duduk dan diikuti Jeffrey.
"Kau ingat waktu aku mendorong pacar kesayanganmu itu? Itu karena aku berusaha melepas cengkeraman tangannya yang melukai tanganku. Dia sengaja menancapkan kuku-kukunya yang tajam ke kulitku," beber Jenny yang seketika membuat hati Jeffrey merasa tercubit. Lagi-lagi dia telah salah menuduhnya.
"Dan tentang tamparan di wajahnya, itu memang benar. Aku memang menamparnya karena dia telah menghina Mamaku sebagai wanita murahan. Seharusnya dia bersyukur karena aku hanya menamparnya. Sebenarnya waktu itu aku ingin sekali mencakar habis mukanya yang cantik itu hingga tak berbentuk tidak peduli itu pacar kesayanganmu. Dan lagi, aku tidak pernah menyuruhnya untuk menjauhimu. Dia telah menfitnahku di depanmu. Lagian aku punya hak apa? Aku memang istrimu tapi itu hanya sebagai istri di atas kertas dan secepatnya kau juga akan menceraikanku," sekali lagi, Jenny mengutarakan semua kebenarannya yang membuat Jeffrey semakin diselimuti rasa bersalah.
Entah sejak kapan, setiap Jenny mengucap satu kata perceraian membuat hatinya gamang. Dia mulai membenci satu kata yang bermakna putusnya suatu ikatan pernikahan itu.
"Maaf," saat ini hanya satu kata yang mampu terucap dari bibir Jeffrey.
Jeffrey seketika memutar lehernya ke arah Jeffrey. Kedua pasang netra mereka saling mengunci. Gadis mencari ketulusan dari sorot mata jeffrey dan memang sepertinya suaminya itu benar-benar tulus saat mengucapkan maaf.
Jenny kembali menarik tatapannya dan melempar ke sembarang arah seraya menghela napas panjang.
"Sekarang kau sudah mengetahui semuanya bukan? Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang," tutur Jenny tanpa melihat ke arah Jeffrey.
"Aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu terluka saat di halte bus, aku juga menyesal karena telah berkata kasar dan menuduhmu tanpa tahu kebenarannya," ucap Jeffrey tulus.
"Bisa-bisanya kau menuduhku tidur bersama Sean padahal kau sendiri yang tidur bersama pacarmu itu, hah! Yang benar saja. Kau sangat menyebalkan," cibir Jenny yang masih ingin meluapkan kekecewaannya.
Jeffrey menarik kedua pundak Jenny untuk menghadap ke arahnya.
"Tidak, kau salah paham. Kemarin Vero memang menginap di sini karena alasan sakit dan aku membiarkannya tidur di kamarku, sedangkan aku sendiri tidur di ruang tamu, kami tidak melakukan apa-apa?" jelas Jeffrey.
"Ck! tidak melakukan apa-apa, tapi aku melihat sendiri penampilan Vero hampir telanjang," cebik Jenny sekali lagi.
"Aku kemarin hanya membantunya memijit kakinya yang terkilir karena kepleset di kamar mandi. Dan tentang pakaian yang di kenakan Vero, aku juga tidak tahu kenapa dia mengganti pakaiannya dengan kemejaku, aku berani bersumpah," jelas Jeffrey lagi meyakinkan Jenny.
Jenny sontak tertegun mendengar penjelasan Jeffrey. Dalam masalah ini dia juga sempat salah paham kepada Jeffrey.
"Maaf, karena aku juga sudah salah paham," ucap Jenny lirih dan tertunduk.
"Aku juga sudah memaafkanmu, tapi aku masih kecewa kepadamu. Ya sudah keluarlah," sambung Jenny lagi.
"Aku akan tidur di sini karena aku ingin menjagamu hingga kecewamu hilang," Jeffrey kembali bermodus.
Jenny membelalakkan matanya dan mulai kesal. "Tidak tidak tidak! Kau tadi bilang kau akan pergi setelah aku memberitahumu,"
Blam!
Jenny berhasil mengusir Jeffrey dari kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.
"Kenapa dia bersikap aneh hari ini? Tidak seperti biasanya dia begitu," gerutu Jenny sembari melangkahkan kakinya menuju ranjang dan berbaring.
Sedangkan di balik pintu, Jeffrey masih bersandar pada daun pintu seraya tersenyum tipis penuh arti.
"Sepertinya aku memang menyukai gadis aneh itu," batin Jeffrey yang tampak berbunga-bunga.
Tiba-tiba ekspresi muka Jeffrey berubah datar karena mengingat sesuatu.
"Sebaiknya aku menemui Veronica besok, banyak hal yang harus aku tanyakan langsung ke dia. Dia benar-benar membuatku kecewa," ucap Jeffrey lirih lalu kembali ke kamarnya.
Bersambung~~
...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa...
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...