
Beberapa musim sudah terlewati secara bergilir. Hingga tiba saatnya musim dengan suhu tertinggi yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat Britania untuk berlibur musim panas. Namun hal itu tidak berlaku untuk Jenny. Gadis itu memanfaatkan liburan musim panasnya untuk kerja part time.
Liburan musim panas telah usai, menandakan pergantian musim gugur akan menyambut. Semua penghuni kota Cambridge kembali beraktivitas seperti biasanya.
Jenny tampak berkutat dengan alat dapurnya. Menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah.
"Sayang, biar Mama saja yang melakukannya. Bukannya kamu harus bersiap-siap untuk ke kampus?" ucap Emy seraya mengambil alih lembaran roti gandum dari tangan kecil putrinya.
"Jenny sudah siap Ma, ini tinggal sarapan terus berangkat," jawab Jenny yang mulai mendudukkan tubuhnya pada bangku meja makan.
"Ini untukmu sayang," Emy meletakkan lembaran makanan berkabohidrat yang sudah diolesi mentega tersebut di atas piring milik Jenny. Disusul segelas susu hangat rasa coklat.
"Terimakasih Ma, kamu juga segera sarapanlah. Bukannya Mama juga akan bekerja?" saran Jenny.
"Papa Addy kenapa belum turun Ma? Ini sudah waktunya sarapan," tambah Jenny lagi.
Helaan napas ringan terdengar dari mulut Emy.
"Nanti biar Mama antar sarapannya ke kamarnya karena kepalanya masih terasa berat karena alkohol," jawab Emy yang mencoba memahami kondisi suaminya.
"Jenny berharap Papa bisa bersemangat kembali," ucapnya sendu.
"Mama juga berharap begitu,"
Ya, tahun sudah kian silih berganti, Addy masih enggan bangkit dari keputusasaannya. Namun, Emy dan Jenny masih bisa sedikit lega, karena setidaknya Addy tidak pernah melakukan tindakkan kekerasan meskipun dia dipengaruhi alkohol. Dia masih bersikap baik kepada Emy dan Jenny.
"Ma, Jenny akan berangkat ke kampus dulu ya," pamit Jenny kepada Emy.
"Sayang, berhati-hatilah di jalan, semoga hari pertamamu di kampus menyenangkan ya," ucap Emy seraya mengusap pipi lembut putrinya. Senyuman hangat terulas di bibirnya.
"Siap Bos!" seru Jenny seraya melakukan gerakan hormat kepada Emy. Tentu saja Emy dibuat terkekeh geli akan tingkah putrinya tersebut.
Jenny pun berlalu meninggalkan sang Mama. Dengan senyuman yang masih mengulas, Emy mengambil ponselnya. Dia menyentuh lambang kotak galeri yang tersimpan di dalam benda pipih tersebut. Matanya menatap sendu sebuah foto yang menampilkan senyuman manis nan tampan.
Ingatan Emy mulai menjelajah kembali pada percakapannya dengan Briana di kala itu.
"Putramu tumbuh dengan sangat baik. Dia menjadi anak yang cerdas dan membanggakan. Aku dan Darwin sangat menyayanginya. Kami sudah menganggapnya seperti putra kandung kami sendiri," ucap Briana dengan rona muka senang.
"Benarkah? Aku sangat merindukannya?" tampak raut muka Emy yang sedih di sela senyumannya.
"Em, kamu bisa menemuinya kapanpun kamu mau, dia adalah putramu," tutur Briana.
"Tapi Em, aku sungguh tidak tega jika harus memberitahunya bahwa aku bukanlah ibu kandungnya, dia pasti akan sangat terpukul, selama ini aku dan Darwin merahasiakan hal itu darinya," tambah Briana lagi dengan mimik muka sedih. Sungguh, Briana juga sangat menyayangi Darren seperti ia menyayangi Jeffrey.
"Biarkan dia selalu mengira bahwa kamu dan Darwin adalah orang tua kandungnya, aku rela Bri," balas Emy pilu.
__ADS_1
"Maafkan aku Emy jika aku bersikap egois dan tidak memikirkan perasaanmu," ucap Briana dengan pelupuk mata yang mulai tergenang cairan bening.
"Jangan berkata seperti itu, aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku membalas budi kepadamu. Andai dulu kamu tidak bersedia merawatnya mungkin dia tidak akan tumbuh seperti sekarang. Dulu, setelah Ayahnya meninggal, kehidupanku menjadi sangat menyedihkan. Aku bahkan tidak mampu membelikannya susu. Aku miskin dan sakit-sakitan, bagaimana nasibnya kalau dia tetap bersamaku," curhat Emy yang tidak kuasa menitihkan air mata.
Briana memeluk tubuh Emy dengan hangat. Membiarkan sahabatnya meluapkan kesedihannya di dalam pelukannya.
"Em, ijinkan aku untuk membiayai sekolah putrimu," ucap Briana yang masih memeluk tubuh Emy.
Seketika Emy melepas pelukan Briana.
"Apa lagi ini Bri, kenapa kamu selalu berbuat baik kepadaku? Kamu membuat aku semakin merasa berhutang budi,"
"Aku sangat ingin membalas kebaikan Thomas dan putrimu. Thomas telah menyelamatkan nyawa putraku, sedang Jenny juga baru saja menyelamatkan nyawaku. Lagian dia adalah putri dari sahabatku. Jenny gadis yang baik, dia pantas mendapatkan kebaikan pula. Aku mohon jangan menolak bantuanku, aku akan sangat bersedih jika kamu tidak menerimanya," ucap Briana tulus.
"Sudahlah, aku sangat mengerti watakmu. Sekuat apapun aku menolaknya, kamu tidak akan tinggal diam," cebik Emy yang diikuti tawa ringan di sela air mata yang masih membasahi pipinya.
"Terimakasih. Aku sangat berterimakasih," tambah Emy lagi.
"Asal kamu tahu, dari awal aku bertemu Jenny, aku merasa dia mirip sekali denganmu. Tidak kusangka ternyata dia adalah putrimu. Apakah ini yang dinamakan takdir? Aku juga sangat menyukai Jenny, andai saja dia bisa menjadi putriku juga," cerocos Briana yang tentu membuat Emy terperangah dan mulai menampakkan senyuman yang mengembang sempurna.
Kalimat yang terlontar dari bibir Briana hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Emy, tanpa Emy sadari kalimat itu sangat penuh arti bagi Briana.
Emy menghentikan pikirannya yang masih menerawang karena mengingat sudah waktunya berangkat kerja.
°°°
Dia memarkirkan motor besarnya tidak jauh dari salah satu gedung fakultas. Masih bertengger di atas motor kesayangannya, Jeffrey melepas helm full face yang membungkus kepalanya sehingga menampilkan muka tampannya dengan rambut yang sedikit berantakkan namun membuatnya terlihat semakin lusty dan seksi.
Selang tidak lama, mobil sport putih juga tampak terparkir tidak jauh dari tempat Jeffrey berpijak. Dia adalah Sean, yang juga merupakan salah satu mahasiswa baru di universitas tempat Jeffrey kuliah.
Dengan kacamata yang masih bertengger di hidung mancungnya, Sean keluar dari mobilnya dan menyandarkan tubuhnya di kab depan mobilnya.
Sean melempar senyuman ramah kepada Jeffrey namun ditanggapi dengan mimik muka masam oleh Jeffrey.
"Ck! Ternyata kau juga kuliah di sini? Sungguh memuakkan," decih Jeffrey.
"Siapkan dirimu karena mulai saat ini kau akan sering melihat muka tampanku sampai kau mengeluarkan semua isi perutmu itu," timpal Sean santai.
Jeffrey turun dari motornya dan di ikuti Sean yang beranjak dari kab depan mobilnya. Dua pasang kaki jenjang mereka melangkah mendekati satu sama yang lain. Kedua makhluk tampan dengan style yang berbeda tersebut saling berhadapan kurang lebih berjarak tiga meter dan mereka beradu pandang.
"Sudah aku katakan, jangan berani-berani muncul di hadapanku lagi," tandas Jeffrey dengan tatapan elangnya.
Sean tersenyum seraya melepas kacamata hitam yang masih bertengger pada hidung runcingnya.
"Ayolah kawan, sepertinya kita memang selalu ditakdirkan untuk bertemu, bukankah harusnya kita senang?" balas Sean ringan.
__ADS_1
"Kau bersikap seakan tidak pernah bersalah kepadaku, asal kau tahu aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucapnya dingin.
Lagi-lagi Sean hanya tersenyum ringan menanggapi sikap dingin Jeffrey.
Kedua mantan sahabat tersebut tidak menyadari bahwa keberadaan mereka sedang menjadi sorotan para warga kampus yang sedang berlalu lalang di sekitar mereka. Semua mata memandang takjub ke arah Jeffrey dan Sean yang memiliki aura khas ketampanan masing-masing.
"Waah.. mereka sangat cocok diberi julukan Black Prince dan White Prince. Mereka sangat tampan," puji gadis berambut blonde.
"Sepertinya aku tidak rugi kuliah di kampus ini," timpal gadis berambut keriting.
"Kamu milih yang mana?" tanya gadis berbadan tambun kepada kedua teman ngobrolnya.
"Aku milih Black Prince, coba lihat sorotan matanya yang dingin terlihat sangat seksi, aauuuuh! Aku gemes!" jawab gadis blonde.
"Kalau aku milih White Prince, dia terlihat hangat dan romantis, aahhh, pasti manis sekali kalau dekat dengannya," jawab gadis keriting.
"Kalau aku milih keduanya," sela gadis berbadan tambun.
"Kenapa kamu begitu rakus? Pantas saja badanmu sangat subur," ejek si gadis keriting.
Begitulah perbincangan para pelajar wanita yang sedang menikmati pemandangan yang menyegarkan di sana.
Perhatian Jeffrey dan Sean tiba-tiba beralih pada seorang gadis yang sedang asyik dengan benda pipih di tangannya. Gadis itu tanpa sadar bahwa posisinya sekarang berada tepat di antara Jeffrey dan Sean.
"Kucing kumuh?"
"Angsa putih?"
Seru Jeffrey dan Sean bersamaan.
Bersambung~~
Tambahan visual Jeffrey dan Sean untuk memanjakan mata yang mungkin lelah setelah membaca ribuan huruf🤭
Jeffrey Allison
Sean Hansen
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏