Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Seblak Ceker


__ADS_3

Perut Jenny semakin terlihat membesar di usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 5. Dan selama itu pula, Jeffrey dibuat kelimpungan karena harus menuruti ngidam aneh-aneh Jenny yang mau tidak mau harus ia turuti.


Saat ini Jeffrey sedang mengamati gelagat Jenny dengan mimik muka menyelidik. Entah mengapa kali ini ia memiliki firasat bahwa sang istri akan kembali merengek meminta sesuatu yang aneh-aneh.


"Sayang..., coba kau lihat ini? Ini adalah makanan khas dari Indonesia," Jenny menunjukkan channel yutub mukbang di ponselnya.


Jeffrey seketika menelan cairan salivanya dengan bersusah payah karena melihat orang di dalam video tersebut memakan dengan lahap seporsi jumbo makanan yang terlihat ektrim dengan bumbu kuah yang merah pekat. Sudah dipastikan lidah manusia akan terbakar karena kepedasan.


"Makanan itu terlihat sangat pedas dan apa itu? dia memakan ceker ayam?" respon Jeffrey sedikit bergidik. Pasalnya di Inggris ceker ayam adalah sisa pengolahan yang dibuang atau untuk makanan ternak.


"Iya, makanan ini namanya seblak ceker dan aku sangat ingin memakannya," ucap Jenny yang tampak berkali-kali menelan cairan saliva yang mulai membanjiri mulutnya.


"Tapi sayang, di negara Inggris mana ada seblak ceker? Lagian itu terlihat sangat pedas, itu tidak baik untuk kandunganmu,"


"Tapi ini permintaan anakmu,"


"Tidak, untuk yang satu ini aku menolaknya meski itu keinginan anak kita," tandas Jeffrey


"Jadi kau tidak ingin menuruti ngidamku?"


"Iya,"


Seketika Jenny terlihat sedih. Kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah. Netranya mulai mengembun.


"Apa kau sekarang sudah tidak mencintaiku lagi? Mentang-mentang sekarang aku sedang hamil, tubuhku tidak seseksi dulu dan mukaku tidak secantik dulu perasaan cintamu berkurang dan tidak ingin menuruti keinginanku," cicit Jenny sedih.


Jeffrey mendesah berat. "Kalau aku tidak mencintaimu mana mungkin aku menuruti semua ngidammu yang aneh-aneh selama ini? Kemarin aku bahkan harus rela babak belur karena nenek sebelah memukulku dengan sapu karena dikira aku mau mencuri mangganya,"


"Bagaimana dia bisa bilang tubuhnya tidak seksi lagi. Bahkan semenjak ia hamil, libidoku lebih mudah terangsang karena tubuhnya semakin berisi dan terlihat semakin seksi di mataku," lirih Jeffrey di dalam hati.


"Kau terlihat sangat tidak ihklas melakukannya untukku," cebik Jenny yang sudah berurai air mata. Sejurus kemudian ia menarik selimut dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.


"Hah! Gawat, kalau sudah ngambek seperti ini bisa berhari-hari aku tidur di luar," batin Jeffrey menggerutu.


“Sayang, kau jangan seperti ini. Kau menginginkan apa? Katakan, aku akan membelikannya untukmu,” rayu Jeffrey.


Jenny menyibak sedikit selimutnya hingga tampak kepalanya saja yang menyembul. "Bukankah sudah ku bilang, aku ingin seblak ceker! Kenapa kau masih bertanya?" Jenny kembali menyingsing selimutnya menutupi kepala.


"Tapi sayang,"


"Tidak ada tapi-tapian, aku inginnya seblak ceker. Titik!" rengek Jenny di balik selimut.


Sedetik kemudian Jenny kembali menyibak selimutnya sampai dada. Menatap Jeffrey dengan picingan matanya yang tajam diikuti mimik muka ditekuk seperti kue leker. "Kalau anakku sampai ngileran setelah lahir berarti itu salahmu,"


"Loh, kenapa jadi salahku sayang...?"


"Karena kau tidak menuruti ngidamku,"


Jeffrey menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Berusaha sekuat mungkin untuk bersabar.


"Baiklah, tapi dimana aku bisa mendapatkan makanan aneh itu?" akhirnya Jeffrey memilih mengalah.


Muka Jenny seketika berubah berseri. "Aku ingin kau dan para sahabatmu membuatnya sendiri,"


Jeffrey mendesah berat. "Baiklah,"


。。。


15 menit kemudian Jeffrey dan ketiga sahabatnya, Sean, Sammy, dan Alvin sudah berdiri di depan Borough Market yang merupakan pasar makanan tradisional terlengkap dan terkenal di London karena produk-produk yang dijual memiliki kualitas unggulan, tidak kalah dengan produk yang dijual di Supermarket.


"Aku sampai membatalkan pertemuanku bersama klien pentingku gara-gara kau terus-terusan menerorku. Sialan kau Jeff," sembur Sean kesal yang masih berpenampilan rapi, mengenakan setelan jas kerja lengkap beserta dasi dan sepatu pantofel mahalnya.


"Kalau bukan karena Ella mengancamku tidak akan memberiku jatah ranjang sebulan, aku juga tidak akan mau datang. Dia sangat licik, menggunakan Ella sebagai senjata," sela Alvin ya juga merasa kesal kepada Jeffrey dan perhatiannya langsung beralih ke Sammy.


"Sam, kenapa kau masih mengenakan safety helmet ? Kita mau ke pasar bukan ke pembangunan proyek," celetuk Alvin.


"Aku tadi masih memantau proyek pembangunan tapi mau nggak mau harus bergegas kemari karena si beruang kutub itu mengancamku akan membatalkan kontrak kerjasamanya dengan perusahaanku kalau dalam 10 menit tidak datang," sungut Sammy sebal.


"Terserah kalian mau bilang apa, yang jelas aku tidak ingin anakku ileran gara-gara ngidam istriku tidak dituruti," timpal Jeffrey enteng. Tampangnya seolah tidak sedikitpun menunjukkan mimik rasa bersalah. Benar-benar cuek bebek.


Sean, Sammy, dan Alvin kompak menghela napas bersamaan lalu lanjut memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing secara serentak.


"Kenapa kita tidak belanja di Supermarket saja, kalau disini tempatnya pasti bau dan kotor," Sammy tampak protes.

__ADS_1


"Karena ceker ayam tidak dijual di Supermarket," sahut Jeffrey datar yang masih menatap bangunan pasar yang sedang ramai pengunjung.


"Aku tidak mau, di dalam sana pasti banyak lalatnya. Aku sangat jijik dengan hewan yang suka hinggap di kotoran itu," Sammy tampak bergidik kemudian dia memutar tubuhnya berniat meninggalkan tempat.


"Pergilah sekarang, dan jangan menangis jika aku memutuskan perjanjian kontrak kerja sama pembangunan proyek itu hari ini juga," ancam Jeffrey kembali dengan begitu entengnya.


Sammy seketika memutar kembali tubuhnya. "Kalau begitu ayo kita mulai belanjanya," seru Sammy dengan derap langkah semangat mendahului yang lainnya. Safety helmet bahkan masih membungkus kepalanya.


"Woi! Kenapa kalian masih diam saja! Ayo!" teriak Sammy yang sudah berada jauh di depan.


"Tadi katanya jijik masuk ke dalam, sekarang malah dia yang paling semangat," cebik Sean gedek.


。。。


Keberadaan keempat pria dewasa tersebut cukup membuat suasana pasar semakin riuh. Hanya dalam hitungan detik, mereka berhasil menjadi sorotan masal.


Bayangkan saja, empat pria tampan berjalan beriringan dengan karisma yang khas dan membawa style-nya masing-masing. Sungguh pemandangan yang kontras jika dipadukan dengan suasana lingkungan pasar. Wajah mereka tampak bercahaya di antara kerumunan penghuni pasar lainnya, sehingga membuat siapa saja silau dan terpukau akan ketampanan mereka khususnya bagi kaum hawa.


"Kau ini memang sudah tidak waras Sam, buat apa kau membawa meteran bangunan segala?" tanya Alvin heran.


"Jeff bilang, Jenny ingin ceker ayam yang panjangnya tidak boleh melebihi 10 cm, dan aku akan mengukurnya sekarang," Sammy tampak sedikit jijik ketika mengukur satu persatu ceker ayam yang tertata di sebuah kios penjual daging ayam.


"Sudahlah, ambil saja seadanya. Jenny juga nggak bakal mengukurnya satu persatu," saran Alvin jengah.


"Coba kau lihat ceker ini, kuku-kukunya sangat panjang dan lentik. Aku yakin sewaktu masih hidup, dia adalah ayam betina pesolek dan suka menggoda ayam penjantan," celetuk Sammy asal.


"Kau berkata seperti itu seolah kau pernah berkencan dengan ayam saja," cebik Alvin.


"Tentu saja aku pernah berkencan dengan ayam," ceplos Sammy spontan.


"Gila kau sam, ayampun pernah kau cicipi, apa lubangnya muat kau masuki?" Alvin bergidik dan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Sedikit menjauh dari Sammy.


"Tentu saja muat,"


Alvin semakin terperangah. "Kau sangat menjijikkan, hewan tak berdosapun kau cabuli,"


Tuk! Sammy memukul kepala Alvin dengan ceker ayam.


"Sebenarnya kau ini memikirkan apa? Bukannya kau juga pernah berkencan dengan ayam? Jangan sok jaim!"


"Sebenarnya ayam apa yang kau maksud?"


"Ayam kampus,"


Glodak!


Sementara Jeffrey dan Sean yang berdiri sedikit jauh dari Sammy dan Alvin tampak gedek mendengar celotehan mereka.


"Dasar manusia cabul! Apa kalian belum selesai bermain dengan ceker-ceker itu?" sentak Jeffrey sedikit berteriak.


"Ini, kau bagian membawanya," Sammy menyerahkan satu kantong plastik besar ceker ayam kepada Sean.


"Karena istrimu yang ngidam jadi harusnya kau yang bawa," Sean balik menyerahkan bawaannya ke Jeffrey.


Setelah selesai berbelanja berbagai bahan yang dibutuhkan, keempat squad tampan tersebut bergegas menuju ke kediaman Jeffrey.


。。。


Keempat Squad tampak fokus menyiapkan bahan-bahan untuk membuat seblak ceker tentunya dengan mengikuti panduan resep online.


"Kyaakk! Aku benar-benar jijik dengan ceker-ceker ini," pekik Sammy yang berkali-kali membanting-banting ceker tak bersalah tersebut.


"Kenapa kau selalu berisik? Sudah buruan cuci yang bersih," titah Jeffrey memandori. Dia bahkan tidak melakukan apa-apa.


"Ck! Kau sendiri dari tadi tidak melakukan apa-apa," cebik Sammy.


"Siapa bilang? Aku sedari tadi bagian mengawasi kalian," kilah Jeffrey yang sebenarnya ia juga merasa jijik dengan ceker-ceker ayam tersebut.


Sementara Alvin tampak menangis tersedu-sedu. "Kenapa kau ini? tanya Sean heran seraya meringis karena menahan panas ditangannya akibat memotong begitu banyak cabai.


"Bawang-bawang ini sangat pandai membuatku menangis,"


Setelah beberapa jam bertempur dengan bahan-bahan dan peralatan dapur akhirnya seblak ceker susah matang.

__ADS_1


"Aku tidak yakin kalau ini enak. Coba kalian cicipi dulu," titah Jeffrey.


Sean, Sammy, Alvin, menggeleng serentak pertanda mereka menolak titah Jeffrey kali ini. Hanya dengan melihat bentuk makanannya saja sudah membuat perut mereka mules apalagi harus mencicipinya.


"Kenapa tidak kau saja yang mencicipi?" saran Sean kepada Jeffrey.


"Waaahh.. Ternyata seblak cekernya sudah matang?" entah sejak kapan, Jenny sudah berdiri di antara mereka. Melihat hasil karya para lelaki yang tersaji di atas meja dengan mata berbinar-binar.


"Iya sayang, aku sudah bekerja keras memasaknya untukmu, sekarang makanlah yang banyak ya," ucap Sammy antusias. Ia mengitari meja makan dan melingkarkan tangannya pada kedua bahu Jenny.


"Cepat turunkan tanganmu! Dan berani-beraninya kau memanggil istriku seperti itu," hardik Jeffrey yang tidak suka.


"Ups! Aku lupa kalau Jeffrey si manusia jutek sudah kerasukan jin bucin," cebik Sammy.


"Jenn, kenapa tidak segara kau cicipi saja seblak cekernya? Biar anakmu tidak ileran nanti kalau lahir," saran Sean.


"Hmm.. tapi sepertinya saat ini bayi di dalam perutku ingin kalian yang memakannya,"


"APA?!" keempat pria itu langsung syok masal.


"OH NOOO! aku tidak mau memakannya, jijik," tolak Sammy langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Sayang, aku mana sanggup memakannya, kau kan sudah tahu kalau aku tidak bisa makan pedas," ucap Jeffrey memelas.


"Sepertinya Shelly anakku sudah mencariku, aku akan pulang sekarang," Alvin mencari alasan berniat untuk kabur.


Sedangkan Sean, ia langsung berpura-pura mengangkat telepon seraya mencari cela untuk kabur juga.


"Nak.. Sepertinya Daddy dan paman-pamanmu tidak menyayangimu," Jenny tampak sedih lalu memasang muka Puppy Eyes.


Keempat pria itu seketika luluh. Kalau Jenny sudah memasang muka seperti itu, mereka tidak akan tega untuk tidak menuruti keinginannya.


"Huh hah... Kenapa ini sangat pedas. Seperti ada petasan di dalam mulutku," Sammy tampak kepedasan dengan muka yang sudah memerah dan berkeringat.


"Huh hah.. Huh hah.. Hahahaha, Sam, bibirmu sudah sangat jontor seperti bibir ikan arwana," ejek Alvin yang juga tampak kepedasan.


"Bibirmu juga jontor bodoh! Hahaha..Huh hah...!" Sammy tidak mau kalah.


"Bisa nggak kalian makan dengan tenang!" sergah Jeffrey yang ternyata sudah bercucuran air mata. Ia berkali-kali menggaruk kepalanya yang terasa gatal akibat kepedasan.


"Sepertinya setelah ini aku akan rajin mengunjungi toilet," sela Sean yang juga kepedasan dengan hidungnya yang tampak kembang kempis dan ingus yang telus menggelayut di lubang hidungnya.


Sedangkan Jenny tampak menikmati pemandangan langka di depannya saat ini. Dia begitu senang dan puas.


"Hahaha.. Kalian semua sangat lucu sekali! Kalian seperti cacing kepanasan," Jenny tergelak tak henti-hentinya.


"Sayang, kau pelankan sedikit ketawamu, nanti anak kita bisa brojol sebelum waktunya," cerocos Jeffrey yang masih sempat-sempatnya.


Bonus Visual🤗


JEFFREY ALLISON



SEAN HANSEN



SAMMY MANUEL



ALVIN AFREDO



Bersambung~~


Maaf ya teman-teman. Sepertinya sistem NT lagi eror, makanya kemarin ada double up dengan bab yang sama. Nofi juga baru tahu setelah ada yang komen🙏


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2