
Di malam yang cerah berpayung langit bertabur bintang bak permadani intan yang membentang luas seolah menyambut kedatangan sang dewi malam untuk mengisi kursi mahkotahnya.
Hembusan samar angin malam menyejukkan setiap kalbu para insan dunia yang tengah berselimut gelapnya malam.
Seorang wanita bersurai gelombang pasang dan berwarna coklat terang sedang berdiri di balkon kamar hotel tingkat 10. Sepasang mutiara birunya yang jernih tampak menyapu pemandangan malam kota Amsterdam. Sesekali dia mengusap kedua lengan tangannya untuk menyingkirkan hawa dingin yang menyelinap ke dalam pori-pori kulitnya.
Hawa dingin yang menyapu kulitnya seketika menghangat tatkala sepasang tangan kekar melingkari tubuh kecilnya yang seakan langsung tenggelam ke dalam rengkuhan tubuh kekar dengan begitu mudah.
"Kau bisa sakit kalau berlama-lama diluar tanpa mengenakan baju hangat, apa lagi baru beberapa hari kau keluar dari Rumah Sakit," tutur Jeffrey setelah membungkus tubuh istrinya dengan selimut tebal lalu memeluknya dari belakang.
Saat ini, mereka bahkan tampak menyerupai satu bungkus kempompong raksasa berkepala cabang.
Jenny merebahkan kepalanya di dada bidang Jeffrey lalu tersenyum dan sedikit memutar ke atas lehernya ke arah Jeffrey.
"Aku hanya ingin menikmati malam terkahir di Amsterdam sedikit lama," balas Jenny.
"Lain kali kita bisa datang kesini lagi jika kau mau,"
"Benarkah?" Jenny tampak senang namun seketika mimik mukanya berubah sendu.
"Entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa kita tidak akan bisa kesini lagi, sambung Jenny lagi.
"Jangan berkata yang belum tentu itu akan terjadi, sebaiknya kita masuk karena sekarang sudah terlalu larut," saran Jeffrey yang langsung mendapat balasan anggukkan Jenny.
"Kau membuatku kesulitan berjalan beruang kutub, jauhkan tubuhmu dulu," gerutu Jenny yang mendapati Jeffrey masih enggan melepas selimut dan tangannya dari tubuh Jenny.
Alhasil keduanya memasuki kamar dengan tubuh yang masih saling berpelukkan.
"Sekarang tidurlah, kau pasti kelelahan karena seharian mengelilingi kota Amsterdam untuk berbelanja souvenir," tutur Jeffrey setelah meletakkan kepala Jenny pada lengannya.
"Tapi aku belum mengantuk," ucap Jenny seraya memainkan anak rambut yang menjalar hampir ke tulang pipi dan menutupi telinga Jeffrey.
"Tidak, kau harus tidur sekarang, aku bahkan menahan keinginanku untuk tidak memakanmu saat ini agar kau bisa beristirahat cukup," titah Jeffrey mutlak.
"Kalau begitu nyanyikan sebuah lagu untukku, anggap saja sebagai pengantar tidurku, bukankah kau memiliki suara yang merdu," pinta Jenny.
"Baiklah, kau ingin aku menyanyikan lagu apa?"
"Terserah, yang penting jangan yang ber-gendre musik death metal saja," kelakar Jenny.
Jeffrey menyungging kedua sudut bibirnya. "Dasar bodoh, yang ada kau tidak akan tidur semalaman," timpal Jeffrey lalu mencubit hidung mancung Jenny dengan gemas.
Jenny mulai mencari posisi ternyamannya. Dia semakin menenggelamkan muka ke dada bidang dengan tangan melingkar posesif tubuh Jeffrey.
"Baiklah, aku akan menyanyikan sebuah lagu, tapi jangan salahkan aku jika kau menggila karena terpesona kepadaku," canda Jeffrey.
"Tidak masalah jika aku terpesona kepada suamiku sendiri," balas Jenny semakin mempererat lilitan tangannya.
"Ehem!" Jeffrey berdehem sebagai awal pemanasan pita suara sebelum dia mulai memamerkan suara emasnya.
I like your eyes you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
I like you more, the world may know but don't be scared
Coz I'm falling deeper, baby be prepared
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell to be your favorite jacket, just so I could always be near
I loved you for so long, sometimes it's hard to bear
__ADS_1
But after all this time, I hope you wait and see
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
Love you til the last of snow disappears
Love you til a rainy day becomes clear
Never knew a love like this, now I can't let go
I'm in love with you, and now you know
I like the way you try so hard when you play ball with your friends,
I like the way you hit the notes, in every song you're shining
I love the little things, like when you're unaware
I catch you steal a glance and smile so perfectly
Though sometimes when life brings me down
You're the cure my love
In a bad rainy day
You take all the worries away
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
In a world devoid of life, you bring color
In your eyes I see the light, my future
Always and forever with you, now I can't let you go
I'm in love with you, and now you know
I'm in love with you, and now you know
I Like You So Much, You'll Know It - Ysabelle Cuevas
Satu lagu pengantar tidur sudah terlantun dengan merdu. Jeffrey mencoba memeriksa kucing kecilnya yang ternyata sudah terlelap mengarungi dunia awan putihnya.
Perlahan pria itu meletakkan kepala Jenny di atas bantal dan membetulkan selimutnya. Ia mengusap penuh sayang pipi Jenny. Sekilas seutas senyuman yang tersirat akan cinta menghiasi mukanya.
"Dasar pembohong, katanya belum mengantuk tapi nyatanya kau tertidur dengan cepat," gumam Jeffrey lalu mendaratkan kecupan sekilas pada bibir ranum Jenny yang sedikit terbuka namun tidak meninggalkan sisi kecantikkannya yang alami.
Jeffrey lantas mengambil smartphone miliknya dari atas nakas lampu tidur yang berada di samping ranjang. Dia berniat memeriksa ulang rekaman CCTV yang berada di area hotel tempat ia menginap.
Tadi siang, Jeffrey sempat meminta file rekaman CCTV itu. Meksipun awalnya pihak hotel tidak mengijinkannya untuk melihat rekaman CCTV dengan alasan sebuah privasi perusahaan namun akhirnya mereka bersedia memperlihatkannya bahkan memberikan file rekaman CCTV tersebut.
Tentu saja file rekaman itu bisa berada di tangan Jeffrey karena usahanya dalam memberi penjelasan ke pihak hotel sangatlah masuk akal dan bisa diterima. Dan tidak lupa sebuah ancaman perihal kurangnya tingkat fasilitas keamanan hotel juga ikut serta dalam menggencarkan usahanya.
__ADS_1
Jeffrey menghela napas panjang. Ia sudah berkali-kali mengulang rekaman CCTV yang tersimpan di ponselnya namun dia belum juga menemukan secercah titik terang. Di dalam rekaman itu, dia hanya melihat ada seorang pria berusaha membuatnya tidak sadarkan diri dengan menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Dan satu lagi, ternyata pria itu tidak sendiri, dia dibantu oleh seorang partner wanita.
"Sebenarnya siapa mereka? Mereka menutupi mukanya dengan masker dan topi sehingga membuat aku kesulitan mengenalinya,"
"Apa misi mereka sebenarnya? Apa mereka berniat mencelakaiku? Apa mungkin Jenny yang menjadi sasaran utama mereka? Aku yakin mereka mempunyai rencana jahat, tapi apa itu? Hah! Ini benar-benar membuatku frustasi, sebaiknya aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang," Jeffrey masih saja bermonolog pada dirinya sendiri. Beberapa spekulasi bermunculan di dalam otaknya.
Akhirnya Jeffrey memilih menyudahi kegalauan hatinya. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas kemudian beringsut ke dalam selimut yang sama dengan Jenny.
Jeffrey menelusupkan tangannya ke bawah kepala Jenny menjadikan lengannya sebagai bantalan istrinya lalu sejurus ia menarik tubuh kecil yang sedang terlelap, menenggelamkan ke dalam rengkuhan tubuhnya.
Menurutnya posisinya saat inilah obat paling ampuh untuk menghilangkan kegelisahannya sementara. Memeluk tubuh kecil Jenny, menghirup harum rambutnya yang khas serta bersentuhan kulit dengannya seolah memberikan sinyal-sinyal energi posiitf pada setiap molekul-molekul sel tubuhnya sehingga merangsang hormon endorfin untuk muncul ke permukaan batinnya.
Keesokan harinya, Jeffrey dan Jenny sudah bersiap menuju ke Bandara Udara International Schiphol, Amsterdam untuk kembali ke Inggris.
Sepanjang perjalanan menuju Bandara, Jenny tampak asyik memainkan benda pipih yang dia pegang. Jari-jari lentiknya tidak henti-hetinya menari-menari di atas layar tipis tersebut. Kedua sudut bibirnya terus melengkung ke atas dan tanpa ia sadari Jeffrey sedang mengamatinya sedari tadi.
"Sebenarnya kau sedang berhubungan dengan siapa? Kau terlihat sangat asyik dengan ponselmu sehingga mengabaikan aku yang ada di sebelahmu," gerutu Jeffrey.
"Sifat berlebihanmu itu selalu saja kambuh, aku tidak mengabaikanmu, aku sedang membalas pesan dari Daisy," sanggah Jenny.
"Dia terus menanyakan aku sampai di Bandara London Heathrow pukul berapa," tambahnya lagi.
"Buat apa dia menanyakan hal itu?" tanya Jeffrey menyelidik.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, aku tanya juga tidak mau menjawab,"
"Apakah kau memberitahunya jam kepulangan kita?"
Jenny mengangguk cepat. "Iya, tentu saja," jawab Jenny tanpa berpikir hal lain.
Jeffrey seketika memijat kedua pelipisnya seolah akan ada sesuatu yang memalukan bakal terjadi saat tiba di Inggris nanti.
"Seharusnya kau tidak perlu memberitahunya,"
"Kenapa?"
"Firasatku berkata buruk,"
"Hm? Aku sungguh tidak mengerti, apa hubungannya antara Daisy dengan firasatmu itu?"
"Kenapa kau begitu polos Jenny Dawson. Tidak bukan polos tapi bodoh," ledek Jeffrey.
"Kau selalu saja mengejekku bodoh mentang-mentang kau memiliki otak yang pintar," sungut Jenny seraya bersedekap dan mengembungkan pipinya sehingga menyerupai bakpao isi daging.
"Jangan memasang muka seperti itu?"
"Kenapa kenapa kenapa? Jangan bilang kau akan menyosorku lagi, kau tidak akan bisa melakukannya," tantang Jenny kesal seraya menutup kedua mukanya rapat-rapat dengan kedua tangannya hingga tak bercela.
"Jangan tantang aku, bukan hanya menciummu, aku bahkan bisa memakanmu saat ini, di tempat ini, di mobil," goda Jeffrey yang langsung mendapat hadiah cubitan brutal pada perut dan lengannya.
"Aw! Aw! Hentikan! Kenapa kau suka sekali menyiksa suamimu? Aku bisa menuntutmu atas kasus KDRT," pekik Jeffrey yang berusaha menghindari serangan capitan tangan kepiting Jenny.
"Itu karena kau selalu berpikiran mesum di setiap tempat dan tidak mengenal waktu," dengus Jenny yang langsung menghentikan aksinya setelah melihat kulit tangan Jeffrey sudah penuh dengan corak polkadot bewarna merah.
"Sungguh istri tak berperikemanusiaan," cebik Jeffrey seraya mengusap tangan bekas cubitan.
Beberapa jam kemudian sepasang suami istri muda tersebut sudah tiba di Bandara London Heathrow. Dan ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya menuju lobby bandara mereka langsung disuguhi sebuah pemandangan yang mencengangkan.
Bersambung~~
...Untuk para Reader tersayang:...
__ADS_1
...Mohon dukungan kalian dengan tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...
...Terimakasih🙏🥰...