Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Aku Bukan Pelakor


__ADS_3

Warning! Ada part +21 di akhir bab ya. Bacalah dengan bijakšŸ™


Jenny mengakhiri aksinya setelah kedatangan Sammy menarik perhatiannya. Melepaskan Natasya yang sudah berpenampilan kusut dan mengerikan. Rambut yang sudah menyerupai sarang burung unta, bulu mata anti badai tornado yang sudah berpindah ke pipi dan polesan lisptik tebal yang sudah keluar dari garis bibir menjorok ke arah telinga. Sungguh menyedihkan.


Sementara Jeffrey akhirnya bisa sedikit bernapas lega karena ia yakin keberadaan Sammy mampu meluruskan kesalahpahaman yang sedang terjadi.


"John... Akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu," ucap Sammy yang langsung berhamburan merangkul bahu Natasya seraya memasang mimik muka terharu dan dramapun kembali dimulai.


"Kemana saja kau selama ini? Jangan kabur lagi. Cepat bayar hutang-hutangmu atau aku kempeskan dada palsumu ini," tuntut Sammy dengan menyelipkan sedikit ancaman pada kalimatnya.


"Ah.. I-itu.. Sammy? Kau semakin imut dan tampan ya sekarang," puji Natasya gugup mencoba mengalihkan topik.


"Iya dong, aku kan memang sudah tampan dan imut dari orok. Tetanggaku juga mengakui anugerah yang ku miliki ini," Sammy kembali narsis dan langsung lupa akan topik pembicaraan sebelumnya.


Natasya tersenyum hambar.


"Aaah... Pasti tetanggamu itu memiliki pengelihatan yang tajam sehingga pintar menilai ya," ia mencoba menanggapi kenarsisan Sammy.


Mode mimik muka datar seketika turn on. "Tetanggaku itu buta,"


"Apa kau ingin mengecohku agar bisa lari dari tanggung jawabanmu, John?" sambung Sammy kembali.


Natasya yang memiliki nama asli John itu tampak menghela napas dengan berat. Sepertinya tidak ada gunanya lagi untuk berkilah saat ini. "Aku akan membayar hutang-hutangku, tapi setelah aku ganjian. Aku bahkan belum melewati hari pertama bekerjaku disini,"


"Dan satu lagi, jangan panggil aku John, namaku sekarang Natasya. N-A-T-A-S-Y-A," tandas John penuh penekanan dengan gaya lemah gemulai ala ulat keket yang sedang kepanasan di atas wajan.


Sammy seketika tergelak. "Sejak kapan kau mengganti identitasmu? Dan apa ini? Apakah ini semua asli? Kau terlihat lebih seksi sekarang," cerocos Sammy. Matanya tampak menyapu rata tubuh Natasya seraya memberi penilaian.


Sammy dan Natasya terus terhanyut dalam percakapan mereka sendiri tak menghiraukan keberadaan Jeffrey dan Jenny yang sudah bagaikan makhluk tak kasat mata.


Kobaran api amarah yang sedari tadi membakar hati Jenny perlahan memadam seolah sebuah tanda tanya besar mampu mendinginkan hatinya yang memanas. Ritme dadanya yang awal bergerak naik turun tak beraturan kini mulai berdetak normal.


Sedangkan Jeffrey yang melihat istrinya mulai terlihat tenang, langsung berinisiatif membawanya untuk duduk di atas kursi kebesarannya. Dia sangat yakin, Jenny telah menguras banyak tenaga untuk melampiaskan amarahnya akibat kesalahpahaman yang baru saja terjadi.


"Sayang, kau duduklah dulu. Kau pasti sangat lelah," pinta Jeffrey yang masih menyisihkan kesabarannya yang juga langsung dipatuhi Jenny.


Sedetik kemudian, Jeffrey menggiring muka ke arah dua anak manusia yang masih tenggelam dalam obrolannya.


"Sampai kapan kalian mau mengobrol terus?" Sammy dan Natasya sontak menoleh ke arah Jeffrey secara serentak setelah mendengar selaan dingin Jeffrey.


"Dan kau John, kau masih berhutang penjelasan kepada istriku," ucap effrey ke Natasya penuh tuntutan.


10 menit kemudian~


Jenny tampak tersenyum hambar setelah mendengar semua penjelasan Natasya. Ternyata Natasya atau John adalah teman seperjuangan Jeffrey di dalam dunia balap motor liar beberapa tahun yang lalu sebelum akhirnya mereka putus komunikasi karena Jeffrey akhirnya memilih berhenti berkecimpung dalam dunia balap liar dan sedangkan John harus pindah ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat terminal.


"Jadi kau itu..,"


"Dia itu wanita jadi-jadian. Nama aslinya John. John Hercules. Dia dulu seorang binaragawan yang sekarang menjelma menjadi makhluk berkelamin ganda," Jeffrey menyela ucapan Jenny yang terdengar ragu. Kali ini dia benar-benar ingin menampik semua kesalahpahaman Jenny.


"Jeffrey, kok kau membeberkan semuanya di depan istrimu sih?" protes John dengan bibir mencurut lancip seperti ikan cucut.


"Panggil aku Tuan,"


"Baik Tuan," John tampak pasrah dan semakin memonyongkan bibir silikonnya.


"Pfffft!" Jenny tampak mengulum bibirnya menahan tawa. "Maaf ya, aku kira kau itu wanita pelakor yang berusaha menggoda suamiku," jelas Jenny.

__ADS_1


"Saya bukan pelakor Nyonya, lagian saya sudah mempunyai suami dan anak,"


Pernyataan John langsung mengundang gelak tawa Sammy. "Memang kau bisa melahirkan anak? Keluar dari mana memangnya? Dari lubang hidung? Atau jangan-jangan keluar dari *****," cerocos Sammy. Mulutnya memang sangat minim ahklak seperti tidak pernah makan bangku sekolah.


"Iiihhhh! dari dulu mulutmu itu memang seperti pantat musang yang suka menyembur aroma bau dari pantatnya," cebik John tanpa meninggalkan gaya centilnya.


"Sudah cukup bercandanya! Dan kau John, kembalilah bekerja," titah Jeffrey kepada John.


John masih bergeming di tempatnya. Ia tatap muka Jeffrey dengan mimik muka penuh protes. "Nama saya Natasya Tuan, bukan John,"


Jeffrey berdecak lalu menyapu udara di depannya sebagai isyarat agar sekretaris barunya itu segera meninggal ruangan untuk melanjutkan kerjanya dan tentu saja langsung dipatuhi.


Sedetik kemudian, Jeffrey menggiring manik hijaunya ke arah Sammy seraya memasang muka seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan akan maksud tujuan kedatangannya.


"Hmm, sebenarnya aku datang kemari karena ingin membahas tentang perkembangan proyek kerjasama kita, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Aku akan kembali lagi besok," terang Sammy yang langsung beranjak dari duduknya meninggalkan sepasang suami istri tersebut. Untung kali ini Sammy langsung peka bahwa keberadaannya saat ini tidak diinginkan.


Setelah kepergian Sammy, Jeffrey mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan. Mencari posisi nyaman untuk tubuhnya yang merasakan sakit di beberapa titik akibat amukan angin badai Jenny beberapa saat yang lalu.


Pria tampan bermata elang itu tampak berupaya mengurangi rasa sakit di tubuhnya dengan cara mengusap serta memberi pijitan ringan.


Jenny yang masih duduk di kursi kerja Jeffrey lantas beranjak dan mendekati suaminya dengan perasaan bersalahnya. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas luka lebam yang menghiasi tulang pipi Jeffrey.


"Maafkan aku," lirih Jenny yang masih berdiri seraya tertunduk di depan Jeffrey.


"Hm," jawaban singkat Jeffrey sukses membuat Jenny berspekulasi bahwa si raja hatinya itu tengah kecewa kepadanya.


Muka cantik Jenny terlihat kian suram, pelupuk matanya sudah mengembun dan siap menumpahkan cairan bening yang sudah menggenang.


Tubuh Jenny tampak bergetar samar diikuti tetesan buliran bening yang membasahi pipinya. Hingga akhirnya suara isakan tangisnya mulai terdengar dan seketika menarik perhatian Jeffrey.


Jeffrey yang dirundung kebingungan akan perubahan emosional sang istri lantas menarik Jenny dan membawanya ke dalam pangkuannya.


Ia tatap lekat netra ratunya seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Ada apa lagi? Katakanlah," Jeffrey mencoba mengorek sesuatu yang tengah menggangu hati Jenny.


"Apa kau sedang marah dan kecewa kepadaku? Tadi kau bahkan merespon ucapan maafku dengan sangat singkat," terang Jenny yang masih sesenggukan.


Jeffrey sekilas memejamkan mata seraya menghela napas samar. Bahkan helaannya hampir tak teredengar. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa bahwa perubahan hormon kehamilan Jenny sangat mempengaruhi tingkat emosionalnya.


Selama kehamilan, Jenny memang sering mengalami perubahan suasana hati yang tak terkendali. Perubahan emosional yang sangat tiba-tiba itu sering membuat Jeffrey berkali-kali memungut kembali kesabarannya setiap kali hampir habis.


"Aku tidak marah sayang, percayalah," ucap Jeffrey meyakinkan Jenny. Dia usap pipi Jenny menggunakan jari-jari besarnya dengan penuh sayang.


"Mana mungkin kau tidak marah setelah tindakan kasarku tadi? Dan lihat, gara-gara aku muka tampanmu terluka. Seharusnya tadi aku mendengarkan penjelasanmu dulu, tapi aku mal,"


"Ssttt! Coba dengarkan aku dulu. Demi Tuhan aku tidak marah. Aku sangat mengerti. Istri dimanapun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi yang sama denganmu. Ini semua karena salahku karena terlalu lembek mengahadapi tindakan frontal John,"


"Benarkah kau tidak marah?"


"Benar sayang, aku tidak marah,"


"Sungguh?"


"Sungguh sayang," wajah berseri seketika menghiasi muka Jenny yang kian hari semakin terlihat cantik karena pengaruh hormon kehamilannya.


"Kalau kau tidak suka, aku bisa memecat sekretaris baruku sekarang juga,"


"Tidak perlu," potong Jenny cepat.

__ADS_1


"Kenapa?" Jeffrey bertanya.


"Aku malah merasa aman jika dia yang menjadi sekretarismu," Jeffrey masih memasang muka penuh tanya.


"Ya karena, kau tidak mungkin bermain pedang-pedangan dengannya bukan?" sambung Jenny apa adanya, mantap dan yakin.


Cetak!


"Aw! Kenapa kau suka sekali menyentil keningku," sungut Jenny seraya mengusap bekas sentilan Jeffrey.


"Dasar kucing nakal. Pedangku tidak digunakan kepada sembarangan orang. Hanya kamu yang boleh memakainya," Jeffrey lalu mengecup bibir Jenny sekilas.


Jenny terkikik mendengar ucapan Jeffrey. Ia mendekatkan mukanya ke muka Jeffrey, berinisiatif menghadiahi sebuah ciuman namun tindakannya terhenti karena Jeffrey mendorong keningnya dengan jari telunjuknya membuat muka Jenny sedikit berjarak ke belakang.


"Kenapa?" Jenny cemberut.


"Bukankah aku tadi menyuruhmu untuk tetap di rumah? Dengan siapa kau datang kemari? Kenapa kau itu sangat keras kepala dan suka sekali membangkang? Apa kau ingin aku hukum?" Serentetan pertanyaan keluar dari sepasang bibir Jeffrey. Ingin sekali ia mengomeli Jenny saat ini.


"Aku tadi datang bersama supir pribadi. Aku tidak sabar menunggu pulang karena aku sudah sangat merindukan bau tubuhmu. Itu juga kemauan si kecil jadi jangan salahkan aku," cicit Jenny tidak ingin disalahkan.


Masih berada di dalam pangkuan Jeffrey, wanita yang tengah hamil tersebut menenggelamkan mukanya pada ceruk leher Jeffrey. Mencium dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh maskulin yang setiap hari selalu ia rindukan. Tangannya menggelayut manja pada leher kekar itu. Menciptakan kedekatan tubuh yang kian intim.


Jeffrey mendengus geli mendapati tingkah Jenny yang begitu manja. Bahkan niat ingin memarahinya seketika menguap dan berubah ke perassan lain. Perasaan yang selalu menjadi favoritnya. Dimana degupan jantung bekerja lebih cepat, aliran darah berdesir deras ke seluruh tubuh.


Hangatnya tubuh dan napas Jenny bagaikan sengatan listrik yang sukses membuat batangnya yang masih tertidur langsung terbangun dan menegang.


"Kyaakkk! Kau mengagetkanku!" pekik Jenny yang merasakan sesuatu menggeliat di bawah sana.


"Apa kau ingin melakukannya di kantor?" bisik Jeffrey seraya meremas-remas gunung kembar Jenny yang semakin sintal semenjak hamil.


"Tapi bagaimana nanti kalau ada yang masuk?"


"Tidak yang berani masuk tanpa seijinku,"


"Tapi..,"


"Aku tidak menerima penolakan,"


"Hiish! Terus buat apa kau meminta saran dariku?" cebik Jenny.


Nyatanya, Jeffrey sudah tak menghiraukan lagi celotehan Jenny. Kedua tangannya sudah menyelinap di balik kain yang membungkus tubuh Jenny. Menjelajahi setiap gunung, bukit, dan gua.


Jeffrey menenggelamkan bibirnya ke bibir Jenny. Mel*mat dan mencecapnya dengan sangat rakus. Lanjut memainkan lidahnya pada leher mulus Jenny. Meninggalkan beberapa tanda kepimilikan disana. Hingga entah sejak kapan Jenny sudah dalam setengah telanjang. CD dan Bra yang tampak berserakan di lantai.


"Ahhhhh!" desahan merdu lolos begitu saja dari mulut Jenny ketika Jeffrey mulai memasukinya. Ia sangat menikmati pergerakan yang diciptakan Jeffrey. Mengingat Jenny sedang mengandung, Jeffrey melakukannya dengan sangat hati-hati dan penuh cinta.


Bersambung~~


Eaa..sudah cukup segini saja ya🤣


Yuhuu.. siapa yg tebakannya benar?


Ternyata Natasya adalah seorang transgeder. Nama aslinya John Hercules.🤣🤣 Astage..šŸ¤¦ā€ā™€ļø


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🄰...

__ADS_1


__ADS_2