Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Ancaman Veronica


__ADS_3

Seorang ibu hamil muda tampak berdiri tidak jauh dari kawasan Rumah Sakit. Ia tampak ragu untuk melangkahkan kakinya menuju bangunan di hadapannya. Jari-jari tangannya saling memilin sebagai isyarat bahwa wanita itu sedang gelisah.


"Diven bilang kemungkinan ia sedang berada disini, tapi kenapa aku begitu ragu? Haruskah aku melakukannya?" pikiran Ella sedang bergejolak.


"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak boleh berubah pikiran, anakku sangat membutuhkan kehadiran seorang Ayah saat ia lahir nanti, tapi apa tidak mencurigakan jika aku tiba-tiba menemuinya ke dalam? Dan bagaimana caranya agar aku bisa membawanya pergi?" Ella masih terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Namun Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak kepadanya. Dari kejauhan Jenny tampak keluar dari gedung Rumah Sakit. Ella yang tidak ingin kehilangan kesempatan sejurus kemudian mendekati Jenny.


"Jenny? Sedang apa kau disini?" sapa Ella seolah dia bertemu dengan Jenny tanpa disengaja.


Jenny sontak menoleh ke arah sumber suara, iya mengulas senyuman tipis setelah mengetahui bahwa Ella yang baru saja menyapanya.


"Aku baru saja menjenguk Papa mertuaku, ia sedang sakit," jelas Jenny.


Ella sesaat terdiam, memikirkan cara agar ia berhasil membawa Jenny.


"Emm, Jenn, apa kau sedang sibuk?" tanya Ella berusaha setenang mungkin agar Jenny tidak menaruh curiga kepadanya.


"Emang kenapa? Apa kau butuh bantuan? Selama mampu aku akan membantumu," Jenny mencoba peka.


Seperti mendapat lampu hijau, Ella langsung mengutarakan sesuatu yang tentu saja berhubungan dengan rencananya.


"Bisakah kau mengantarku menemui seseorang? Aku sudah tidak mempunyai uang untuk membayar transportasi umum," pinta Ella dengan tampang memelas.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," jawab Jenny tanpa berpikir panjang. Dia bahkan lupa tidak mengabari Jeffrey terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, Kedua wanita hamil itu sudah berada di depan pintu sebuah apartemen.


Sebenarnya Jenny berniat menunggu Ella di dalam mobil, namun Ella terus memintanya dengan alasan ia ingin ditemani dan akhirnya Jenny bersedia menemaninya.


Ella memasukan angka password hingga pintu apartemen terbuka dengan sangat mudah. Dan bodohnya, Jenny sama sekali tidak menaruh curiga akan gelagat Ella yang mempunyai akses bebas untuk keluar masuk apartemen.


Jenny mulai menjejakkan kakinya dan berhenti di ruang tamu yang tidak jauh dari pintu keluar. Kedua lensa birunya tampak menyapu setiap sudut ruangan apartemen yang menurutnya sangat mewah.


"Akhirnya kau datang juga Jenny," suara ngebass seorang pria langsung mengalihkan perhatian Jenny.


Jenny sempat terkesiap ketika mengetahui pemilik suara itu adalah Diven. Dan keterkejutannya semakin mencuat ketika ia melihat seorang wanita cantik yang tampak mengekorinya dari belakang. Wanita itu adalah Veronica.


Sejurus kemudian Jenny memutar lehernya ke arah Ella dengan mimik muka bertanya-tanya. "Ella, kenapa kau?"


"Maafkan aku Jenn, aku tidak punya pilihan lain," ucap Ella tertunduk yang mulai terbesit rasa bersalah di hatinya. Sebenarnya, hingga saat ini Ella masih sangat ragu untuk melanjutkan rencana yang sudah dirancang Diven.


"Apa tujuan kalian membawaku kemari?" tanya Jenny kepada Diven dan Veronica dengan mimik muka tak bersahabat.


Alih-alih langsung menjawab pertanyaannya, Diven dan Veronica sekilas tampak melempar pandang seraya menyeringai penuh makna.


"Jangan tegang seperti itu, aku hanya ingin membicarakan hal yang sangat penting dan bersifat rahasia kepadamu, duduklah dulu," timpal Diven yang berusaha menuntun Jenny untuk duduk namun langsung ditepia kasar oleh Jenny.


"Jangan pegang-pegang, aku bisa duduk sendiri," ketus Jenny lalu mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu dan diikuti Diven dan Veronica.

__ADS_1


"Cepat katakan kau ingin membicarakan hal penting apa?" tanya Jenny yang sejujurnya dia sudah merasa tidak nyaman, ia mempunyai firasat bahwa mereka mempunyai rencana jahat.


"Aku tidak ingin bertele-tele, aku berencana merebut kembali apa yang seharusnya menajdi milikku. Jeffrey ditakdirkan bersamaku, keberadaanmu hanyalah virus di antara kami," sela Veronica tanpa ada sedikitpun rasa malu.


"Ck! Sayangnya dia milikku sekarang, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku," gertak Jenny namun masih berusaha tenang dan tidak ingin tersulut emosi dalam menghadapi wanita ular seperti Veronica.


"Apa kau masih bisa berkata seperti itu setelah melihat ini semua?" Veronica melempar beberapa lembar cetakan foto di atas meja.


Sepasang mata Jenny seketika membulat sempurna ketika lensa birunya menangkap sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Dengan tangan yang bergetar ia meraih satu persatu lembaran foto yang memperlihatkan Jeffrey sedang berpose sangat intim dengan Veronica.


Sengatan panas dengan skala suhu ribuan derajad celcius seketika membakar hatinya. Denyutan jantung yang maha dahsyat seolah ingin menghancurkan onggokan daging yang melindunginya. Istri mana yang tidak tersakiti ketika melihat foto suaminya tidur dengan wanita lain, apa lagi wanita itu adalah mantan kekasihnya.


Dingin, iya namun Jenny berusaha mendinginkan otaknya, sebisa mungkin menyurutkan kobaran apa yang hampir merajai hatinya. Tidak ingin amarah menguasai jiwanya dengan begitu mudah.


Jenny menegakkan tubuh serta mengangkat mukanya. Melempar tatapan tajam tak terbaca, menunjukkan sebuah aura keberanian yang tak kan membiarkan orang lain menindasnya dengan mudah.


"Ck! Kau menggunakan cara murahan untuk mempengaruhiku, apa kau pikir aku akan mempercayainya? Bahkan anak kemarin sore pun tahu kalau foto itu adalah sebuah rekayasa. Cara pengambilan gambar juga sudah jelas, bahwa ada orang ketiga yang kau minta bantuannya untuk memfoto kalian saat itu. Dan lagi, suamiku bahkan masih memakai pakaian bawahnya, dan hanya kau yang bertelanjang bulat, dasar tidak punya malu," ucap Jenny yang penuh akan selidikan yang memang masuk akal.


Veronica menyeringai tajam, sedangkan Diven berusaha menikmati percakapan penuh intimidasi antara dua wanita yang memperebutkan satu pria tersebut.


"Aku tidak sebodoh itu, foto-foto ini bukan bertujuan untuk mempengaruhimu jalang, tapi sebagai senjata untuk mengancammu," beber Veronica di sela seringai jahatnya.


Jenny mengerutkan dahinya hingga kedua ujung alisnya hampir bertautan. Mimik muka seakan sudah dipenuhi tanda tanya besar dan menuntut Veronica untuk segera menjelaskannya.


"Aku baru saja memberi sedikit ancaman kepada Darwin dengan mengirimi foto ini kepadanya, tapi mertuamu itu sudah syok duluan hingga akhirnya terkapar koma di Rumah Sakit. Bagaimana jadi jika aku menyebar luaskan foto-foto ini di seluruh ruang publik, aku pastikan mertuamu itu akan segera berakhir di kuburan. Belum lagi nama baik keluarga Allison akan tercemar yang otomatis akan mempengaruhi perkembangan perusahaannya," papar Veronica yang sudah merasa menang sebelum perang dimulai.


"Aku rasa semua urat malumu itu sudah terputus, bukankah jika kau menyebarkan foto itu, sama saja mengekspos tubuh telanjangmu itu di kalayak umum?"


Setiap kalimat ancaman yang terlontar dari bibir Veronica tak henti-hentinya membuat Jenny terperangah di dalam hati. Takut, tentu saja saat ini rasa takut mulai menggerogoti hati kecilnya. Takut kalau Veronica benar-benar membuktikan kalimat ancamannya yang tentu saja akan berakhir sangat fatal.


"Aku yakin, suamimu itu, bukan tapi Jeffreyku itu sedang resah dan kebingungan saat ini. Tidak mungkin dia tidak mengetahui perihal foto yang telah aku kirimkan ke Darwin," sambung Veronica kembali yang sempat merevisi kalimatnya.


"Apa mungkin hal itulah yang membuat Jeffrey tampak sering melamun beberapa hari terakhir ini?" terka Jenny di dalam batin.


"Katakan apa yang kau mau?" tanya Jenny dengan nada dinginnya.


Veronica menyungging salah satu sudut bibir merah merekahnya.


"Aku ingin kau meninggalkan Jeffrey dengan mengikuti caraku,"


Jenny membisu dengan mimik muka yang mengisyaratkan sederetan pertanyaan, dan otaknya juga berusaha mencerna segala ucapan Veronica.


Seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan Jenny, mantan kekasih Jeffrey itu memberi isyarat kepada Ella untuk membawakan sesuatu yang sudah disiapkan.


"Minum itu sampai habis," titah Veronica.


"Apa ini? Apa kau ingin meracuniku?"


"Aku tidak ingin membunuhmu Jenny, aku hanya ingin menyingkirkan bayi yang ada di dalam perutmu," tandas Veronica.

__ADS_1


"Jangan bilang itu obat penggugur kandungan, tidak! Aku tidak sudi menuruti permintaan konyolmu itu," tolak Jenny yang langsung membentengi janin di dalam perut dengan kedua tangannya.


"Aku memberimu waktu 30 detik, jika dalam 30 detik kau tidak juga meminumnya aku akan menyebar luaskan foto-foto ini melalui media sosial," gertak Veronica penuh ancaman.


Jenny yang merasa terancam tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Ella yang berdiri di belakang Veronica. Ella memberi isyarat untuk segera meminum cairan yang diduga obat penggugur kandungan.


Tanpa sepengetahuan Veronica dan Diven, kedua wanita hamil itu sedang melakukan interaksi melalui bahasa mimik muka. Sekali lagi, Ella seolah meyakinkan Jenny melalui air mukanya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia meminumnya.


"10 detik lagi,"


Jenny tercekat setelah mendengar hitungan detik kian berkurang. Keringat dingin sebesar biji kedelai sudah menyembul dari pori-pori kulitnya, membasahi tubuh dan rambutnya.


"5 detik,"


Jenny semakin menegang. Hitungan detik yang berjalan mundur itu terdengar horor, membuat atmosfer ruangan semakin mencekam.


"3 detik"


"2 detik"


"1 detik"


Gluk! Gluk! Gluk!


Dalam hitungan detik terakhir, Jenny akhirnya meneguk cairan yang berada di dalam gelas hingga tandas. Dia menahan getaran hebat di dalam tubuhnya. Bukan karena efek minuman yang baru saja melewati tenggorakannya, namun karena kekhawatiran hebat akan nasib janinnya akibat keputusannya meminum cairan asing tersebut.


Dia sungguh menaruh harapan tinggi bahwa ucapan yang tersirat melalui mimik muka Ella benar-benar bisa dipecaya.


Sedangkan Veronica dan Diven seketika menyeringai puas setelah berhasil mendesak Jenny untuk meminum cairan asing penggugur kandungan tersebut.


"Bagus, sungguh pilihan tepat. Tapi kau jangan merasa lega dulu, karena masih ada hal yang harus kau lakukan dan wajib kau patuhi," ucap Veronica yang tidak menerima penolakan.


"Apa?! Kalian memang sudah tidak waras!" hardik Jenny tidak terima. Ia merasa dipermainkan.


Diven mencondongkan tubuhnya ke arah Jenny lalu mencapit kedua pipi Jenny dengan jari-jemari tangannya. "Tidak semudah itu sayang, aku bahkan belum memberikan tugas lain untukmu, tugas yang bisa menyenangkan diriku," ucap Diven membuat Jenny tersentak begitupun Ella. Ella sangat kecewa mendengar ucapan frontal Diven yang tanpa memikirkan perasaannya.


"Sepertinya dia berbohong bahwa akan mengakui bayi dalam kandunganku, sungguh aku sangat menyesal karena sudah menuruti perintahnya," batin Ella dengan segores luka di hatinya.


Ella yang kembali dari pikirannya langsung berinisiatif untuk membawa Jenny pergi agar mereka tidak curiga bahwa cairan penggugur kandungan tadi sudah ia tukar dengan air minum biasa.


"Aku akan membawanya pergi sebelum efek obatnya bereaksi. Akan sangat merepotkan jika wanita ini sampai keguguran di apartemenmu," ucap Ella dengan alasan palsunya.


"Kau benar, segera bawa dia pergi," usir Veronica.


Bersambung~~


...Untuk para Reader tersayang:...


...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...

__ADS_1


...Terimakasih🙏🥰...


__ADS_2