Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Cepatlah Pulang.


__ADS_3

Wanita yang sedang dirundung ketakutan dan kecemasan itu tampak melangkahkah kakinya yang terasa berat seolah sebuah rantai besi meliliti kaki kecilnya. Ia terus memaksa tubuhnya untuk tetap berdiri tegap meski tulang tak lagi kuat. Dengan perasaan dan pikiran yang tak karuan ia mendekati area tempat kejadian kecelakaan yang membuat tubuh Jeffrey belum bisa ditemukan keberadaannya hingga saat ini.


Langkahnya berhenti dan berpijak pada pembatas yang memisahkan antara jalan dan tebing. Satu tangannya terlihat menutup bibirnya yang tampak bergetar, sedangkan tangannya yang lain meremas baju di dadanya yang terasa begitu sesak seolah ada dua bongkahan batu raksasa yang menghimpit begitu kuat sehingga membuatnya sulit untuk bernapas.


Sepasang netranya yang sudah membengkak akibat menangis dan tetap terjaga semalaman itu kembali berkabut hingga akhirnya terjatuhlah satu persatu mutiara bening yang menyiratkan sejuta rasa kesedihan yang begitu mendalam. Namun tiada suara isakan tangis yang keluar dari bibir tipisnya meski sepasang jendela hatinya sudah sangat basah.


Seolah belum bisa menerima kenyataan bahwa hal buruk telah menimpa suaminya, ia mencoba mengelak dari semua pikiran negatifnya. Hatinya masih terus bertanya, apakah ini sebuah jawaban dari perasaannya tidak enaknya kemarin? Sungguh, saat ini Jenny berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan semua akan kembali baik-baik saja ketika ia terbangun. Tapi kenyataannya ini semua bukanlah mimpi. Ini benar-benar nyata dan ada di depan mata.


Sebuah usapan lembut di pundaknya seolah tak dapat mengalih perhatian Jenny yang sedang menatap nanar sebuah mobil yang sudah dalam kondisi ringsek dan tak berbentuk. Sudah bisa dipastikan, tubuh manusia yang berada di dalam pasti akan ikut hancur bersama badan mobilnya.


"Sayang, kita harus yakin bahwa suamimu akan baik-baik saja. Polisi juga masih sedang berusaha mencarinya, kita harus terus berdoa untuknya," tutur Briana seraya merangkul kedua pundak putri menantunya, berusaha memberi sinyal kekuatan. Meskipun dia sendiri juga membutuhkan pasokan kekuatan batin. Sepanjang perjalanan, Briana tidak henti-hentinya menangis menumpahkan segala kegelisahannya.


Sungguh, sebagai seorang Ibu, Briana juga sangat terpukul. Hatinya juga sedang dirundung kecemasan yang mendalam. Bagaimana bisa dia baik-baik saja mengetahui hal mengerikan baru saja menimpa putra kandung semata wayangnya.


"Benar yang dikatakan Mommy sayang, putraku itu sangat kuat, dia pasti sedang berada di suatu tempat dan baik-baik saja," Darwin juga berusaha memberi kekuatan kepada Jenny meskipun sebenarnya dia juga tidak kalah terpukulnya.


Sedangkan Sean, Sammy, dan Alvin yang ternyata ikut datang ke lokasi juga terlihat begitu sedih. Garis-garis kecemasan terlukis jelas di muka sendu ketiga pria tampan tersebut.


Dan di antara ketiga pria itu, Sean lah yang diam-diam paling merasakan sakit. Musibah yang menimpa sahabatnya itu sudah cukup membuatnya terpukul dan masih ditambah lagi dengan menyaksikan langsung kesedihan Jenny yang begitu memalung, membuatnya ingin sekali memeluk wanita yang masih menempati hatinya tersebut, menstransfer sebuah kekuatan agar lebih tegar, namun hal itu tidak mungkin dia lakukan karena dia masih sadar diri dan masih ingat dimana posisi yang tepat untuknya berdiri.


"Sayang sebaiknya kau pulang sekarang," saran Briana namun Jenny masih bergeming. Tangan yang sedari tadi meremas dadanya yang terasa sesak sudah terjatuh lunglai. Tatapan sorot matanya sungguh sulit diartikan.


"Dad, Mom, aku yakin Jeffrey akan kembali dalam keadaan hidup dan baik-baik saja, dia telah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku," lirih Jenny dengan pandangan kosong lurus ke depan. Siapa sangka, saat ini sebenarnya ia sedang menangis dalam diam.


"Iya sayang, suamimu pasti akan baik-baik saja," balas Darwin dengan netra yang justru kian memanas ketika melihat ekspresi Jenny yang berusaha untuk tegar tapi sorot matanya menyiratkan sebuah kedukaan yang begitu memalung.


"Suamiku akan tetap baik-baik saja. Iya, karena dia sudah berjanji akan segera pulang. Dad, Mom, aku ingin pulang sekarang, karena ia sudah berpesan kepadaku untuk menunggunya pulang ke rumah," Jenny meracau mencoba menampik segala pikiran buruknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan lokasi menuju mobil dan diikuti oleh yang lainnya.


"Sayang, maaf Daddy dan Mommy tidak bisa menemanimu langsung kembali ke London karena kami harus menjenguk Darren, dia juga butuh perhatian. Nanti kau pulanglah bersama Sean, Sammy, dan Alvin," tutur Briana penuh perhatian seraya mengusap lembut rambut anak menantu kesayangannya sebelum masuk ke dalam mobil.


Jenny tidak bersuara, ia hanya merespon dengan sebuah anggukkan kecil tanpa mengalihkan pandangannya ke Briana. Saat ini dia memang sangat membutuhkan waktu dan tempat untuk menenangkan pikiran dan perasaanya. Kesedihan dan kekhawatirannya belumlah berakhir. Selama keberadaan Jeffrey belum ditemukan, dia tidak akan bisa tenang.


Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit tempat Darren dirawat, Briana juga terlihat cemas dengan kesehatan suaminya, Darwin.


"Sayang apa kau baik-baik saja?" Briana menatap muka Darwin yang terlihat pasi kemudian memeluk tubuhnya.


Seolah mengerti akan perasaan sang istri, Darwin mengusap lembut rambut wanita yang selalu setia mendampinya di saat suka dan duka itu.


"Tubuhku baik-baik saja, sekarang sebaiknya kita terus mendoakan putra kita agar dia bisa segera ditemukan," Darwin mencoba menenangkan Briana yang ternyata sudah kembali terisak dan berurai air mata.

__ADS_1


"Kita bahkan sampai lupa untuk segera menjenguk putra kita yang satunya, saat ini dia pasti sedang sangat membutuhkan perhatian kita," tutur Darwin kembali.


°°°


Sang surya kian menyingsing ke barat, menciptakan suhu udara yang panas kian menghangat, di sebuah Rumah Sakit yang masih berada di kota Birmingham, Darren terlihat sedang duduk bersandar di ranjang perawatan Rumah Sakit. Kondisi lukanya juga cukup parah, ia harus mendapatkan dua puluh jahitan di kepalanya dan sebuah gips juga terpasang di tangan kirinya karena mengalami cidera patah tulang serta luka-luka kecil turut menghiasi tubuhnya bagian lain.


Sekilas, senyuman getir terlukis samar di mukanya. "Apa mereka tidak mengingatku? Aku juga butuh mereka saat ini,"


Krieett...!


Suara daun pintu yang terbuka menarik pikiran Darren dari lamunannya. Tampak Emy dan seorang wanita muda yang berusia 2 tahun lebih tua dari Darren muncul dari balik pintu. Wanita itu adalah Natalie yang menjabat sebagai asisten pribadi Darren.


"Ternyata kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Emy yang langsung mendekati sisi ranjang Darren dengan guratan-guratan kecemasan di mukanya. Ingin sekali ia memeluk tubuh putra yang sangat ia rindukan itu, tapi akan sangat aneh jika ia memberi perhatian yang berlebihan di saat putranya hanya manganggapnya sebagai ibu mertua adiknya.


"Apakah kedua orangtuaku masih belum terlihat datang kemari?" alih-alih menjawab, Darren justru balik bertanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Emy dan Natalie secara bergantian.


Emy terdiam begitu juga dengan Natalie, mereka tampak bingung untuk menjawab. Pasalnya dari semalam hingga sekarang sekarang, kedua otangtua Darren sama sekali belum mengunjunginya.


Semalaman Emy lah yang telah menjaganya dan hal itu membuat Darren tidak nyaman dan bertanya-tanya. Kenapa bukan kedua orangtuanya yang menjaganya, kenapa justru Emy?


Dan kediaman Emy dan Natalie tentunya sudah cukup menjadi jawaban bagi Darren. Sekali lagi seutas senyuman getir terlihat samar-samar di mukanya yang pucat. Berbagai pikiran mulai merajai otaknya saat ini.


*SAR adalah singkatan dari Search And Rescue.


"Dari info yang aku dapatkan, jenazah si supir sudah ditemukan, namun tim SAR belum menemukan adikmu dan siang tadi pencarian terpaksa dihentikan untuk sementara karena gelombang laut mencapai 4-6 meter sehingga menyulitkan pengerahan alat untuk pencarian secara maksimal. Dan pencarian akan dilanjutkan besok," lapor Natalie yang merupakan asisten serta sahabat Darren.


Darren mendesah berat, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Suasana hening sesaat, hingga akhirnya pria itu kembali bersuara.


"Siapkan semuanya, aku ingin kembali ke London sekarang,"


"Tapi, kondisimu," ucapan Natalie terputus.


"Patuhi perintahku," titah Darren mutlak dengan sorot mata dinginnya yang membuat sang asisten langsung tak berkutik.


Ceklek...!


Terdengar suara knop pintu yang diikuti terbukanya daun pintu kamar perawatan. Selang tidak lama Briana dan Darwin muncul dari balik pintu.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" ucap Briana yang langsung berhamburan memeluk tubuh Darren.

__ADS_1


Ia mengurai pelukannya dan menyapu pandangannya ke seluruh tubuh putranya tersebut. Wanita yang hampir menginjak usia kepala lima tersebut menatap sendu Darren yang sedang dalam kondisi sangat tidak baik tersebut.


Tidak dapat dipungkiri, melihat keadaan Darren saat ini ia juga sangat sedih dan terpukul. Begitu juga dengan Darwin.


°°°


Beberapa jam kemudian, Jenny sudah sampai di kediamannya. Daisy langsung menyambutnya ketika ia turun dari mobil. Daisy memang sudah menunggu kedatangannya sedari tadi. Berharap kepulangan Jenny dari kota Birmingham membawa kabar gembira.


"Jenn..," lirih Daisy yang langsung menghampiri sahabatnya yang sangat terlihat sedang tidak baik-baik saja.


Jenny menggiring mukanya ke arah Daisy dan tersenyum simpul sekilas. "Aku baik-baik saja, biarkan aku sendiri saat ini," lirih Jenny yang seolah mengerti apa yang dipikirkan Daisy.


Dia masih terus berusaha terlihat tegar di depan para sahabatnya kemudian melanjutkan langkah tak bersemangatnya.


Daisy yang masih diam di tempat menatap sendu punggung Jenny yang kian menghilang di balik pintu. Kemudian ia menggiring manik coklatnya ke arah tiga pria yang datang bersama Jenny, yaitu Sean, Sammy, dan Alvin. Gadis bermuka imut itu langsung bisa mendapat jawaban dari mimik muka yang terlukis di muka tampan mereka bahwa mereka datang belum membawa kabar baik melainkan sebaliknya.


°°°


Jenny langsung lemas seketika dikala kakinya sudah berpijak di dalam kamarnya. Tulang kakinya seolah sudah tak sanggup menopang tubuhnya sehingga membuatnya roboh begitu saja di atas lantai berlapis karpet. Dadanya berdenyut begitu dalam dan bergetar luar biasa. Hatinya bergejolak tak karuan. Kegundahan yang teramat besar sungguh terasa pilu.


Sepasang netra yang masih terlihat sembab itu kembali memanas. Cairan bening mulai membingkai jendela hatinya yang sudah sangat berkabut. Perasaan sedih, sakit, dan terpukul seolah sedang berkolaborasi untuk mempora porandakan hatinya yang rapuh sehingga membuat butiran kristal yang menggelayut di pelupuk mata terjun bebas membasahi pipinya.


Isakan tangis kesedihan yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah jua. Suara tangisannya begitu pilu dan menyayat hati bagi yang mendengarnya.


"Beruang kutub, bukankah kau sudah berjanji bahwa kau akan segera pulang setelah urusan pekerjaanmu selesai? Kenapa kau membohongiku?" ucap Jenny tersedu-sedu seraya meremas erat kain di dadanya yang terasa sesak.


"Kau dimana sekarang? Jangan membuatku takut, aku mohon cepatlah pulang suamiku, aku sangat mengkhawatirkanmu," tangisan Jenny semakin pecah memenuhi langit kamar menciptakan suasana kamar kian berselimut lara.


Jenny masih terus menangis dan merutuki dirinya yang kurang peka terhadap firasat buruknya kemarin. Kalau saja dia lebih peka dan tahu hal buruk akan menimpa suaminya dia pasti akan menghalangi Jeffrey untuk pergi.


"Cepatlah pulang, hiks! Aku mohon jangan seperti ini. Jangan bercanda keterlaluan, aku tidak suka! Kau jangan membuatku marah! Hiks,"


Cukup lama Jenny menangis, meluapkan segala kegundahan hatinya, hingga akhirnya raga dan jiwanya mulai lelah dan membawanya berlayar mengarungi lautan sejuta mimpi.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2