Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
2 Pria Kelimpungan


__ADS_3

Dua bulan kemudian. Setelah bebas dari masa hukuman, Darren memenuhi janjinya sebagai seorang pria sejati, yaitu menikahi Natalie. Wanita yang terpaut usia tiga tahun lebih tua darinya. Wanita yang selalu setia menjaga cintanya untuk Darren.


Dua hari setelah Darren dan Natalie resmi mejadi pasangam suami istri, mereka berniat melakukan sebuah perjalanan bulan madu di salah satu negara bagian benua Asia, Jepang.


"Kak, jangan lupa pulang bawa oleh-oleh ya," ucap Jenny antusias setelah membantu Sean memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam mobil.


Setelah menikah, Darren memang memutuskan membeli salah satu perumahan yang kebetulan bertetangga dengan Jenny.


"Memangnya kau ingin meminta oleh-oleh apa?" tanya Darren yang tampak sibuk memeriksa barang-barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal.


"Bawakan aku keponakan yang lucu ya," seloroh Jenny seraya menggelayut manja pada lengan Darren.


Jeffrey yang melihat tingkah manja Jenny sontak menarik Jenny agar sedikit menjauh dari Darren.


"Kau itu seorang wanita yang sudah bersuami dan mempunyai anak, kenapa kau masih bertingkah manja kepadanya," sungut Jeffrey yang memang tidak pernah suka melihat Jenny terlalu dekat dengan Darren meski dia sudah tahu tentang siapa Darren bagi istrinya.


Jenny mendengus. "Kau selalu cemburu tidak pada tempatnya,"


Darren hanya terkekeh geli melihat kelakuan kedua adiknya itu.


"Apa yang sedang kalian obrolkan?" tanya Natalie yang baru saja muncul.


"Aku ingin dibawakan oleh-oleh setelah kalian pulang dari honeymoon," jawab Jenny dengan mimik muka penuh harap.


"Ia nanti Kakak bawakan yang banyak ya," timpal Natalie tanpa menanyakan terlebih dahulu oleh-oleh seperti apa yang diingin Jenny.


"Jangan banyak-banyak Kak, satu saja sudah cukup. Nanti kau bisa kewalahan," Jenny terkikik seraya menutup mulutnya dengan jari-jarinya. Tidak hanya Jenny, bahkan Jeffrey dan Darren juga tampak tersenyum penuh makna yang seketika membuat Natalie memasang raut muka bertanya-tanya.


"Sayang, oleh-oleh yang diminta Jenny itu...," ucap Darren diakhiri sebuah bisikan di telinga Natalie yang membuat mukanya seketika bersemu merah, semerah buah persik karena tersipu malu.


Darren merangkul pinggang ramping Natalie dan merapatkan tubuhnya. "Aku akan berusaha keras jadi aku harap kerjasamanya ya," goda Darren lalu menghadiahi sebuah kecupan ringan pada bibir Natalie yang sukses membuat wanita itu semakin tersipu malu karena Darren melakukannya terang-terangan di depan kedua adik-adiknya.


"Kenapa aku merasa jijik melihat Darren yang sekarang?" cebik Jeffrey dengan mimik muka masamnya yang khas. Pasalnya setelah keluar dari rumah tahanan, Darren terlihat lebih ekspresif dan lebih santai dalam membawa diri.


Darren yang tampak acuh dengan cibiran Jeffrey lantas membawa Natalie ke dalam mobil. Sekilas sepasang pengantin baru itu menoleh ke arah Jeffrey dan Jenny seraya melempar senyum hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan padat kota London.


"Kyaaakkkkk!" terdengar suara pekikan seseorang yang bersumber dari dalam bangunan rumah yang terletak bersebelahan dengan bangunan rumah Jeffrey dan Jenny.


Mendengar kegaduhan dari sana, Jeffrey dan Jenny hanya bisa membuang napas seraya menggelengkan kepalanya. Pasal mereka sangat hapal dengan suara itu. Siapa lagi kalau bukan suara Sammy yang memang belum lama menempati rumah barunya itu.


"Biarkan saja dia, sebaiknya kita kembali ke dalam. Takutnya putra kita yang masih tertidur tiba-tiba terbangun karena terusik oleh kegaduhan yang dibuat mahkluk hutan satu itu," tutur Jeffrey yang langsung dipatuhi Jenny.


°°°


"Sean...! Bisa kau kemari sebentar?" teriak Sammy memanggil dari dalam kamar.


"Aku masih membuatkan susu untuk Shelly, berhentilah berteriak dan jaga anak itu dengan benar," sahut Sean yang masih fokus memperhatikan kaleng bubuk susu formula, botol dot susu, dan air panas. Dia tampak berpikir keras darimana ia harus memulainya. Pasalnya ini baru pertama baginya.


"Kenapa membuat susu bayi lebih rumit daripada membrantas para tikus berdasi di perusahaanku?" gerutu Sean yang mulai memasukkan lima sendok bubuk susu ke dalam botol.


Iya, Sean dan Sammy saat ini sedang dibuat kelimpungan oleh seorang balita berusia 3 tahun, Shelly. Satu jam yang lalu, Alvin meminta tolong kepada mereka untuk mejaga anaknya karena harus mendampingi Ella yang sedang menjalani proses persalinan melalui operasi caesar.


Amber sang ibu mertua yang biasanya dimintai tolong untuk menjaga Shelly kebetulan sedang berada di luar kota dan masih dalam perjalanan pulang. Jadi, Alvin Meminta Sean dan Sammy untuk menjaga Shelly sebagai alternatif tercepat yang dia pilih.


"Sean..! Tolong...!" Kali ini suara Sammy semakin histeris sehingga membuyar konsentrasi Sean seketika.


"Aarrggg! Kenapa kau sangat cerewet sekali?!" gerutu Sean seraya melangkah mendatangi Sammy yang sedari tadi heboh sendiri.


"Ada apa?!" tanya Sean yang sudah berhenti di ambang pintu.


"Coba kau periksa anak ini, aku mencium sesuatu yang sangat bau dari tubuhnya. Tadi aku mencium pantatnya, dan bau yang sangat busuk keluar dari sana," beber Sammy dengan suara sumbangnya karena ia berbicara sambil menjepit hidungnya dengan jepitan jemuran baju.


"Kau itu kurang kerjaan, apakah harus mencium pantatnya segala?"


Sean menggiring mukanya ke arah Shelly yang sedang asyik dengan mainannya. Bahkan mukanya terlihat sangat berseri dengan kedua bola mata besarnya yang berbinar-binar seolah bau tak sedap yang sedang mengelilingi tubuhnya sama sekali tak membuatnya terusik.

__ADS_1


Pria tampan berlensa biru itu kemudian mendekati Shelly, mengangkat dan merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang. Dengan gerakan sedikit ragu, ia membuka pempers yang membalut tubuh kecil itu.


"Hueek..! Hueek! Kenapa baunya seperti kotoran manusia?" seru Sammy yang langsung mengambil langkah seribu berpindah pada titik sudut ruangan terjauh. Ia tampak berkali-kali ingin memuntahkan isi perutnya karena aroma bau yang langsung menyeruak seisi ruangan setelah Sean membuka pempers itu. Ternyata Shelly buang air besar di pempers.


Shelly si balita cantik itu seketika tertawa girang ketika melihat ekspresi muka Sammy yang mana di dalam imajinasinya tampak seperti simpanse yang sedang melakukan senam muka. Sangat lucu sekali.


Sedangkan Sean ia terlihat lebih tenang daripada Sammy yang yang bereaksi berlebihan seakan ia sedang di hadang oleh tumpukan kotoran manusia yang menggunung.


"Yang kau cium itu memang bau kotoran manusia bodoh!" cerca Sean.


"Hmp! Hmp! Hueek..! Sean aku sudah tidak tahan lagi dengan baunya, cepat kau bersihkan!" seru Sammy yang langsung membungkus rapat kepalanya dengan kantong plastik. Ia tampak menghirup napas dalam berkali-kali hingga membuat kantong pastik terlihat kembang kempis seperti perut katak yang baru saja selesai berolahraga panas di musim kawin.


"Kenapa kau berisik sekali?! Cepat kau ambil sesuatu untuk membersihkan kotorannya," titah Sean setengah kesal akan tingkah Sammy yang selalu berlebihan dan bikin pusing.


Sammy gegas mematuhi titah Sean tanpa debat dan secepat kilat ia kembali membawa alat-alat yang sukses membuat Sean tercengang dan rasanya ingin menangis saat ini juga.


"Otakmu sebenarnya terbuat dari apa Sammy? Untuk apa barang-barang ini? Apa kau ingin memandikan kerbau?" Sean tampak memasang muka ingin menangis seraya manatap tak percaya pada sikat lantai, gayung, ember beserta airnya yang tergeletak di lantai.


Dengan kepala yang masih terbungkus kantong plastik, Sammy menyengir kuda seraya menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal.


Melihat gelagat Sammy, Sean tampak semakin geregetan lalu menutup kepala Sammy dengan gayung. "Gayung ini cocoknya untuk membungkus otak kentangmu itu biar cepat matang," ledek Sean lalu melempar pempers yang sudah penuh kotoran itu kepada Sean kemudian lanjut menenteng tubuh kecil Shelly untuk di bawa ke kamar mandi.


"Kyaakkk! Kenapa kau melempar kotoran itu kepadaku?" pekik Sammy yang akhirnya muntah di tempat.


°°°


"Ada apa dengan mimik mukamu itu?" tanya Jenny heran.


"Coba kau liat putra kita, dia terlihat sangat kehausan. Apa dia baru saja selesai lari maraton jarak 3 Kilometer?" celetuk Jeffrey yang masih menatap baby Jeaven yang tampak bersemangat menyedot ASI.


Jenny mendengus geli. "Kau ini bicara apa? Mana ada bayi bisa lari maraton?"


"Tentu saja ada?"


"Memang siapa yang bilang?"


"Hiish!"


"Dia juga terlihat sangat posesif. Dia bahkan tampak tidak suka jika aku memainkan buah dadamu, apa dia tidak ingin berbagi dengan Daddynya?" timpal Jeffrey kembali yang mau tidak mau harus menerima kenyataan untuk merelakan salah satu benda favoritnya dimiliki baby Jeaven seutuhnya.


Jenny mengernyitkan keningnya seraya melempar tatapan menyelidik. "Jangan bilang kau sedang cemburu kepada putramu sendiri. Kau itu seorang Daddy sekarang. Sudah seharusnya kau mengalah dengan putramu," Jenny tampak berdecak seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak cemburu, tapi aku kan juga ingin memegangnya. Apa kau tidak kasihan kepadaku? Sudah 2 bulan aku berpuasa," protes Jeffrey merajuk.


"Kau itu seperti bayi besar saja,"


Suara gaduh dari rumah sebelah seketika memotong percakapan Jeffrey dan Jenny.


"Sebenarnya kedua manusia itu sedang apa? Mereka sedari tadi terdengar sangat berisik," gerutu Jeffrey yang merasa terusik dengan kegaduhan yang diciptakan oleh Sean dan Sammy.


"Beruang kutub apa sebaiknya aku bantu mereka saja? Sepertinya mereka sangat kewalahan mengurus Shelly," usul Jenny yang masih memberi susu ASI kepada Jeaven si bayi kuat minum.


"Sayang, bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu, apa lagi di depan putra kita? Dia bisa ikut-ikutan memanggil Daddynya seperti itu kelak," protes Jeffrey sebelum menanggapi usulan Jenny.


"Kau tetaplah disini, biar aku yang temui mereka," sambung Jeffrey.


"Iya tampanku," sahut Jenny yang membuat langkah Jeffrey tertahan di ambang pintu kamar. Ia memutar tubuhnya ke arah Jenny dan menatapnya dengan mimik muka senang. Pasalnya wanitanya itu memang sangat jarang sekali memanggil Jeffrey seperti itu.


"Coba ulangi lagi," pinta Jeffrey.


Jenny terkekeh melihat reaski Jeffrey. "Iya tampanku sayang,"


"Mulai sekarang dan seterusnya, kau harus memanggilku seperti itu," pinta Jeffrey. Tepatnya sebuah titah mutlak.


Ting tong.. Ting tong..

__ADS_1


Suara Bell pintu seketika mengalihkan perhatian keduanya. Jeffrey pun gegas mengayun kakinya menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Kamu?" lirih Jeffrey ketika melihat Allesya yang datang berkunjung.


"Hai Kak, aku ingin mengunjungi si kecil tampan," ucap Allesya seraya mengangkat ke atas sebuah bagpaper berisi mainan yang sedang ia pegang.


Alih-alih segera mempersilahkan gadis remaja itu masuk, Jeffrey justru menyeringai tipis seraya memasang mimik muka penuh arti.


"Bagus, kebetulan sekali kau datang,"


°°°


Sammy bergegas berlari menuju pintu keluar masuk rumah ketika mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Allesya? Kenapa kau bisa kesini?" tanya Sammy heran.


"Tadi Kak Jeffrey memintaku datang kesini. Katanya kalian membutuhkan bantuan seseorang," jawab Gadis itu.


Sammy seketika merasa lega seolah keberadaan Allesya dapat dijadikan sebagai dewi penolong baginya. "Iya Al, Shelly dari tadi menangis terus tidak mau berhenti. Rasanya aku juga ingin menangis," keluh Sammy tampak melas.


Tanpa menunggu Sammy mempersilahkan masuk, gadis itu langsung menyelonong menuju sumber suara tangisan Shelly. Sedangkan Sammy memilih untuk tetap tinggal di ruang tamu, memberikan kepercayaan penuh kepada Allesya untuk mangatasi Shelly yang sedang rewel.


"Kak Sean dia kenapa menangis?" tanya Allesya yang melihat Sean sedang berusaha menenangkan Shelly dengan cara menggendongnya.


Sean melihat ke arah Allesya yang sebenarnya membuat ia bertanya-tanya bagiamana gadis itu bisa berada disini. Seperti biasa, Sean selalu merasa jengah setiap berada di dekat gadis yang selalu mengejar-ngejarnya tanpa malu itu. Namun untuk saat ini, ia tampik rasa jengahnya dan berharap keberadaan Allesya bisa membantunya.


Dengan cekatan, Allesya mengambil alih balita yang baru menginjak usia tiga tahun tersebut dan mulai memeriksa tubuhnya. Mencari sumber kerewelannya dengan sangat teliti.


"Astaga.. pantas saja dia rewel. Kau memasang pempersnya terbalik Kak, sehingga membuat ia merasa tidak nyaman. Dan sepertinya ia juga sudah sangat mengantuk," ujar Allesya seraya membenahi pemperasnya.


Kemudian Allesya melangkah keluar kamar dan kembali lagi dengan membawa sebotol ramuan susu formula di tangannya. Dengan sangat sabar dan perhatian gadis itu membaringkan Shelly di atas ranjang dan meminumkan susunya. Allesya tampak memberi tepukakan ringan pada pantat balita itu seraya menyenandungkan sebuah lagu sebagai pengantar tidur. Suaranya terdengar sangat merdu. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama, Shelly pun terlelap.


Sedangkan Sean yang mengamati semua tindakan cepat Allesya saat mengahadapi kerewelan Shelly tampak terperangah. Dia tidak menyangka gadis remaja se bar-bar Allesya bisa mengurus anak kecil.


"Tidur yang nyenyak ya cantik," bisik Allesya kepada Shelly sebelum ia beranjak dari ranjang tempat Shelly terlelap.


"Aku kira kau hanya jago membanting orang saja, ternyata kau juga bisa mengurus anak kecil," celetuk Sean kepada Allesya yang sudah berdiri di hadapannya. Entah itu berarti sebuah pujian atau sindiran.


Seperti biasa, Allesya melukis senyuman termanisnya di hadapan Sean dan hanya untuk Sean. "Tentu saja, maka dari itu percayalah kalau Kakak tidak akan menyesal menjadikan aku ibu dari anak-anakmu kelak," ucap Allesya penuh percaya diri.


"Kak, apa kau tidak ingin memberiku imbalan sebagai tanda terima kasih karena sudah membantumu?" lanjut Allesya dengan mimik muka penuh makna.


Sean menautkan matanya ke arah Allesya. Mimik mukanya sangat datar, sedatar lepengan es di lautan kutub selatan. "Jangan mengharapkan imbalan karena aku tidak pernah memintamu untuk membantuku,"


"Hmm, berkencanlah denganku," pinta Allesya tanpa rasa ragu bahkan malu sekalipun. Seolah sikap dingin Sean tidak berarti baginya.


"Tidak akan," tolak Sean mentah-mentah kemudian mengambil langkah seribu pergi dari hadapan gadis yang sering membuatnya risih.


"Ayolah Kak," gadis itu tampak mengekori pria dewasa pujaan hatinya dan terus merayu dengan nada manjanya.


"Tidak akan, karena bukan kebiasaanku berkencan dengan gadis kecil sepertimu,"


Visual Baby Jeaven



Visual Natalie



Visual Darren



Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2