
"Kau tetaplah di sini, aku akan membersihkan tubuhku dulu, lalu bantu aku mengobati lukaku," pinta Jeffrey dengan nada sedikit melunak. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Dia sebenarnya kesambet setan dari suku mana? Tidak biasanya dia berbicara dengan nada seperti itu. Aku jadi merinding," gerutu Jenny bergidik tanpa meninggalkan kamar milik Jeffrey.
Gadis blonde tersebut mengamati seluruh isi ruangan kamar pria yang tampak luas dan rapi tersebut. Sapuan sepasang mutiara birunya berhenti pada salah satu alat musik piano digital yang terletak di salah satu sudut ruangan dekat jendela kaca.
"Dia sepertinya memang benar-benar berbakat dalam bidang musik," Jenny bermonolog pada dirinya sendiri. Sesekali jari-jari lentiknya menekan tuts-tuts pada papan piano sehingga menciptakan suara dentingan nada yang khas.
"Dia itu terlahir dari keluarga kaya, tampan, pintar, dan sudah berpenghasilan di usianya yang masih relatif muda. Tapi sifat sangat menyebalkan! Membuatku mengubur dalam-dalam rasa kagumku," gerutu Jenny yang tiba-tiba merasa kesal.
"Buat apa kau memujiku jika pada akhirnya kau meledekku?" suara bariton Jeffrey yang tiba-tiba sontak membuat Jenny terkesiap.
Jenny mencoba memutar tubuhnya ke arah sumber suara yang membuatnya jantungan tapi tiba-tiba...
"Kyaaakk! Kenapa kau tidak memakai bajumu?!" pekik Jenny seraya menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
Dia malu melihat Jeffrey yang hanya berbalut handuk sehingga menampilkan lekuk tubuh kekar dan otot-otonya yang menyembul. Rambut legamnya juga masih tampak basah. Hot men, hanya kata itu yang cocok untuk menggambarkan penampilan pria bermuka ketus itu saat ini.
"Dasar gadis gila, kenapa kau heboh sekali? Aku masih memakai handuk bukannya telanjang," sembur Jeffrey kesal.
"Cepat pakai bajumu!" titah Jenny.
"Berani-beraninya dia memerintahku," gerutu Jeffrey yang langsung menuju walk-in closet untuk mengenakan baju.
Selang tidak lama, Jeffrey keluar dengan hanya mengenakan celana pendek dan membiarkan tubuh bagian atasnya bertelanjang dada.
"Kau kenapa tidak memakai baju atasanmu juga?" tanya Jenny yang masih kikuk dengan suasana saat ini.
"Aku yakin, otak kentangmu itu sedang berpikiran kotor saat ini," cibir Jeffrey seraya berdecak pinggang.
"Kenapa kau tidak peka sekali? Aku sedang malu sekarang! Kau hanya bisa meledekku setiap hari," sungut Jenny kesal.
"Ayolah, kau harus membiasakan dirimu melihatku seperti ini karena kau tinggal di apartemenku. Kau boleh pergi dari sini jika kau tidak suka," ucap Jeffrey enteng.
"Baiklah, aku akan pergi saja dari sini, aku bisa kembali ke rumah orangtuaku," timpal Jenny yang hendak melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Apa kau gila?! Aku bisa mati di tangan orangtuaku sendiri," seru Jeffrey mencoba menghentikan Jenny seraya menarik tangan kecilnya hingga membuat tubuhnya terhuyung mendekati tubuh Jeffrey dengan posisi kepala membentur dada bidang Jeffrey.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Jeffrey seketika berdenyut melebihi vibrasi batas normal.
"Auw! Kenapa kau selalu bermain kasar? Apa kau tidak bisa lembut sedikit kepadaku?" sungut Jenny seraya mengusap kepalanya.
"Kenapa jantungku tiba-tiba terasa aneh?" batin Jeffrey.
"Ehem!" Jeffrey berdehem untuk menetralkan detak jantungnya.
"Bukankah aku tadi memintamu untuk mengobati lukaku?" Jeffrey mencoba menghentikan perdebatannya dengan Jenny dan langsung mendaratkan bokongnya di atas bibir ranjang.
Dengan langkah sedikit ragu, Jenny pun segera mengambil kotak P3K dari atas nakas kamar lalu ikut duduk di bibir ranjang.
__ADS_1
"Aku harus mengobati bagian luka yang mana dulu?" tanya Jenny kepada Jeffrey. Canggung sekali, itu yang dirasakan Jenny.
"Olesi bagian memar menggunakan krim itu," titah Jeffrey lalu memunggungi Jenny.
"Astaga.. luka memarmu kenapa lebar sekali?" seru Jenny yang baru menyadari memar selebar telapak tangan menghiasi punggung Jeffrey.
"Jangan banyak bicara, lekas olesi dengan krim yang aku tunjukkan tadi,"
"Menyebalkan," dengus Jenny sangat pelan.
Jenny mulai mengolesi krim pada permukaan kulit yang bewarna biru keunguan pada punggung Jeffrey dengan sangat lembut dan hati-hati.
Deg! Deg! Deg!
Lagi-lagi jantung Jeffrey berdenyut di luar frekuensi.
"Lagi-lagi tubuhku terasa aneh," batin Jeffrey.
Sentuhan lembut tangan Jenny seperti memberi sensasi yang berbeda sehingga membuat darah dalam tubuh Jeffrey berdesir hebat.
"Sekarang putar tubuhmu," pinta Jenny.
Seperti terkena mantra sihir dari dunia Middle - Earth Jeffrey menuruti perintah Jenny begitu saja.
Middle - Earth adalah dunia fantasi yang muncul dalam karya J.R.R. Tolkien, The Lord Of The Rings. Dunia yang kental unsur magisnya dengan seorang penguasa lalim bernama Sauron yang menguasai dunia lewat cincin-cincin mematikannya.
Seakan rasa canggungnya mulai menguap, Jenny mengeksplorasi tubuh Jeffrey dengan matanya mencari luka memar di bagian lain. Tidak ada pikiran lain di otak gadis itu selain ingin mengobati luka suami kontraknya tersebut.
Sentuhan Jenny sungguh membuat Jeffrey mulai terbuai. Bagaikan sebuah sentuhan wanita penggoda yang sedang mendesaknya untuk berbuat lebih.
Sesaat paru-paru Jeffrey seakan berhenti bekerja membuatnya tak napas. Sepasang mata elang Jeffrey tertutup dengan reflek seraya melenguh pelan menahan dorongan gairah yang mulai merebak keseluruh tubuh. Membangunkan benda sakral yang sudah lama bertapa dan belum pernah terjamah sama sekali. Mengeras dan menegang, itulah yang terjadi pada tubuh bagian bawah Jeffrey. Belalainya seakan berontak dan ingin merobek kain yang menutupinya.
"Apakah aku mengolesnya terlalu kuat? Apakah sakit?" tanya Jenny khawatir karena mendengar Jeffrey sedikit menggeram. Gadis itu seperti menyalah artikan situasi saat ini.
Jeffrey sontak tersadar dari keterbuaiannya dan membuka matanya dengan cepat.
"Shit! Apa yang baru saja aku lakukan, bisa-bisa aku menikmati sentuhannya. Dan apa ini? Tubuhku sepertinya sudah tidak normal," umpat Jeffrey di dalam hati seraya menggiring matanya ke bawah. Matanya sedikit membelalak ketika melihat ada yang menyembul di balik kain celananya. Dengan cekatan Jeffrey menutupi juniornya dengan bantal agar Jenny tidak melihatnya.
"Sebenarnya kau kenapa?" Jenny merasa ada yang aneh dengan gelagat Jeffrey.
"Jangan banyak bertanya,lanjutkan saja pekerjaanmu," jawab Jeffrey menutupi kegugupannya.
Jenny langsung memasang muka cemberut. "Hei, beruang kutub, tidak bisakah kau membuang sikap menyebalkanmu itu? Aku sudah berbaik hati membantu mengobatimu tapi kau tak ada sedikitpun berniat untuk berterimakasih," cebik Jenny lalu lanjut mengobati. Kini dia berpindah pada luka di muka Jeffrey.
Jeffrey melirik ke muka Jenny yang hanya berjarak tidak lebih dari satu kilan dari mukanya. Jenny tampak begitu fokus saat mengolesi obat luka. Sesekali Jeffrey merasakan sensasi dingin pada mukanya karena terpaan angin dari tiupan Jenny yang bertujuan agar obat cepat meresap.
"Cantik," batin Jeffrey. Jiwa di bawah alam sadar seakan menuntunnya untuk memuji gadis yang ada di hadapannya.
"Tapi kenapa malam ini mukanya tampak sedikit pucat? Napasnya juga terasa panas," batin Jeffrey yang mulai menyadari bahwa kondisi Jenny sedang kurang baik.
"Fyuh! Akhirnya sudah selesai," suara Jenny membuat Jeffrey kembali dari pikirannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera menyantap makan malam. Aku tadi sudah selesai menatanya di atas meja makan," saran Jenny seraya menata kembali obat-obatan ke tempatnya.
"Baiklah," jawab Jeffrey singkat.
Jenny sontak mengangkat kepalanya dan memandang Jeffrey dengan tatapan syok.
"Sejak kapan kau jadi sangat penurut? Sepertinya luka di kepalamu membuat kau menjadi aneh," cebik Jenny lalu beranjak dari ranjang dan keluar kamar.
Sementara Jeffrey sesaat membatu karena merasa tidak percaya dengan sikapnya sendiri.
Kegiatan makan malam berjalan tanpa ada percakapan sedikitpun. Hening, hanya suara dentingan sendok dan garbu yang beradu dengan piring yang mewarnai suasana.
°°°
Di dalam kamar, Jeffrey tampak sibuk mengetik tugas di laptopnya. Tapi fokusnya terganggu ketika mengingat wajah Jenny yang pucat.
"Apa dia sedang sakit? Tapi kenapa dia tidak mengeluh sedikitpun? Sikapnya menampakkan dia baik-baik saja," gumam Jeffrey lalu kembali fokus ke layar laptopnya.
Beberapa detik kemudian.
"Aarrgg! Pikiranku benar-benar terganggu karena si kucing kumuh itu," gerutu Jeffrey.
"Sebaiknya aku coba mengeceknya saja untuk memastikan keandaannya," akhirnya pria yang sedang kalut dengan pikirannya tersebut memutuskan untuk mendekati kamar Jenny.
Tok! Tok! Tok!
Jeffrey mengetuk pintu kamar Jenny tapi tidak ada tanggapan dari dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Woi kucing kumuh, buka pintunya," perintah Jeffrey namun masih belum ada respon.
"Sebenarnya sedang apa dia di dalam? Apa mungkin dia sudah tidur?"
Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik kamar, Jeffrey memutar knok pintu dan mendorongnya ke dalam. Kemudian dia menekan saklar lampu untuk menerangi ruangan yang tampak gelap.
Perhatian Jeffrey langsung tertuju pada gumpalan selimut tebal yang tampak bergerak-gerak pelan. Ponsel yang terletak di sebelah Jenny tampak bergetar dengan layarnya yang bersinar terang.
Jeffrey penasaran lalu melangkah masuk dan memperhatikan layar ponsel yang ternyata ada permintaan sambungan panggilan dari Sean.
Kini perhatian suami kontrak itu berpindah pada gumpalan selimut yang membungkus sekujur tubuh Jenny. Dengan hati-hati Jeffrey menyibak selimut tersebut yang sontak membuatnya terkejut melihat Jenny dalam kondisi menggigil dengan mata terpejam. Muka Jenny terlihat lebih pucat dari sebelumnya yang tentu saja membuat Jeffrey menaruh kekhawatiran kepadanya.
Jeffrey langsung memeriksa keadaan Jenny dengan menempelkan tangannya ke dahi yang sudah di basahi keringat dan terasa sangat panas tersebut.
"Apa kau baik-baik saja? Kau sepertinya demam," Jeffrey tampak panik.
"Aku akan membawamu ke Dokter,"
"Tidak perlu ke Dokter, aku hanya cukup beristirahat saja," ucap Jenny yang tampak lemah.
Jeffrey tidak menjawab, dia justru langsung mengangkat tubuh Jenny dan membawanya ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung~~