Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Perkelahian Jeff dan Sean


__ADS_3

Jeffrey mengusap salah satu sudut bibirnya yang tampak mengeluarkan darah segar karena satu bogeman mentah mendarat dengan keras dan tanpa sopan. Jeffrey memutar lehernya ke arah pemilik bogeman tersebut yang tak lain adalah Sean. Karena tidak terima mendapati serangan dadakan dari mantan sahabatnya tersebut, Jeffrey langsung menyerang balik.


Bug!


Satu kepalan tangan yang mengerat erat melayang tepat pada muka Sean yang membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.


Tidak terima, Sean mencengkram kerah baju Jeffrey dengan mimik muka yang mengeras.


"Kalau kau tidak mencintainya, setidaknya bersikap baiklah kepadanya!" seru Sean.


"Ck! Ternyata dia mengadu kepadamu!" Jeffrey berdecih seraya tersenyum sinis.


"Dia gadis yang baik, tidak pantas menikah denganmu apa lagi mendapat perlakukan buruk darimu!" tandas Sean dengan mata menyalang.


Jeffrey melepas cengkeraman tangan Sean dari kerah bajunya lalu menendang perut Sean dengan sangat keras hingga tubuh tegapnya tersungkur ke tanah.


"Jika dia gadis yang baik, mana mungkin dia menikah denganku karena iming-iming uang dari orangtuaku,"


Sedikit tertatih, Sean beranjak dan mencoba berdiri tegap seraya memegang perutnya yang masih terasa sakit karena tendangan keras Jeffrey.


"Itulah kekuranganmu, yang selalu menelan mentah-mentah informasi yang belum tentu benar,"


"Berhentilah mengoceh jika kau tidak tahu yang sebenarnya!"


Bruk!


Jeffrey mencoba melayangkan satu kali pukulan lagi namun Sean berhasil menangkapnya lalu dia memutar tubuhnya dan membanting tubuh Jeffrey ke tanah.


Bruk!


Bug! Bug!


Tak menghiraukan rasa sakit pada tubuh belakangnya, Jeffrey balik mengirim serangan dengan menjegal kaki kanan Sean hingga terjungkal. Belum berhenti di situ saja, pria yang berstatus suami Jenny tersebut manindih tubuh Sean yang masih terbaring dan menyematkan beberapa kali pukulan pada masing-masing pipinya.


Bruk!


Dengan sisa tenaga yang ada, Sean menggulingkan tubuh Jeffrey sehingga kini dia berganti posisi, berada di atas tubuh Jeffrey.


Bug! Bug!


Sean yang tak mau kalah juga balas menyerang Jeffrey dengan pukulan brutal.


Suasana parkiran kebetulan sedang lenggang, sehingga adegan baku hantam sesama pria tampan tersebut berlangsung cukup lama tanpa ada yang melerai.


Pertarungan sengit antara anak manusia tersebut berakhir dengan hasil score sama.


"Hah! Hah! Hah!" Terdengar suara ngos-ngosan milik Jeffrey dan Sean yang saling bersautan. Tidak peduli di mana mereka sedang berada, keduanya merebahkan tubuhnya di tanah karena energi yang sudah terkuras habis serta kondisi muka yang penuh luka dan lebam.


Hening, hanya suara napas terengah-engah yang terdengar. Kedua pria tampan tersebut tampak tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Sudah tidak ada niat saling menyerang. Sepertinya pelampiasan amarah mereka sudah kelar.


"Hahaha!" tiba-tiba gelak tawa Jeffrey terdengar memenuhi parkiran.

__ADS_1


"Apa yang kau ketawakan bocah setan?" Sean memutar lehernya ke arah Jeffrey yang tergelatak tepat di sampingnya.


"Ini kali kedua kita bertarung karena alasan wanita," timpal Jeffrey.


Sean tersenyum kecut. "Aku juga baru menyadarinya, tapi kasusnya berbeda," sahut Sean.


"Aku masih marah kepadamu karena telah menghianatiku," ucap Jeffrey yang masih menatap langit yang mulai tampak gelap.


"Dulu aku memang berusaha mendekati Amelle tanpa sepengetahuanmu. Aku sadar, kalau tindakanku itu sama saja menghianati persahabatan kita, tapi aku berhenti mendekati gadis itu setelah aku tahu dia menyukaimu,"


"Ck! Berhenti mendekatinya kau bilang. Aku melihatnya sendiri kau sering menghabiskan waktu bersamanya saat itu," timpal Jeffrey.


"Itu karena dia sakit. Aku merasa kasihan dan ingin menghiburnya agar lebih semangat untuk sembuh. Waktu itu aku ingin memberitahumu tentang penyakitnya, tapi Amelle melarangku dengan alasan tidak ingin membuatmu sedih dan akupun menurutinya," terang Sean dengan pandangan menerawang ke masa lalu.


"Pada akhirnya kau memberitahuku ketika dia sudah di makamkan. Hal itu justru membuatku semakin kecewa. Harusnya aku menemaninya di saat-saat terkahirnya, tapi kenyataannya aku bahkan tidak tahu dia sedang berjuang dengan penyakitnya," balas Jeffrey dengan perasaan miris.


"Sebenarnya di hari sebelum Amelle meninggal, aku sudah dalam perjalanan ke rumahmu, tapi.." ucap Sean menggantung. Dia mengganti posisinya dalam duduk.


Jeffrey memutar lehernya ke arah Sean menunggu lanjutan kalimatnya yang membuatnya penasaran.


"Tapi, di waktu yang bersamaan aku mendengar kabar kedua orangtuaku akan bercerai karena Papaku mempunyai wanita lain. Dan aku langsung kembali ke rumah untuk melihat keadaan Mamaku yang pasti sangat terpukul," Sean tampak sedih.


Jeffrey beranjak lalu mencengkram kerah baju Sean dengan sangat erat.


"Bodoh! Kenapa kau tidak bercerita kepadaku?! Jeffrey sangat marah.


Sean melepas tangan Jeffrey dari kerahnya. "Ck! Bukan aku yang bodoh, tapi kau yang keras kepala bocah setan! Asal kau tahu, di saat aku membutuh dukungan dari sahabat satu-satunya, kau malah pergi. Harusnya aku yang kecewa kepadamu," timpal Sean yang juga tampak kesal.


Kedua pria tampan tersebut beranjak dari tanah dengan sedikit tertatih karena masih menyisakan rasa sakit pada tubuhnya setelah perkelahian tadi.


"Apa yang kau suka darinya? Dia bahkan tidak secantik para kekasihmu terdahulu," cibir Jeffrey dengan senyuman mencemoh.


"Yang jelas dia berbeda dengan yang lain," balas Sean.


"Aku harap kau berhenti bertindak buruk padanya apa lagi menyentuhnya," ancam Sean dengan nada rendah tapi penuh penekanan.


"Kalau aku tidak mau, memang kau mau apa?" Jeffrey mencoba memancing emosi Sean.


"Aku akan melemparmu ke laut untuk dijadikan santapan ikan,"


"Kau ini lucu sekali, aku adalah suaminya jadi aku berhak melakukan apapun kepadanya, termasuk memintanya melayaniku di atas ranjang," tandas Jeffrey.


"Aku berkata seperti itu karena aku tahu kau hanya mempermainkannya,"


"Itu bukan urusanmu,"


"Aku akan mengajak dia kencan dan sepertinya aku tidak perlu meminta ijin darimu," Sean menutup perdebatan dengan Jeffrey kemudian melangkahkan kakinya, berlalu dari hadapan Jeffrey.


"Sial! Bisa-bisanya dia berbicara terang-terangan seperti itu di depanku. Kalau aku tidak mengijinkannya untuk mendekati Jenny memang dia bisa apa?" gerutu Jeffrey dengan pandangan tak lepas dari punggung Sean yang kian menjauh.


°°°

__ADS_1


Suara spatula dan wajan yang beradu terdengar memenuhi langit-langit dapur. Aroma gurih roast meat yang dilengkapi dengan mash potato yang lezat mulai menyapu ruangan. Mengundang cacing-cacing dalam perut bergejolak.


Tit. Tit. Tit.


Ceklek!


Suara tombol sandi pintu dan di akhiri dengan suara knop pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Jenny sesaat. Setelah tahu suaminya yang datang, kemudian dia melanjutkan kembali kegiatan masaknya yang hampir selesai tanpa mengamati dengan jelas muka Jeffrey yang bentuknya sudah bonyok tidak karuan.


Alih-alih langsung menuju kamar seperti biasanya, Jeffrey tampak merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa ruang tamu. Pria berlensa hijau tersebut melirik ke arah Jenny yang sedang sibuk dengan alat dapurnya. Menatap cukup lama dengan mimik muka tak terbaca.


Jeffrey menghela napas seraya menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar.


"Apa saja yang sudah kau adukan ke bocah tengik itu?" Jeffrey mulai membuka suara.


"Siapa yang kau maksut?" tanya Jenny seraya meletakkan masakannya di atas meja makan.


"Siapa lagi kalau bukan pejantan yang selalu tebar pesona kepadamu itu," sungut Jeffrey.


"Ow dia? Aku tidak mengadu, aku hanya menjawab semua pertanyaan darinya," jawab Jenny tanpa memalingkan mukanya ke arah Jeffrey. Hingga saat ini dia belum menyadari kondisi muka Jeffrey.


Tap! Tap! Tap!


Jeffrey melangkahkan kakinya mendekati Jenny yang tengah sibuk dengan persiapan makan malamnya dan Jeffrey.


"Tadi bocah sialan itu mendatangiku,"


"Benarkah? Memang ada perlu apa dia mendatangimu? Astaga..! Ada apa dengan muka masammu itu?" Jenny tercekat ketika menyadari kondisi muka Jeffrey yang penuh luka dan lebam.


"Kami tadi berkelahi dan kaulah alasan penyebabnya, sungguh menyebalkan sekali," gerutu Jeffrey.


"Apakah Sean baik-baik saja? Dia pasti juga terluka. Aku akan menemuinya," Jenny begitu cemas dengan keadaan Sean.


"Makan malamnya sudah siap. Kau bisa memakannya sekarang. Aku akan keluar menemui Sean," Jenny bergegas melepas celemek dapurnya dan hendak meninggalkan Jeffrey dan santapan makan malamnya. Namun langkahnya terhenti ketika Jeffrey menarik kerah bajunya.


"Bisa-bisanya kau mengkhawatirkan pria lain di depan suamimu, apa pantas seorang istri meninggalkan suaminya yang sedang terluka?" cibir Jeffrey.


"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau menganggapku sebagai istrimu?" Jenny memicingkan matanya tajam ke arah Jeffrey.


"Jangan banyak mulut, antarkan obat luka ke kamarku sekarang," titah Jeffrey lalu dia menuju ke kamarnya duluan.


"Hisshh! Dasar beruang kutub menyebalkan!" seru Jenny seraya menghentak-hentakkan kakinya.


Selang tidak lama, Jenny masuk ke kamar Jeffrey dengan membawakan kotak obat di tangannya. Kamar Jeffrey sangat luas dan mewah. Beberapa alat musik dan rak buku raksasa bahkan tampak melengkapi suasana kamar yang dingin tersebut.


"Ini", ucap Jenny seraya mengulurkan kotak P3K ke arah Jeffrey.


Jeffrey menggiring manik hijaunya ke arah Jenny dengan tatapan penuh makna.


"Kau harus mengobatiku," titah Jeffrey sekali lagi.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers:...


...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...


__ADS_2