Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Kissing Course


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil mewah, jari-jari lentik sedang menari-nari dengan gemulainya di balik kaos hitam pria yang sedang duduk depan kemudi setir. Berotasi lembut, naik turun dari garis - garis sixpack lalu naik ke dada bidangnya, menciptakan gerakan menggoda dan merayu untuk membangkit hormon testosteron pemacu libido.


Seharusnya hal itu cukup membangkitkan nafsu bagi pria yang sejatinya berlibido tinggi itu. Tapi, alih-alih terangsang pria tampan beralis tebal itu justru merasa risih.


"Cukup Veronica, jangan lakukan itu," pinta Jeffrey dengan nada serendah mungkin.


"Sayang, apa kau benar-benar tidak ingin melakukannya denganku? Bukankah kita sudah 3 tahun berpacaran, seharusnya tidak masalah jika kita melakukannya," sahut Veronica menggoda sambil menggelayut manja pada lengan kekar Jeffrey. Tangannya masih terus mengusap lembut dada Jeffrey di balik kaosnya.


"Berhentilah bertindak seperti wanita murahan, kita masih berpacaran, aku tidak ingin melakukan hal itu sebelum menikah," tandas Jeffrey.


Veronica langsung menghentikan kegiatan menggodanya. Menjauhkan tubuhnya dari Jeffrey seraya memasang mimik kecewa.


"Maaf, bukan maksutku menyakiti hatimu," ucap Jeffrey datar. Dia menyadari kekasihnya itu sedang tersinggung.


"Kau mengataiku wanita murahan, bukankah wanita murahan yang sebenarnya adalah istri kontrakmu itu? Dia menikah denganmu karena uang," sungut Veronica tidak terima.


"Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi, sebaiknya aku pulang sekarang," Jeffrey mengalihkan topik.


"Apa kau tidak ingin mampir ke apartemenku dulu? Atau menginaplah, aku akan sangat senang," rayu Veronica.


"Maaf, aku sangat lelah Veronica. Kapan-kapan aku akan menginap," ucap Jeffrey sedikit berdusta. Hal itu bertujuan untuk menyenangkan Veronica dan agar perempuan itu cepat turun dari mobilnya.


"Benarkah? Aku akan menagih janjimu itu sayang," Veronica mengecup pipi Jeffrey kemudian turun dari mobil.


Jeffrey menghidupkan kunci starter lalu melajukan mobil sport yang ditunggangi, meninggalkan Veronica.


Gadis bersurai coklat tersebut memasuki apartemennya dan tiba-tiba ia terkesiap karena mendapati seseorang memeluknya dari belakang.


"Diven! Kau mengagetkanku. Seharusnya kau menghubungiku jika kau datang. Aku hampir saja memaksa kekasihku untuk mampir ke sini," sungut Veronica.


Diven tak menghiraukan celotehan perempuan yang sedang dipeluknya itu, dia justru melesatkan kecupan-kecupan basah pada tengkuk leher Veronica.


"Lepaskan! Aku lagi tidak ingin melakukannya denganmu," tolak Veronica.


Diven kontan mengangkat kedua tangannya keatas seperti maling yang tertangkap basah.


"Ups! Maaf aku kehilangan kontrol nafsuku jika berada di dekatmu,"


"Ck! Bukannya kau selalu bertindak seperti itu kepada setiap wanita? Sudah aku mau mandi dulu," cebik Veronica yang hendak melangkah ke kamarnya namun cengkeraman Diven pada tangannya menghentikannya.


"Kau tidak melupakan janjimu kan Veronica, kau harus memuaskan nafsumu kapanpun aku inginkan. Ingat, kalau bukan karena tanganku yang turun serta, Jeffrey tidak mungkin menerimamu untuk menjadi kekasihnya. Bagaimana jadinya kalau dia sampai tahu bahwa bukan kau yang menjadi pendonor darahnya melainkan gadis lain," ucap Diven mengandung ancaman.


"Sial, dia mulai mengancamku. Jangan sampai dia membocorkan rahasiaku ke Jeffrey. Bisa-bisa semua usahaku untuk memilikinya seutuhnya berakhir sia-sia," batin Veronica.


"Kau ini kenapa? Aku hanya ingin mandi dulu, kita bisa bermain kegiatan panas setelah itu," Veronica mencoba menarik kembali penolakan dari ajakan Diven.


Diven tak menghiraukan ucapan Veronica. Pria itu lantas menarik tubuh Veronica dan melucuti semua kain yang melekat pada tubuhnya.


"Kau bisa mandi setelah ini," bisik Diven menyeringai kemenangan.


。。。


Jeffrey melihat Jenny sedang duduk di atas sofa ruang tamu ketika dia mulai menjejakkan kakinya ke dalam apartemen pribadinya. Sepasang mata elang Jeffrey memicing karena melihat tingkah Jenny yang seperti orang gila pengeluaran baru.

__ADS_1


Jenny tampak asyik dengan benda pipih di tangannya. Gadis blonde itu terus mengulas senyuman pada mukanya. Pipinya juga terlihat merona seperti tomat terlewat matang. Sesekali dia menghentak-hentakkan kakinya kegirangan lalu menghempas tubuhnya pada sandaran sofa, bahkan menggigit gemas bantalan sofa yang tak berdosa itu.


Jeffrey memasang muka bergidik melihat nasib bantalan sofa yang tampak basah karena air liur Jenny.


Cetak!


"Awh! Kenapa kau menjitakku?" keluh Jenny seraya mengusap bagian kening tempat jitakan Jeffrey mendarat.


"Aku semakin yakin kalau kau ini punya penyakit gila tahunan. Tingkahmu itu sungguh menggelikan. Coba kau lihat nasib bantalan sofa itu, kau menggambar banyak pulau di sana dengan air liurmu," ejek Jeffrey.


"Bukankah itu malah bagus?Kau bisa langsung mempelajari peta dunia dari sini," balas Jenny menanggapi ejekan Jeffrey.


"Dasar gadis gila,"


"Kau ini selalu tidak suka melihat aku bahagia, dasar beruang kutub," cemberut Jenny.


"Apa yang membuatmu bahagia? Apa pejantan penebar pesona itu mengajakmu kencan?" cerocos Jeffrey asal.


"Kau benar sekali, besok malam dia mengajakku kencan dan kami akan makan malam romantis," sahut Jenny antusias.


"Dan berhenti panggil dia pejantan penebar pesona, namanya Sean, panggil dia Sean, mengerti?" sambung Jenny dengan mimik muka berubah serius.


"Kalau aku nggak mau terus kau mau apa?"


"Maka aku akan,"


"Kau akan apa? sela Jeffrey memutus ucapan Jenny.


"Aku akan.."


"Apa?"


"Nggak jadi," Jenny menggelengkan kepalanya. Ia kembali menggiring kedua manik birunya pada layar ponselnya. Kedua sudut bibirnya tampak menaik ke atas.


Jeffrey mendaratkan bokongnya di sofa yang sama dengan Jenny. Dia mengamati Jenny yang masih asyik sendiri.


"Apa ini kencan pertamamu dengan Sean?" tanya Jeffrey. Rasa ingin tahunya begitu mengganggunya saat ini.


Jenny mengalihkan pandangannya ke arah Jeffrey yang juga sedang memandangnya.


"Sebenarnya ini kencan pertamaku seumur hidupku selama ini," jawab Jenny dengan polosnya.


"Ck! Berarti kau sama sekali belum berpengalaman dalam berciuman," ledek Jeffrey.


"Tentu saja, tapi sayangnya bibirku ini sudah tidak perawan lagi gara-gara si beruang kutub," timpal Jenny seraya mengerucutkan bibirnya.


"Sudah aku bilangkan, itu hanya kecelakaan. Kenapa kau masih saja menuduhku?" Jeffrey tidak terima.


"Iya.. Iya.. Tapi tetap saja kau mengambil ciuman pertamaku," Jenny masih ngotot. Ia memicingkan matanya seraya menggembungkan pipinya.


"Kenapa dia semakin menggemaskan? Tidak! Tidak! Tidak! Mana mungkin aku merasa gemas sama kucing kumuh ini," batin Jeffrey sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kau kenapa? Kau pusing?" Jenny merasa heran dengan gelagat Jeffrey.

__ADS_1


"Apa kau yakin akan berkencan tanpa mempunyai pengalaman dalam berciuman?"


"Memang kenapa sih? Apa itu akan mempengaruhi acara kencanku? Lagian nggak harus berciuman dalam berkencan bukan?"


"Ck! Kau saja belum pernah berkencan tapi sudah berani berbicara seperti itu. Mana ada kencan tanpa berciuman. Lagian aku sangat mengenal Sean, dia sangat menyukai perempuan yang bisa mengimbanginya dalam berciuman," tutur Jeffrey.


"Benarkah begitu? Tapi aku sama sekali tidak ada pengalaman tentang tempel menempelkan bibir satu sama yang lain," Jenny tampak murung.


"Aku akan mengajarimu jika kau mau," tawar Jeffrey dengan senyuman misterius.


"Benarkah? Tolong ajari aku sekarang," pinta Jenny dengan tampang polosnya.


"Datanglah ke kamarku, jika kau benar-benar ingin aku mengajarimu," Jeffrey beranjak dari sofa dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Kenapa harus di kamarmu, kan bisa disini saja," ucap Jenny sedikit berteriak.


"Terserah kau mau atau tidak, toh bukan aku yang rugi," balas Jeffrey yang juga setengah berteriak lalu menghilang di balik pintu kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar Jeffrey yang tak lain adalah Jenny.


"Masuk saja," ucap Jeffrey dari dalam kamar.


Kepala Jenny tampak menyembul dari balik pintu dan kebetulan pada saat itu Jeffrey baru saja mengganti baju atasannya dengan kaos singlet.


Jenny menjejakkan kakinya ke dalam kamar Jeffrey dan menatap Jeffrey yang sudah duduk di atas ranjang. Sebenarnya gadis blonde itu sedikit ragu dengan keputusannya.


"Kau kenapa? Aku tidak akan memakanmu. Cepat mendekatlah. Aku sudah lelah dan ingin segera istirahat,"


"Ya sudah sebaiknya kau istirahat saja, aku akan keluar," Jenny menarik kembali niatnya untuk meminta Jeffrey mengajarinya.


"Terserah kau saja dan jangan menangis di depanku jika kencanmu tidak berjalan dengan baik karena kau payah dalam berciuman," ucap Jeffrey yang sontak membuat Jenny mengurungkan niatnya keluar kamar.


"Baiklah, pertama aku harus bagaimana?" Jenny bergabung di atas ranjang dengan Jeffrey.


Jeffrey membuka ponselnya dan menekan salah satu aplikasi berlogo video berwarna merah. Jari-jarinya tampak mengetik sesuatu dan mulai meng-scroll dari bawah ke atas.


"Coba kau perhatikan video ini," Jeffrey menunjukkan sebuah video yang mendemostrasi cara berciuman yang benar.


Jenny benar-benar menuruti perintah Jeffrey. Gadis berlensa biru tersebut memperhatikan video yang berdurasi 2 menit tersebut dengan seksama.


"Untuk pemula sepertimu, kau harus menatap mata pasanganmu dalam-dalam dan jangan terburu-buru. Jangan lupa kau juga harus sedikit memiringkan kepalamu. Setelah bibir kalian menempel pejamkan matamu," Jeffrey memberi arahan kepada Jenny.


Jeffrey berlagak menjadi seorang master of kissing. Padahal dia sendiri sebenarnya belum pernah mempraktekkannya langsung kepada wanita dimanapun. Pengalaman berciumannya dengan Veronica pun hanya dilakukan oleh sebelah pihak saja, yaitu pihak wanitalah yang selalu menyosornya terlebih dahulu, dan itupun tidak lebih dari kecupan ringan.


Jenny mendengarkan setiap kata yang disampaikan Jeffrey dengan antusias. Sesekali dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


"Tapi bagaimana aku bisa langsung menerapkannya? Mempraktekkannya tidak segampang melihat tutorial dalam video," Jenny yang awalnya berantusias tiba-tiba layu.


"Kau bisa berlatih denganku," tawar Jeffrey yang kontan membuat Jenny tercengang.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan Like dan Coment setelah membaca ya, jangan lupa kirim rate bintang 5 juga. Kalau ada rejeki lebih, sangat diperbolehkan untuk mengirim vote atau gift. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2