
"Tunggu dulu!" Jenny yang sudah berada di depan pintu seketika menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?"
Veronica mendekati Jenny dengan tangan bersedekap diikuti ekspresi sinis di balik wajahnya yang cantik.
"Jangan coba-coba kau membeberkan semua tentang apa yang terjadi hari ini jika tidak ingin Mamamu terluka," ancam wanita ular itu sekali lagi.
"Apa maksutmu?! Kenapa Mamaku juga kau tarik ke dalam permainan kotormu?" Jenny mulai geram.
"Lihatlah! Ini sebagai bukti bahwa aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku," Veronica menunjukkan sebuah video yang memperlihatkan semua aktifitas Emy.
"Jika kau berbuat macam-macam di belakangku, bersiaplah untuk mendengar kabar buruk tentang Mamamu karena orang suruhanku yang sedang mengintanya saat ini bisa melakukan sesuatu kapanpun aku mau," lanjut Veronica menyeringai.
"Kau!" ingin sekali Jenny mengumpat namun suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.
"Buat Jeffrey membencimu lalu tinggalkan dia secepatnya," titah Veronica penuh penekanan.
"Dan jangan lupa satu hal sayang, kau harus bersedia menjadi milikku. Menjadi pemuas nafsuku," sela Diven yang masih terduduk di atas sofa.
"Kalian berdua benar-benar bajingan! Kalian tidak lebih dari manusia sampah yang selalu menghalalkan segara cara," akhirnya umpatan yang tadi sempat tercekat di tenggorokan melecos begitu saja dari mulut Jenny.
"Sudah, sebaiknya kita segera pergi dari sini," lirih Ella yang langsung menyeret Jenny keluar apartemen meninggalkan kedua manusia jelmaan iblis.
°°°
Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah kontrakan mungil milik Ella. Namun keduanya, Jenny maupun Ella masih membisu. Ella berkali-kali melirik ke arah Jenny yang tampak berkutat dengan pikirannya yang sedang berkecamuk.
"Jenn, maafkan aku karena aku sempat ada niat buruk kepadamu," Ella mencoba memecahkan suasana hening di dalam mobil.
Jenny menoleh ke arah Ella. "Kenapa kau lakukan itu? Terus kenapa akhirnya kau malah menolongku?"
"Aku sempat tergiur ketika Diven berjanji akan mengakui anak yang aku kandung, dengan syarat aku harus memenuhi permintaannya. Tapi ketika aku tahu dia ingin mencelakai janin yang kau kandung, perasaan ragu mulai menggangguku. Mungkin karena aku juga sedang mengandung saat ini. Aku tidak bisa membunuh janin. Itu terlalu kejam. Dan sekarang aku sadar, bahwa aku memang tidak bisa menaruh harapan lebih ke pria bajingan mesum itu," jelas Ella penuh penyesalan.
"Baguslah kalau kau memang benar-benar sudah sadar Ell,"
Ponsel Ella tiba-tiba berdering nyaring. Ia sempat tercekat ketika melihat nama Diven tertera di layar ponselnya. Ella langsung memberi isyarat pada Jenny agar tidak bersuara yang langsung dimengerti olehnya.
"Halo?"
( ... )
"I-iya, Dia baru saja aku antar ke Rumah Sakit. Obatnya benar-benar beraksi," setengah gugup Ella memberi laporan palsu.
Panggilan berakhir.
Ella menghelas napas berat setelah Diven mengakhiri panggilannya.
"Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati Jenn, mereka tahunya kau sudah keguguran. Kau harus segera cari jalan penyelesaian untuk keluar dari belenggu ancaman mereka. Ingat, bagaimanapun juga Jeffrey harus tahu. Kalian harus mencari solusi bersama karena kau tidak akan sanggup menghadapi mereka sendirian. Mereka adalah manusia yang terlahir dengan segudang kelicikan," tutur Ella.
"Iya, aku juga berpikir seperti yang kau katakan Ell, terimakasih karena kau sudah peduli kepadaku,"
°°°
"Kau dari mana sayang? Mama sangat khawatir jika kau berlaku nekat," Amber langsung menghampiri putrinya yang sedang mengandung dengan mimik muka penuh kecemasan.
__ADS_1
"Hiks! Ma, maafin Ella. Ella tidak mendengarkan nasehat Mama semalam. Tadi Ella hampir saja terbuai dengan rayuan Diven dan hampir mencelakai Jenny dan janin yang ia kandung," Ella berhamburan ke dalam pelukan Amber dan menumpahkan segala kesedihan dan penyesalannya.
Ella memang sempat bercerita perihal Diven yang berjanji akan mengakui anak yang ia kandung kepada sang Mama. Namun sang Mama melarang keras putrinya agar tidak mudah jatuh ke dalam tipuan muslihat Diven.
Meskipun Amber masih tampak bersikap kurang bersahabat ketika bertemu Jenny, namun sebagian kecil hatinya ingin sekali berdamai. Namun ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya kepada putri tirinya tersebut.
°°°
Di sudut kota London lainnya, seorang pria tampan bermata elang tampak melangkah menuju taman belakang Rumah Sakit tempat Darwin dirawat. Ia segera mempercepat langkahnya ketika melihat sosok yang sangat ingin ia temui sudah duduk di bangku taman menunggu kedatangannya.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkan hasil?" tanya Jeffrey langsung pada pokok intinya kepada seorang pria suruhannya.
Pria yang bernama Elfrad seketika berdiri dan sedikit menunduk sebagai tanda hormat kepada tuannya.
"Saya sudah melacak nomor telepon yang digunakan untuk meneror Tuan Darwin. Meskipun nomor sudah tidak aktif tapi saya masih bisa mendapatkan info dimana posisi terkahir card number ini digunakan. Dan ini foto yang sudah saya perbaiki, pada bagian muka yang terterap efek blur sudah saya perjelas kualitas gambarnya," lapor Elfrad seraya menyerahkan sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar foto panas Jeffrey dengan seorang wanita beberapa hari yang lalu.
Tidak ingin menunda terlalu lama, Jeffrey langsung membuka amplop dan mengeluarkan lembaran cetakan foto dari dalam.
"Veronica?! Ternyata dia dalang di balik semua ini, dasar wanita jalang!" geram Jeffrey yang langsung tersulut emosi.
"Apa mungkin wanita yang tertangkap rekaman CCTV itu adalah dia?"
"Kemungkinan besar iya tuan. Di lihat dari warna dan model rambutnya serta anting yang ia kenakan, wanita di dalam rekaman CCTV dengan yang di foto adalah orang yang sama,"
"Kerja bagus, terus selidiki dan awasi wanita itu, dan kau boleh pergi sekarang, terimakasih,"
"Baik tuan,"
Setelah kepergian Elfrad, Jeffrey masih belum berpindah dari posisinya. Meskipun ia sudah mendapatkan setitik informasi, namun baginya hal itu belum bisa menjadikan bukti yang kuat untuk menghukum Veronica. Selain itu ia juga masih belum mengetahui siapa pria yang bersama Veronica waktu itu.
°°°
Mobil yang ditumpangi Jenny sudah berhenti di halaman luas kediaman keluarga Allison. Ia berniat membersihkan tubuhnya sebelum kembali ke Rumah Sakit.
Langkahnya sempat terhenti ketika menyadari mobil sport milik suaminya juga terparkir di halaman luas tersebut.
"Apakah si beruang kutub sudah pulang? Bukankah dia masih di Rumah Sakit menunggu Daddy Darwin?" lirih Jenny lalu dia langsung mengambil langkah cepat untuk memastikan bahwa suaminya memang sudah berada di rumah.
Jenny langsung disambut muka masam Jeffrey ketika baru saja menjejakkan kakinya ke dalam kamar. Jeffrey tampak duduk di sofa kamar dengan mimik muka horor. Pria itu seperti sudah cukup lama menahan amarahnya agar tidak meledak seketika.
Jenny yang menyadari atmosfir kurang menyenangkan yang menyelimuti ruang kamar seketika menegang. Seolah bagaikan kucing yang baru saja tertangkap basah mencuri ikan padahal kucing tersebut tidak benar-benar mencuri ikan.
"Beruang kutub kenapa mukamu terlihat sangat masam? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Jenny sedikit gugup.
"Darimana saja kau? Bukankah aku menyuruhmu langsung pulang setelah dari Rumah Sakit?" ucap Jeffrey dengan nada dingin diikuti tatapan mengintimidasinya sehingga membuat bulu-bulu halus di tubuh Jenny berdiri serentak.
"A-Aku tadi pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, maaf tadi aku lagi-lagi lupa tidak memberitahumu terlebih dahulu,"
"Pergi kemana kau? Kau itu sedang hamil, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu?" setelah kejadian foto itu, Jeffrey memang lebih bersikap was-was. Ia khawatir si peneror yang diketahui Veronica itu akan bertindak nekat yang dapat membahayakan istri serta calon anaknya.
"Beruang kutub, sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu," lirih Jenny sedikit ragu untuk menceritakan yang sebenarnya baru saja terjadi.
Namun belum sampai Jenny melanjutkan ucapannya suara beberapa getaran pada ponselnya terdengar begitu mengganggu. Jenny memilih membuka pesan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya ke Jeffrey.
Rasa cemas kembali menyelimuti hati dan pikirannya setelah ia membaca isi pesan tersebut.
__ADS_1
"Berikan ponselmu padaku," titah Jeffrey yang menyadari gelagat aneh Jenny.
"Ah, ini bukan apa-apa kok?" kilah Jenny. Ia khawatir Jeffrey akan salah paham. Ia segera mamasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Jenny Dawson, berikan ponselnya kepadaku sekarang juga?" titah Jeffrey mutlak. Ia sangat tahu, wanita yang tidak pandai menutupi perasaannya tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ta-Tapi, aku mohon kau harus percaya kepadaku, aku akan menjelaskan semuanya," pinta Jenny sebelum menyerahkan ponselnya.
"Hm," jawaban Jeffrey sama sekali tidak memberi kepuasan.
Akhirnya Jenny merogoh kembali ponselnya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada sang suami.
Sayang, besok kau harus datang ke apartemen yang baru saja kau kunjungi tadi. Buatlah aku senang.
Begitulah isi pesan yang dikirim oleh nomor telepon tidak dikenal. Jenny sangat yakin bahwa Divenlah yang mengirim pesan itu.
Apa yang terjadi dengan Jeffrey? Pasti kalian sudah bisa membayangkannya bukan. Hatinya seketika memanas hingga menjalar ke puncak ubun-ubun. Mukanya sudah merah padam. Jari-jari besarnya mengepal erat hingga buku-buku jari tangan memutih serta otot-otot tangannya tercetak jelas di bawah kulit ari-arinya.
"Sungguh menjijikkan!" geram Jeffrey dengan nada rendah namun tedengar sangat dingin dan mencekam.
Jenny yang melihat perubahan emosi Jeffrey mulai panik. "Kau harus tenang dulu, aku bisa menjelaskannya,"
Alih-alih mendengar ucapan Jenny. Pria yang sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya agar tidak menyakiti istrinya itu justru berniat melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Tidak, kau tidak boleh pergi sebelum mendengarkan penjelasanku," Jenny berusaha menghadang Jeffrey dengan tubuhnya.
"Menyingkirlah, sebelum aku tidak bisa mengontrol emosiku yang akan berakhir menyakitimu," ucap Jeffrey yang masih menahan sesuatu yang bergejolak di jiwanya.
Cairan bening yang sudah membingkai telaga bening Jenny mulai melepaskan satu persatu butiran beningnya.
"Tidak! Kau harus dengarkan aku dulu!" mohon Jenny yang mulai terisak.
"AKU BILANG MENYINGKIRLAH!" bentak Jeffrey yang sontak membuat tubuh Jenny terksiap karena suara menggelegar Jeffrey.
Wanita yang sedang hamil muda itu tertunduk.
"Aku bahkan masih mempercayaimu ketika aku melihat fotomu tidur bersama Veronica tanpa kau menjelaskannya, tapi kenapa kau tidak bisa balik mempercayaiku? Lagi-lagi kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Bukankah salah satu kunci kebahagiaan dalam berumah tangga adalah saling mempercayai?" ucap Jenny di dalam isak tangisnya yang kian pecah.
Jeffrey yang mendengar ucapan Jenny seketika terperangah. Hatinya mencelos hebat. Dia tidak percaya bahwa wanitanya itu sudah mengetahui masalah yang sedang ia tutupi.
"Apa maksudmu? Kau sudah mengetahui tentang foto itu?" muka Jeffrey yang awalnya mengeras kian melunak. Penyesalanpun mulai merayap di hatinya.
"Sudahlah, jika mau pergi, ya pergi saja! Bukankah kau tidak ingin mendengar penjelasanku?" Jenny berkata seraya menggeser tubuhnya dari hadapan Jeffrey.
Jeffrey langsung merengkuh erat tubuh Jenny. Ia benar-benar menyesal. "Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Berhentilah menangis, aku tidak tahan melihatnya,"
Jeffrey merenggangkan pelukannya dan menatap lekat manik biru Jenny. "Berceritalah, aku akan mendengarkan. Sepertinya memang ada hal yang harus kita luruskan,"
Bersambung~~
Taqobballahuminna wa minkum, taqobbal ya Kariim. Selamat Hari Raya Idulfitri. Minal Aidil Wal Faidzin. Nofi mohon maaf lahir dan batin ya semuanya🙏
Yey, besok bisa makan ketupat🥰 Senangnya hati ini🥰 Meski perayaan hari kemenangan agak terbatas karena inces corona, tapi bukan berarti membuat kita mengurangi kenikmatan saling bersilaturahmi bukan? Semoga setelah lebaran, inces corona berbaik hati dan pindah ke planet lain. Aminnn🙏😌
Terus terang Nofi ngetiknya sambil nangis, karena tidak bisa merasakan lebaran bersama keluarga. Bahkan disini Nofi tidak mendengar suara takbir🥺
__ADS_1