
Part~17
Beberapa jam kemudian ruangan David dan Billa di pisahkan atas permintaan dari Iqbal. Iqbal melakukan hal itu agar sesuatu tak terjadi kepada Bella.
Bella yang tidak tahu menahu akan dj pindahkan ke ruangan VIP merasa kaget serta terkejut, karena sudah sangat lama sekali ia tak merasakan dinginnya AC.
“Wah, kamar ini ber\-AC. Sejuknya,” ucap Bella.
“Kamu suka?” tanya Iqbal berjalan mendekat kepada Bella.
“Ya. Aku sangat suka,” jawab Bella.
“Bagaimana denganku? Apa kamu juga menyukai aku?” tanya Iqbal.
“Hah?” Bella yang mendengar itu hanya bisa diam seribu bahasa, dan Bella semakin terkejut ketika Iqbal mendekatkan wajahnya ke wajah Bella.
“Bagaimana? Kau menyukai aku juga?” tanya Iqbal.
“Tidak!” Dengan cepat Bella mendorong Iqbal hingga ia jatuh ke dalam pelukan Pak Bima.
“Aaaaaa ….” Iqbal dan Pak Bima sama\-sama berteriak ketika menyadari jika mereka saling berpelukan.
“Hey, kenapa kau memelukku? Apa kau gay?” tanya Iqbal dengan cepat melepaskan pelukannya dari Pak Bima.
“Heh, aku ini gurumu! Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu kepada gurumu? Kau mau Bapak keluarkan kau dari sekolah?”
“Coba saja. Jika Bapak melakukan itu aku akan pastikan kehidupan Bapak di sekolah menjadi kacau! Bapak paham?”
__ADS_1
Mendengar ancaman Iqbal, Pak Bima kembali terdiam dan hanya bisa mengatakan jika Iqbal benar\-benar menakutkan.
Pak Bima yang tak ingin mencari masalah dengan Iqbal langsung berpindah berbicara kepada Bella yang saat itu tampak memerah wajahnya.
“Bella kamu baik\-baik saja?” tanya Iqbal.
“Ya, aku baik\-baik saja Pak,” jawab Bella dengan tatapan mata kosong akibat masih syok dengan perkataan Iqbal tadi.
Melihat bagaimana merahnya wajah Bella, Pak Bima kembali bertanya. “Kamu yakin baik\-baik saja? Wajahmu memerah seperti itu, apa kamu baik\-baik saja?”
Mendengar perkataan Pak Bima, Bella pun mendapatkan kesadarannya kembali dan langsung memukul pipinya dengan keras.
“Lihat, pipiku memerah karena aku menamparnya,” ucap Bella.
“Kenapa kau menampar dirimu sendiri?” tanya Pak Bima dengan aneh.
Mendengar jawaban Iqbal, Bella pun langsung menutup wajahnya dengan bantal karena malu.
“Hah? Kamu menembak Bella? Dimana kamu menembaknya? Kenapa tidak ada darah disana?” tanya Pak Bima tak tahu apa\-apa tentang apa yang dikatakan Iqbal.
“Astaga, Bapak itu bodoh atau kudet? Aku tidak menembak Bella dengan pistol, tetapi dengan cinta,” jelas Iqbal.
“Apa?” Pak Bima tampak malu\-malu mendengar jawaban Iqbal.
“Kenapa begitu terkejut?”
“Karena … di sekolah tidak boleh berpacaran! Berpacaran di larang di sekolah!” tegas Pak Bima.
__ADS_1
“Tapi ini rumah sakit, bukan sedang di sekolah Pak.”
“Intinya, pacaran di larang! Kalian masih di bawah umur!" seru Pak
Bima berjalan keluar meninggalkan
ruangan itu.
Setelah Pak Bima meninggalkan
ruangan itu lqbal kembali
mendekati Bella dan memaksa
Bella menjauhkan bantal itu dari
wajahnya, dan saat bantal itu tak
lagi menutupi wajahnya.
Setelah bantal itu di lepas lqbal
masih sama tak bisa menatap
mata Bella karena Bella menutup
kedua bola mata indahnya.
"Kenapa menutup mata?" tanya
lqbal.
"Aku takut," jawab Bella.
"Kenapa? Takut apa? Takut
kepadaku? Apa kau takut melihat
monster seperti aku?" tanya lgbal
sambil menggenggam erat tangan bella.
bersambung
__ADS_1
cus jangan lupa vote like and coment