Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~34


__ADS_3

Part~34


***


Polisi membawa Bella dengan paksa ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut tentang kasus penyerangan terhadap David.


Bi Inah tak bisa melakukan apa-apa saat polisi membawa Bella dengan paksa. Kemudian Bi Inah mengambil ponsel dan kemudian memberitahu hal ini kepada Iqbal.


Mendengar berita itu Iqbal sontak saja kaget dan kini ia bingung. Siapa yang melaporkan hal ini kepada polisi? Dan orang yang pertama kali di curigai oleh Iqbal adalah Nathan karena hanya Nathan yang tahu soal masalah ini.


Dengan cepat Iqbal menghampiri Nathan dan langsung menuduh Nathan yang sudah membocorkan informasi tentang Bella kepada polisi.


“Loe yang laporkan Bella ke polisi?” tanya Iqbal.


“Apa-apaan sih loe? Datang-datang langsung nuduh orang sembarang. Gue nggak ada ngelaporin Bella!” tegas Nathan.


“Kalau bukan loe terus siapa?”


“Ya gue nggak tau. Intinya bukan gue yang bocorin informasi ini ke polisi,” jelas Nathan.


“Terus siapa dong? Barusan Bi Inah telpon gue dan dia bilang Bella di tangkap polisi. Dan yang lebih anehnya, bagaimana polisi tahu kalau Bella ada di rumah gue?”


“Iya juga sih. Itu aneh. Tapi, loe belum bilang tuh kalau saat ini Bella ada di rumah loe, jadi fix bukan gue kan yang bocorin informasi itu.”


“Kalau bukan loe terus siapa dong? David kan nggak mungkin, karena saat ini dia lagi kritis.”


“Mungkin ada orang lain yang tahu masalah ini selain gue, loe, dan David,” ujar Nathan.


“Siapa?”


“Gue juga nggak tahu kalau soal itu. Tapi, itu nggak penting sekarang. Yang terpenting adalah lebih baik loe pergi ke TKP sebelum polisi kesana dan mengambil semua bukti yang ada. Sebelum polisi dapatin bukti-bukti itu, loe harus dapatin semua. Bukannya nggak percaya sama polisi, tapi bekerja sendiri itu jauh lebih baik.”


“Oke. Gue pergi sekarang.” Dengan bergerak cepat Iqbal pun mulai bergerak sedangkan Nathan masih menunggu kabar baik dari kondisi terkini David.


***


Bella dibawa ke ruangan interogasi untuk penyelidikan lebih lanjut. Kemudian dengan langkah kaki yang terdengar keras seorang polisi wanita duduk di depan Bella dengan tatapan mata tajam.


“Perkenalkan aku, Rahel. Aku petugas yang bertugas menyelesaikan kasus kamu,” ungkap Rahel.


“Aku ….”


“Kamu Bella,” potong Rahel.


Bella menggangguk kecil.


Rahel pun memulai interogasinya dengan mulai membaca dokumen tentang informasi yang berkaitan dengan Bella.


“Wow disini terdapat informasi yang lumayan bagus. Jadi kamu tinggal lama di Amerika?” tanya Rahel.


“Ya.”


“Bersama Ayahmu?”


“Ya.”


“Bagaimana rasanya sekolah disana?”


“Haruskah aku menjawab pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan kasus aku saat ini?”


“Pertanyaan ini bukan tanpa dasar, karena ada kelanjutan dari pertanyaan ini. Disini tertulis bahwa saat bersekolah di Amerika kamu sering kali dikeluarkan dari sekolah karena di anggap murid pengganggu. Apa itu benar?”


Bella merasa kesal saat Rahel sedikit demi sedikit membacakan informasi pribadi tentang dirinya.


“Ya.”


“Wah, kamu bad girl rupanya.” Rahel tertawa kecil.


“Apa semua ini perlu? Tidak bisakah kita langsung pada topik utama?” tanya Bella.


“Baiklah. Kenapa kamu ingin membunuh David?” tanya Rahel tiba-tiba situasi berubah menjadi serius.


“Aku tidak berusaha ingin membunuhnya, tetapi saat itu aku hanya berusaha membela diri,” ungkap Bella.


“Membela diri untuk apa?”


“Saat itu dia berusaha melecehkan aku, jadi yang aku lakukan itu hanya upaya untuk membela diri! Ini bukan kejahatan namanya! Aku tidak berbuat kesalahan apa-apa!” tegas Bella.

__ADS_1


“Benarkah itu?”


“Ya! Itulah kebenaran sesungguhnya! Aku tidak bersalah! Disini David lah orang yang bersalah!”


“Oya? Lalu bagaimana dengan fakta bahwa David pernah di laporkan atas pelecehan seksual terhadap Billa, yang tidak lain adalah saudara kamu?” tanya Rahel.


Mendengar pertanyaan Rahel, Bella bingung mengetahui sebelum ini David sudah dilaporkan ke polisi? Tetapi siapa yang melaporkan dia?


“Ap? David pernah dilaporkan ke polisi atas tuduhan itu?” tanya Bella.


“Ya. Itulah yang tercantum disini, tetapi dia terbukti tidak bersalah,” jawab Rahel.


“Siapa yang melaporkan dia?” tanya Bella.


“Kami tidak bisa memberitahu akan hal. Jadi disini kamu hanya perlu jawab, kenapa kamu ingin membunuh David?” tanya Rahel.


“Harus berapa kali aku katakan? Aku tidak berusaha membunuh David! Itu hanya kecelakaan, dan saat itu aku sedang membela diri! Kalian itu salah tangkap orang. Harusnya kalian menanggap David, bukan aku!” tegas Bella.


“Jadi kamu sangat kekeh jika kamu disini tidak bersalah? Dan upaya yang kamu lakukan itu hanya untuk membela diri saja?”


“Ya!”


“Baiklah kalau begitu kamu bisa bebas sekarang,” ungkap Rahel.


“Hah?” Bella terkejut.


“Kenapa? Kamu tidak ingin bebas?”


“Aku mau, tapi secepat itu? Bukankah kamu akan menginterogasi aku lebih lanjut lagi?”


“Kamu bebas bersyarat. Ayahmu datang dan menjamin kamu, baru saja. Anak manja,” ketus Rahel meninggalkan ruang interogasi.


Bella yang mendengar Rahel menyebutkan kata Ayah pun sontak kaget.


Saat keluar dari ruang interogasi Bella terkejut melihat Ayahnya yang berdiri tegap di hadapannya, kemudian melayangkan tamparan keras kepada Bella.


“Dasar pembuat masalah!” Tamparan itu tepat mendarat di wajah Bella.


Bella tak bisa bergeming saat Ayahnya melayangankan tamparan keras di wajahnya. Bella hanya bisa meminta maaf.


“Maaf ….”


“Ayah … maafkan aku,” lirih Bella menangis.


“Tidak ada lagi kata maaf! Setelah ujian terakhir kamu pulang ke Amerika! Kamu akan Ayah kirim ke asrama supaya kamu bisa belajar di siplin!” tegas Pak Ilham.


“Tapi, Ayah ….”


“Tidak ada tapi-tapi lagi! Setelah ujian kamu selesai Ayah akan datang kesini buat jemput kamu. Suka atau tidak suka, kamu tetap harus pergi ke sekolah asrama!” tegas Pak Ilham pergi meninggalkan kantor polisi.


Bella terlihat begitu frustrasi karena di semua sisi ia ditekan, dan di tambah dua masalah lagi yaitu, Ayahnya, dan Rahel yang terus mengikutinya.


“Apa begitu cara anak orang kaya diperlakukan?” tanya Rahel tiba-tiba muncul begitu saja.


“Anda siapa? Saya tidak bicara dengan orang asing,” ketus Bella.


“Kamu murid SMA?” tanya Rahel lagi.


“Kalau iya kenapa?”


“Nggak papa. Cuma aku lebih tua dari kamu, jadi panggil aku Kakak.”


“Kamu bukan Kakakku!” teriak Bella.


“Hmmm, oke, oke. Kamu sekolah dimana?”


“SMA Rembulan.”


“Benarkah?”


“Sudahlah! Kamu membuang-buang waktu berharga aku!” Dengan cepat Bella meninggalkan kantor polisi itu dengan banyak pikiran di kepalanya.


***


Bella naik salah satu taxsi dan kemudian meminta di antar ke rumah sakit. Di dalam taxsi Bella menangis dan tangannya benar-benar beegetar hebat karena takut.


Sesungguhnya saat berada di kantor polisi ia sangat takut, tetapi ia berusaha menahan rasa takutnya. Tetapi kini bukan hanya rasa takut yang dibawa oleh Bella, tetapi ada rasa sedih, marah, kesal, dan khawatir yang terus mengikuti darinya.

__ADS_1


Ayahnya yang datang tiba-tiba membuat luka baru pada dirinya, dan kedatangan Rahel juga membawa kenangan, Iqbal membawa cinta da kebahagiaan, dan Nathan membawa persahabatan.


Semua rasa sedih, suka, dan kesal semua bercampur dan membuat Bella kini benar-benar tak bisa bergerak maju ataupun mudur dari tujuan awalnya.


Semua masalah ini benar-benar membuat Bella stres. “Seseorang tolong aku …,” lirihnya dalam tangisan.


***


Iqbal datang kembali ke tempat kejadian perkara di mana saat itu Bella memukul keras kepala David dengan batu bata.


Di tempat itu sudah terpasang garis polisi, tetapi untungnya tidak ada polisi yang berjaga disana jadi Iqbal dapat mencari bukti dengan tenang.


Iqbal mencari kesana dan kemari tapi tak juga menemukan apa pun hingga ia akhirnya melihat kamera CCTV yang terpasang di sebuah mini market yang berada di sebelah gedung milik keluarga David yang setengah jadi itu.


Melihat CCTV itu Iqbal pun dengan cepat meninggalkan gedung milik David dan meminta agar pemilik mini market bersedia memperlihatkan rekaman itu, tetapi ….


“Saya tidak bisa!” tegasnya.


“Tapi kenapa Pak? Saya cuman mau lihat bentar doang kok,” jelas Iqbal.


“Sekali Saya bilang tidak bisa, berarti ya tidak bisa!”


“Tapi, Pak ….”


“Keluar!”


Iqbal yang melihat tingkah keras kepala pemilik mini market itu pun tak kehilangan akal dan akhirnya Iqbal mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan memberikan kepada Paman pemilik itu dan meminta untu diizinkan melihat rekaman CCTV tersebut.


“Bagaimana, Paman?” tanya Iqbal dengan meneteng uang di tangannya.


Dengan cepat Paman itu mengambil uang tersebut. “Silahkan saja Nak. Kamu bisa lihat sepuasnya.”


Mendengar hal itu Iqbal pun langsung melihat rekaman CCTV yang menujukan bahwa memang David 'lah yang sesungguhnya bersalah.


“Akhirnya aku menemukan bukti yang kuat. Aku harus salin bukti ini supaya tidak hilang.”


Kemudian Iqbal pun menyalin rekaman CCTV itu, dan setelah itu berangkat kembali ke rumah sakit untuk memberitahu kepada Nathan.


***


Sebelum Iqbal sampai, Bella sudah sudah sampai lebih dulu untuk melihat bagaimana kondisi David saat ini.


Walaupun Bella sangat membenci David, tapi tetap saja ia juga merasa bertanggung jawab atas kondisi David saat ini.


Nathan yang melihat kedatangan Bella langsung berlari kepada Bella untuk mencegah Bella melakukan sesuatu yang buruk kepada David.


“Bella … kamu mau apa?” tanya Nathan berusaha menghalangi pintu masuk ke ruangan David.


“Aku hanya ingin melihat bagaimana kaadaan David. Aku mengkhawatirkan dia,” jawab Bella.


“Apa? Mengkhawatirkan? Kamu tidak salah? Apa kamu tahu siapa yang sedang kamu khawatirkan saat ini?”


“Ya, aku tahu. Dia orang sudah membuat Billa menderita, dan kini dia melakukan hal sama padaku. Tetapi tetap saja aku mengkhawatirkan dia. Biar bagaimana pun kondisinya menjadi seperti itu, semua karena aku …,” ungkap Bella dengan berlinang air mata.


Melihat air mata jatuh dari wajah Bella, Nathan pun berusaha menghibur Bella.


“Bella jangan menangis,” ujar Nathan.


Bella tak mendengarkan apa yang dikatakan Nathan, malahan ia semakin keras menangis.


“Aku juga tidak ingin menangis, tetapi aku tidak bisa menangis. Aku sangat sedih, tapi aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Kapan semua ini akan berakhir? Aku lelah …,” lirih Bella.


Melihat Bella terus menangis Nathan pun langsung menghapus air mata Bella sambil berkata, “Semua akan segera berakhir. Kamu jangan menyerah, karena jika kamu menyerah Tuhan juga akan menyerah. Jadi, kamu harus semangat dan jangan menangis. Itu tidak baik untum kamu,” ucap Nathan sambil mencubit gemas pipi Bella.


Bella tersenyum lepas saat Nathan mencubit pipinya.


“Sakit ...,” rintihnya.


“Kamu menggemaskan,” ungkap Nathan kembali mencubit pipi Bella.


“Kamu juga.” Bella yang tak ingin kalah pun juga mencubit pipi Nathan.


Nathan dan Bella pun akhirnya bermain cubit-cubitan. Senyuman terukir manis di wajah Bella, begitu juga dengan Nathan. Tetapi lain halnya dengan Iqbal yang tampak tak senang dengan apa yang dilakukan oleh Bella dan Nathan.


Iqbal yang melihat semua itu dari kejauhan merasa sangat kesal dan jengkel dengan sikap Nathan kepada Bella, begitu juga sebaliknya.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2